Hasan al-Bashri: Imam Muhasabah, Penjaga Hati, dan Guru Zuhud Sepanjang Zaman
Hasan al-Bashri: Imam Muhasabah, Penjaga Hati, dan Guru Zuhud Sepanjang Zaman
Menelusuri Biografi, Hikmah, dan Terapi Jiwa dari Sang Pewaris Spiritualitas Para Sahabat
Oleh: Nuraini Persadani
Ada seorang tabi'in yang namanya hampir tak pernah absen dari halaman kitab-kitab zuhud, tazkiyatun nufus, dan spiritualitas Islam klasik. Bukan karena beliau menulis ensiklopedi yang tebal, bukan pula karena beliau memegang jabatan di istana khalifah. Namanya bertahan lebih dari tiga belas abad semata-mata karena satu hal: nasihat-nasihatnya menghunjam langsung ke dalam hati.
Dialah Hasan al-Bashri — imam zuhud, penjaga muhasabah, dan pewaris paling setia dari spiritualitas generasi sahabat Nabi ﷺ.
Lahir di Lingkaran Cahaya Madinah
Hasan al-Bashri lahir di Madinah pada tahun 21 H / 642 M, dua tahun sebelum berakhirnya kekhalifahan Umar bin al-Khaththab. Nama lengkapnya adalah Abu Sa'id al-Hasan bin Abi al-Hasan al-Bashri. Ayahnya, Yasar, adalah seorang bekas budak yang dibebaskan oleh Zaid bin Tsabit, sahabat Nabi yang dikenal sebagai penulis wahyu. Ibunya, Khairah, pernah menjadi pelayan Ummu Salamah, salah seorang Ummahatul Mukminin.
Dari lingkungan inilah Hasan al-Bashri bertumbuh. Rumah tangga yang meskipun sederhana dalam status sosial, namun amat kaya dalam kedekatan dengan cahaya kenabian. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah menyusuinya, dan bayi kecil itu sesekali digendong serta didoakan oleh para sahabat Nabi ﷺ.
Beliau kemudian menetap di Basra, kota yang pada masa itu menjadi salah satu pusat ilmu dan peradaban Islam di Iraq, sehingga dinisbahkan kepada kota tersebut dan dikenal sebagai al-Bashri.
Murid Para Sahabat: Sanad Hati yang Tak Putus
Yang membuat Hasan al-Bashri benar-benar istimewa adalah posisinya sebagai penghubung langsung antara generasi sahabat dan generasi tabi'in. Para ulama menyebutkan bahwa beliau sempat berjumpa dan belajar dari puluhan sahabat Nabi ﷺ, di antaranya:
- Anas bin Malik
- Abdullah bin Abbas
- Abdullah bin Umar
- Jabir bin Abdullah
- Abu Hurairah
- Utsman bin Affan (saat Hasan masih muda)
- Ali bin Abi Thalib
Murid beliau, Qatadah bin Di'amah, pernah berkata:
"Aku tidak pernah melihat seseorang yang perkataannya lebih menyerupai perkataan para sahabat Rasulullah daripada Hasan al-Bashri."
Pujian ini bukan sekadar penghargaan retorika. Ia mencerminkan kenyataan bahwa Hasan al-Bashri tidak hanya menghafal ilmu para sahabat — beliau mewarisi cara pandang, orientasi akhirat, dan kedalaman hati mereka.
Guru yang Melahirkan Generasi Ulama
Dari halaqah Hasan al-Bashri di Basra lahirlah deretan nama yang kemudian menjadi pilar-pilar keilmuan Islam. Di antara murid-muridnya yang terkenal:
- Muhammad bin Sirin — imam tafsir mimpi dan hadis
- Qatadah bin Di'amah — ahli tafsir dan hadis
- Ayyub as-Sakhtiyani — muhaddits terpercaya
- Yunus bin Ubaid — ulama zuhud Basra
- Malik bin Dinar — zahid dan penulis hikmah
- Habib al-Ajami — tokoh awal tradisi tazkiyatun nufus
Melalui murid-muridnya, pengaruh Hasan al-Bashri mengalir jauh ke dalam sejarah Islam. Pengaruh dan jejak pemikiran beliau tampak dalam tradisi tazkiyatun nufus yang kemudian berkembang pada generasi-generasi berikutnya, dari Al-Harits al-Muhasibi, Abu Hamid al-Ghazali, hingga Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah.
Fragmen Kehidupan yang Menggetarkan
Tangis yang Bukan Kelemahan
Hasan al-Bashri dikenal sebagai ulama yang sangat sering menangis. Bukan tangis kelemahan — melainkan tangis yang lahir dari kesadaran mendalam tentang keagungan Allah dan kerapuhan manusia. Orang-orang di sekitarnya berkata:
"Seakan-akan neraka hanya diciptakan untuk dirinya seorang."
Bukan karena beliau putus asa dari rahmat Allah. Justru sebaliknya — beliau hidup dalam muraqabah yang sangat tinggi, dalam kesadaran bahwa setiap hembusan nafas dicatat, dan bahwa hisab di akhirat kelak tidak akan melewatkan satu pun amal yang terabaikan.
Kritik Terhadap Penampilan Luar
Suatu hari Hasan al-Bashri melihat orang-orang berlomba mempercantik dan memperbesar rumah mereka. Beliau berhenti, memandang sejenak, lalu berkata dengan tenang namun tajam:
"Mereka memperindah bagian luar rumah mereka, sementara hati mereka telah runtuh."
Kalimat ini tersimpan dalam kitab-kitab tazkiyatun nufus selama berabad-abad. Dan ia terasa seperti diucapkan hari ini — di era ketika citra digital, penampilan media sosial, dan dekorasi hidup menjadi obsesi, sementara kedalaman batin semakin jarang diurus.
Rahasia Zuhudnya
Seseorang pernah bertanya langsung kepada beliau:
"Apa rahasia zuhudmu?"
Hasan al-Bashri menjawab dengan tenang:
"Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, maka hatiku tenang. Aku tahu amalanku tidak akan dikerjakan orang lain, maka aku sibuk dengannya. Aku tahu Allah selalu melihatku, maka aku malu bermaksiat kepada-Nya."
Tiga kalimat ini adalah ringkasan dari seluruh bangunan spiritualitas beliau: tawakal yang menghasilkan ketenangan, keistiqamahan yang lahir dari tanggung jawab, dan muraqabah yang melahirkan rasa malu kepada Allah.
Keberanian di Hadapan Penguasa
Hasan al-Bashri hidup pada masa Dinasti Umayyah — sebuah era yang tidak sepi dari guncangan politik, ketidakadilan, dan tekanan terhadap ulama. Namun beliau tidak berdiam diri. Ketika diminta memberikan nasihat kepada seorang gubernur, beliau berkata dengan tegas namun penuh adab:
"Takutlah kepada Allah dalam urusan manusia, dan jangan takut kepada manusia dalam urusan Allah."
Kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang saleh dan menghormati ulama, beliau menulis nasihat yang kemudian menjadi salah satu konsep kepemimpinan paling indah dalam literatur salaf:
"Ketahuilah bahwa Allah menjadikan imam yang adil sebagai penegak bagi setiap yang menyimpang, perbaikan bagi setiap yang rusak, kekuatan bagi setiap yang lemah, dan keadilan bagi setiap yang terzalimi."
Keberanian ini bukan lahir dari ambisi atau rasa percaya diri yang berlebihan. Ia lahir dari zuhud — dari hati yang tidak bergantung kepada manusia, karena telah sepenuhnya bergantung kepada Allah.
Surat kepada Khalifah yang Takut kepada Allah
Berbeda dengan para gubernur zalim yang pernah beliau hadapi, hubungan Hasan al-Bashri dengan Umar bin Abdul Aziz adalah hubungan yang dibangun di atas saling menghormati antara ulama dan pemimpin yang saleh. Umar bin Abdul Aziz — khalifah Umayyah yang dikenal kezuhudannya hingga sering disebut sebagai "khalifah kelima Khulafa Rasyidun" — sangat menghormati Hasan al-Bashri dan sering meminta nasihatnya.
Dalam salah satu surat yang dikirimkan kepada Umar bin Abdul Aziz, Hasan al-Bashri menulis:
"Ketahuilah bahwa Allah menjadikan imam yang adil sebagai penegak bagi setiap yang menyimpang, perbaikan bagi setiap yang rusak, kekuatan bagi setiap yang lemah, dan keadilan bagi setiap yang terzalimi. Jadilah di dunia seperti seorang ayah yang penyayang bagi anak-anaknya."
Nasihat ini bukan sekadar instruksi politik. Ia adalah tazkiyatun nufus yang ditujukan kepada seorang pemimpin: bahwa kekuasaan bukan hak istimewa untuk dinikmati, melainkan amanah yang akan dihisab. Hasan al-Bashri memahami bahwa pemimpin yang hatinya takut kepada Allah adalah rahmat bagi seluruh rakyatnya — dan pemimpin yang hatinya lalai adalah musibah bagi semuanya.
Kombinasi antara ulama hati dan pemimpin yang saleh ini menjadi salah satu halaman paling indah dalam sejarah Islam awal: keduanya saling menguatkan dalam ketakwaan, bukan saling memanfaatkan dalam kepentingan.
Yang Paling Ditakuti Hasan al-Bashri
Hasan al-Bashri tidak takut miskin. Tidak takut kehilangan jabatan. Bahkan tidak takut kepada penguasa yang berkuasa. Namun ada satu hal yang benar-benar membuat beliau gemetar dan menangis sepanjang malam.
Yang paling beliau takutkan adalah hati yang keras dan lalai dari Allah.
Dalam banyak nasihatnya, beliau memperingatkan tentang ghaflah — kelalaian hati yang menyelinap tanpa disadari. Bukan dosa besar yang terang-terangan, tetapi hati yang perlahan menjauh dari Allah sementara pemiliknya merasa baik-baik saja. Tentang inilah beliau berkata:
"Aku tidak pernah melihat suatu keyakinan yang lebih menyerupai keraguan daripada keyakinan manusia terhadap kematian. Semua mengaku yakin akan mati, tetapi sedikit yang mempersiapkannya."
Beliau juga sangat sering memperingatkan tentang ṭūlul amal — panjang angan-angan yang membuat manusia merasa masih punya banyak waktu untuk bertaubat, memperbaiki diri, dan kembali kepada Allah:
"Panjang angan-angan telah merusak banyak manusia; mereka menunda taubat hingga maut datang secara tiba-tiba."
Dalam pandangan Hasan al-Bashri, qaswatul qalb — kerasnya hati — adalah akar dari seluruh kerusakan. Karena hati yang keras tidak lagi tersentuh oleh ayat Al-Qur'an, tidak lagi tergugah oleh peringatan kematian, tidak lagi bergetar saat mendengar nama Allah. Ia menjadi seperti batu yang airnya mengalir di atasnya tanpa meresap.
Karena itulah seluruh nasihat beliau bermuara pada satu tujuan: menjaga agar hati tetap hidup, tetap lunak, tetap sadar. Bukan sekadar menjaga amal lahiriah, tetapi menjaga orientasi batin yang menjadi sumber dari semua amal.
Mengapa Hasan al-Bashri Berani?
Banyak orang mengira keberanian lahir dari kekuatan fisik, jaringan sosial, atau kemampuan berbicara. Namun dalam tradisi Hasan al-Bashri, keberanian sejati lahir dari sesuatu yang lebih dalam: zuhud terhadap dunia.
Jika direnungkan, sebagian besar ketakutan manusia berakar pada satu hal: takut kehilangan. Takut kehilangan jabatan, penghasilan, reputasi, relasi, atau kenyamanan. Karena itulah banyak orang mengetahui kebenaran tetapi tidak berani mengucapkannya. Mereka tidak kalah oleh kebatilan — mereka kalah oleh keterikatan hati.
Hasan al-Bashri memahami akar masalah ini. Maka beliau tidak memulai perbaikan umat dari pidato politik, melainkan dari penyucian hati.
Beliau menjelaskan:
"Zuhud di dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta. Zuhud adalah engkau lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu."
Artinya, seseorang boleh memiliki dunia. Yang berbahaya adalah ketika dunia memiliki dirinya. Ada orang miskin tetapi sangat rakus terhadap dunia. Ada pula orang kaya yang hatinya tidak bergantung kepada dunia. Yang kedua lebih dekat kepada makna zuhud.
Dan ketika hati tidak lagi bergantung kepada dunia, ancaman kehilangan menjadi kehilangan taringnya. Inilah yang membuat Hasan al-Bashri mampu berdiri di hadapan penguasa dengan tenang, bukan karena beliau tidak tahu risikonya, melainkan karena beliau meyakini:
"Aku tahu rezekiku tidak akan diambil orang lain, maka hatiku tenang."
Inilah pelajaran yang sangat relevan bagi para dai, aktivis, penulis, dan siapa pun yang hidup di zaman tekanan sosial dan ketergantungan digital. Selama pujian manusia lebih berharga daripada ridha Allah, keberanian akan sulit lahir. Selama kehilangan dunia terasa lebih menakutkan daripada kehilangan akhirat, keberanian akan tetap rapuh.
Maka jalan menuju keberanian bukan pertama-tama dengan menguatkan suara, melainkan dengan membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain Allah. Di situlah zuhud bertemu dengan kemerdekaan jiwa.
Dokter Hati dari Basrah
Jika ulama hadis dikenal karena kekuatan sanad, dan ulama fiqh dikenal karena ketajaman istidlal, maka Hasan al-Bashri dikenal karena sesuatu yang berbeda: kemampuannya mendiagnosis penyakit hati dan menunjukkan jalan penyembuhannya.
Beliau adalah — meminjam istilah modern — seorang psikolog spiritual generasi tabi'in.
Jika seseorang datang kepada beliau dengan berbagai masalah kehidupan yang berbeda-beda, Hasan al-Bashri hampir selalu kembali kepada akar yang sama: hati yang lalai, cinta dunia yang tersembunyi, kurangnya muraqabah, dan panjang angan-angan yang menunda perbaikan diri.
Beliau berkata tentang hati:
"Obatilah hatimu, karena Allah menghendaki kebaikan hamba-Nya sesuai dengan keadaan hatinya."
Ketika Nabi ﷺ bersabda: "Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baik seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusak seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati" — Hasan al-Bashri menjadikan hadis ini sebagai prinsip dasar seluruh nasihatnya. Baginya, memperbaiki akhlak tanpa memperbaiki hati ibarat menyiram dedaunan tanpa mengairi akarnya.
Beliau juga memiliki kemampuan langka untuk membaca hubungan antara penyakit lahir dan penyakit batin. Seseorang yang mudah marah? Akarnya adalah hati yang tidak tawakal. Seseorang yang suka bermewah-mewah? Akarnya adalah hati yang tidak yakin kepada janji Allah. Seseorang yang penakut dan tidak berani berkata benar? Akarnya adalah hati yang terlalu mencintai dunia.
Karena itu nasihat Hasan al-Bashri tidak pernah berhenti pada gejala. Ia selalu menembus ke akar.
Mutiara Hikmah Hasan al-Bashri
Tidak banyak ulama yang nasihat-nasihatnya bertahan begitu segar melintas zaman. Hasan al-Bashri adalah salah satu pengecualian langka. Perkataan-perkataannya singkat, tetapi menyimpan ladang renungan yang tidak ada habisnya.
Banyak nasihat Hasan al-Bashri bertahan lebih dari tiga belas abad karena berbicara kepada penyakit hati yang tidak pernah berubah. Dunia berubah, teknologi berubah, tetapi hati manusia tetap bergulat dengan persoalan yang sama: waktu yang terus berlalu, dunia yang memperdaya, amal yang tidak pernah terasa cukup, dan kematian yang selalu lebih dekat dari yang disangka.
Tentang waktu:
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi."
Tentang dunia:
"Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah berlalu, esok yang belum tentu engkau jumpai, dan hari ini yang sedang berada di tanganmu."
Tentang muhasabah:
"Tidaklah seorang hamba benar-benar memahami agamanya sampai ia lebih keras menghisab dirinya daripada seorang mitra yang sangat kikir kepada rekannya."
Tentang amal:
"Janganlah amal yang sedikit membuatmu merasa aman, dan jangan pula dosa yang sedikit membuatmu meremehkannya."
Tentang generasi salaf dan waktu:
"Aku bertemu banyak kaum. Mereka lebih pelit terhadap waktu mereka daripada kalian terhadap dinar dan dirham kalian."
Al-Qur'an yang Dibaca dengan Mata Hati
Hasan al-Bashri bukan hanya zahid dan penasihat. Beliau juga seorang mufassir dari kalangan tabi'in yang pendekatannya sangat khas: tafsirnya tidak berhenti pada makna bahasa, tetapi selalu bermuara pada tadabbur dan penyucian jiwa. Setiap ayat, di tangannya, berubah menjadi cermin hati.
QS. Adz-Dzariyat: 56
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
Hasan al-Bashri berkata: "Maknanya: agar mereka mengenal-Ku." Ibadah yang sejati lahir dari ma'rifatullah. Semakin seseorang mengenal Allah, semakin tulus dan mendalam ibadahnya.
QS. Al-Mulk: 2
"Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapa yang paling baik amalnya."
Beliau menjelaskan: "Bukan yang paling banyak amalnya, tetapi yang paling ikhlas dan paling benar." Kualitas amal lebih penting daripada kuantitasnya — sebuah koreksi terhadap kecenderungan manusia mengukur kesalehan dari jumlah.
QS. Qaf: 16
"Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Hasan al-Bashri berkata: "Allah mengetahui rahasiamu sebelum engkau mengucapkannya." Ayat ini beliau gunakan untuk menanamkan muraqabah: kesadaran bahwa Allah mengetahui bisikan hati yang paling tersembunyi.
QS. Ar-Ra'd: 28
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
Beliau menjelaskan: "Hati orang beriman tenang kepada janji Allah, sedangkan hati orang munafik tenang kepada dunia." Ini bukan sekadar tafsir — ini adalah diagnosa orientasi hati.
QS. Al-'Ankabut: 45
"Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
Hasan al-Bashri berkata: "Barang siapa salatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka salat itu belum memberinya manfaat sebagaimana mestinya." Tujuan salat bukan menggugurkan kewajiban, tetapi mengubah akhlak.
Jika dicermati, Hasan al-Bashri hampir selalu mengarahkan tafsir ayat kepada tiga pertanyaan: Apa yang ayat ini katakan tentang hati kita? Penyakit jiwa apa yang sedang diperingatkan? Dan apa yang harus berubah dalam diri kita setelah memahaminya? Al-Qur'an, dalam pandangan beliau, bukan semata-mata teks untuk dipahami oleh akal. Ia adalah cahaya untuk menghidupkan hati.
Karena itu Hasan al-Bashri tidak membaca Al-Qur'an untuk mengetahui lebih banyak, melainkan untuk berubah menjadi lebih baik.
Kesaksian Para Ulama: Hampir Seperti Ijma'
Jarang sekali seorang tokoh mendapat pujian dari spektrum ulama yang seluas ini. Namun dalam kasus Hasan al-Bashri, para imam dari berbagai mazhab dan generasi hampir bersepakat dalam kekaguman mereka.
Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala' memberi gelar: "Al-Imam, al-Qudwah, Syaikh al-Islam" — imam besar, teladan umat, pemuka Islam. Gelar al-Qudwah (teladan) secara khusus menunjukkan bahwa yang dikagumi bukan sekadar keluasan ilmunya, tetapi juga bagaimana ilmu itu menjelma menjadi akhlak dan cara hidup.
Ibnul Jauzi menyebutnya "Sayyid at-Tabi'in" — pemimpin para tabi'in — karena beliau menggabungkan banyak keutamaan sekaligus: ilmu, ibadah, dakwah, hikmah, dan tazkiyatun nufus.
Ayyub as-Sakhtiyani berkata:
"Apabila disebutkan orang-orang yang utama, maka Hasan al-Bashri adalah pemuka mereka."
Sufyan ats-Tsauri berkata:
"Pelajarilah ucapan Hasan al-Bashri, karena ia paling menyerupai ucapan para nabi dalam hikmah dan kedalaman nasihatnya."
Imam Ahmad bin Hanbal banyak meriwayatkan perkataan Hasan al-Bashri dalam kitab Az-Zuhd-nya, dan nasihat-nasihat beliau kemudian menjadi fondasi literatur tazkiyatun nufus dalam tradisi Hanbali.
Warisan yang Melampaui Zaman
Hasan al-Bashri wafat pada tahun 110 H / 728 M, dalam usia 88 tahun. Beliau tidak meninggalkan banyak kitab yang sampai dalam bentuk aslinya — karena hidup pada masa awal kodifikasi ilmu. Namun perkataan dan risalah beliau dihimpun dalam berbagai karya besar:
- Risalah ila 'Abd al-Malik ibn Marwan — surat nasihat kepada khalifah yang menjadi dokumen penting pemikiran moral Islam awal
- Az-Zuhd li al-Hasan al-Bashri — kumpulan nasihat zuhud yang dinisbatkan kepada beliau
- Atsar-atsarnya yang bertebaran dalam Hilyat al-Auliya', Sifat ash-Shafwah, Tabaqat al-Kubra, dan kitab-kitab Az-Zuhd dari Imam Ahmad dan Ibn al-Mubarak
Dalam karya-karya besar tazkiyatun nufus — dari Ihya' Ulum ad-Din karya Al-Ghazali, Hilyat al-Auliya' karya Abu Nu'aim, hingga Madarij as-Salikin karya Ibn al-Qayyim — nama Hasan al-Bashri muncul berulang kali. Bukan sebagai kutipan pelengkap, tetapi sebagai fondasi pemikiran.
Banyak ulama melihat Hasan al-Bashri sebagai salah satu pewaris paling menonjol dari tradisi ilmu hati yang berkembang di kalangan sahabat, khususnya warisan spiritual Abdullah bin Mas'ud. Dari beliau, tradisi itu mengalir kepada Malik bin Dinar, Sufyan ats-Tsauri, Al-Harits al-Muhasibi, dan seterusnya — tanpa benar-benar terputus hingga hari ini.
Penutup: Kini Giliran Kita
Hasan al-Bashri pernah berkata:
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi."
Hasan al-Bashri telah pergi lebih dari tiga belas abad yang lalu. Hari-harinya telah selesai dihitung. Namun nasihatnya masih hidup — tersimpan dalam kitab-kitab yang terus dibaca, terulang dalam hati yang masih mencarinya, terasa seperti surat yang ditulis khusus untuk zaman ini.
Kini giliran kita yang sedang menghitung sisa hari-hari itu.
Pertanyaannya bukan berapa lama lagi kita hidup. Pertanyaannya adalah: hati seperti apa yang akan kita bawa ketika hari terakhir itu tiba?
Apakah hati yang masih sibuk mengejar dunia, atau hati yang telah menemukan kembali arahnya kepada Allah? Apakah hati yang keras dan lalai, atau hati yang lunak dan selalu terjaga dalam muraqabah?
Hasan al-Bashri tidak meninggalkan istana, tidak meninggalkan harta besar, tidak meninggalkan kekuasaan. Yang beliau tinggalkan adalah cara hidup — cara memandang dunia tanpa tertipu, cara memandang diri sendiri dengan jujur, dan cara memandang Allah dengan hati yang tidak pernah berhenti bergetar.
Semoga Allah merahmati Hasan al-Bashri dengan rahmat yang seluas ilmu dan keikhlasannya, dan semoga dari teladan hidupnya kita menemukan jalan pulang menuju hati yang lebih bersih, lebih jujur, dan lebih dekat kepada-Nya. Āmīn yā Rabb al-'ālamīn.
Referensi
- Adz-Dzahabi, Syams ad-Din. Siyar A'lam an-Nubala', jilid 4. Muassasah ar-Risalah, Beirut.
- Abu Nu'aim al-Ashbahani. Hilyat al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya', jilid 2. Dar al-Kitab al-'Arabi, Beirut.
- Ibnul Jauzi, Abu al-Faraj. Sifat ash-Shafwah. Dar al-Ma'rifah, Beirut.
- Ahmad bin Hanbal. Az-Zuhd. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut.
- Ibn Sa'd, Muhammad. Thabaqat al-Kubra, jilid 7. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' Ulum ad-Din, jilid 3–4. Dar al-Ma'rifah, Beirut.
- Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Madarij as-Salikin, jilid 1. Dar al-Kitab al-'Arabi, Beirut.
