Ketika Ego Memakai Jubah Agama

Ketika Ego Memakai Jubah Agama

Jejak Dzul Khuwaishirah hingga Ekstremisme Modern: Sebuah Tinjauan Tazkiyatun Nufus

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Selasa, 7 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 M

Tidak ada seorang Khawarij yang bangun pagi lalu berkata dalam hatinya, "Hari ini aku ingin keluar dari Islam yang benar." Tidak ada seorang pelaku kekerasan atas nama agama yang terbangun di penghujung malam lalu membatin, "Hari ini aku akan menjadi musuh kaum muslimin." Sebaliknya, hampir semuanya bangun dengan satu keyakinan yang terasa suci: aku sedang membela agama Allah. Banyak bentuk ekstremisme keagamaan modern memperlihatkan pola psikologis dan spiritual yang sangat mirip dengan pola yang pernah diperingatkan Nabi ﷺ dalam fenomena Khawarij — meski tidak semua kekerasan atas nama agama identik satu sama lain secara hukum dan latar belakangnya.

Di sinilah letak tragedi terbesar yang pernah menimpa umat ini. Bukan ketika seorang muslim meninggalkan agamanya secara terang-terangan. Tetapi ketika ego berhasil menyamar menjadi agama — ketika hawa nafsu berhasil mengenakan jubah kesalehan — sehingga ia tidak lagi bisa dikenali, tidak oleh orang lain, dan bahkan tidak oleh si pemiliknya sendiri.

"Fanatisme kelompok yang tercela dapat mengubah panji yang syar'i menjadi panji jahiliyyah bagi orang yang fanatik terhadapnya. Hal ini merupakan suatu bentuk pelecehan terhadap ikatan Islam yang telah diridhai oleh Allah bagi orang-orang yang beriman."

— Asy-Syaikh Mahmud 'Ali Thaibah rahimahullah

Kata-kata itu bukan sekadar ungkapan indah. Ia adalah diagnosis atas sebuah penyakit hati yang sangat halus, yang sudah dibahas oleh para ulama tazkiyatun nufus selama berabad-abad, namun terus muncul kembali dalam wajah yang berbeda-beda di setiap zaman.


Dzul Khuwaishirah: Benih yang Ditanam dengan Tangan Agama

Suatu hari, Rasulullah ﷺ sedang membagikan harta ghanimah. Tiba-tiba seorang laki-laki dari Bani Tamim bernama Dzul Khuwaishirah At-Tamimi berdiri, lalu berkata dengan lantang:

اعْدِلْ يَا مُحَمَّدُ

I'dil yā Muhammad.

"Berlaku adillah wahai Muhammad!"

HR. Shahih al-Bukhari no. 6933; Shahih Muslim no. 1064

Nabi ﷺ memandangnya, lalu bersabda dengan tenang namun serius:

وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ

Wailaka wa man ya'dilu idzā lam a'dil.

"Celaka engkau! Siapa lagi yang adil jika aku tidak adil?"

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa orang ini bukan seorang yang meragukan Islam. Ia bahkan termasuk dalam barisan kaum muslimin. Namun ia menyimpan satu keyakinan yang sangat berbahaya: bahwa ia lebih mampu menilai keadilan daripada Rasulullah ﷺ itu sendiri.

Inilah benih pertama penyakit itu. Bukan ketidaktahuan. Bukan kekurangan ibadah. Bahkan secara lahiriah Dzul Khuwaishirah tampak seperti orang yang peduli terhadap keadilan dan agama. Namun yang tersembunyi di balik perkatannya adalah sesuatu yang jauh lebih dalam: ujub — rasa kagum terhadap dirinya sendiri — yang memberinya ilusi bahwa penilaiannya adalah penilaian yang paling benar, bahkan lebih benar dari manusia yang paling mulia yang pernah hidup di muka bumi.


Penyakit yang Bermula dari Diri, Bukan dari Kelompok

Para ulama tazkiyatun nufus seperti Imam Al-Ghazali, Al-Muhasibi, Ibnul Jauzi, dan Ibnul Qayyim sepakat bahwa fanatisme kelompok pada hakikatnya bukan penyakit organisasi. Ia adalah penyakit hati.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin mencatat sebuah kalimat yang mengguncang:

فَرُبَّ مُتَعَبِّدٍ يَعْبُدُ هَوَاهُ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ

Farubba muta'abbidin ya'budu hawāhu wa huwa lā yasy'ur.

