Perang Iran–Israel–AS Hari ke-33

Perang Iran–Israel–AS Hari ke-33: Rudal Terbesar Sebelum Passover, Fasilitas Nuklir Luluh Lantak, Trump Beri Ultimatum 2–3 Minggu

Oleh: Nuraini Persadani

Tiga puluh tiga hari setelah serangan pembuka koalisi AS–Israel pada 28 Februari 2026, perang yang kini oleh Al Jazeera disebut sebagai "US-Israel war on Iran" belum menunjukkan tanda-tanda mereda secara nyata di lapangan. Justru sebaliknya: tepat menjelang perayaan Passover, Iran melancarkan salah satu barrage rudal balistik terbesar sejak perang dimulai, sementara serangan udara AS–Israel terus menghancurkan infrastruktur strategis Iran — termasuk instalasi nuklir yang kini mendapat sorotan penuh dari komunitas internasional.

Rudal Iran Hantam Israel Tengah Menjelang Passover

Pada Rabu malam, 1 April 2026, Iran melancarkan gelombang rudal balistik berskala besar ke wilayah Israel tengah, termasuk Tel Aviv dan sekitarnya. Sirene peringatan berbunyi berulang kali di berbagai kota; ledakan terdengar dan kobaran api tampak di sejumlah titik pemukiman. Dinas penyelamat Israel melaporkan setidaknya 14–16 orang terluka, termasuk anak-anak di kawasan Petah Tikva dan Bnei Brak.

Militer Israel menyebut serangan ini sebagai yang "most significant strike" sejak awal konflik. Beberapa rudal menggunakan cluster munition — amunisi yang dilarang di banyak konvensi internasional karena berdampak luas pada warga sipil. Pejabat Iran menyebut operasi ini sebagai bagian dari Operasi Janji Sejati 4 (Operation True Promise 4), sebuah kampanye rudal berlapis yang menyasar basis militer Israel dan basis AS di kawasan.

Houthi Yaman ikut mengklaim keterlibatan dalam serangan ke Israel bersama Iran dan Hezbollah Lebanon. Di Lebanon sendiri, serangan Israel ke target Hezbollah dalam 24 jam terakhir dilaporkan menewaskan lebih dari 50 orang.

Serangan AS–Israel: 400 Target dalam Dua Hari

Di pihak lain, serangan udara koalisi AS–Israel berlanjut tanpa henti. Angkatan Udara Israel (IAF) mengklaim telah menyerang sekitar 400 target dalam dua hari terakhir, dengan lebih dari 800 sortie penerbangan. Target mencakup infrastruktur pemerintahan dan militer di jantung Tehran — termasuk area bekas Kedutaan Besar AS yang kini dikuasai Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) — serta kawasan industri di Isfahan, pelabuhan di Bandar Abbas dan Qeshm di selatan Iran, hingga kawasan pegunungan di Larestan yang menewaskan 4 orang.

Pabrik baja Mobarakeh di Isfahan, fasilitas farmasi, dan infrastruktur energi menjadi sasaran bersamaan. Kolom asap tebal dan ledakan besar terlihat dari jarak jauh. Netanyahu menyebut kerugian akibat serangan ini mencapai miliaran dolar.

Total korban di pihak Iran per 1–2 April 2026 bervariasi menurut sumber:

Sumber Tewas Luka-luka
Kementerian Kesehatan Iran / Al Jazeera 1.937–2.076 24.800–26.500
Reuters / IFRC (Palang Merah Iran) > 1.900 > 20.000
HRANA (kelompok HAM berbasis AS) 3.519 (termasuk 244 anak) tidak dirinci

Di pihak Israel: 19–24 tewas dan lebih dari 6.000 luka-luka. Tentara AS yang gugur: 13 personel, sebagian besar dalam kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak dan serangan drone Iran di pangkalan regional. Di Lebanon: lebih dari 1.200–1.318 tewas sejak awal konflik. Di negara-negara Teluk: sekitar 24–27 korban jiwa akibat serangan balasan Iran berupa drone dan rudal ke Kuwait, Bahrain, UAE, dan Qatar.

Serangan ke Fasilitas Nuklir Iran: Risiko Radiologis Mengintai

Salah satu dimensi paling berbahaya dari perang ini adalah penargetan sistematis terhadap program nuklir Iran. Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency / IAEA) telah berulang kali mengeluarkan peringatan soal risiko kecelakaan radiologis besar yang berpotensi mencemari wilayah luas di Iran dan negara-negara tetangga.

Berikut situs-situs nuklir Iran yang telah diserang:

Pembangkit Nuklir Bushehr

Diserang minimal tiga kali, termasuk serangan ketiga pada 27 Maret 2026. Ledakan dilaporkan terjadi di sekitar perimeter fasilitas. Rusia — yang membangun dan mengoperasikan reaktor ini — telah mengevakuasi seluruh stafnya dan mengecam keras serangan tersebut sebagai upaya memicu bencana nuklir.

Kompleks Pengayaan Uranium Natanz

Diserang berulang kali sejak Maret 2026. Iran melaporkan kerusakan signifikan pada fasilitas pengayaan ini yang selama ini menjadi inti program nuklir mereka.

Kompleks Heavy Water Arak/Khondab

Diserang pada 27 Maret 2026. IAEA menyatakan reaktor heavy water ini tidak lagi beroperasi setelah mengalami kerusakan parah. Asap tampak mengepul dari situs ini.

Fasilitas Pengolahan Uranium Yazd

Diserang Israel pada akhir Maret 2026. Fasilitas ini disebut sebagai situs "unik" yang memproduksi bahan baku penting — yellowcake — untuk proses pengayaan uranium lebih lanjut.

Situs Nuklir Isfahan

Beberapa gelombang serangan udara menargetkan area nuklir di Isfahan bersamaan dengan kawasan industri lainnya. Kerusakan pada bangunan nuklir sipil dilaporkan oleh media Iran.

IAEA memastikan hingga kini belum ada laporan kebocoran material radioaktif dalam skala besar. Namun komunitas internasional — termasuk PBB — terus memantau situasi dengan sangat cermat. Presiden Trump menyatakan tujuan utama operasi ini adalah memastikan Iran tidak lagi mampu membangun senjata nuklir, dan mengklaim tujuan itu sudah sebagian besar tercapai. Beberapa politisi Iran merespons dengan mendorong penarikan Iran dari Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT).

Trump: Ultimatum 2–3 Minggu dan Rencana 15 Poin

Dari front diplomatik, situasinya tidak kalah memanas. Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran — melalui "presiden rezim baru" — telah meminta ceasefire. Kementerian Luar Negeri Iran langsung membantah, menyebut klaim itu sebagai "false and baseless". Sejumlah pejabat Iran dilaporkan "tertawa" menanggapi pernyataan tersebut.

Iran menegaskan posisinya: mereka tidak menginginkan ceasefire sementara, melainkan akhir perang secara komprehensif dan permanen dengan jaminan hukum bahwa agresi tidak akan terulang. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan tidak percaya pada itikad baik AS dan menolak setiap syarat yang dianggap "maksimalis".

Trump merespons dengan ancaman keras: AS akan terus "blasting Iran" hingga Selat Hormuz kembali terbuka, bahkan mengancam akan mengambil alih atau menghancurkan Pulau Kharg — pusat ekspor minyak utama Iran. Ia juga menyatakan kemungkinan ancaman keluar dari NATO jika negara-negara Eropa tidak ikut menjaga keamanan Hormuz. Dalam pidato nasionalnya pada malam 1 April, Trump menegaskan perang bisa berakhir dalam 2–3 minggu jika Iran menyerah.

AS sebelumnya telah mengajukan rencana perdamaian 15 poin, yang antara lain mensyaratkan pembukaan Selat Hormuz. Iran menolak rencana itu sebagai terlalu "maksimalis" dan tidak mencerminkan kesetaraan posisi kedua pihak.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menulis surat terbuka kepada rakyat Amerika, mempertanyakan: "kepentingan mana yang sesungguhnya dilayani oleh perang ini?" — dan menyebut AS bertindak sebagai proxy Israel.

Dampak Regional: Teluk Bergolak, Hormuz Tetap Kunci

Serangan balasan Iran tidak hanya menyasar Israel. Drone dan rudal Iran juga menghantam kawasan Teluk: kebakaran di bandara Kuwait, serangan ke fasilitas di Bahrain, serta insiden di UAE dan Qatar. Dua drone dicegat di wilayah Arab Saudi. Satu tanker minyak di Teluk dilaporkan terkena dampak serangan.

Suriah di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa menyatakan tidak akan ikut dalam perang kecuali diserang secara langsung. Sementara Houthi Yaman terus menyatakan keterlibatan aktif di sisi Iran dan Hezbollah.

Selat Hormuz — jalur pelayaran yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia — tetap menjadi titik strategis utama dalam konflik ini. Gangguan di jalur ini telah mendorong harga minyak global melonjak tajam. International Energy Agency (IEA) berencana melepaskan cadangan minyak strategis dalam jumlah besar untuk meredam gejolak pasar. Di sisi lain, Wall Street sempat bergerak naik saat muncul sinyal perang bisa segera mereda — menggambarkan volatilitas ekstrem yang dialami pasar keuangan global.

"Negara-negara yang bergantung pada ekspor komoditas melalui jalur Teluk — termasuk Indonesia dengan minyak sawit, batu bara, dan nikel — berada dalam posisi rentan selama Hormuz belum sepenuhnya aman." — Analisis Persadani

Narasi Dua Kubu: Antara Media Iran dan Media Israel

Perang ini juga berlangsung di ruang narasi. Media Iran seperti Press TV, Tasnim, dan Mehr News menekankan bahwa serangan AS–Israel menyasar infrastruktur sipil: pabrik, universitas (setidaknya 21 universitas rusak), rumah sakit, dan pelabuhan — yang mereka sebut sebagai kejahatan perang. Media Israel seperti Times of Israel, Jerusalem Post, dan Haaretz menonjolkan keberhasilan IAF dalam menghancurkan basis IRGC, sistem pertahanan udara, dan situs rudal balistik.

Media internasional seperti Reuters, AP, dan BBC cenderung menyampaikan fakta lapangan secara lebih berimbang, sembari mencatat kontradiksi tajam antara pernyataan Trump dan posisi resmi Iran. The Guardian dan New York Times lebih banyak mengulas dampak geopolitik dan kemanusiaan jangka panjang.

Ke Mana Perang Ini Menuju

Hari ke-33 ini memperjelas satu hal: meski Trump berbicara soal "2–3 minggu lagi", situasi di lapangan belum menunjukkan deeskalasi nyata. Iran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah, bahkan masih mampu meluncurkan serangan rudal skala besar ke Israel tengah. Di sisi lain, penghancuran infrastruktur nuklir, industri, dan militer Iran secara massif telah menciptakan tekanan domestik yang luar biasa.

Yang jelas, Selat Hormuz menjadi variabel penentu: selama jalur itu tidak sepenuhnya aman, dampak ekonomi global — termasuk bagi Indonesia — akan terus bergulir. Sementara IAEA terus memantau risiko radiologis dari situs-situs nuklir yang rusak, dunia menahan napas menunggu apakah diplomasi 15 poin AS akan menemukan titik temu, atau perang ini akan terus membara memasuki bulan keduanya.

Persadani akan terus memantau perkembangan konflik ini. Semua data korban bersifat estimasi awal dan dapat berubah seiring membaiknya akses informasi dari lapangan.

Sumber: Al Jazeera, Reuters, AP, BBC, The Guardian, New York Times, Times of Israel, Jerusalem Post, Press TV, Tasnim News, HRANA, IAEA, IFRC / Iranian Red Crescent — per 1–2 April 2026.

Artikel Populer

Hadits Tiga Pilar Pendidikan Ruhani

Antrian Mengular di SPBU Seluruh Indonesia: Panic Buying BBM yang Tidak Perlu

Tubuhnya Dicambuk — Tapi Imannya Tak Pernah Retak

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...