Bukan Manusia Biasa

Bukan Manusia Biasa

Keteguhan Hati Demi Mendengar Nama Allah

Allah berfirman dalam QS. Al-Anfāl (8): 2,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya; dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya; dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal."

(QS. Al-Anfāl/8: 2)

Dalam Tafsir Jalālain disebutkan: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, yang sempurna keimanannya — adalah mereka yang apabila disebut Allah, yakni ancaman-Nya, gemetarlah karena takut hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah keimanan mereka, kepercayaan mereka; dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal — hanya kepada Rabb-lah mereka percaya, bukan kepada selain-Nya."

Al-Qur'an mencontohkan keteguhan hati seorang mukmin demi mendengar nama Allah disebut — antara lain keteguhan hati Hajar ketika ditinggal di lembah tandus Makkah, dan keteguhan hati seorang ibu yang menggendong anaknya ketika dilempar dalam parit yang penuh api membara.


Keteguhan Hati Siti Hajar

Nabi Ibrāhīm dengan istrinya Sārah belum dikaruniai anak. Atas saran Sārah, Nabi Ibrāhīm menikahi Siti Hajar sebagai istri kedua agar memiliki keturunan. Kemudian lahirlah Ismā'īl dari rahim Hajar, namun muncul kecemburuan di hati Sārah. Hajar berjanji untuk tidak tinggal satu atap, dan Allah menyuruh Nabi Ibrāhīm untuk membawa Hajar ke Makkah.

Dibawalah Siti Hajar bersama bayinya Ismā'īl. Mereka bergantian menggendong Ismā'īl melewati gurun pasir yang terik. "Suamiku, mau ke mana kita? Istirahatlah sebentar," pinta Hajar, namun Ibrāhīm tetap terus berjalan. Hingga mereka sampai di Makkah, lembah yang tandus. Kemudian Nabi Ibrāhīm meninggalkan mereka.

"Suamiku, engkau mau ke mana? Kenapa kau tinggalkan kami di sini?" tanya Hajar. Nabi Ibrāhīm tetap berjalan tanpa menoleh. Siti Hajar dengan menggendong Ismā'īl terus mengejar suaminya, memegang tangannya. "Suamiku, katakan padaku — ini kemauanmu atau perintah Allah?"

Nabi Ibrāhīm menatap wajah istrinya. "Ini perintah Allah."

Hajar terdiam. Kalau perintah Allah, maka pasti Allah tidak akan menelantarkannya.

Demi mendengar nama Allah disebut, Siti Hajar langsung menurut, tunduk, hatinya tenang, yakin Allah akan menjaganya. Siti Hajar perempuan hebat. Dia bukan manusia biasa.

Nabi Ibrāhīm dalam perjalanannya berhenti dan terdiam, kemudian berdoa kepada Allah sebagaimana diabadikan dalam QS. Ibrāhīm (14): 37,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb kami, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat; maka jadikanlah hati sebagian manusia condong kepada mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

(QS. Ibrāhīm/14: 37)


Kunjungan Nabi Ibrāhīm

Dalam kitab Ar-Rahīq al-Makhtūm (Sejarah Nabi Muhammad SAW) karya Syaikh Shafiyyurrahmān al-Mubārakfūrī, dikisahkan bahwa Nabi Ibrāhīm mengunjungi Siti Hajar dan Ismā'īl sebanyak empat kali.

Kunjungan pertama adalah ketika Nabi Ibrāhīm mendapat perintah dari Allah lewat mimpinya untuk menyembelih Ismā'īl. Allah mengabadikan dialog agung itu dalam QS. Ash-Shāffāt (37): 102,

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

"Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrāhīm) berkata, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?' Dia (Ismā'īl) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'"

(QS. Ash-Shāffāt/37: 102)

Para ulama menjelaskan umur Nabi Ismā'īl ketika itu sekitar 13 atau 14 tahun, dengan indikasi dalam ayat itu disebutkan "ia sanggup bekerja bersamanya." Dengan demikian, kunjungan Nabi Ibrāhīm ke Makkah terhitung sejak ditinggalkannya sekitar 13 tahun kemudian.

Adalah Siti Hajar dalam kurun waktu sedemikian lama mendidik sendiri putranya, sedangkan Nabi Ibrāhīm mendidiknya lewat doa dan tawakalnya. Tidak mudah bagi seorang ibu menanamkan pondasi keimanan yang kokoh pada anaknya — dan berhasil. Kita bisa lihat jawaban Nabi Ismā'īl ketika ditanya tentang mimpi ayahnya: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Kunjungan kedua Nabi Ibrāhīm adalah ketika Ismā'īl sudah menikah dan Siti Hajar telah wafat. Nabi Ibrāhīm tidak bertemu dengan Ismā'īl, hanya bertemu dengan menantunya — istri Nabi Ismā'īl. Ibrāhīm bertanya, "Bagaimana keluargamu, Nak?" Istri Nabi Ismā'īl menjawab, "Suamiku tidak memperhatikan aku, tidak memenuhi kebutuhan-kebutuhanku." Maka kemudian Nabi Ibrāhīm berpesan: "Sampaikan kepada suamimu agar ia mengganti palang pintunya."

Kunjungan ketiga Nabi Ibrāhīm, kembali tidak bertemu Ismā'īl. Namun kali ini menantunya berbeda — istri Nabi Ismā'īl yang pertama telah diceraikan, dan itulah maksud pesan Nabi Ibrāhīm sebelumnya. Istri Nabi Ismā'īl yang baru menjawab, "Suamiku sangat perhatian dan penuh kasih sayang; dia penuhi kebutuhanku." Maka Nabi Ibrāhīm berpesan: "Sampaikan kepada suamimu agar dia mengokohkan palang pintunya."

Kunjungan keempat, Nabi Ibrāhīm bertemu Nabi Ismā'īl dan mereka mendapat perintah dari Allah untuk meninggikan Ka'bah (Baitullah).

Ismā'īl adalah sosok hasil pendidikan seorang Siti Hajar yang teguh hatinya. Dengan satu kata, nama Allah mampu menguatkan dan menenangkan — hingga ia berhasil mendidik Ismā'īl menjadi nabi yang tegar. Siti Hajar bukan manusia biasa.


Keteguhan Hati Ibu dan Anak dalam Gendongannya

Allah berfirman dalam QS. Al-Burūj (85): 4–7,

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ ۝ النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ ۝ إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ ۝ وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

"Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar. Ketika mereka duduk di sekitarnya. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman."

(QS. Al-Burūj/85: 4–7)

Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan: "Terlaknatlah para pembuat parit, yaitu pembesar Najran dan Yaman. Mereka adalah kaum kafir yang membakar kelompok orang mukmin dalam sebuah parit di negeri Yaman. Mereka adalah kaum Nasrani Najran yang sebelumnya mempercayai bahwa Tuhan itu satu."

Kisah Pemuda Ghulam (al-Ghulām)

Kisah para pemilik parit (ashāb al-ukhdūd) ini diriwayatkan secara panjang dalam hadits shahih dari sahabat Shuhaib ar-Rūmī radhiyallāhu 'anhu. Rasulullah ﷺ bersabda,

كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ، فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَيَّ غُلَامًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ...

"Dahulu ada seorang raja di antara orang-orang sebelum kalian, dan ia memiliki seorang ahli sihir. Tatkala ahli sihir itu sudah tua, ia berkata kepada sang raja: 'Sesungguhnya aku telah tua, maka utuslah kepadaku seorang anak laki-laki agar aku ajarkan kepadanya sihir...' "

(HR. Muslim, no. 3005; at-Tirmidzī, no. 3340 — dari Shuhaib ar-Rūmī radhiyallāhu 'anhu)

Dahulu ada seorang raja yang memiliki penasihat seorang ahli sihir yang ternama. Usianya sudah sangat lanjut. Penyihir tersebut hendak mencari penerus dan pewaris ilmunya yang kelak akan menggantikan posisinya sebagai penasihat raja. Hingga didapatlah seorang anak laki-laki yang cerdas.

Sayangnya sang anak tersebut — al-ghulām — sering berbeda pendapat dan perangai dengan sang penyihir. Di tengah jalan antara rumahnya dan istana, terdapat sebuah gua yang dihuni oleh seorang rahib. Setiap ghulam lewat tempat tersebut ia selalu bertanya beberapa hal kepada sang rahib, hingga sang rahib mengaku bahwa ia menyembah Allah dan mengesakan-Nya. Lambat laun ghulam lebih suka berlama-lama di tempat rahib untuk belajar dan selalu terlambat datang ke tempat tukang sihir.

Hingga suatu saat kerajaan memerintahkan menjemputnya ke rumah karena hampir saja ia tidak hadir. Ghulam memberitahu perihal ini kepada rahib. Sang rahib pun memberinya cara: jika penyihir itu bertanya di mana engkau, jawab saja aku ada di rumahku; jika keluargamu menanyakan keberadaanmu, beritahu mereka bahwa engkau berada di tempat penyihir.

Ghulam Membunuh Binatang Buas

Suatu hari, ketika ghulam sedang di jalan ia menjumpai sekelompok orang terhenti jalannya karena ada binatang buas yang menghalangi mereka. Ghulam segera mengambil batu dan berdoa: "Yā Allāh, jika yang dikatakan sang rahib benar, maka izinkan aku membunuh binatang ini. Jika yang dikatakan sang penyihir yang benar, maka aku meminta supaya Engkau menggagalkanku." Kemudian ia lemparkan batu itu dan binatang tersebut mati seketika. Orang-orang pun terperanjat setelah tahu bahwa anak kecil itulah yang membunuhnya. Mereka berkata: "Anak ini tahu suatu ilmu yang tidak diketahui oleh orang lain."

Ghulam Menyembuhkan Mata Buta Pejabat Kerajaan

Hingga didengarlah oleh seorang pejabat kerajaan yang buta. Ia mendatangi ghulam dan berkata: "Jika engkau kembalikan penglihatanku, akan aku beri hadiah ini dan itu." Ghulam menjawab: "Aku tak memerlukan itu dari Anda. Jika aku bisa mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau beriman kepada Dzat yang mengembalikan penglihatanmu?" Dia menjawab: "Ya." Maka sang pejabat buta itu dapat melihat kembali dan beriman.

Berita ini tersiar sampai ke kerajaan. Sang raja murka dan membunuhi siapa saja yang mengikuti ajaran ghulam. Hingga ditangkaplah sang rahib dan sang pejabat yang telah melihat. Mereka berdua dibunuh dengan sadis — dibelah badannya dengan gergaji.

Ghulam Ditangkap

Ghulam yang ditangkap dibawa ke atas gunung bersama beberapa tentara kerajaan untuk dilempar dari atas gunung. Namun tak ada yang selamat dari atas gunung kecuali ghulam, dan ia pun kembali. Sang raja memerintahkan untuk membawa ghulam ke tengah laut untuk dibuang di sana. Badai pun menyerang mereka. Tak ada yang selamat kecuali ghulam. Ia pun kembali lagi. Setiap makar yang dibuat untuk membunuhnya selalu gagal.

Cara Membunuh Ghulam

Akhirnya ghulam berkata kepada sang raja: "Engkau takkan bisa membunuhku kecuali dengan menyalibku di depan rakyatmu, kemudian memanahku sambil berkata: Bismillāhi Rabbil Ghulām — dengan nama Allah, Tuhan anak kecil ini."

Setelah disalib dan sang raja mengucapkan kata-kata tersebut dengan keras, panah yang meluncur dari busur sang raja pun menancap di tubuh ghulam dan menewaskannya sebagai seorang syahid. Orang-orang di sekitarnya berkata: "Ghulam tahu ilmu yang tidak diketahui orang lain — kita harus beriman kepada Tuhannya."

Keteguhan Hati Seorang Ibu

Sang raja murka dan memerintahkan untuk menggali parit dan menyalakan api. Barang siapa yang tak mau meninggalkan agamanya akan dilempar ke dalam parit yang menyala-nyala. Satu persatu rakyat yang tidak mau meninggalkan Tuhan-nya — Rabb sang ghulam — dilempar ke dalam parit.

Hingga tibalah giliran seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih disusui. Ia ragu-ragu untuk mempertahankan keimanannya demi menyelamatkan anaknya. Namun tiba-tiba sang bayi yang ada dalam gendongannya bisa bicara dan berkata meyakinkan ibunya:

يَا أُمَّهْ، اصْبِرِي، فَإِنَّكِ عَلَى الْحَقِّ

"Ibu, sabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran."

(HR. Muslim, no. 3005)

Demi mendengar nama Allah disebut, menjadi teguhlah imannya, kuat keyakinannya — dan ia siap menjemput ajal bersama anaknya. Seorang ibu yang bukan manusia biasa.

Itulah mereka — Siti Hajar dan ibu yang tak dikenal namanya oleh sejarah itu. Keduanya bukan manusia biasa. Keduanya adalah jiwa-jiwa yang, ketika nama Allah disebut, gemetar hatinya dalam ketundukan, bukan dalam ketakutan yang melemahkan. Itulah hakikat iman yang digambarkan Allah dalam QS. Al-Anfāl: 2 — iman yang menggerakkan, menguatkan, dan mengantarkan seseorang pada puncak tawakal yang sesungguhnya.


Ditulis oleh: Yahya Husaini — Aktivis literasi | Penggiat dakwah digital.
Facebook: Yahya Husaini

Artikel Populer

Wajah Baru Hubb al-Dunyā: Tiga Bentuk yang Sering Tak Disadari

Futur: Ketika Jiwa Lelah Beribadah

"Indonesia Cerah": Narasi Optimisme Prabowo sebagai Strategi Komunikasi Politik

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya