Tawakal di Era Overthinking
Tawakal di Era Overthinking
Mengapa Semakin Banyak Pilihan Hidup, Semakin Sedikit Ketenangan Jiwa?
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Kita bisa melacak pesawat yang sedang terbang ribuan kilometer di atas laut. Kita memiliki teknologi untuk memprediksi cuaca tujuh hari ke depan. Kita bisa memantau investasi setiap detik, mengukur detak jantung lewat jam tangan, dan merencanakan karier sejak bangku kuliah.
Namun kita tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi pekan depan. Kita tidak bisa menjamin bahwa yang kita rencanakan hari ini akan berjalan seperti yang kita bayangkan. Dan ketika semua layar akhirnya dimatikan, sering kali kita berhadapan dengan satu hal yang tidak bisa ikut dimatikan: kecemasan kita sendiri.
Inilah paradoks zaman kita. Semakin banyak yang bisa dikendalikan, semakin banyak pula yang ingin kita kendalikan. Dan semakin banyak yang ingin kita kendalikan, semakin gelisah hati kita jadinya.
Ini bukan kesimpulan seorang filsuf modern. Ini adalah jawaban Nabi ﷺ yang sudah disampaikan empat belas abad silam — kepada manusia di segala zaman, termasuk zaman kita:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا"Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sesungguhnya, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung — ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang."
HR. Ahmad dan At-Tirmidzi; shahih.
Perhatikan burung dalam hadis ini. Ia tidak tahu apa yang akan ditemukannya hari ini. Tidak ada prakiraan cuaca, tidak ada peta digital, tidak ada cadangan biji-bijian untuk tiga bulan ke depan. Ia hanya terbang — dengan keyakinan penuh bahwa Yang menciptakan laparnya telah menyiapkan makanannya.
Itulah tawakal. Dan itulah yang hilang dari kebanyakan kita hari ini.
Kita Tidak Kekurangan Informasi — Kita Kehilangan Tempat Bersandar
Dua belas abad sebelum notifikasi pertama muncul di layar manusia, Al-Muhasibi telah membaca penyakit jiwa yang hari ini kita alami. Ulama besar abad ke-3 Hijriyah yang dikenal sebagai pelopor ilmu tazkiyatun nufus ini menulis dalam Kitab ar-Ri'ayah bahwa kegelisahan manusia berpangkal pada satu hal: keinginan untuk menguasai sesuatu yang memang tidak pernah Allah serahkan kepadanya. Bukan kurangnya kemampuan yang membuat manusia gelisah — melainkan ambisinya untuk memegang kendali atas wilayah yang bukan miliknya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin memperkuatnya. Beliau menjelaskan bahwa tawakal tidak berarti meninggalkan sebab — sebab tetap digunakan, namun hati tidak bersandar kepadanya. Para ulama mengibaratkan sebab seperti tongkat bagi orang buta: ia digunakan untuk berjalan, tetapi bukan tongkat yang menciptakan kemampuan berjalan itu. Yang menciptakannya adalah Allah.
Dahulu manusia takut karena tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Hari ini manusia takut karena ingin memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Keduanya adalah ketakutan — namun yang kedua jauh lebih melelahkan, karena ia menuntut sesuatu yang mustahil: kepastian yang hakiki.
Dan kepastian yang hakiki itu hanya ada di sisi Allah.
Overthinking Adalah Bentuk Modern dari Ilusi Kontrol
Ibn Rajab Al-Hanbali dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah — dua ulama besar mazhab Hanbali yang dikenal mendalam dalam kajian tazkiyah — sama-sama mengingatkan: ketika hati melekat kepada sebab, lahirlah kecemasan.
Kita mengenalinya dalam kehidupan sehari-hari. Mengecek saldo berkali-kali meski nominalnya tidak berubah. Memikirkan skenario buruk yang mungkin terjadi bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi. Mencari kepastian dari hal-hal yang memang tidak Allah rancang untuk menjadi pasti.
Berapa banyak energi yang telah habis untuk memikirkan kemungkinan yang tidak pernah terjadi? Berapa banyak malam yang hilang untuk menakuti masa depan yang ternyata tidak pernah datang seperti yang kita bayangkan? Al-Qur'an menarik kita kembali ke bumi dengan sangat tenang:
وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ"Ketahuilah bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpamu tidak akan pernah mengenaimu."
HR. At-Tirmidzi; hasan shahih. Lihat juga: Madarij as-Salikin, Ibnul Qayyim, Juz II.
Inilah yang para ulama sebut sebagai yaqin bil qadar — keyakinan yang kokoh terhadap ketetapan Allah. Bukan kepasrahan yang pasif, melainkan ketenangan yang lahir dari mengenal siapa yang memegang kendali atas segala sesuatu.
Mungkin ada banyak hal yang sedang kita takutkan hari ini. Sebagian di antaranya tidak akan pernah terjadi. Sebagian lagi mungkin memang akan terjadi. Tetapi tidak satu pun akan datang lebih cepat dari waktu yang telah Allah tetapkan — dan tidak satu pun akan datang tanpa Allah menyiapkan jalan keluarnya.
Tawakal Bukan Berhenti Berusaha
Di sinilah seringkali terjadi kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Burung dalam hadis tadi tidak diam di sarang. Ia tetap terbang, tetap mencari, tetap berikhtiar. Namun ia terbang tanpa beban yang tidak perlu — tanpa kecemasan yang melumpuhkan, tanpa kegelisahan yang menguras energi sebelum perjalanan dimulai.
Imam Nawawi, Ibn Rajab, dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah — tiga ulama dari generasi berbeda — dalam penjelasan mereka masing-masing sampai pada satu kesimpulan yang sama:
Tawakal bukan meninggalkan sebab, melainkan membersihkan hati dari ketergantungan kepada sebab.
Disimpulkan dari: Ibn Rajab Al-Hanbali, Jami' Al-'Ulum wal-Hikam; Ibnul Qayyim, Madarij as-Salikin, Juz II, Bab Tawakkal; Imam Nawawi, Syarh Shahih Muslim.
Ibnul Qayyim merumuskannya dengan sangat indah: bekerjalah seakan seluruh hasil bergantung pada usahamu. Bertawakallah seakan seluruh hasil hanya datang dari Allah. Dua hal ini bukan kontradiksi — ini adalah puncak keseimbangan jiwa yang hanya bisa dicapai oleh orang yang benar-benar mengenal Allah.
Ketenangan Dimulai Saat Kita Berhenti Menjadi Tuhan bagi Hidup Kita Sendiri
Ada ungkapan yang sangat dalam dari Ibn 'Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيرِ"Istirahatkan dirimu dari kesibukan mengatur segala sesuatu."
Ibn 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam Al-'Atha'iyyah.
Ini bukan seruan untuk berhenti merencanakan. Perencanaan adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan. Ini adalah seruan untuk berhenti merasa bahwa seluruh alam semesta harus berjalan sesuai rencana kita — bahwa setiap variabel harus dalam genggaman kita, bahwa setiap hasil harus sesuai dengan skenario yang telah kita susun.
Sebagian besar dari kita sebenarnya tidak lelah karena pekerjaan. Kita lelah karena terus-menerus memikirkan pekerjaan itu bahkan ketika kita tidak mengerjakannya. Kita tidak hancur karena masa depan. Kita hancur karena berusaha mengendalikan masa depan sebelum ia datang.
Padahal hari esok tidak pernah diperintahkan untuk kita kendalikan. Ia hanya diperintahkan untuk kita persiapkan.
Ketika perencanaan berubah menjadi sandaran utama, kecemasan sering datang sebagai konsekuensinya. Rencana yang tidak terwujud bukan lagi sekadar kegagalan satu hal — ia terasa seperti kegagalan seluruh hidup, karena seluruh hidup memang telah digantungkan padanya.
Inilah yang dimaksud Ibn 'Athaillah: bukan berhenti berencana, tetapi berhenti menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penjamin bahwa rencana itu harus terwujud persis seperti yang dibayangkan.
Tawakal di Zaman yang Tidak Pasti
Mungkin ketenangan bukan ditemukan ketika semua pertanyaan hidup terjawab. Mungkin ketenangan lahir justru ketika kita berhenti menuntut agar semua pertanyaan itu terjawab sekarang — hari ini, jam ini, dengan cara yang kita kehendaki.
Sebab tawakal bukan berarti mengetahui apa yang akan terjadi besok. Tawakal adalah tetap melangkah meskipun kita tidak mengetahuinya — karena kita mengenal Dzat yang memegang hari esok itu. Kita diminta berikhtiar, bukan mengendalikan takdir. Kita diminta berjalan, bukan memastikan ujung jalan.
Dan bagi siapa yang sungguh-sungguh menyerahkan urusannya kepada Allah, Allah sendiri yang menjamin kecukupannya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah menetapkan kadar bagi setiap sesuatu."
Al-Qur'an, Surah At-Thalaq [65]: 3.
Ada keindahan yang sering luput dari perhatian kita pada ayat ini. Allah tidak hanya berfirman bahwa Dia akan mencukupi orang yang bertawakal. Allah juga menegaskan: "Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya." Seolah-olah Allah sedang mengingatkan bahwa dunia tidak bergantung pada kecemasan kita agar tetap berjalan. Bahkan tanpa kita mampu mengendalikan semuanya, Allah tetap menunaikan kehendak-Nya dengan sempurna — hari demi hari, tanpa pernah tertunda satu detik pun dari waktu yang telah Dia tetapkan.
Semoga Allah memberikan kepada kita hati yang benar-benar bertawakal. Hati yang terus bergerak, tapi tidak diperbudak hasil. Hati yang terus merencanakan, tapi tidak hancur ketika rencana berubah. Hati yang hidup di dunia penuh ketidakpastian ini — tapi tidak pernah kehilangan tempat untuk bersandar.
Aamiin yaa Rabbal 'aalamiin.
Referensi
- Al-Qur'an, Surah At-Thalaq [65]: 3.
- Hadis tawakal seperti burung, dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi; shahih).
- Hadis tentang qadar, dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma (HR. At-Tirmidzi; hasan shahih).
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Kitab at-Tawakkal, Juz IV.
- Al-Muhasibi, Kitab ar-Ri'ayah li Huquqillah.
- Ibn Rajab Al-Hanbali, Jami' Al-'Ulum wal-Hikam.
- Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Juz II.
- Ibn 'Athaillah As-Sakandari, Al-Hikam Al-'Atha'iyyah.
