Postingan

Menampilkan postingan dengan label Mahabbah

Ketika Cinta kepada Nabi ﷺ Berjalan Bersama Langkah Kaki

Gambar
Ketika Cinta kepada Nabi ﷺ Berjalan Bersama Langkah Kaki Melampaui Air Mata Maulid Menuju Transformasi Diri Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Bulan Rabiul Awal kembali menyapa. Shalawat berkumandang, majelis-majelis sirah dipenuhi air mata, dan hati kita kembali diajak mengenang kehidupan Rasulullah ﷺ. Namun di tengah hangatnya perayaan cinta itu, ada satu pertanyaan sunyi yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: apa tanda bahwa cinta itu benar-benar hidup, bukan sekadar emosi musiman yang datang setiap Rabiul Awal lalu menguap ketika majelis bubar? Dalam Islam, cinta kepada Nabi ﷺ tidak dirancang hanya sebagai rasa yang menggenang di dada. Ia memiliki arah dan konsekuensi. Cinta yang sejati tidak hanya membuat kita ingin dekat dengan Nabi ﷺ, tetapi juga membuat kita rela membiarkan petunjuk beliau mengoreksi dan membentuk diri kita. Al-Qur'an memberikan rumus yang tajam, indah, sekaligus menggelisahkan: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّه...

Halāwatul Īmān: Ketika Iman Tidak Lagi Sekadar Diyakini, Tetapi Dirasakan

Gambar
Halāwatul Īmān: Ketika Iman Tidak Lagi Sekadar Diyakini, Tetapi Dirasakan Menemukan Tiga Kunci Hati yang Diajarkan Nabi ﷺ untuk Merasakan Manisnya Iman Oleh: Tsaqif Rasyid Dai Iman yang dirasakan hati menghadirkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. (Foto cover: Ilustrasi Halāwatul Īmān) Ada sebuah paradoks yang jarang kita bicarakan secara terbuka: mengapa sebagian orang yang semakin banyak ilmu agamanya justru semakin kering secara spiritual? Mereka hafal dalil-dalilnya, memahami hukum-hukumnya, mampu menjelaskannya kepada orang lain — namun ada kekosongan yang tetap tersisa setiap kali mereka menutup mushaf atau selesai shalat. Dan di sisi lain, ada orang yang mungkin tidak sebanyak itu ilmunya, namun bangun sebelum fajar dengan hati yang ringan. Ia membentangkan sajadah bukan karena terpaksa, tetapi karena memang rindu. Ia menangis saat membaca Al-Qur'an. Ia tetap teguh meski dunia menawarkan harga yang sangat tinggi untuk ia tinggalkan imannya. Apa...

Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok"

Gambar
Kita Sibuk Menata Masa Depan, Tetapi Lupa Menyiapkan "Esok" Membaca Ulang QS. Al-Hasyr: 18 di Tengah Hidup yang Penuh Rencana Oleh: Tsaqif Rasyid Dai   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr: 18) Kita hidup di zaman yang sangat gemar membuat perencanaan. Ada yang menyiapkan target bulanan, menyusun rencana lima tahun, bahkan menghitung tabungan pensiun sejak usia muda. Kita diajarkan untuk memikirkan masa depan dengan serius, terencana, dan terukur. Namun anehnya, semakin jauh kita merencanakan hidup, semakin jarang kita bertanya satu hal yang paling mendasar: Apa yang sebenarnya sedang saya persia...

Anatomi Jiwa Menurut Al-Qur'an

Gambar
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا Anatomi Jiwa Menurut Al-Qur'an Dari Nafs Ammārah hingga Nafs Muṭma'innah: Membaca Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Tafsir, Ulama Salaf, dan Psikologi Kontemporer Oleh : Tsaqif Rasyid Dai Ada sebuah paradoks yang mengganggu manusia modern, meski jarang dibicarakan secara terbuka. Kita hidup di era dengan fasilitas yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Teknologi mempercepat segalanya. Informasi tersedia tanpa batas. Pilihan hidup membentang lebih lebar dari waktu ke waktu. Namun di tengah semua itu, laporan global tentang kecemasan, depresi, dan apa yang oleh psikolog Viktor Frankl disebut sebagai existential vacuum — kekosongan eksistensial akibat kehilangan makna hidup — justru terus meningkat. Kita lebih terhubung, tetapi merasa semakin kesepian. Lebih banyak pilihan, tetapi lebih sulit menentukan arah. Lebih mudah mengekspresikan diri, tetapi semak...

Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya

Gambar
Tazkiyatun Nufus · Persadani Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya Mencari Mahabbah Ilahi di Tengah Dunia yang Haus Validasi dan Pengakuan Oleh: Tsaqif Rasyid Dai  |  Persadani.org Kita hidup di zaman yang haus pengakuan. Sebuah foto diunggah, lalu mata terus kembali memeriksa berapa yang menyukainya. Sebuah pendapat disampaikan, lalu hati menunggu siapa yang membenarkan. Tanpa disadari, kebahagiaan kita telah tergantung pada satu pertanyaan sederhana yang setiap hari kita ajukan kepada dunia: apakah aku diterima? Kita mengejar cinta pasangan, mengharap pengakuan teman, mendambakan penghargaan atasan. Hidup terasa bermakna ketika diapresiasi, dan terasa hampa ketika diabaikan. Padahal ada pertanyaan lain yang lebih dalam dan lebih menentukan — pertanyaan yang justru jarang kita ajukan: "Bagaimana jika yang paling penting bukan siapa yang kita cintai, melainkan siapa yang mencintai kita?" Pertanyaan ini bukan baru. Para ulama telah merenungkannya berabad-aba...

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...