Cinta yang Membutakan: Ketika Hati Lebih Tunduk pada Makhluk daripada Khaliq

 Oleh: Nuraini Persadani 

Ada satu jenis rasa yang paling sulit dikenali dari dalam: cinta yang diam-diam telah berubah menjadi penjara. Ia datang tanpa suara, tanpa peringatan. Ia hadir menyerupai keindahan, berpakaian kesetiaan, dan berdiam dalam lipatan perasaan yang kita sebut "sayang". Sampai suatu hari kita sadar—tanpa dia, langit terasa runtuh. Tanpa kabarnya, shalat pun terasa hampa. Dan kita tiba-tiba takut bertanya kepada diri sendiri: siapa sebenarnya yang paling besar di dalam hatiku sekarang?

Bukan Allah.

Mungkin itulah jawaban yang paling berat untuk diucapkan, namun paling jujur untuk diakui.

Islam tidak melarang cinta kepada manusia. Tidak sama sekali. Cinta adalah fitrah—ia diletakkan Allah dalam hati kita sebagai jalan untuk mengenal kasih-Nya yang lebih besar. Seorang suami mencintai istrinya, seorang ibu mencintai anaknya, seorang sahabat mencintai sahabatnya—semua itu adalah rahmat. Semua itu adalah sinyal dari Yang Maha Pengasih bahwa kasih sayang adalah bahasa-Nya kepada makhluk-Nya. Maka cinta kepada manusia, bila benar tempatnya, bisa menjadi tangga menuju Allah.

Namun ada sebuah titik—halus, nyaris tak terasa—di mana cinta itu tergelincir. Saat makhluk tidak lagi menjadi perantara, tetapi menjadi tujuan. Saat sosok yang kita cintai tidak lagi mengingatkan kita kepada Allah, tetapi justru menjauhkan. Saat kita rela menunda shalat demi membalas pesannya—namun tak merasa bersalah ketika menunda doa. Saat suasana hati ibadah kita naik-turun bukan karena kehadiran Allah, melainkan karena kehadiran dia.

Para ulama menyebutnya ta'alluq—keterikatan hati kepada selain Allah. Dan Ibnu al-Qayyim menulis dengan kalimat yang mengiris: "Hati tidak akan tenang kecuali dengan mencintai Allah. Setiap cinta selain-Nya akan menjadi azab bagi pemiliknya." Bukan azab di akhirat saja. Azab itu sudah dimulai di dunia, dalam gelisah yang tak bisa dijelaskan, dalam rasa takut kehilangan yang terus-menerus menggerogoti, dalam kesendirian yang terasa menyiksa meski banyak orang di sekitar.

Allah sendiri telah memperingatkan, dengan cara yang paling lembut namun paling dalam. Dalam surah Al-Baqarah, Dia berfirman bahwa di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan—mereka mencintainya sebagaimana mestinya mencintai Allah. Dan dalam surah At-Taubah, Dia menyebut satu per satu: bapak, anak, saudara, pasangan, harta, tempat tinggal—semua bisa menjadi penghalang, bila cinta kepada semua itu mengalahkan cinta kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Ini bukan larangan untuk mencintai. Ini adalah undangan untuk menata cinta pada tempat yang benar.

Maka marilah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri—bukan kepada orang lain, bukan kepada media sosial—tapi kepada hati yang paling dalam, yang tidak bisa berbohong di hadapan Allah:

Jika Allah mengambilnya dariku besok pagi—apakah aku masih punya alasan untuk hidup dekat dengan-Nya?

Apakah aku taat kepada Allah dengan sepenuh hati—atau hanya taat saat ketaatanku tidak bertentangan dengan keinginannya?

Siapa yang lebih sering memenuhi pikiranku saat malam hari: Allah, atau dia?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyakiti. Ia adalah cermin muhasabah—yang bila kita tatap dengan jujur, bisa menjadi awal dari pemulihan yang sesungguhnya.

Karena akar dari semua ini bukanlah cinta yang terlalu besar, melainkan kekosongan ruhani yang terlalu dalam. Kita mencari di dalam diri manusia apa yang seharusnya kita temukan di dalam sujud. Kita meminta dari makhluk apa yang hanya bisa diberikan oleh Khaliq. Kita berharap manusia—yang hatinya sendiri berubah-ubah, yang hidupnya sendiri penuh keterbatasan—mampu mengisi ruang yang hanya muat untuk Allah. Dan di sanalah pangkal luka itu. Di sanalah mengapa kita tidak pernah benar-benar puas, tidak pernah benar-benar aman, tidak pernah benar-benar tenang.

Al-Hasan al-Bashri berkata: "Jangan engkau gantungkan hatimu kepada manusia, karena hati mereka berubah-ubah." Dan Ibnu Taimiyyah menambahkan dengan kalimat yang seperti diriwayatkan khusus untuk zaman kita ini: "Barangsiapa menggantungkan hatinya kepada selain Allah, maka ia akan disiksa dengannya." Disiksa bukan karena Allah tidak sayang—justru sebaliknya. Allah ingin kita kembali. Dan kadang cara-Nya mengembalikan kita adalah dengan menggoyang apa yang paling kita pegang erat, agar kita tersadar: ini bukan tempatnya berpegangan.

Lalu bagaimana jalan keluarnya?

Ia dimulai dari pengakuan yang paling sederhana namun paling berat: aku telah salah meletakkan harapan. Bukan salah mencintai—tapi salah dalam berharap. Makhluk adalah sebab, bukan sumber. Manusia adalah titipan, bukan jaminan. Dan ketenangan—sakinah yang kita rindukan itu—tidak pernah benar-benar berasal dari siapapun selain Allah.

Maka langkah pertama adalah memindahkan pusat harapan itu, perlahan-lahan, dengan doa yang tulus, dengan dzikir yang mengalirkan ingatan kita kembali kepada-Nya. Bukan dengan membenci manusia yang kita cintai. Bukan dengan memutus hubungan secara paksa dan menyakitkan. Melainkan dengan belajar mencintai dengan cara yang berbeda—lillah, karena Allah; bukan linnas, karena dorongan jiwa semata.

Mencintai seseorang karena Allah artinya: cintamu kepadanya tidak membuatmu jauh dari Allah. Kehadirannya mengingatkanmu pada syukur. Ketidakhadirannya mengingatkanmu pada sabar. Dan dalam kedua keadaan itu, Allah tetap menjadi tempat pertama yang kamu tuju.

Cinta seperti itu tidak membutakan. Cinta seperti itu justru mencerahkan.

Maka bila hari ini engkau mendapati dirimu gelisah—karena dia tidak membalas pesanmu, karena dia berubah, karena hubungan itu terasa mulai retak—jangan biarkan gelisah itu berhenti hanya sebagai keluhan. Jadikan ia pertanda. Tanda bahwa ada sesuatu di dalam hatimu yang sedang meminta untuk diluruskan kembali arahnya.

Cinta bukan untuk dimatikan. Ia adalah anugerah. Namun ia perlu dijaga agar tidak menggantikan Sang Pemilik Hati dari singgasana yang memang hanya untuk-Nya.

Jika cintamu membuatmu jauh dari Allah—itu bukan cinta yang menyelamatkan. Itu adalah ujian yang sedang Allah kirimkan, agar engkau tersadar dan pulang.

Maka pulanglah. Sebelum jarak itu semakin jauh. Sebelum hati itu semakin keras. Sebelum engkau lupa bahwa ada Yang Mencintaimu tanpa syarat, tanpa batas, tanpa pernah berubah—sejak sebelum engkau lahir hingga sesudah nafasmu yang terakhir.

Dialah Allah. Dan hanya di sisi-Nya hati ini akan benar-benar menemukan rumahnya.

Ya Allah, luruskanlah cinta kami agar ia menjadi jalan menuju-Mu, bukan penghalang dari-Mu. Jadikan kami hamba yang mencintai karena-Mu, bersabar karena-Mu, dan kembali selalu kepada-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Artikel Populer

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Lelaki yang Dirindukan Langit, Tapi Tidak Dikenal Bumi

Zina Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Proses Panjang yang Diabaikan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya