Lelaki yang Dirindukan Langit, Tapi Tidak Dikenal Bumi

Lelaki yang Dirindukan Langit, Tapi Tidak Dikenal Bumi

Fragmen Kehidupan Uwais al-Qarni

Oleh: Nuraini Persadani



Ada seorang lelaki di Yaman.

Tidak ada yang tahu namanya di pasar. Tidak ada yang mengenali wajahnya di majelis. Ia hidup dalam kemiskinan yang bukan karena malas, dalam kesunyian yang bukan karena sombong, dalam ketersembunyian yang bukan karena pengecut. Ia memilih untuk tidak dikenal — bukan sebagai pertunjukan kezuhudan, tapi karena hatinya memang tidak membutuhkan tepuk tangan manusia.

Namanya Uwais. Uwais al-Qarni.

Dan jauh di Madinah, seorang Nabi ﷺ menyebut namanya.

«إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ، وَلَهُ وَالِدَةٌ، وَكَانَ بِهِ بَيَاضٌ، فَمُرُوهُ فَلْيَسْتَغْفِرْ لَكُمْ»

"Sesungguhnya sebaik-baik tabi'in adalah seorang lelaki yang disebut Uwais. Ia memiliki seorang ibu, dan ia pernah menderita penyakit belang. Mintalah ia memohonkan ampun untuk kalian." (HR. Muslim, no. 2542)

Bayangkan betapa beratnya kalimat itu untuk dipahami.

Rasulullah ﷺ — yang di sekelilingnya ada para sahabat terbaik, ada Abu Bakar yang selalu mendampingi, ada Umar yang tegas dan berani, ada Ali yang dalam ilmunya — menyebut seorang lelaki dari Yaman yang bahkan tidak pernah bertemu beliau. Menyebutnya sebagai sebaik-baik tabi'in. Dan meminta dua orang besar — Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu 'anhuma — untuk mencarinya dan meminta doanya.

Apa yang membuat Allah dan Rasul-Nya memandang Uwais dengan cara seperti itu?

Uwais bukan ahli hadits yang meriwayatkan ribuan sanad. Ia bukan panglima yang menaklukkan kota. Ia bukan penulis yang mewariskan kitab. Yang ia miliki hanya dua hal: ibunya dan Allah.

Ibunya lumpuh. Dan Uwais merawatnya seorang diri, dengan seluruh hidupnya, tanpa mengeluh, tanpa meminta diakui. Dikisahkan bahwa ketika kabar wafatnya Rasulullah ﷺ sampai ke Yaman, Uwais menangis panjang — bukan hanya karena kehilangan Nabi, tapi karena ia tidak sempat bertemu beliau. Ia ingin sekali pergi ke Madinah. Tapi ibunya membutuhkannya. Dan Uwais memilih untuk tinggal.

Ia mengorbankan kerinduan terbesarnya demi bakti.

Di sinilah fragmen yang paling menyentuh dari hidupnya. Uwais sebenarnya pernah memperoleh izin dari ibunya untuk pergi ke Madinah — tapi hanya sebentar. Ia tiba di Madinah, mendapati Rasulullah ﷺ sedang tidak ada di rumah, dan karena tidak ingin membebani ibunya terlalu lama, ia kembali ke Yaman tanpa bertemu Nabi ﷺ. Ia pulang dengan tangan kosong dari pertemuan yang paling ia rindukan seumur hidup — demi sebuah tanggung jawab kepada perempuan tua yang menantinya di rumah.

Dan Allah mengetahui semua itu. Allah melihat setiap langkah pulangnya yang sunyi. Setiap air mata yang ia telan sendirian. Setiap malam yang ia habiskan di Yaman, sementara di Madinah para sahabat duduk bersama Rasulullah ﷺ — dan Uwais hanya bisa membayangkannya.

Tidak ada yang tahu kesungguhan Uwais kecuali Allah. Dan ternyata itu sudah cukup.

Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Uwais pernah menderita penyakit belang yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia berdoa kepada Allah, memohon kesembuhan. Allah menyembuhkannya — kecuali satu titik kecil, sebesar uang logam, di dadanya. Beberapa ulama menafsirkan bahwa ia sengaja meminta agar satu bekas tetap ada — sebagai pengingat bagi dirinya bahwa ia pernah sakit, bahwa ia pernah tidak berdaya, bahwa segala kesehatan adalah pemberian yang bisa dicabut kapan saja. Ia tidak ingin sembuh total lalu lupa.

Seseorang yang ingin dikenal tidak akan meminta bekas penyakitnya dipertahankan. Seseorang yang mencari pujian tidak akan memilih untuk menyimpan pengingat kelemahan di dadanya. Uwais bukan sedang bertapa dari dunia — ia sedang menjaga hatinya agar tidak tertipu oleh dunia.

Bertahun-tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin Khattab — yang ketika itu sudah menjadi Khalifah — selalu bertanya kepada setiap rombongan yang datang dari Yaman: "Apakah di antara kalian ada Uwais al-Qarni?" Hingga suatu hari, jawabannya: ya.

Umar mendatanginya. Bertanya tentang namanya, tentang ibunya, tentang bekas penyakitnya. Dan ketika yakin bahwa ini adalah Uwais yang dimaksud Rasulullah ﷺ, Umar — sang Amirul Mukminin, pemimpin separuh dunia ketika itu — memintanya untuk mendoakan ampunan bagi dirinya.

Uwais menangis. Ia merasa tidak layak.

Umar berkata kepadanya: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda bahwa engkau adalah sebaik-baik tabi'in, dan beliau memerintahkan kami untuk meminta doamu."

Uwais menjawab: "Kamu lebih berhak mendoakan aku, wahai Amirul Mukminin. Kamu adalah sahabat Rasulullah ﷺ."

Umar bersikeras. Dan Uwais akhirnya berdoa.

(Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan berbagai kitab tabaqat)

Perhatikan percakapan itu. Khalifah meminta doa kepada seorang lelaki tak dikenal dari Yaman. Dan lelaki itu menolak — bukan karena sombong, tapi karena ia benar-benar tidak merasa dirinya layak. Itulah tanda jiwa yang bersih: semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa kecil di hadapan-Nya.

Setelah pertemuan itu, Umar menawarkan bantuan materi kepada Uwais. Uwais menolak. Ia hanya meminta satu hal: agar Umar mendoakannya. Lalu ia kembali ke kesunyiannya — ke hidupnya yang tidak dikenal, ke ibunya, ke Allah.

Riwayat menyebutkan bahwa setelah ibunya wafat, Uwais pergi berjihad dan syahid dalam Perang Shiffin — atau menurut sebagian riwayat, dalam peperangan lain di jalan Allah. Ia pergi seperti cara hidupnya: tanpa keributan, tanpa prosesi, tanpa nama yang diumumkan.

Tapi di langit, namanya sudah lama dikenal.


Apa yang bisa kita bawa dari fragmen kehidupan Uwais ke dalam hidup kita hari ini?

Kita hidup di zaman di mana eksistensi diukur dari seberapa banyak orang mengenal kita. Nama yang tidak dikenal adalah nama yang gagal. Kebaikan yang tidak dipotret adalah kebaikan yang sia-sia. Amal yang tidak dibagikan seolah tidak terjadi. Kita terlatih untuk menjadi terlihat — dan perlahan, tanpa sadar, kita mulai beramal untuk dilihat.

Uwais menghancurkan semua logika itu hanya dengan cara hidupnya.

Ia mengajarkan bahwa ada tingkatan kemuliaan yang tidak bisa diukur oleh pengakuan manusia. Bahwa birrul walidain yang sungguh-sungguh — merawat ibu yang lumpuh seorang diri, mengorbankan pertemuan paling dirindukan demi tanggung jawab — bisa mengangkat seseorang ke derajat yang tidak bisa dicapai oleh banyak ceramah dan banyak panggung.

Ia mengajarkan bahwa Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia. Bahwa amal yang tersembunyi bukan amal yang sia-sia — justru seringkali itulah yang paling berharga di sisi-Nya.

Dan ia mengajarkan satu hal yang paling sulit di zaman ini: bahwa cukup dikenal oleh Allah saja — itu sudah lebih dari cukup.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. At-Taubah: 120)

Uwais tidak pernah tahu bahwa Rasulullah ﷺ menyebut namanya. Ia tidak pernah tahu bahwa Umar bin Khattab selama bertahun-tahun menunggunya di setiap rombongan dari Yaman. Ia menjalani hidupnya tanpa mengetahui betapa tinggi kedudukannya di sisi Allah dan di mata Nabi-Nya.

Dan justru ketidaktahuannya itulah yang menjaga keikhlasannya tetap utuh.

Kita tidak perlu menjadi Uwais sepenuhnya. Tapi kita bisa belajar satu hal darinya: bahwa ada amal-amal kecil yang kita lakukan dalam kesunyian — merawat orang tua, bersabar dalam ujian yang tidak ada yang tahu, mengorbankan keinginan demi tanggung jawab — yang mungkin jauh lebih berharga di sisi Allah daripada semua yang kita pertontonkan kepada dunia.

Langit mengenal nama Uwais jauh sebelum bumi sempat bertanya siapa dia.

Semoga Allah jadikan kita termasuk orang-orang yang dikenal dan dicintai-Nya — meskipun nama kita tidak pernah disebut di panggung mana pun.


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْمَلُ لَكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ،
وَاجْعَلْ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَيْنَا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ،
وَبَارِكْ لَنَا فِيمَا أَعْطَيْتَنَا مِنَ الْخُمُولِ وَالْخَفَاءِ

"Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang beramal untuk-Mu dalam kesunyian maupun keramaian.
Jadikanlah amal yang paling kami cintai adalah yang paling ikhlas untuk wajah-Mu yang Mulia.
Dan berkahilah kami dalam ketidaktenaran dan ketersembunyian yang Engkau anugerahkan kepada kami."

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن


Persadani — Media Analitik Islam Wasathiyah
persadani.org

Artikel Populer

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Zina Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Proses Panjang yang Diabaikan

Benarkah Memberi Pinjaman Lebih Mulia 18 Kali dari Sedekah?

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya