Mengapa Al-Qur'an Memilih Kata Falāḥ, Bukan Najāḥ atau Fawz?

Mengapa Al-Qur'an Memilih Kata Falāḥ, Bukan Najāḥ atau Fawz?

Rahasia mengapa Al-Qur'an tidak mengajarkan kita sekadar sukses, tetapi mengajarkan hidup yang benar-benar bertumbuh

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Najāḥ mengejar target. Falāḥ membentuk manusia. Fawz adalah buah yang Allah anugerahkan kepada manusia yang hidup dalam falāḥ.

Di zaman ketika nilai seseorang sering diukur dari angka: angka gaji, angka pengikut, angka omzet, angka prestasi. Semua orang ingin successful. Semua orang berlomba menaiki tangga yang lebih tinggi, tanpa sempat bertanya — tangga itu bersandar di dinding yang mana.

Gajinya naik. Followers bertambah. Jabatan meningkat. Namun tidur tetap gelisah. Rumah makin besar, hati makin sempit.

Lalu muncul satu pertanyaan yang mengusik:

Mengapa Al-Qur'an hampir tidak pernah menjadikan "kesuksesan" sebagai tujuan utama?

Mengapa Al-Qur'an justru berulang kali memakai satu kata yang berbeda — kata yang terasa asing di telinga orang modern, namun ternyata menyimpan kedalaman yang menakjubkan:

قَدْ أَفْلَحَ

Qad aflaha. Sungguh telah beruntung.

Bukan najaha — berhasil. Bukan faza — menang. Tapi aflaha. Selalu aflaha.

Ada apa dengan pilihan kata itu?

Jawabannya, ternyata, menyimpan sebuah tesis yang mengubah cara kita memandang seluruh perjalanan hidup: Najāḥ adalah keberhasilan mencapai target. Fawz adalah kemenangan di garis akhir perjalanan. Sedangkan falāḥ adalah keseluruhan proses hidup yang berakar, yang bertumbuh, dan yang menghasilkan kemenangan yang tidak akan pernah hilang.

Al-Qur'an memilih falāḥ karena Islam tidak memanggil kita sekadar untuk berhasil. Islam memanggil kita untuk tumbuh — hingga ke keabadian.


Tiga Kata, Tiga Dunia yang Berbeda

Bahasa Arab memiliki kekayaan kosakata yang luar biasa. Untuk menggambarkan keberhasilan saja, ada banyak kata yang tersedia. Tapi Al-Qur'an bukan kitab yang asal pilih kata.

Mari kita berdiri sejenak di hadapan tiga kata ini dan meresapi bedanya.

Pertama: Najāḥ. Artinya berhasil mencapai target. Lulus ujian? Najāḥ. Bisnis untung bulan ini? Najāḥ. Ia berbicara tentang pencapaian. Target diraih, selesai. Namun Al-Qur'an tidak menjadikan najāḥ sebagai istilah utama untuk menggambarkan tujuan hidup seorang mukmin — karena najāḥ bisa dimiliki siapa saja, mukmin maupun bukan, dan bisa hilang kapan saja.

Kedua: Fawz. Kata ini memang dipakai Al-Qur'an. Misalnya:

ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Dzālika al-fawzu al-'azhīm. "Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 111)

Namun fawz, meskipun agung, lebih menggambarkan kemenangan setelah melewati ujian: lolos dari kebinasaan, lalu memperoleh nikmat. Ia adalah hasil akhir — garis finis yang dicapai setelah semua perjuangan selesai. Seseorang masuk surga setelah selamat dari neraka: itulah fawz.

Sedangkan falāḥ adalah keadaan hidup yang membuat seseorang layak memperoleh kemenangan itu. Ia bukan garis finis; ia adalah seluruh jalan yang ditempuh menuju garis itu.

Ketiga: Falāḥ. Inilah yang unik. Dan inilah yang Al-Qur'an pilih berulang kali ketika berbicara tentang siapa yang sungguh-sungguh beruntung dalam hidupnya.


Petani dan Rahasia Falāḥ

Ada yang menarik dari akar kata falāḥ. Akar ف ل ح dalam bahasa Arab mengalami perluasan makna yang sangat bermakna: mulanya dipakai untuk menggambarkan tindakan membelah tanah — seperti yang dilakukan petani dengan bajak. Dari sana maknanya berkembang menjadi mengolah, lalu menghasilkan, lalu akhirnya: memperoleh keberuntungan yang tumbuh dari proses panjang itu.

Coba bayangkan petani itu.

Ia mencangkul. Menanam. Menyiram. Menunggu. Bersabar. Memelihara. Lalu — hanya setelah semua itu — ia memanen.

Bukan sekali jadi. Bukan instan. Bukan seperti menekan tombol dan langsung mendapat hasilnya.

Maka falāḥ bukan sekadar berhasil. Falāḥ adalah kehidupan yang terus bertumbuh, yang berakar dalam, dan pada waktunya menghasilkan buah yang nyata — bahkan buah yang kekal.

Ar-Raghib al-Ashfahani, ulama pakar kosakata Al-Qur'an, menuliskan penjelasan yang sangat indah dalam kitabnya Al-Mufradāt fī Gharīb Al-Qur'ān:

الفَلاَحُ هُوَ الظَّفَرُ وَإِدْرَاكُ البُغْيَةِ مَعَ البَقَاء

Al-falāḥu huwa azh-zhafaru wa idrāku al-bughyati ma'a al-baqā'.

"Falāḥ adalah memperoleh apa yang dicita-citakan, disertai keberlangsungan yang kekal." (Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradāt fī Gharīb Al-Qur'ān)

Perhatikan kalimat kuncinya: ma'a al-baqā' — disertai keberlangsungan. Bukan sekadar mendapat, tetapi mendapat lalu tetap memilikinya.

Dan inilah yang mengungkap segalanya: banyak keberhasilan manusia tidak memenuhi syarat ma'a al-baqā' itu. Harta bisa hilang. Jabatan bisa dicabut. Kesehatan bisa lenyap. Popularitas bisa runtuh dalam semalam. Karena itu semua, betapapun gemilangnya, belum tentu layak disebut falāḥ.

Inilah yang membedakan falāḥ dari semua kata lainnya. Falāḥ bukan pencapaian yang bisa hilang. Ia adalah keberuntungan yang mengakar, yang tidak akan dicabut oleh waktu, oleh keadaan, bahkan oleh kematian.


Al-Qur'an Berbicara Berulang Kali

Bukanlah kebetulan bahwa Al-Qur'an memakai kata ini tidak hanya sekali. Mari kita dengarkan beberapa ayatnya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

Qad aflaha al-mu'minūn. "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman." (QS. Al-Mu'minūn: 1)

Ayat pembuka Surah Al-Mu'minun ini bukan sekadar pernyataan. Ia adalah deklarasi. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa qad aflaha al-mu'minūn bermakna mereka telah memperoleh kemenangan, kebahagiaan, dan kekekalan yang sempurna — karena mereka memiliki sifat-sifat mulia yang disebutkan dalam ayat-ayat sesudahnya. Bukan sekadar "berhasil", tetapi berhasil secara utuh: di dunia dan di akhirat, lahir dan batin.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Qad aflaha man zakkāhā. "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya." (QS. Asy-Syams: 9)

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

Qad aflaha man tazakkā. "Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya." (QS. Al-A'lā: 14)

Tiga ayat, tiga pengulangan. Dan ketiganya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: falāḥ bukan soal apa yang kita raih di luar. Ia soal siapa yang kita jadikan diri kita di dalam.

Jiwa yang bersih. Hati yang tumbuh. Itulah ladang falāḥ.


Ukuran Falāḥ yang Mengejutkan

Rasulullah ﷺ pernah mengucapkan sebuah kalimat yang seolah membalikkan seluruh logika dunia:

أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Aflaha man aslama, wa ruziqa kafāfan, wa qanna'ahullāhu bimā ātāh.

"Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim, no. 1054)

Ukuran falāḥ di sini bukan kekayaan berlimpah. Bukan jabatan tinggi. Bukan pengakuan publik.

Tiga hal saja: iman, kecukupan, dan qana'ah.

Ini bukan ajaran untuk bermalas-malasan. Ini adalah ajaran tentang di mana letak akar keberuntungan yang sesungguhnya. Bahwa ketenangan jiwa, rasa syukur yang tumbuh, dan hati yang lapang — itulah tanah tempat falāḥ berakar paling dalam.


Dua Potret Kehidupan

Bayangkan dua orang.

Yang pertama berusia 38 tahun. CEO sebuah perusahaan. Mobil mewah terparkir di garasi. Rumah megah di kawasan elite. Namun setiap malam ia membutuhkan obat tidur. Anaknya takut berbicara dengannya. Shalatnya sering tertinggal, atau dilakukan terburu-buru di antara jadwal rapat.

Dunia menyebutnya sukses.

Yang kedua seorang guru di desa kecil. Rumahnya sederhana. Penghasilannya biasa saja. Tapi setiap subuh ia sudah di shaf pertama. Anaknya hafal beberapa juz Al-Qur'an. Tetangganya mencintainya. Dan ketika ajal menjemput, ia pergi dengan kalimat yang paling indah di ujung lidahnya: Lā ilāha illallāh.

Siapa yang sedang memanen kehidupan?

Siapa yang sedang menuju falāḥ?


Ketika Psikologi Modern Bertemu Falāḥ

Menariknya, ilmu jiwa modern pun mulai menyadari bahwa manusia tidak cukup hanya dengan "berhasil".

Para psikolog membedakan dua jenis kebahagiaan: hedonic well-being — mengejar kenikmatan dan pencapaian sesaat; dan eudaimonic well-being — kehidupan yang bermakna, yang bertumbuh, yang selaras dengan nilai-nilai terdalam seorang manusia. Carol Ryff, psikolog dari University of Wisconsin yang lama meneliti tentang psychological well-being, menemukan bahwa pertumbuhan pribadi dan makna hidup jauh lebih berkontribusi pada kebahagiaan sejati daripada pencapaian material semata.

Penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa manusia yang paling bahagia secara sejati bukanlah yang paling banyak memiliki, melainkan yang hidupnya paling bermakna — yang terhubung dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Temuan psikologi modern mengenai kehidupan yang bermakna memberi resonansi yang menarik dengan konsep falāḥ dalam Al-Qur'an. Bahwa manusia tidak diciptakan untuk sekadar najāḥ. Ia diciptakan untuk falāḥ — untuk kehidupan yang terus bertumbuh, berakar dalam keimanan, dan berbuah hingga melampaui batas dunia.


Ḥayya 'alal Falāḥ — Lima Kali Sehari Kita Dipanggil

Ada satu tempat di mana kata falāḥ bergema paling keras — dan kita mendengarnya lima kali setiap hari, sering tanpa menyadari dalamnya maknanya.

Saat muadzin berseru:

حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

Ḥayya 'alal falāḥ. "Marilah menuju falāḥ."

Menariknya, syariat memilih lafaz Ḥayya 'alal falāḥ. Pilihan ini selaras dengan cara Al-Qur'an membangun kosakata spiritualnya — bahwa salat bukan sekadar ritual menuju sukses duniawi, melainkan jalan menuju falāḥ: keberuntungan yang tumbuh, yang bertahan, yang tidak akan pernah hilang meskipun dunia berganti.

Lima kali sehari kita dipanggil. Bukan dipanggil untuk berhasil. Tetapi dipanggil untuk bertumbuh.


Falāḥ — Kata yang Menghubungkan Dunia dan Akhirat

Al-Qur'an memberi kita satu panduan yang sangat indah tentang bagaimana seorang mukmin memandang dunianya:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāra al-ākhirata wa lā tansa naṣībaka mina ad-dunyā.

"Dan carilah pada apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qaṣaṣ: 77)

Inilah jembatan yang sempurna. Falāḥ bukan mengajak kita meninggalkan dunia. Falāḥ mengajak kita menjadikan dunia sebagai ladang yang digarap dengan sepenuh hati — untuk menuai buah di akhirat.

Najāḥ bisa terjadi pada siapa saja: mukmin maupun bukan. Seorang yang tidak beriman pun bisa lulus ujian, untung dalam bisnis, dan naik jabatan. Najāḥ adalah urusan dunia yang bersifat netral.

Fawz — dalam pengertian Al-Qur'an yang paling agung — adalah hasil akhir di akhirat: selamat dari neraka dan memasuki surga. Ia adalah titik tiba.

Tetapi falāḥ adalah perjalanannya itu sendiri. Ia adalah cara hidup seorang mukmin, dari dunia hingga akhirat, yang jika dijalani dengan benar akan mengantarkan kepada fawz yang agung di penghujungnya. Falāḥ adalah proses; fawz adalah buahnya.

Itulah mengapa falāḥ menjadi kosakata khas Al-Qur'an untuk menggambarkan identitas seorang mukmin sejati — bukan sekadar apa yang ia raih, melainkan siapa ia dalam perjalanannya kepada Allah.


Muflihūn — Kosakata Spiritual yang Al-Qur'an Bangun Sendiri

Ada satu hal kecil yang menyimpan makna besar.

Al-Qur'an berkali-kali menggunakan satu frasa yang sama untuk mengakhiri deskripsi orang-orang beriman yang mulia:

أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Ulā'ika humu al-muflihūn. "Merekalah orang-orang yang beruntung."

(Antara lain: QS. Al-Baqarah: 5 — tentang orang-orang bertakwa; QS. Āli 'Imrān: 104 — tentang mereka yang menyeru kepada kebaikan; QS. Al-Ḥasyr: 9 — tentang kaum Ansar yang mengutamakan saudaranya.)

Tiga konteks yang berbeda, tiga kelompok manusia yang berbeda — namun Al-Qur'an menutupnya dengan satu cap yang sama: al-muflihūn. Bukan al-nājihūn — yang berhasil. Tidak ada istilah itu. Al-Qur'an sedang membangun kosakata spiritualnya sendiri, dan kata yang dipilihnya adalah falāḥ.

Sebab surga bukan sekadar keberhasilan yang dicapai sesaat. Surga adalah keberuntungan yang tidak akan pernah berakhir — ma'a al-baqā', kekal bersama keabadian.


Pada Akhirnya

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar najāḥ.

Kita ingin berhasil. Kita ingin menang. Kita ingin diakui. Kita mengisi kalender dengan target, dan mengukur diri dari seberapa banyak yang sudah tercapai.

Padahal Al-Qur'an — dengan kelembutan dan kebijaksanaannya — mengajak kita mengejar sesuatu yang jauh lebih dalam.

Falāḥ.

Hidup yang berakar. Jiwa yang bertumbuh. Amal yang berbuah. Dan keberuntungan yang tidak berhenti ketika dunia selesai.

Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah gagal sebelum mati.

Yang paling menakutkan adalah berhasil dalam segala hal — kecuali berhasil pulang kepada Allah.

Di dunia, manusia bertanya: "Seberapa tinggi engkau naik?"

Di akhirat, yang akan ditentukan adalah: apakah engkau termasuk al-muflihūn?

Boleh jadi dunia akan mengenang kita sebagai orang yang sukses. Tetapi langit hanya mengenang orang-orang yang muflihūn.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,
dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah: 201)

Ya Allah, jadikanlah hidup kami sebagai ladang falāḥ yang terus bertumbuh,
dan pertemukanlah kami dengan-Mu dalam keadaan muflihūn.
Āmīn.


Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim: QS. Al-Mu'minūn: 1; QS. Asy-Syams: 9; QS. Al-A'lā: 14; QS. At-Taubah: 111; QS. Al-Qaṣaṣ: 77; QS. Al-Baqarah: 5, 201; QS. Āli 'Imrān: 104; QS. Al-Ḥasyr: 9
  2. Imam Muslim, Shahīh Muslim, no. 1054 (hadits tentang tiga ukuran falāḥ)
  3. Ar-Raghib al-Ashfahani, Al-Mufradāt fī Gharīb Al-Qur'ān, entri: ف ل ح
  4. Imam Ibnu Katsir, Tafsīr Al-Qur'ān Al-'Azhīm, tafsir QS. Al-Mu'minūn: 1
  5. Carol Ryff, "Happiness Is Everything, or Is It? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being", Journal of Personality and Social Psychology, 1989
  6. Lafaz adzan: Ḥayya 'alal falāḥ — seruan salat menuju keberuntungan yang kekal

Artikel Populer

APBN 2026 Dirancang Pro-UMKM

Ketika Ego Memakai Jubah Agama

Ketika Doa Belum Mengubah Keadaan, Ia Sedang Mengubah Dirimu

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya