Wajah Baru Hubb al-Dunyā: Tiga Bentuk yang Sering Tak Disadari

Cinta Dunia yang Halus: Bukan Harta, Tapi Ketergantungan Emosional

Ada seseorang yang sudah lama melepas harta. Ia tak memiliki rumah mewah, tak memburu jabatan, tak silau dengan kemewahan. Namun setiap kali orang tidak menyukainya, jiwanya runtuh. Setiap kali kritik datang, malamnya ia tak bisa tidur. Setiap kali kesendirian menyapa, ia panik mencari pengisi kekosongan itu.

Ia mengira dirinya sudah zuhud. Padahal hubb al-dunyā (حُبُّ الدُّنْيَا) belum pergi — ia hanya berganti pakaian.

Inilah yang disebut para ulama sebagai cinta dunia yang halus: bukan kerakusan terhadap materi, tetapi kerakusan terhadap pengakuan, kenyamanan, dan rasa aman yang bersumber dari makhluk.

Zuhud Bukan Tentang Kemiskinan

Sufyan al-Tsawri — ulama hadis dan ahli zuhud abad kedua Hijriah — pernah memberikan definisi yang mengubah cara kita memahami zuhud (الزُّهْدُ). Ia berkata:

الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا لَيْسَ بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ وَلَا إِضَاعَةِ الْمَالِ، وَلَكِنَّهُ أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ

"Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta, melainkan engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu sendiri."

Pernyataan ini meruntuhkan kesalahpahaman yang telah lama mengakar. Zuhud bukan tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang di mana hati kita bergantung. Seorang hartawan bisa lebih zuhud daripada seorang fakir, jika hati sang hartawan tidak terikat pada hartanya — sementara si fakir justru tersiksa setiap hari karena meratapi ketiadaan.

Inilah yang kemudian diperdalam oleh Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin: bahwa pangkal hubb al-dunyā adalah ketika hati menjadikan sesuatu yang fana sebagai tempat bertumpu — apapun bentuknya, baik emas, jabatan, maupun senyuman orang lain.

Wajah Baru Hubb al-Dunyā: Tiga Bentuk yang Sering Tak Disadari

Validasi sebagai Berhala Tersembunyi

Dalam psikologi modern, validation seeking — kecanduan terhadap pengakuan dan penerimaan sosial — dikenal sebagai salah satu pola yang paling dalam mengakar dalam kepribadian manusia. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan rasa aman akan mengembangkan kebutuhan kronis terhadap validasi dari luar.

Dalam bahasa tasawuf, ini adalah hubb al-jāh (حُبُّ الْجَاهِ) — cinta terhadap kedudukan dan penilaian manusia. Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din menyebut hubb al-jāh sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya justru karena ia halus dan sering bersembunyi di balik amal salih. Seseorang bisa rajin berbagi di media sosial bukan karena ingin bermanfaat, tetapi karena butuh diakui. Ia mengisi ceramah bukan karena rindu menyampaikan kebenaran, tetapi karena tidak tahan jika tidak dipuji.

Al-Ghazali menulis:

وَمَنْ أَحَبَّ الْجَاهَ فَقَدْ أَسَرَهُ النَّاسُ وَصَارَ عَبْدًا لَهُمْ وَإِنْ ظَنَّ أَنَّهُ حُرٌّ

"Barangsiapa mencintai kedudukan (di mata manusia), maka sungguh manusia telah menjadikannya tawanan. Ia menjadi hamba mereka, meski ia menyangka dirinya merdeka."

Inilah paradoks validasi: semakin ia dikejar, semakin dalam perbudakan itu. Setiap "suka" yang didapat hanya meredakan lapar sebentar, lalu rasa lapar itu kembali dengan intensitas yang lebih besar.

Kenyamanan yang Membelenggu

Bentuk kedua lebih subtil lagi: kecintaan terhadap comfort zone — zona nyaman yang membuat seseorang enggan berubah, takut keluar dari rutinitas, dan menolak pertumbuhan karena pertumbuhan selalu mensyaratkan ketidaknyamanan sementara.

Dalam terminologi psikologi, ini berkaitan erat dengan konsep status quo bias — kecenderungan kognitif untuk mempertahankan keadaan yang ada semata-mata karena sudah dikenal dan terasa aman, bukan karena itu memang yang terbaik.

Para ulama menyebut ini sebagai salah satu tipu daya dunia yang paling halus. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa dunia tidak selalu menyerang dengan gemerlap harta — ia sering datang dengan tawaran istirahat yang tampak manis: "Tenang saja, sudah cukup begini." Padahal di balik kenyamanan itu tersembunyi stagnansi jiwa yang perlahan mematikan.

Nabi ﷺ mengingatkan:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Ambillah kesempatan lima perkara sebelum lima perkara: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim, dishahihkan)

Hadis ini bukan sekadar manajemen waktu. Ia adalah peringatan bahwa kenyamanan memiliki batas waktu, dan orang yang terlena kenyamanan akan mendapati dirinya terlambat ketika saatnya tiba.

Rasa Aman yang Bersumber dari Makhluk

Bentuk ketiga adalah yang paling dalam dan paling menyakitkan jika ditelusuri: emotional dependency — ketergantungan emosional terhadap manusia, hubungan, atau situasi tertentu sebagai sumber rasa aman.

Psikologi perkembangan mengenal ini melalui attachment theory yang dirintis oleh John Bowlby: bahwa manusia secara alami membutuhkan secure base — basis keamanan — untuk berfungsi dengan baik. Yang menjadi masalah bukan kebutuhan itu sendiri, melainkan ketika secure base itu diletakkan pada sesuatu yang fana dan tidak stabil: manusia lain, hubungan romantis, posisi sosial, atau bahkan rutinitas yang bisa sewaktu-waktu hilang.

Dalam kerangka Islam, ini adalah bentuk tawakkul (التَّوَكُّلُ) yang keliru arahnya — bukan kepada Allah, tetapi kepada makhluk. Ibnu al-Qayyim menyebut fenomena ini dalam Madarij al-Salikin sebagai ta'alluq al-qalb bi ghair Allah (تَعَلُّقُ الْقَلْبِ بِغَيْرِ اللهِ) — tergantungnya hati pada selain Allah. Dan setiap kali yang digantungi itu bergerak, hati pun ikut terguncang.

Seseorang yang meletakkan rasa amannya pada pasangan akan hancur ketika pasangan itu pergi. Seseorang yang meletakkan rasa amannya pada pekerjaan akan hilang arah ketika pekerjaan itu berakhir. Bukan karena kehilangan itu tidak wajar untuk dirasakan — melainkan karena guncangan yang tidak proporsional itu menandakan bahwa hati telah menggantungkan diri pada sesuatu yang tidak layak digantungi.

Titik Temu Tasawuf dan Psikologi: Fear of Loss

Psikologi modern mengenal konsep fear of loss atau dalam literatur perilaku disebut loss aversion — kecenderungan manusia untuk merasakan sakit akibat kehilangan dua kali lebih kuat daripada kebahagiaan yang setara dari perolehan. Eksperimen klasik Daniel Kahneman dan Amos Tversky membuktikan: kehilangan Rp100.000 terasa lebih menyakitkan daripada mendapat Rp100.000 terasa menyenangkan.

Namun jauh sebelum temuan ini dipublikasikan, para ulama tasawuf sudah mengidentifikasi mekanisme yang sama. Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din, kitab Rub' al-Muhlikat (seperempat bagian tentang hal-hal yang membinasakan), menjelaskan bahwa akar dari segala keterikatan dunia adalah khawf al-fawt (خَوْفُ الْفَوْتِ) — ketakutan akan kehilangan. Inilah yang membuat seseorang menumpuk harta melebihi kebutuhan, mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat, atau bertahan di situasi yang tidak memberi kebaikan — hanya karena takut kehilangan apa yang sudah ada.

Perbedaan mendasarnya: psikologi modern memandang loss aversion sebagai bias kognitif yang perlu dikelola. Tasawuf Islam memandangnya sebagai gejala penyakit hati yang akarnya adalah jauhnya hati dari keyakinan bahwa Allah-lah pemilik segalanya, dan bahwa apa yang diambil-Nya adalah hak-Nya.

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)

Ayat ini bukan hanya penghiburan — ia adalah terapi ontologis. Segala yang terasa seperti kehilangan sesungguhnya adalah bagian dari ketetapan yang sudah tertulis. Maka ketakutan akan kehilangan itu, dalam cahaya ayat ini, sejatinya adalah keraguan terhadap kesempurnaan takdir Allah.

Mengenali Diri Sendiri: Ujian Praktis

Bagaimana seseorang mengetahui apakah ia sedang dalam cengkeraman hubb al-dunyā yang halus ini? Ibnu al-Qayyim memberikan petunjuk sederhana dalam Al-Fawa'id: perhatikan reaksi hatimu ketika sesuatu yang kamu sayangi terancam hilang.

Jika seseorang merasa:

  • Sangat terganggu ketika tidak mendapat pujian atau pengakuan atas sesuatu yang ia lakukan
  • Cemas berlebihan ketika rutinitas terganggu, meski gangguan itu kecil
  • Panik atau kosong ketika sendirian tanpa hiburan, tanpa percakapan, tanpa stimulasi
  • Kehilangan motivasi beribadah ketika hubungan tertentu dengan manusia sedang tidak baik
  • Merasa "tidak aman" ketika tidak ada seseorang yang ia andalkan hadir

— maka ada keterikatan yang perlu diperiksa. Bukan untuk disiksa, bukan untuk dihukum, tetapi untuk dihadirkan ke hadapan Allah dengan jujur.

Hasan al-Bashri pernah berkata:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ اشْتَغَلَ بِإِصْلَاحِهَا عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ

"Barangsiapa mengenal dirinya sendiri, ia akan tersibukkan dengan memperbaikinya hingga tak sempat melihat aib orang lain."

Pengenalan diri bukan proyek yang menyakitkan — ia adalah pintu masuk menuju kebebasan.

Jalan Keluar: Bukan Melepas, Tapi Memindahkan

Solusi yang ditawarkan Islam bukan asketisme ekstrem — bukan memutus semua hubungan, meninggalkan semua kenyamanan, atau hidup tanpa kebutuhan emosional sama sekali. Itu bukan zuhud; itu penolakan terhadap fitrah manusia yang justru Allah ciptakan.

Solusinya adalah memindahkan tambatan hati. Dari makhluk kepada Khaliq. Dari yang fana kepada Yang Abadi. Dari yang sewaktu-waktu bisa pergi kepada Yang tidak pernah meninggalkan.

Sufyan al-Tsawri mengajarkan bahwa zuhud sejati menghasilkan satu tanda yang bisa dirasakan langsung: hati tidak lagi berguncang proporsional dengan naik-turunnya keadaan dunia. Pujian dan celaan terasa setara. Kehilangan dan perolehan tidak mengubah ketenteraman di dalam dada. Ini bukan karena orang itu tidak merasakan — tetapi karena ia merasakan semuanya sambil tetap berpijak pada keyakinan bahwa semua itu bukan penentu hidupnya.

Dan ini hanya mungkin jika Allah benar-benar telah menjadi tempat bergantung — bukan sekadar kata-kata dalam doa, tetapi kenyataan yang dirasakan hati di setiap momen kehidupan.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Al-Ra'd: 28)

Ketenteraman itu bukan datang dari validasi yang terpenuhi, bukan dari kenyamanan yang terjaga, bukan dari hubungan yang aman. Ia datang dari satu sumber — dan satu sumber itu tidak pernah habis, tidak pernah pergi, tidak pernah mengecewakan.

Itulah yang dicari oleh jiwa yang zuhud: bukan kekosongan, melainkan kepenuhan yang benar.

Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah

Artikel Populer

Menghindari Sikap Berlebihan Dalam Beragama

Dampak Perang Iran–Israel–AS terhadap Indonesia: Energi, Pangan, Petani, dan Nelayan

Pembaharuan Niat Adalah Tanda Hati Yang Hidup

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...