"Betapa banyak ahli ibadah yang sebenarnya sedang menyembah hawa nafsunya, sementara ia tidak menyadarinya."

Ihya' Ulumiddin, Imam Al-Ghazali

Imam Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis menambahkan dimensi yang lebih spesifik. Beliau menjelaskan bagaimana setan tidak selalu menggoda seorang muslim melalui kemaksiatan yang terang-terangan. Terkadang ia berhasil melalui jalan yang jauh lebih halus:

وَمِنْ مَكَايِدِ إِبْلِيسَ أَنْ يُرِيَ الإِنْسَانَ أَنَّهُ إِنَّمَا يَغْضَبُ لِلَّهِ وَهُوَ يَغْضَبُ لِنَفْسِهِ

Wa min makāyidi Iblīs an yuriyal-insāna annahu innamā yaghdhabu lillāh wa huwa yaghdhabu linafsih.

"Di antara tipu daya Iblis adalah membuat seseorang merasa bahwa ia marah karena Allah, padahal sebenarnya ia marah karena dirinya sendiri."

Talbis Iblis, Imam Ibnul Jauzi

Kalimat ini memiliki ketajaman yang luar biasa. Betapa banyak kemarahan yang dibungkus dengan kata-kata agama, betapa banyak perselisihan yang diatasnamakan pembelaan terhadap sunnah, betapa banyak permusuhan antar sesama muslim yang dikemas sebagai semangat amar ma'ruf nahi mungkar — padahal yang sebenarnya bekerja di balik itu semua bukan kecintaan kepada Allah, melainkan kecintaan kepada diri sendiri dan kepada kelompoknya.


Ketika Jamaah Berubah Menjadi Berhala

Islam tidak melarang berjamaah. Al-Qur'an justru memerintahkannya:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Wal takun minkum ummatuy yad'ūna ilal-khairi wa ya'murūna bil-ma'rūfi wa yanhawna 'anil-munkar.

"Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar."

QS. Ali Imran: 104 — Tafsir Ibnu Katsir

Jamaah, harakah, pesantren, majelis ilmu, organisasi Islam — pada asalnya semua itu adalah sarana, bukan tujuan. Ia dibentuk sebagai kendaraan untuk menuju ridha Allah. Namun penyakit itu muncul ketika proses yang sangat halus terjadi di dalam hati, sebuah pergeseran yang hampir tidak terasa:

Awalnya seseorang berkata dalam hatinya, "Aku mencintai jamaah ini karena dakwahnya." Lalu perlahan berubah menjadi, "Aku mencintai dakwah ini karena jamaahku." Dan akhirnya sampai pada titik paling berbahaya: "Aku membela jamaahku walaupun ia salah."

Imam Asy-Syathibi dalam Al-I'tisham mengingatkan bahwa kelompok yang terpuji adalah yang berkumpul di atas Al-Qur'an dan Sunnah, bukan di atas nama, tokoh, atau identitas tertentu. Sebagaimana dinukil dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

الجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

Al-jamā'atu mā wāfaqal-ḥaqqa wa in kunta waḥdak.

"Jamaah adalah siapa saja yang berada di atas kebenaran walaupun engkau sendirian."

Ketika jamaah tidak lagi berfungsi sebagai sarana menuju kebenaran, tetapi berubah menjadi identitas yang harus dipertahankan — maka tanpa disadari, ia telah berubah menjadi semacam berhala modern. Bukan berhala dari kayu atau batu, tetapi berhala dari rasa bangga, loyalitas buta, dan keinginan untuk selalu menang. Allah sendiri telah mencela sikap ini:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Kullu hizbin bimā ladaihim farihūn.

"Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka."

QS. Ar-Rum: 32 — Tafsir Ibnu Katsir


Nabi ﷺ Menyebutnya Busuk

Sebuah peristiwa penting tercatat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Ketika terjadi gesekan antara seorang Muhajirin dan seorang Anshar, masing-masing memanggil kelompoknya. Yang satu berseru, "Wahai kaum Muhajirin!" dan yang lain membalas, "Wahai kaum Anshar!" Padahal keduanya adalah kelompok yang paling mulia dalam sejarah Islam.

Rasulullah ﷺ segera memotong:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

Da'ūhā fa innahā muntinah.

"Tinggalkanlah seruan itu, karena sesungguhnya ia busuk."

Muttafaqun 'Alaih — HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini mencakup semua bentuk fanatisme: fanatisme suku, fanatisme kelompok, fanatisme organisasi, fanatisme tokoh, dan fanatisme madrasah — sebab beliau menegaskan kata "dan segala yang semisal dengannya." Nabi ﷺ tidak melarang Muhajirin atau Anshar sebagai jamaah — keduanya tetap mulia. Yang dicela adalah cara fanatik dalam membela kelompok.

Dan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Nabi ﷺ bahkan memberikan peringatan yang lebih keras:

مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو إِلَى عَصَبِيَّةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

Man qātala taḥta rāyatin 'immiyyah yad'ū ilā 'aṣabiyyah aw yanṣuru 'aṣabiyyah fa qitlatun jāhiliyyah.

"Barangsiapa berperang di bawah panji buta, menyeru kepada fanatisme golongan atau membela fanatisme golongan, lalu terbunuh, maka matinya seperti kematian jahiliyyah."

HR. Shahih Muslim

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa "panji buta" adalah perkara yang tidak jelas arah kebenarannya — di mana seseorang membela kelompoknya bukan untuk menegakkan kebenaran, tetapi semata karena mereka adalah kelompoknya.


Ibnu Taimiyyah dan Cabang Jahiliyyah yang Tersembunyi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memberikan rumusan yang sangat jernih dalam Majmu' al-Fatawa:

فَمَنْ تَعَصَّبَ لِأَهْلِ بَلَدِهِ أَوْ مَذْهَبِهِ أَوْ طَرِيقَتِهِ أَوْ لِأَقَارِبِهِ أَوْ لِأَصْحَابِهِ دُونَ غَيْرِهِمْ كَانَتْ فِيهِ شُعْبَةٌ مِنَ الجَاهِلِيَّةِ

Faman ta'aṣṣaba li ahli baladihi aw madhhabihi aw ṭarīqatihi aw li aqāribihi aw li aṣḥābihi dūna ghairihim kānat fīhi syu'batun minal jāhiliyyah.

"Barangsiapa fanatik kepada negeri, mazhab, kelompok, kerabat, atau teman-temannya dengan mengesampingkan selain mereka, maka pada dirinya terdapat satu cabang jahiliyyah."

Majmu' al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah

Beliau tidak mengatakan bahwa mazhab atau kelompok itu haram secara mutlak. Yang tercela adalah empat hal: membela kelompok walaupun salah, menolak kebenaran karena datang dari kelompok lain, mengukur kebenaran berdasarkan tokoh bukan berdasarkan dalil, dan mencintai serta membenci hanya karena afiliasi kelompok.

Sementara Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin memberikan kaidah yang membedakan antara orang yang hatinya hidup dan orang yang hatinya terjangkit penyakit ini:

يَدُورُ مَعَ الحَقِّ حَيْثُ دَارَ

Yadūru ma'al-haqqi haitsu dār.

"Ia berputar bersama kebenaran ke mana pun kebenaran itu berada."

Madarijus Salikin, Ibnul Qayyim

Orang yang hatinya sehat tidak berkata, "Kebenaran adalah apa yang ada pada kelompokku." Ia berkata, "Kelompokku benar sejauh ia mengikuti kebenaran." Perbedaan ini tampak kecil secara kata-kata, namun sangat menentukan ke mana hati seseorang akan terbawa. Beliau juga mencatat:

فَمَا أَكْثَرَ مَا يَنْصُرُ الإِنْسَانُ القَوْلَ لَا لِكَوْنِهِ حَقًّا بَلْ لِكَوْنِهِ قَوْلَهُ

Famā aktsara mā yanshurul-insānu al-qaula lā likawnihi haqqan bal likawnihi qawlahu.

"Betapa sering seseorang membela suatu pendapat bukan karena pendapat itu benar, tetapi karena itu adalah pendapatnya."


Ketika Tokoh Menjadi Ukuran Kebenaran

Di zaman sekarang, fanatisme kelompok seringkali telah berevolusi menjadi sesuatu yang lebih personal: fanatisme tokoh. Ustadz-sentris. Syaikh-sentris. Figur-sentris. Seseorang tidak lagi sekadar fanatik kepada jamaahnya, tetapi kepada satu atau beberapa nama yang ia jadikan sebagai standar tunggal kebenaran.

Ketika tokoh menjadi ukuran kebenaran, maka setiap kritik terhadap tokoh dianggap sebagai serangan terhadap agama. Setiap koreksi ilmiah dibaca sebagai fitnah. Setiap perbedaan pendapat dinyatakan sebagai bentuk penentangan terhadap sunnah. Padahal para imam besar justru mengajarkan sebaliknya — manusialah yang diukur dengan kebenaran, bukan kebenaran yang diukur dengan manusia.

Imam Malik rahimahullah pernah memberikan pernyataan yang sangat masyhur, sambil menunjuk ke arah kubur Rasulullah ﷺ:

كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

Kullu aḥadin yu'khazu min qawlihi wa yutraku illā ṣāḥiba hādzal-qabr.

"Setiap orang bisa diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali penghuni kubur ini."

Dinukil oleh Ibnu Abdil Barr dalam Al-Intiqa' dan banyak ulama ushul

Imam Malik sendiri — yang merupakan salah satu imam terbesar sepanjang sejarah — menegaskan bahwa tidak ada satu pun manusia setelah Nabi ﷺ yang perkatannya wajib diikuti seluruhnya tanpa seleksi. Ini bukan meremehkan ulama. Ini justru bentuk penghormatan tertinggi kepada agama: menempatkan dalil di atas segala nama, dan menempatkan kebenaran di atas segala figur.


Khawarij: Ketika Kesalehan Kehilangan Tazkiyah

Peristiwa Dzul Khuwaishirah bukan berdiri sendiri. Nabi ﷺ sudah mengabarkan bahwa dari benih ujub itu akan tumbuh pohon yang lebih berbahaya. Tentang generasi yang akan lahir dari pemikiran seperti itu, beliau bersabda:

يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ

Yaḥqiru aḥadukum ṣalātahu ma'a ṣalātihim wa ṣiyāmahu ma'a ṣiyāmihim.

"Kalian akan merasa kecil salat kalian dibanding salat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka."

Muttafaqun 'Alaih — HR. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Namun Nabi ﷺ juga bersabda tentang mereka:

يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ

Yaqtulūna ahlal-Islām wa yada'ūna ahlal-awtsān.

"Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan para penyembah berhala."

HR. Shahih Bukhari no. 3344; Shahih Muslim no. 1064

Inilah paradoks yang paling mengerikan dalam sejarah Islam. Mereka rajin beribadah, rajin membaca Al-Qur'an, penuh semangat menegakkan agama. Namun mereka membunuh sahabat Nabi, mengkafirkan kaum muslimin, dan memberontak kepada pemimpin yang sah.

Kisah Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt mengabadikan paradoks ini dengan sangat nyata. Ketika Khawarij menemukan sebutir kurma jatuh dari pohon milik orang lain, mereka berkata, "Jangan dimakan, itu bukan hak kita." Mereka sangat berhati-hati terhadap sebutir kurma. Tetapi ketika bertemu Abdullah bin Khabbab — sahabat Nabi yang mulia — mereka membunuhnya bersama istrinya yang sedang hamil, hanya karena berbeda pendapat dalam masalah yang mereka perdebatkan.

Imam Ibnu Taimiyyah merangkum kondisi mereka dengan singkat namun tepat: Fasadat 'uqūluhum wa dīnuhum — "Rusak akal mereka dan rusak pula agama mereka." Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat dari buruannya — begitu cepat, begitu jauh, tanpa mereka sendiri menyadarinya. Sebab ketika seseorang sudah yakin bahwa dirinya paling membela agama, tidak ada lagi suara yang bisa masuk untuk mengoreksinya.


Mengapa Orang Saleh Bisa Salah Jalan?

Pertanyaan ini mungkin yang paling mengganggu: mengapa orang yang tekun beribadah, yang begitu bersemangat membaca Al-Qur'an, justru bisa tergelincir sejauh itu? Bukankah ibadah yang banyak seharusnya menjaga seseorang?

Nabi ﷺ sudah memberikan jawabannya sejak awal:

يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ

Yaqra'ūnal-Qur'āna lā yujāwizu hanājirahum.

"Mereka membaca Al-Qur'an, namun ia tidak melewati tenggorokan mereka."

Muttafaqun 'Alaih — HR. Shahih Bukhari no. 3611; Shahih Muslim no. 1064

Imam Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa maksud "tidak melewati tenggorokan" adalah Al-Qur'an tidak sampai ke hati — tidak mengubah akhlak, tidak menyucikan jiwa, tidak melahirkan kasih sayang. Ia berhenti di level hafalan dan bacaan, tetapi tidak menetes menjadi tazkiyah.

Inilah inti masalahnya. Masalah mereka bukan kurang membaca Al-Qur'an. Masalah mereka adalah tiga hal yang bersamaan hilang: pertama, bashirah — kemampuan melihat hakikat sesuatu melalui cahaya ilmu yang benar; kedua, fiqh — pemahaman yang mendalam tentang maqashid syariah, bukan sekadar hafalan teks; dan ketiga, tazkiyah — penyucian jiwa yang membuat seseorang mampu mengenali tipu daya nafsunya sendiri.

Ketika ketiganya tidak hadir, semangat yang besar justru menjadi bahan bakar yang berbahaya. Ia membakar bukan untuk menerangi, tetapi untuk menghanguskan. Dan karena semangat itu terasa seperti iman, pelakunya tidak pernah merasa sedang tersesat.


Anatomi Penyakit: Dari Ujub hingga Darah

Para ulama tazkiyah menggambarkan perjalanan penyakit ini dalam sebuah rantai yang sangat teratur. Ia tidak muncul seketika. Ia bertumbuh perlahan, dengan setiap tahap mempersiapkan tahap berikutnya.

Ujub — rasa kagum terhadap diri sendiri — adalah titik awalnya. Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya' Ulumiddin bahwa kibr adalah ketika seseorang memandang dirinya lebih tinggi dari orang lain. Dan ujub adalah saudara kibr yang bekerja lebih senyap: cukup dengan kekaguman pada diri sendiri, tanpa harus membandingkan dirinya dengan orang lain secara eksplisit. Dalam dunia dakwah, penyakit ini hadir dalam bentuk: merasa kelompok sendiri paling paham sunnah, meremehkan amal kaum muslimin lain, sulit mengakui kebenaran dari luar kelompok, bahkan merasa senang ketika kelompok lain jatuh.

Namun Imam Al-Ghazali dan Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa di bawah ujub sering kali terdapat akar yang lebih dalam lagi: hubbul jāh — cinta pengaruh, cinta posisi, cinta menjadi pusat perhatian dan rujukan. Tidak sedikit konflik keagamaan yang tampak sebagai perselisihan prinsip, padahal di kedalaman hati terdapat perebutan pengaruh, pengikut, legitimasi, dan posisi sosial yang tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hubbul jah adalah salah satu penyakit hati yang paling sulit diobati, justru karena ia begitu pandai menyaru sebagai kecemburuan atas agama dan semangat menegakkan kebenaran.

Dari ujub lahirlah perasaan bahwa dirinya paling adil, paling ikhlas, paling lurus. Dari sana muncullah ta'ashshub — fanatisme yang membuat ia membela kelompok bukan karena kebenaran, tetapi karena kelompok. Fanatisme kemudian bergerak menuju ghuluw — berlebihan dalam agama yang Allah sendiri melarangnya dalam QS. An-Nisa: 171. Dan ghuluw yang tidak dikoreksi berujung pada takfir — mengkafirkan sesama muslim — yang kemudian menjadi pintu bagi pertumpahan darah.

Nabi ﷺ telah mengingatkan betapa beratnya konsekuensi itu:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Lazawālud-dunyā ahwanu 'alallāhi min qatli mu'minin bighairi ḥaqq.

"Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak."

HR. Sunan Tirmidzi — Hasan

Demikianlah benang merah yang ditarik para ulama: Ujub → Ta'ashshub → Ghuluw → Takfir → Pertumpahan darah. Bukan sejarah kelompok tertentu saja. Ini adalah pola yang berulang setiap kali ilmu dan tazkiyah tidak berjalan beriringan.

Perlu dicatat dengan jujur: tidak setiap orang yang memiliki ujub akan menjadi Khawarij. Sebagaimana tidak setiap orang yang fanatik kepada kelompoknya akan sampai menumpahkan darah. Akan tetapi sejarah menunjukkan bahwa hampir semua penyimpangan besar diawali oleh bibit yang sama — ketidakmampuan mengoreksi diri ketika hawa nafsu mulai menyamar sebagai kebenaran. Dan bibit itu, dalam kadar yang lebih ringan, ada dalam diri setiap orang yang tidak merawat tazkiyahnya.


Cermin Psikologi Modern

Yang menarik adalah bahwa apa yang telah dibahas para ulama tazkiyah selama berabad-abad ini ternyata mendapat konfirmasi dari ilmu psikologi modern, meski dengan bahasa yang berbeda.

Para psikolog menyebut kecenderungan manusia menganggap dirinya lebih objektif, lebih bermoral, dan lebih jujur dari orang lain sebagai moral superiority bias. Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas manusia menilai dirinya "di atas rata-rata" dalam hal moralitas — padahal secara statistik hal itu mustahil. Inilah yang oleh Ibnul Qayyim telah diberi nama ujub dan oleh Al-Ghazali telah diberi nama kibr, jauh sebelum istilah psikologi ini lahir.

Ada pula yang disebut social identity theory — kecenderungan manusia untuk membela kelompoknya, mencari keunggulan kelompoknya, dan meremehkan kelompok lain, bahkan tanpa alasan objektif. Inilah yang oleh Nabi ﷺ sudah disebut sebagai seruan yang "busuk" lebih dari empat belas abad yang lalu. Dan ada confirmation bias — manusia hanya mencari informasi yang mendukung keyakinannya, hanya mendengar tokoh yang sejalan dengannya, menolak koreksi yang datang dari luar lingkaran yang ia akrabi. Ini persis gambaran ta'ashshub yang dibahas ulama tazkiyah: seseorang tidak lagi mampu melihat dengan jernih, karena yang ia gunakan untuk melihat bukan lagi bashirah, melainkan kepentingan diri.


Obat dari Tradisi Ulama Tazkiyah

Para ulama tidak hanya mendiagnosis penyakit ini. Mereka juga mewariskan obat-obatnya. Imam Al-Muhasibi — yang namanya sendiri bermakna "orang yang banyak bermuhasabah" — mengajarkan agar seorang muslim selalu mengembalikan pertanyaan kepada dirinya sendiri: "Apakah aku sedang membela Allah atau membela diriku?"

Imam Ibnul Jauzi dalam Talbis Iblis mengajarkan cara menguji diri sendiri: "Seandainya orang yang menyampaikan nasihat ini adalah sahabat dekatku, apakah aku tetap marah? Seandainya pendapat ini berasal dari kelompokku sendiri, apakah aku tetap menolaknya?" Jika jawabannya berbeda, maka yang sedang bekerja bukan ilmu — melainkan hawa nafsu yang menyamar.

Imam Syafi'i memberikan teladan yang sempurna dalam hal ini. Beliau berkata:

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا وَدَدْتُ أَنْ يُظْهِرَ اللَّهُ الحَقَّ عَلَى لِسَانِهِ

Mā nāzhartu aḥadan illā wadidtu an yuzhhirallāhul-ḥaqqa 'alā lisānih.

"Aku tidak pernah berdiskusi dengan seseorang kecuali aku berharap Allah menampakkan kebenaran melalui lisannya."

Hilyatul Auliya', Abu Nu'aim

Pada kesempatan lain, beliau berkata:

وَدِدْتُ أَنَّ النَّاسَ تَعَلَّمُوا هَذَا الْعِلْمَ وَلَمْ يُنْسَبْ إِلَيَّ مِنْهُ شَيْءٌ

Wadidtu annan-nāsa ta'allamū hādzal-'ilma wa lam yunsab ilayya minhu syai'.

"Aku berharap manusia mempelajari ilmu ini, sementara tidak ada sedikit pun yang dinisbatkan kepadaku."

Hilyatul Auliya', Abu Nu'aim

Orang yang fanatik ingin kelompoknya menang. Imam Syafi'i hanya ingin kebenaran yang menang. Inilah puncak tazkiyah. Dan kaidah salaf yang paling mendasar tetap berlaku:

اعْرِفِ الحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ

I'rifil-ḥaqqa ta'rif ahlahu.

"Kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali siapa pengikutnya."

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dinukil oleh banyak ulama manhaj

Bukan: "Kenalilah kelompokku, maka segala yang mereka katakan adalah kebenaran." Melainkan sebaliknya — kenali dulu kebenaran itu sendiri, dengan ilmu yang benar dan bashirah yang jernih, maka engkau akan tahu siapa yang layak diikuti.


Ukuran yang Tidak Bisa Dibantah: Maqashid Syariah

Para ulama ushul fiqh menetapkan bahwa seluruh syariat Islam diturunkan untuk menjaga lima perkara yang paling mendasar dalam kehidupan manusia: agama (dīn), jiwa (nafs), akal ('aql), kehormatan ('irdh), dan harta (māl). Inilah yang disebut maqāshid asy-syarī'ah — tujuan-tujuan tertinggi syariat — sebagaimana dibahas panjang oleh Imam Al-Ghazali dalam Al-Mustashfa dan Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat.

Maqashid ini menjadi cermin yang paling jujur untuk menilai sebuah gerakan atau semangat keagamaan. Ketika perjuangan yang mengatasnamakan agama justru merusak jiwa sesama muslim, melukai kehormatan, menghancurkan akal melalui dogmatisme buta, dan merampas harta secara tidak sah — maka ia sedang berjalan berlawanan arah dengan tujuan syariat itu sendiri.

Sebuah pertanyaan sederhana yang diwariskan para ulama ushul: adakah perjuangan ini memenuhi atau merusak maqashid? Jika jawabannya merusak — walaupun perjuangan itu dibalut dengan ayat dan hadits — maka muhasabah besar harus dilakukan. Karena syariat tidak pernah datang untuk menghancurkan apa yang ia sendiri diperintahkan untuk melindungi.


Penutup: Perang yang Sesungguhnya

Dzul Khuwaishirah tidak jatuh karena ia kurang bersemangat dalam agama. Khawarij tidak tersesat karena mereka malas beribadah. Sejarah menunjukkan bahwa banyak penyimpangan besar dalam Islam tidak lahir dari kurangnya semangat agama, tetapi dari semangat agama yang kehilangan ilmu, tazkiyah, dan kasih sayang.

Maka perang terbesar seorang muslim bukan melawan kelompok lain. Bukan melawan perbedaan pendapat yang tidak perlu diperbesarkan. Tetapi melawan suara yang paling halus dan paling berbahaya dalam dirinya sendiri — suara yang terus berbisik, "Engkau lebih benar daripada yang lain. Kelompokmu lebih lurus daripada yang lain. Semangatmu lebih ikhlas daripada yang lain."

Allah Ta'ala telah meletakkan ikatan yang paling agung di antara kaum mukminin:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Innamal mu'minūna ikhwatun.

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara."

QS. Al-Hujurat: 10 — Tafsir Jalalain; Tafsir Ibnu Katsir

Ikatan ini lebih tinggi dari segala ikatan kelompok, organisasi, atau bendera. Dan ketika loyalitas kepada panji tertentu lebih diutamakan dari pada loyalitas kepada kebenaran dan ukhuwah Islamiyah, di situlah benih jahiliyyah itu tumbuh kembali — tidak peduli seberapa islami nama panji tersebut.

