Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs
Tiga Ayat yang Mencukupi: Tadabbur QS. Al-'Ashr sebagai Peta Tazkiyatun Nafs
Ketika Allah Bersumpah dengan Waktu, Ia Sedang Memperingatkan Kita tentang Diri Kita Sendiri
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Tidak ada manusia yang bangkrut seketika. Kerugian terbesar selalu terjadi sedikit demi sedikit — tanpa kita sadari, tanpa terasa, tanpa suara. Demikian pula umur. Ia tidak pergi dalam satu malam. Ia pergi setiap hari, setetes demi setetes, bersama waktu yang terus mengalir dan tidak pernah menunggu.
Setiap pagi kita membuka mata. Tapi jarang menyadari bahwa yang sebenarnya berkurang bukan hanya tanggal di kalender. Yang berkurang adalah jatah hidup kita. Dan pertanyaan yang paling mendesak bukan "apa yang akan kulakukan hari ini?" melainkan "apakah hari ini, aku semakin dekat kepada Allah — atau semakin jauh?"
Ada sebuah surah dalam Al-Qur'an yang hanya terdiri dari tiga ayat, namun cukup untuk membuat seorang imam besar berkata bahwa seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada manusia selain surah ini, niscaya ia telah mencukupi mereka. Pernyataan itu datang dari Imam Asy-Syafi'i, dan surah yang beliau maksud adalah QS. Al-'Ashr.
Mengapa tiga ayat bisa "mencukupi" seluruh manusia? Pertanyaan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun semakin lama seseorang bertadabbur dengan surah ini — bukan sekadar membacanya, tetapi benar-benar duduk bersamanya — semakin ia merasakan bahwa Al-'Ashr bukan sekadar peringatan. Ia adalah sebuah peta.
Peta tentang bagaimana seorang jiwa bergerak dari kerugian menuju keselamatan. Dan inilah yang dalam tradisi Islam disebut tazkiyatun nafs — penyucian jiwa. Bukan sekadar memperbanyak ibadah ritual, tetapi perjalanan menyeluruh untuk membersihkan hati dari segala sesuatu yang menghalanginya dari Allah, lalu mengisinya dengan cahaya iman, amal, dan kasih sayang kepada sesama. Tulisan ini adalah upaya tadabbur atas peta itu.
Marilah kita mulai dari kata pertama.
Satu kata. Satu sumpah. Tapi bukan sembarang sumpah.
Dalam Al-Qur'an, Allah tidak bersumpah karena membutuhkan penguat. Sumpah dalam kitab suci ini ditujukan kepada manusia — agar mereka memperhatikan sesuatu yang selama ini mereka abaikan. Ketika sumpah itu hadir, ia adalah isyarat: di sinilah sesuatu yang sangat penting bagimu. Dan ketika yang dipilih sebagai sumpah adalah waktu, pesannya menjadi gamblang: waktu bukan sekadar latar kehidupan. Waktu adalah saksi kehidupan.
Dalam bahasa Arab, akar kata 'ashr (ع ص ر) bermakna dasar: memeras, menghimpit, menekan. Dari akar yang sama lahirlah kata untuk "waktu sore" — saat siang diperas menuju malam. Dan dari akar yang sama pula lahir kata untuk "era" atau "zaman".
Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna tepatnya di sini. Sebagian mengatakan waktu secara umum, sebagian menyebut waktu sore khusus, sebagian lain menyebut seluruh zaman perjalanan manusia. Namun justru di sinilah keindahan diksi Al-Qur'an: ketiga makna itu tidak perlu dipertentangkan. Karena semuanya membawa pesan yang sama.
Waktu memeras. Umur dihimpit. Setiap detik yang berlalu adalah sesuatu yang tidak dapat dikembalikan.
Bukan gunung, bukan lautan, bukan langit yang dipilih sebagai sumpah. Melainkan waktu yang terus mengalir, memeras kehidupan manusia setetes demi setetes. Seolah ada suara yang berkata: perhatikanlah ini. Inilah yang paling perlu engkau pahami tentang dirimu.
Ibn al-Jawzi, dalam Ṣayd al-Khāṭir, menulis: Yanbaghī lil-insān an ya'rifa syarafa waqtih — "Seorang manusia seharusnya mengetahui kemuliaan waktunya." Dan beliau menambahkan dengan kalimat yang singkat namun memilukan: Al-waqtu huwal-ḥayāh — "Waktu itulah kehidupan."
Ketika kita menyia-nyiakan waktu, kita tidak sedang menyia-nyiakan sebuah sumber daya. Kita sedang menyia-nyiakan hidup itu sendiri.
Para ulama salaf merasakan ini dengan sangat dalam. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata:
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap satu hari berlalu, hilang pula sebagian darimu."
Dan Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat yang paling dalam pemahamannya tentang Al-Qur'an, pernah berkata:
"Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap hari yang mataharinya telah tenggelam, sementara ajalku berkurang tetapi amalku tidak bertambah."
Dua ucapan yang lahir dari dua generasi berbeda, tetapi berbicara tentang satu kebenaran yang sama: waktu adalah modal yang paling berharga sekaligus paling mudah disia-siakan. Dan ia tidak pernah kembali.
Setelah sumpah, tibalah vonis.
Vonis itu sangat berat. Bukan sekadar pernyataan bahwa manusia "merugi". Tiga lapisan penegasan hadir dalam satu ayat pendek: kata inna (إِنَّ) yang menghilangkan keraguan — ini bukan "mungkin", ini kepastian. Lalu kata la (لَ) sebagai penegas tambahan. Lalu yang paling dalam: bukan la-khāsir (benar-benar merugi), melainkan lafī khusr — "benar-benar berada di dalam kerugian".
Kata fī berarti "di dalam". Manusia tidak sekadar mengalami kerugian. Ia tenggelam di dalamnya. Terkepung olehnya. Kerugian itu bukan peristiwa yang menimpa dari luar — ia adalah ruangan yang mengelilingi.
Barangkali kita mengira kerugian adalah kehilangan uang. Atau jabatan. Atau kesehatan. Al-Qur'an ternyata mempunyai definisi yang jauh lebih dalam dari itu.
Berapa banyak umur yang telah kita habiskan... tanpa benar-benar hidup?
Dan siapa yang divonis? Bukan golongan tertentu. Kata yang dipilih adalah al-insān — bentuk tunggal generik yang mencakup seluruh spesies manusia, tanpa membedakan bangsa, agama, zaman, atau status. Ini hukum universal.
Barangkali kerugian terbesar bukan ketika rekening kita berkurang. Melainkan ketika umur kita berkurang tanpa bertambahnya kedekatan kepada Allah.
Nabi ﷺ bersabda: Ni'matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās: aṣ-ṣiḥḥatu wal-farāgh — "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang."
(HR. Bukhari, no. 6412)
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, dalam Al-Fawā'id, menjelaskan bahwa manusia memiliki dua modal: waktu dan hati. Apabila waktu habis sementara hati tidak dipenuhi iman, itulah hakikat dari lafī khusr. Kerugian bukan pertama-tama soal harta yang hilang, tetapi soal kesempatan mendekat kepada Allah yang terlewat dan tidak kembali.
Di sinilah surah ini berbicara kepada jiwa kita secara langsung. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kejujuran yang menyentuh. Ia tidak bertanya apakah kita sukses atau gagal dalam ukuran dunia. Ia bertanya: apakah umurmu bertambah atau berkurang hari ini?
Lalu datanglah pengecualian. Dan inilah yang membuat surah ini bukan sekadar vonis, melainkan jalan keluar.
Kata illā (إِلَّا) membentuk pengecualian. Dan pengecualian ini mengandung pesan yang sangat penting: keselamatan bukan kondisi asal manusia. Ia adalah sesuatu yang harus diusahakan. Ia bukan warisan, bukan keberuntungan, bukan nasib baik. Ia adalah pilihan yang dilakukan berulang-ulang setiap hari.
Empat sifat disebutkan. Keempatnya dihubungkan dengan huruf wāw (و) — "dan" — yang menunjukkan bahwa semuanya harus hadir bersama-sama. Tidak cukup salah satunya. Tidak cukup sebagian. Ini satu paket.
Dan bagi seorang yang menjalani jalan tazkiyatun nafs, keempat sifat ini bukanlah daftar kewajiban. Mereka adalah peta perjalanan jiwa.
Pilar Pertama: Iman — Cahaya yang Menerangi Perjalanan
Syarat pertama yang disebutkan bukan "menjadi alim" atau "banyak beribadah". Melainkan āmanū — mereka yang beriman. Kata ini berasal dari akar yang juga melahirkan kata amān: aman, tenteram, terpercaya.
Iman dalam perspektif tazkiyatun nafs bukan sekadar persetujuan akal terhadap enam rukun. Iman adalah sebuah keadaan jiwa: bersandar kepada Allah dengan penuh keyakinan sehingga hati menemukan ketenangannya. Inilah yang dimaksud ketika Allah berfirman dalam surah lain: Alā bidzikrillāhi taṭma'innul qulūb — hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.
Nabi ﷺ bersabda dalam Hadis Jibril: Al-īmānu an tu'mina billāhi wa malā'ikatihi wa kutubihi wa rusulihi wal-yaumil ākhir wa tu'mina bil-qadari khairihi wa syarrih — "Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik maupun buruk."
(HR. Muslim, no. 8)
Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam, menegaskan bahwa iman yang sejati lahir dari ilmu. Tidak ada iman yang hidup tanpa pemahaman, dan tidak ada pemahaman yang bermanfaat jika tidak mengubah keadaan hati. Karena itu pilar pertama ini bukan statis. Iman adalah sesuatu yang tumbuh — atau layu — tergantung bagaimana ia dipupuk setiap hari.
Pilar Kedua: Amal Saleh — Bukti bahwa Hati Telah Berubah
Setelah iman, yang disebutkan adalah 'amiluṣ-ṣāliḥāt. Kata 'amal dalam bahasa Arab menunjukkan pekerjaan yang dilakukan dengan sadar, berkelanjutan, dan bertujuan — bukan sekadar tindakan yang datang dan pergi. Ini bukan soal sekali berbuat baik lalu selesai. Ini soal ritme hidup yang terus-menerus diarahkan kepada kebaikan.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madārij as-Sālikīn menulis dengan indah:
كَمَالُ الْإِنسَانِ بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَتَعْلِيمِ النَّاسِ وَالصَّبْرِ عَلَى أَذَاهُمْ"Kesempurnaan manusia terletak pada ilmu yang bermanfaat, amal saleh, mengajarkan manusia, dan bersabar atas gangguan mereka."
(Madārij as-Sālikīn, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)
Dan amal saleh tidak selalu besar. Kadang ia hanya sebuah pintu yang ditahan agar orang lain mudah lewat. Sebuah senyum yang datang di saat yang tepat. Sebuah doa yang tidak diketahui siapa pun. Atau pekerjaan yang diselesaikan dengan jujur ketika tidak ada manusia yang melihat — hanya Allah yang menyaksikan.
Dalam perspektif tazkiyatun nafs, inilah justru yang paling bermakna: amal yang kecil di mata manusia, tetapi lahir dari hati yang bersih dan ditujukan sepenuhnya kepada keridaan-Nya. Hati yang beriman melahirkan amal. Dan amal yang konsisten memelihara iman agar tidak layu.
Nabi ﷺ bersabda: Innallāha lā yanẓuru ilā ṣuwarikum wa amwālikum walākin yanẓuru ilā qulūbikum wa a'mālikum — "Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian."
(HR. Muslim, no. 2564)
Pilar Ketiga: Tawāṣī bil-Ḥaqq — Islam Bukan Agama Kamar Tidur
Inilah pilar yang sering luput dari perhatian ketika orang membicarakan "kesalehan pribadi". Seolah-olah cukup bagi seseorang untuk memperbaiki dirinya sendiri, lalu urusan selesai.
Setelah dua pilar pertama, ayat ketiga menghadirkan dua pilar yang sifatnya sosial. Diawali dengan wa tawāṣaw bil-ḥaqq. Kata tawāṣaw memiliki makna yang khas: ia menunjukkan hubungan timbal balik. Bukan satu orang menasihati yang lain, melainkan semua saling menasihati, saling mengingatkan, saling menjaga.
Masyarakat beriman bukan masyarakat di mana orang-orang saleh hidup sendiri-sendiri dalam kebaikannya masing-masing. Ia adalah masyarakat yang saling terhubung dalam kebenaran — di mana ketika salah seorang tergelincir, ada tangan saudara yang menopangnya kembali.
Nabi ﷺ bersabda: Ad-dīnu an-naṣīḥah — "Agama adalah nasihat." Para sahabat bertanya: kepada siapa? Beliau menjawab: "Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin."
(HR. Muslim, no. 55)
Wahbah az-Zuhaili, dalam Tafsir al-Munīr, menegaskan dimensi sosial surah ini dengan sangat jelas. Menurutnya, dua pilar pertama — iman dan amal saleh — adalah dimensi individual. Sementara dua pilar terakhir — tawāṣī bil-ḥaqq dan tawāṣī biṣ-ṣabr — adalah dimensi sosial. Dan keduanya sama-sama wajib hadir. Seorang Muslim belum sempurna hanya dengan memperbaiki dirinya sendiri.
Ini bukan hanya tentang ceramah atau pengajian. Tawāṣī bil-ḥaqq bisa berupa pesan singkat kepada seorang teman yang sedang galau, kata-kata yang tepat kepada anak yang sedang bingung, atau keberanian yang halus untuk mengingatkan rekan kerja yang mulai lalai. Kebenaran (ḥaqq) bukan milik podium. Ia milik setiap percakapan yang dijalani dengan niat yang lurus.
Pilar Keempat: Tawāṣī biṣ-Ṣabr — Bekal Terakhir yang Paling Dibutuhkan
Tidak ada yang menduga bahwa berbuat benar itu mudah. Maka penutup surah ini menghadirkan pilar yang paling sering dibutuhkan namun paling jarang dimiliki: tawāṣaw biṣ-ṣabr.
Kata ṣabr berasal dari akar yang bermakna dasar: menahan. Bukan pasrah. Bukan menyerah. Bukan diam di sudut sambil menghela napas. Sabar adalah kemampuan aktif menahan diri untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun tekanan datang dari segala arah.
Dan perhatikan: sabar di sini pun dalam bentuk tawāṣaw — timbal balik. Karena menghadapi ujian sendirian adalah beban yang sangat berat. Manusia membutuhkan saudara yang mengingatkan: teruslah. Jangan berhenti di sini. Perjalanannya masih ada.
Nabi ﷺ bersabda: Wa mā u'ṭiya aḥadun 'aṭā'an khairan wa awsa'a minaṣ-ṣabr — "Tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih luas yang diberikan kepada seseorang daripada kesabaran."
(HR. Bukhari no. 1469; Muslim no. 1053 — Muttafaq 'alaih)
Ibnu Rajab al-Hanbali mengingatkan bahwa kesabaran mencakup tiga lapis: sabar dalam menaati Allah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi ketentuan-Nya yang menyakitkan. Ketiganya dibutuhkan oleh siapa saja yang serius menempuh jalan tazkiyatun nafs.
Jika kita letakkan keempat pilar ini dalam kerangka tazkiyatun nafs, maka Surah Al-'Ashr sesungguhnya sedang menggambarkan sebuah perjalanan jiwa yang utuh — dan seluruhnya bertumpu pada satu modal: waktu.
Waktu dipakai untuk mengenal Allah — itulah iman. Waktu dipakai untuk bekerja dan berbuat — itulah amal saleh. Waktu dipakai untuk menguatkan saudara dalam kebenaran — itulah tawāṣī bil-ḥaqq. Dan waktu dipakai untuk bertahan sampai akhir — itulah tawāṣī biṣ-ṣabr. Keempat pilar adalah cara manusia mengisi waktunya. Dan cara ia mengisi waktu adalah jawaban atas sumpah Allah di awal surah.
Iman adalah awalnya — ketika hati mulai mengenal Allah dan bersandar kepada-Nya. Amal saleh adalah buktinya — ketika keimanan itu mengalir keluar menjadi perbuatan nyata. Tawāṣī bil-ḥaqq adalah keluasannya — ketika kebaikan yang ada dalam diri tidak disimpan sendiri, melainkan dibagikan kepada sesama. Dan tawāṣī biṣ-ṣabr adalah kekuatannya — bekal yang menjaga agar perjalanan itu tidak berhenti di tengah jalan.
Waktu terus mengalir — memeras, menghimpit, tidak pernah berhenti. Pertanyaannya bukan apakah waktu kita cukup. Pertanyaannya adalah: apakah waktu yang kita miliki sedang kita ubah menjadi keempat pilar itu?
Allah ﷻ berfirman:وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Ashr [103]: 1–3)
Ketika Al-'Ashr Berbicara kepada Manusia Modern
Kita hidup pada zaman yang penuh paradoks. Semakin banyak informasi, semakin sedikit kebijaksanaan. Semakin sibuk, semakin kosong. Semakin terhubung melalui layar, semakin kesepian dalam hati. Produktivitas meningkat, tetapi banyak orang merasa hidup mereka tidak bermakna.
Psikologi positif kontemporer — yang nota bene lahir jauh setelah Al-Qur'an diturunkan — menemukan bahwa kebahagiaan sejati dan kesehatan mental jangka panjang bertumpu pada tiga hal: hidup yang bermakna (meaning), kemampuan bangkit dari kesulitan (resilience), dan hubungan sosial yang suportif. Ketiga hal ini ternyata persis yang ditawarkan oleh empat pilar QS. Al-'Ashr.
Makna hidup lahir dari iman dan amal saleh — ketika seseorang tahu mengapa ia hidup dan apa yang ia perjuangkan. Resiliensi tumbuh melalui tawāṣī biṣ-ṣabr — saling menguatkan agar tidak roboh saat ujian datang. Dan hubungan yang suportif adalah buah dari tawāṣī bil-ḥaqq — komunitas yang saling menjaga dalam kebenaran, bukan hanya dalam kesenangan.
Al-'Ashr bukan hanya jawaban teologis atas pertanyaan tentang kerugian. Ia juga jawaban ruhani atas krisis kemanusiaan zaman ini: mengubah waktu menjadi nilai, mengubah kesibukan menjadi amal, mengubah koneksi digital menjadi persaudaraan yang sesungguhnya, dan mengubah kelelahan menjadi kesabaran yang bermartabat.
Ada riwayat yang dikenal dalam literatur atsar, bersumber dari Abu Madinah ad-Darimi, bahwa para sahabat Nabi ﷺ apabila bertemu dan hendak berpisah, salah seorang di antara mereka membaca Surah Al-'Ashr, kemudian mereka saling mengucapkan salam. Seolah setiap perpisahan adalah pengingat: kita punya waktu yang terbatas. Pastikan kita tidak menyia-nyiakannya.
Dan Imam Asy-Syafi'i, yang menyaksikan kandungan surah ini dengan kacamata seorang faqih sekaligus ahli hadis, berkata dengan ungkapan yang terkenal: Law mā anzalallāhu ḥujjatan 'alā khalqihi illā hādzihis-sūrata lakafathum — "Seandainya Allah tidak menurunkan hujah kepada makhluk-Nya selain surah ini, niscaya surah ini telah mencukupi mereka."
Surah ini bukan hanya untuk dibaca. Ia untuk dihidupi.
Barangkali kita sudah hafal Surah Al-'Ashr sejak kecil. Mungkin kita membacanya setiap hari. Tapi pertanyaan yang lebih penting bukan apakah kita mengetahuinya. Pertanyaannya adalah: hari ini, ayat yang mana sedang kita jalani?
Apakah hari ini kita sedang menumbuhkan iman — membaca, merenungi, mendekat? Atau iman itu sedang kita biarkan layu karena tidak dipupuk? Apakah hari ini ada amal saleh yang lahir dengan sadar dan konsisten — bukan karena dilihat orang, melainkan karena Allah sedang melihat? Apakah ada satu percakapan, satu pesan, satu keberanian kecil yang merupakan wujud tawāṣī bil-ḥaqq — mengingatkan saudara, menguatkan yang goyah? Dan apakah kita sedang belajar bersabar — bukan pasrah, tetapi teguh — atas apapun yang hari ini terasa berat?
Sebab umur terus berjalan. Dan setiap hari kita sedang menulis jawaban atas sumpah Allah.
Kelak, yang paling dahulu menjadi saksi atas hidup kita bukan harta, jabatan, atau gelar. Melainkan waktu. Ia yang menyaksikan setiap saat kita — apakah diisi dengan iman, dengan amal, dengan keberanian mengingatkan sesama, dengan kesabaran yang teguh. Atau hanya berlalu begitu saja.
Semoga Allah menjadikan waktu kita sebagai saksi kebaikan, bukan saksi kealpaan. Dan semoga setiap hari yang berlalu membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
آمين يا رب العالمين
Referensi
- Al-Qur'an, QS. Al-'Ashr [103]: 1–3.
- Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-'Ashr — Imam Isma'il ibn Katsir ad-Dimasyqi.
- Tafsir al-Jalalayn, Surah Al-'Ashr — Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi.
- Tafsir al-Munīr fī al-'Aqīdah wa asy-Syarī'ah wa al-Manhaj, Surah Al-'Ashr — Wahbah az-Zuhaili.
- Jāmi' al-'Ulūm wa al-Ḥikam — Ibnu Rajab al-Hanbali.
- Madārij as-Sālikīn dan Al-Fawā'id — Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.
- Ṣayd al-Khāṭir — Ibn al-Jawzi.
- Manāqib asy-Syāfi'ī — Imam al-Baihaqi (sumber perkataan Imam Asy-Syafi'i tentang Surah Al-'Ashr).
- Atsar Abu Madinah ad-Darimi tentang kebiasaan para sahabat membaca Surah Al-'Ashr saat berpisah — dinukil dalam Al-Mu'jam al-Awsaṭ, Imam Ath-Thabrani, dan Syu'ab al-Imān, Imam al-Baihaqi.
- Atsar Hasan al-Bashri tentang waktu — dinukil dalam Hilyatul Awliyā', Abu Nu'aim al-Asfahani, jilid 2.
- Atsar Abdullah ibn Mas'ud radhiyallahu 'anhu tentang penyesalan atas hari yang berlalu — dinukil dalam Az-Zuhd, Imam Ahmad ibn Hanbal.
- Shahih al-Bukhari, no. 6412 (hadis dua nikmat); no. 1469 (hadis sabar).
- Shahih Muslim, no. 8 (Hadis Jibril); no. 55 (hadis nasihat); no. 926 (hadis sabar saat musibah); no. 2564 (Allah melihat hati dan amal).
- Al-Hakim, Al-Mustadrak, no. 7846 (hadis lima sebelum lima).
