Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya

Tazkiyatun Nufus · Persadani

Ketika Allah Mencintai Hamba-Nya

Mencari Mahabbah Ilahi di Tengah Dunia yang Haus Validasi dan Pengakuan

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai  |  Persadani.org


Kita hidup di zaman yang haus pengakuan. Sebuah foto diunggah, lalu mata terus kembali memeriksa berapa yang menyukainya. Sebuah pendapat disampaikan, lalu hati menunggu siapa yang membenarkan. Tanpa disadari, kebahagiaan kita telah tergantung pada satu pertanyaan sederhana yang setiap hari kita ajukan kepada dunia: apakah aku diterima?

Kita mengejar cinta pasangan, mengharap pengakuan teman, mendambakan penghargaan atasan. Hidup terasa bermakna ketika diapresiasi, dan terasa hampa ketika diabaikan. Padahal ada pertanyaan lain yang lebih dalam dan lebih menentukan — pertanyaan yang justru jarang kita ajukan:

"Bagaimana jika yang paling penting bukan siapa yang kita cintai, melainkan siapa yang mencintai kita?"

Pertanyaan ini bukan baru. Para ulama telah merenungkannya berabad-abad lalu. Dan Al-Qur'an, dengan cara yang mungkin tidak kita sadari, lebih sering berbicara tentang Allah yang mencintai hamba daripada hamba yang mencintai Allah. Ada hikmah yang dalam di balik susunan itu.

Siapa pun bisa mengaku mencintai Allah. Bibir mudah mengucapkannya, dan hati mudah merasakannya di saat-saat tertentu. Namun para ulama salaf menegaskan: yang paling menentukan nasib seorang hamba bukan klaim cintanya kepada Allah, melainkan apakah Allah mencintainya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan, "Yang penting dan yang paling penting adalah Allah mencintaimu, bukan engkau mencintai Allah." Bukan berarti mencintai Allah itu tidak penting — tetapi mahabbah yang sejati kepada Allah akan membuahkan sesuatu yang jauh lebih agung: Allah mencintai hamba itu kembali. Dan ketika Allah mencintai seorang hamba, langit dan bumi pun menyambutnya.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim: "Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, Dia menyeru Jibril: 'Sungguh Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Lalu Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit: 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Lalu penduduk langit mencintainya. Kemudian penerimaan dihamparkan baginya di bumi."

Penerimaan yang sejati — bukan yang bergantung pada jumlah followers atau validasi manusia — ternyata bersumber dari langit. Dan ia bisa diraih. Tetapi sebelum kita berbicara tentang bagaimana meraihnya, ada baiknya kita jujur dulu tentang mengapa kita begitu membutuhkannya.

Ada alasan mengapa manusia begitu haus akan perhatian dan penerimaan. Hati memang diciptakan untuk mencintai dan dicintai — ini bukan kelemahan, ini fitrah. Masalahnya bukan pada kebutuhan itu sendiri. Masalah muncul ketika hati menggantungkan seluruh nilainya kepada penilaian manusia.

Ketika pujian menjadi sumber kebahagiaan, celaan akan menjadi sumber luka yang dalam. Ketika penerimaan manusia menjadi ukuran harga diri, maka penolakan akan terasa seperti kehancuran. Ketika jumlah yang menyukai unggahan kita menentukan suasana hati pagi itu — sesuatu telah bergeser di dalam dada. Di sinilah banyak kegelisahan modern lahir: bukan karena dunia terlalu kejam, tetapi karena hati salah meletakkan pusat bergantungnya.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan bahwa hati tidak akan tenang sampai ia menemukan tempat bergantung yang tidak berubah. Dunia berubah. Manusia berubah. Perasaan manusia berubah. Popularitas naik dan jatuh dalam hitungan jam. Tetapi cinta Allah tidak bergantung pada tren, tidak berubah karena usia, tidak surut karena status sosial. Ia kokoh, ia abadi, dan — ini yang paling mengharukan — ia bisa diraih oleh siapa saja yang sungguh-sungguh menempuh jalannya.

Al-Qur'an menyebutkan ciri-ciri orang yang dicintai Allah bukan sebagai daftar syarat yang berat, melainkan sebagai undangan yang terbuka bagi siapa saja.

Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan. Firman-Nya: "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah: 195). Ihsan bukan sekadar rajin ibadah. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ihsan dalam ibadah adalah "engkau beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya; jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu." Dan ihsan dalam bermuamalah dengan manusia berarti memberikan yang baik, menahan yang buruk, dan menyambut sesama dengan wajah yang lapang. Dalam kerja yang amanah, dalam perdagangan yang jujur, dalam persahabatan yang tulus — di situlah ihsan hidup.

Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Firman-Nya: "Dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Hujurat: 9). Adil bukan berarti menyamakan semua hal secara merata — Al-Qur'an justru tidak pernah memerintahkan persamaan, melainkan keadilan: memberikan kepada yang berhak apa yang menjadi haknya. Adil kepada Allah berarti mensyukuri nikmat-Nya dan mengikuti kebenaran yang Dia tunjukkan. Adil kepada manusia berarti memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin diperlakukan. Adil kepada diri sendiri berarti tidak membebani jiwa melebihi kemampuannya.

Allah mencintai orang-orang yang bertakwa. Firman-Nya: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa." (QS. At-Taubah: 7). Para ulama mendefinisikan takwa dengan kalimat yang sederhana namun dalam: membuat pelindung antara diri kita dan murka Allah, dengan cara menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa bukan hanya tentang shalat dan puasa. Ia juga tentang menjaga lisan dari dusta, menjaga pandangan dari yang haram, menjaga amanah meski tidak ada yang melihat.

Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Firman-Nya: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS. Al-Baqarah: 222). Ini barangkali kabar paling mengharukan dalam seluruh pembicaraan tentang mahabbah. Allah tidak menunggu kita sempurna untuk mencintai kita. Yang dicintai-Nya bukan manusia tanpa dosa, melainkan manusia yang selalu kembali setelah jatuh.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: seseorang yang banyak dosanya namun setiap kali berdosa ia bertaubat, maka Allah mencintainya. Artinya, setiap pintu yang tampaknya tertutup oleh dosa, dapat dibuka kembali oleh taubat. Pintu itu tidak pernah terkunci dari dalam — hanya perlu diketuk dengan ketulusan penyesalan dan tekad yang kuat untuk kembali.

Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri — lahir dan batin. Bersuci bukan sekadar ritual wudhu sebelum shalat. Ia juga tentang membersihkan hati dari riya', dari hasad yang menggerogoti, dari ujub yang membutakan. Tazkiyatun nufus — pensucian jiwa — adalah perjalanan seumur hidup yang tidak pernah selesai, namun setiap langkahnya dicintai Allah.

Dan puncak dari semua ini adalah firman Allah yang oleh para ulama salaf disebut sebagai ayat ujian: "Katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian." (QS. Ali Imran: 31). Bukan sekadar perasaan. Bukan sekadar pengakuan. Cinta kepada Allah dibuktikan dengan ittiba' — mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan. Dan balasannya bukan sekadar pahala, melainkan sesuatu yang jauh lebih mulia: Allah mencintai kita.

Imam Al-Ghazali rahimahullah menulis bahwa seseorang akan mencintai apa yang ia kenal sebagai indah dan sempurna. Kita mengagumi manusia yang pemurah karena kedermawanannya. Kita menghormati orang yang bijaksana karena kebijaksanaannya. Kita tergerak oleh keberanian, keindahan, kedalaman ilmu. Tetapi seluruh keindahan yang kita kagumi pada manusia itu hanyalah pantulan kecil dari kesempurnaan sifat-sifat Allah. Kedermawanan manusia yang paling murah hati tidak sebanding dengan satu percikan kemurahan-Nya. Kebijaksanaan manusia yang paling dalam tidak menyentuh batas ilmu-Nya yang tak bertepi.

Karena itu, tulis Al-Ghazali, semakin seseorang mengenal Allah — mengenal nama-nama-Nya, memahami sifat-sifat-Nya, merenungkan keagungan-Nya — maka semakin sulit baginya untuk tidak mencintai-Nya. Mahabbah kepada Allah bukan sesuatu yang harus dipaksakan. Ia tumbuh sendiri dari benih ma'rifah yang subur.

Dalam tradisi turats, para ulama tazkiyatun nufus sering mengutip sebuah doa yang dinisbatkan kepada Rabi'ah Al-Adawiyah rahimahallah, seorang ahli ibadah dari Bashrah yang hidup pada abad kedua hijriah. Dikisahkan bahwa ia pernah bermunajat: "Ya Allah, jika aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Jika aku beribadah karena mengharap surga, maka haramkanlah surga bagiku. Tetapi jika aku beribadah karena mencintai-Mu, maka jangan Engkau halangi aku dari melihat-Mu."

Terlepas dari perdebatan para ulama tentang sanad ungkapan tersebut, kisah ini sering dikutip untuk menggambarkan satu hal yang dalam: bahwa mahabbah kepada Allah, ketika benar-benar bersemi di dalam hati, akan mengubah ibadah dari sekadar kewajiban menjadi kerinduan. Dari keterpaksaan menjadi kepulangan.

Al-Junaid Al-Baghdadi rahimahullah merumuskannya dengan indah: mahabbah adalah kecenderungan hati secara total kepada Allah. Bukan emosi sesaat yang datang dan pergi. Tetapi orientasi hidup — kiblat hati yang mengarahkan setiap langkah, setiap pilihan, setiap doa.

Mungkin ada yang membaca tulisan ini sambil membawa luka — karena pernah tidak dicintai sebagaimana yang diharapkan. Ada yang merasa diabaikan bertahun-tahun. Ada yang terus berusaha menjadi cukup di mata orang lain namun tidak pernah berhasil. Ada yang dikhianati oleh orang yang paling dipercaya. Pengalaman-pengalaman itu memang menyakitkan, dan tidak perlu dipura-pura tidak ada. Namun para ulama tazkiyatun nufus mengingatkan bahwa luka terbesar bukanlah ketika manusia tidak mencintai kita — melainkan ketika hati kehilangan hubungan dengan Allah yang menciptakannya.

Mungkin selama ini kita mengira yang kita cari adalah penghargaan manusia. Padahal yang sebenarnya kita cari adalah ketenangan. Dan mungkin selama ini kita mengira ketenangan itu lahir ketika semua orang menyukai kita, ketika tidak ada yang mengkritik, ketika nama kita disebut dengan hormat.

Padahal para ulama tazkiyatun nufus telah lama mengingatkan: hati tidak akan tenang karena dicintai seluruh manusia. Hati akan tenang ketika ia merasa cukup dengan dicintai Allah.

Sebab manusia bisa berubah. Penerimaan bisa dicabut. Penghargaan bisa berbalik menjadi penghinaan dalam sekejap. Tetapi Allah tidak pernah berubah. Cinta-Nya tidak bergantung pada tren. Ia tidak surut ketika kita menua, tidak pudar ketika kita berdosa lalu kembali, tidak berkurang ketika dunia melupakan kita.

Mungkin selama ini, tanpa kita sadari, itulah yang sebenarnya dicari oleh setiap hati yang gelisah — bukan tepuk tangan dunia, tetapi satu kepastian yang tenang dari langit: Allah mencintaimu.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرُِّنِي إِلَى حُبِّكَ

"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu."
(HR. At-Tirmidzi, dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu)


Tsaqif Rasyid Dai · Persadani.org · Membaca Dunia dengan Kacamata Islam

Artikel Populer

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ Dari Kalimat Tauhid Menuju Kematangan Jiwa

Mengapa Allah Menguji Kita? Tadabbur Al-Baqarah 286 tentang Ujian dan Rahmat Allah

Cara Kerja Iblis dalam Hati Manusia: Peta Tersembunyi yang Dijelaskan Para Ulama

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...