Di sinilah tazkiyatun nufus dimulai. Bukan dengan menghakimi kelompok lain. Bukan dengan membubarkan jamaah yang ada. Tetapi dengan satu pertanyaan yang jujur kepada diri sendiri, setiap hari, dalam setiap perdebatan dan setiap pembelaan: Siapakah yang sesungguhnya sedang aku bela?

Dzul Khuwaishirah tidak pernah menyangka bahwa ucapannya kepada Rasulullah ﷺ akan menjadi benih bagi salah satu fitnah terbesar dalam sejarah umat. Demikian pula setiap kita tidak pernah merasa sedang menyiapkan jalan menuju penyimpangan. Karena itu para salaf lebih takut kepada kesalahan yang dibungkus kebenaran daripada kepada maksiat yang tampak jelas. Sebab maksiat masih mungkin diakui dan ditaubati, sedangkan kesombongan yang mengenakan jubah agama sering kali dipertahankan hingga akhir hayat — karena ia terasa seperti iman, padahal ia adalah penghalang antara hati dan cahaya kebenaran.

Semoga Allah menjernihkan hati kita dari segala selubung ego yang menyamar sebagai agama. Semoga kita diberikan bashirah untuk membedakan antara membela kebenaran dan membela diri. Dan semoga kita menjadi bagian dari mereka yang berputar bersama kebenaran ke mana pun kebenaran itu berada.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allāhumma arinal-haqqa haqqan warzuqnattibā'ah, wa arinal-bāthila bāthilan warzuqnajtinābah.

"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kemampuan untuk menjauhinya."

Wallāhu a'lam bish-shawāb.


Referensi

  1. Al-Qur'an Al-Karim: QS. Al-Hujurat: 10; QS. Ali Imran: 104; QS. Ar-Rum: 32; QS. An-Nisa: 59, 171; QS. Al-Jatsiyah: 23.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. No. 3344, 3611, 6933.
  3. Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. No. 1064; Kitab al-Birr wa ash-Shilah; Kitab al-Imarah.
  4. Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy'ats. Sunan Abu Dawud. No. 5121.
  5. At-Tirmidzi, Muhammad bin 'Isa. Sunan at-Tirmidzi. Hadits kehormatan darah mukmin.
  6. An-Nawawi, Yahya bin Syaraf. Syarh Shahih Muslim. Syarah hadits "da'uha fa innahā muntinah," hadits panji jahiliyyah, dan hadits lā yujāwizu hanājirahum.
  7. Ibnu Hajar Al-Asqalani, Ahmad bin Ali. Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari. Syarah hadits Dzul Khuwaishirah dan lā yujāwizu hanājirahum.
  8. Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad. Ihya' Ulumiddin. Kitab Dzammul Kibr wal 'Ujb; Kitab Dzammil Jah war-Riya'. Al-Mustashfa min 'Ilmil Ushul. Pembahasan maqashid syariah.
  9. Al-Muhasibi, Al-Harits bin Asad. Ar-Ri'ayah li Huquqillah.
  10. Ibnul Jauzi, Abdurrahman bin Ali. Talbis Iblis.
  11. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Muhammad bin Abi Bakr. Madarijus Salikin; Ighatsatul Lahfan min Mashayidisy Syaithan. Pembahasan hubbul jah.
  12. Ibnu Taimiyyah, Ahmad bin Abdil Halim. Majmu' al-Fatawa.
  13. Asy-Syathibi, Ibrahim bin Musa. Al-I'tisham; Al-Muwafaqat fi Ushulisy Syariah. Pembahasan maqashid syariah.
  14. Abu Nu'aim Al-Ashbahani, Ahmad bin Abdullah. Hilyatul Auliya' wa Thabaqatul Ashfiya'. Atsar Imam Syafi'i.
  15. Ibnu Abdil Barr, Yusuf bin Abdullah. Al-Intiqa' fi Fadhail al-A'immat ats-Tsalatsah. Perkataan Imam Malik tentang kubur Nabi ﷺ.

Artikel Populer

Ketika Atasan Tidak Melihat: Amanah Kerja dalam Timbangan Allah

Ketika Doa Belum Mengubah Keadaan, Ia Sedang Mengubah Dirimu

Halāwatul Īmān: Ketika Iman Tidak Lagi Sekadar Diyakini, Tetapi Dirasakan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya