Perang Iran–Israel–AS Hari ke-34/35: Ancaman Nuklir Menggelayut, IAEA Peringatkan Dunia, Trump Ancam "Bom Iran ke Zaman Batu"

Perang Iran–Israel–AS Hari ke-34/35: Ancaman Nuklir Menggelayut, IAEA Peringatkan Dunia, Trump Ancam "Bom Iran ke Zaman Batu"

Oleh: Nuraini Persadani

Memasuki hari ke-34 hingga ke-35 sejak serangan pembuka koalisi AS–Israel pada 28 Februari 2026, perang yang kini memasuki pekan kelimanya ini mulai membawa dunia ke ambang kekhawatiran yang lebih dalam dari sekadar korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Hari ini, dimensi nuclear — baik sebagai risiko kecelakaan radiologis maupun sebagai pemantik proliferasi kawasan — mengemuka menjadi perhatian paling mendesak di panggung diplomatik internasional. Di lapangan, rudal masih bergemuruh. Di meja IAEA di Wina, sirene peringatan yang berbeda pun berbunyi.

Serangan Rudal Iran, 3 April: Sistem Pertahanan Israel Bekerja Keras

Pada Jumat, 3 April 2026, Iran kembali meluncurkan gelombang rudal balistik ke Israel, menyasar wilayah tengah termasuk area Tel Aviv. Sistem pertahanan udara Israel aktif bekerja menangkisnya; belum ada laporan korban jiwa langsung dari serangan ini, meski ledakan dan kerusakan dilaporkan di beberapa titik. Militer Israel menggambarkan serangan ini sebagai salah satu yang signifikan dalam rangkaian serangan sepekan terakhir.

Iran secara bersamaan melanjutkan serangan drone dan rudal ke negara-negara Teluk — Kuwait, Bahrain, UAE, dan Qatar — termasuk kebakaran di fasilitas bandara Kuwait dan serangan terhadap infrastruktur energi. Sejumlah negara Teluk berhasil menembak jatuh beberapa proyektil. Houthi Yaman terus menyatakan keterlibatan aktif, mengklaim serangan bersama Iran dan Hezbollah ke Israel.

Di Lebanon, operasi Israel terhadap target Hezbollah berlanjut. Korban di Lebanon sejak awal konflik kini melampaui 1.318 jiwa.

Serangan AS–Israel: Jembatan Putus, Tehran Terkepung Infrastruktur

Serangan udara koalisi AS–Israel berlanjut tanpa henti, kini menargetkan infrastruktur konektivitas Iran selain fasilitas militer. Yang paling menonjol: penghancuran Jembatan Bileghan di jalur Tehran–Karaj, yang menewaskan setidaknya 8 orang dan melukai puluhan lainnya. Trump secara terbuka "merayakan" serangan ini, menyebutnya sebagai upaya memutus jalur pengiriman rudal Iran dari kawasan barat.

United States Central Command (CENTCOM) merilis rekaman video yang memperlihatkan serangan terhadap peluncur rudal, drone, dan kendaraan lapis baja Iran. Pabrik farmasi, gudang logistik, dan beberapa instalasi pemerintahan di Tehran dan sekitarnya juga terkena. Namun sejumlah analis dan lembaga kemanusiaan mengkritik karena beberapa target dinilai merupakan infrastruktur sipil.

Trump: "Kami belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jika Selat Hormuz tidak dibuka, kami akan membom mereka kembali ke Zaman Batu." — Pernyataan publik Trump, awal April 2026.

Iran merespons dengan tegas: menolak seluruh klaim Trump tentang permintaan ceasefire dan bersumpah akan melancarkan serangan yang lebih "destruktif dan menghancurkan" sebagai balasan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan posisi Tehran: tidak ada perundingan dengan AS, tidak ada gencatan senjata sementara — hanya akhir perang yang permanen dengan jaminan hukum internasional.

Fasilitas Nuklir Iran: Peta Kerusakan dan Status Terkini

Aspek paling berbahaya dari perang ini — yang membedakannya dari konflik regional biasa — adalah penargetan sistematis terhadap seluruh rantai program nuklir Iran. Berikut status masing-masing situs berdasarkan laporan IAEA dan media internasional per 3 April 2026:

Situs Status Serangan Status Radiasi (IAEA)
Bushehr Nuclear Power Plant Beberapa proyektil mengenai perimeter; serangan minimal 3 kali Tidak ada kerusakan reaktor; level radiasi normal. Risiko sangat tinggi jika reaktor langsung terkena
Natanz Enrichment Complex Kerusakan entrance buildings ke fasilitas bawah tanah (dikonfirmasi IAEA via satelit) Tidak ada konsekuensi radiologis. Risiko rendah saat ini
Arak/Khondab Heavy Water Complex Diserang 27 Maret 2026; tidak lagi beroperasi Tidak ada material nuklir aktif; tidak ada risiko radiasi
Isfahan Nuclear Sites Serangan besar 31 Maret–1 April; bunker-buster bombs; ledakan sekunder besar Tidak ada pelepasan radiasi terkonfirmasi. IAEA pantau ketat kemungkinan penyimpanan uranium 60%
Ardakan/Yazd Yellowcake Plant Diserang akhir Maret 2026 Tidak ada kontaminasi. Risiko rendah (bahan baku awal)
Minzadehei Compound (Tehran) & Parchin Diserang Israel; terkait riset komponen senjata nuklir Belum ada laporan radiasi dari situs ini

IAEA di bawah Direktur Jenderal Rafael Mariano Grossi secara konsisten menegaskan "no radiological consequence expected" dan "no increase in off-site radiation levels" hingga saat ini. Monitoring dilakukan melalui Incident and Emergency Centre IAEA, jaringan pemantauan regional, serta data satelit — mengingat IAEA kesulitan mendapatkan akses langsung ke lapangan akibat situasi perang.

Namun Grossi memperingatkan: jika serangan mengenai Bushehr secara langsung, bisa terjadi pelepasan radioaktivitas besar yang mensyaratkan evakuasi skala penuh, konsumsi iodium stabil massal, pembatasan pangan, dan pemantauan radiasi jarak jauh — dengan dampak yang bisa melampaui batas Iran, menjangkau seluruh kawasan Teluk Persia.

"Nuclear facilities must never be attacked. The risks are unacceptable — for Iran, for the region, for the world." — Rafael Mariano Grossi, Direktur Jenderal IAEA, April 2026.

Tiga Lapis Risiko Nuklir: Dari Kecelakaan hingga Proliferasi Global

Para analis dari Chatham House, Arms Control Association, dan International Crisis Group mengidentifikasi setidaknya tiga lapis risiko nuklir yang kini menggelayut di atas perang ini.

Lapis Pertama: Kecelakaan Radiologis

Risiko paling langsung adalah kecelakaan di situs nuklir yang masih aktif — terutama Bushehr. Reaktor ini beroperasi dengan bahan bakar nuklir aktif; kerusakan sistem pendingin akibat serangan bisa memicu skenario mirip meltdown Fukushima atau lebih buruk. Jika terjadi pelepasan radioaktif besar, angin Teluk Persia bisa membawa material berbahaya ke Arab Saudi, UAE, Kuwait, Bahrain, dan Qatar dalam hitungan jam. Grossi sendiri menyebut skenario ini sebagai "very high release of radioactivity" yang akan membutuhkan respons darurat skala internasional.

Lapis Kedua: Proliferasi — Iran Pasca-Perang

Iran sebelum perang telah memiliki stok uranium diperkaya hingga 60% — mendekati weapons-grade — sekitar 400–440 kg, yang secara teoretis cukup untuk 9–10 hulu ledak jika dimurnikan ke tingkat 90%. Serangan AS–Israel telah merusak infrastruktur pengayaan, namun para ahli mengingatkan: stok material dan pengetahuan teknis Iran tidak musnah begitu saja. Serangan justru berpotensi mendorong Iran keluar dari Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT) dan mempercepat program secara rahasia — dengan waktu breakout yang jauh lebih pendek dari sebelumnya.

Trump mengklaim tujuan "Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir" sudah tercapai. Namun banyak pakar skeptis: serangan tidak menghapus stok uranium yang sudah diperkaya maupun kemampuan manufaktur sentrifugal yang tersebar di berbagai situs bawah tanah.

Lapis Ketiga: Proliferasi Kawasan dan Preseden Berbahaya

Dampak jangka panjang yang paling mengkhawatirkan adalah efek demonstrasi bagi negara-negara kawasan. Jika AS–Israel bisa menyerang program nuklir Iran tanpa konsekuensi hukum internasional yang berarti, Arab Saudi, UAE, dan negara Teluk lainnya bisa terdorong mengejar program nuklir sendiri sebagai tameng deterensi. Ini berpotensi memicu "new wave of nuclear proliferation" yang akan mendestabilisasi kawasan jauh melampaui perang ini sendiri.

Di sisi lain, serangan ke fasilitas nuklir Iran menciptakan preseden berbahaya yang melemahkan norma internasional perlindungan instalasi nuklir sipil — norma yang selama ini juga diterapkan dalam konflik Ukraina terkait pembangkit nuklir Zaporizhzhia. Rusia dan China telah mengecam keras serangan-serangan ini, dan beberapa analis mewaspadai kemungkinan keduanya meningkatkan dukungan kepada Iran — baik dalam bentuk intelijen maupun persenjataan.

Data Korban: 3 April 2026

Pihak Tewas (estimasi) Luka-luka Sumber
Iran 2.076 (Kemenkes) / ~3.500 (HRANA, incl. 244 anak) 26.500+ Al Jazeera tracker / HRANA
Israel ~24 > 6.000 Magen David Adom / Reuters
AS (militer) 13 Puluhan Pentagon / Reuters
Lebanon (Hezbollah) > 1.318 Ribuan Reuters / Al Jazeera
Negara Teluk (sipil & pekerja asing) ~24–27 Puluhan AP / BBC

Seluruh angka bersifat estimasi awal dan terus diperbarui. Perbedaan signifikan antara Kemenkes Iran dan HRANA mencerminkan keterbatasan akses verifikasi independen di zona konflik aktif.

Hormuz, Koalisi Internasional, dan Dampak Ekonomi Global

Selat Hormuz — yang mengalirkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia — tetap menjadi titik tumpuan seluruh negosiasi dan ancaman. Trump menegaskan AS tidak akan bertanggung jawab menjaga keamanan kapal di Hormuz sendirian; itu, katanya, adalah tanggung jawab negara-negara pengguna jalur tersebut. Sebagai respons, puluhan negara — termasuk Australia — bergabung dalam koalisi internasional untuk pengamanan Selat Hormuz.

Harga minyak global terus bergerak naik. International Energy Agency (IEA) bersiap melepaskan cadangan strategis dalam jumlah besar. Pasar keuangan global bergejolak antara kepanikan dan harapan: Wall Street sesekali menguat saat muncul sinyal perang bisa segera mereda, lalu kembali tertekan ketika rudal Iran kembali berjatuhan.

Bagi Indonesia, dampaknya terasa melalui beberapa jalur: harga energi impor yang meningkat, ketidakpastian harga komoditas ekspor utama (CPO, batu bara, nikel), dan tekanan pada neraca pembayaran bila gangguan di Hormuz berlanjut. Pemerintah Indonesia tetap mempertahankan posisi diplomatik netral, seraya terus memantau implikasi terhadap APBN dan ketahanan energi nasional.

Mengapa Perang Ini Belum Akan Segera Berakhir

Trump berulang kali menyebut perang bisa selesai dalam 2–3 minggu tanpa kesepakatan formal — jika Iran tidak bisa lagi membangun senjata nuklir. Iran di sisi lain bukan sekadar bertempur: mereka sedang berjuang mempertahankan kedaulatan, daya tawar strategis, dan martabat nasional. Posisi minimum Iran — akhir perang permanen dengan jaminan hukum — dan posisi maksimum AS — pembukaan Hormuz dan pembongkaran total program nuklir Iran — adalah dua titik yang hingga kini belum menemukan perpotongan.

Yang membuat situasi ini lebih berbahaya dari konflik biasa adalah tumpang-tindihnya tiga variabel: infrastruktur nuklir yang rusak namun belum sepenuhnya musnah, material nuklir yang stoknya belum terverifikasi penuh oleh IAEA, dan tekanan politik domestik di Tehran yang justru bisa mendorong keputusan-keputusan "irreversible" — termasuk penarikan Iran dari NPT.

Dunia saat ini tidak sedang menonton perang biasa. Ia sedang menyaksikan ujian terbesar bagi rezim non-proliferasi nuklir global sejak berakhirnya Perang Dingin — sebuah ujian yang hasilnya akan membentuk ulang arsitektur keamanan internasional untuk dekade-dekade mendatang.

Persadani akan terus memantau perkembangan konflik ini. Semua data korban dan status fasilitas nuklir bersifat estimasi awal berdasarkan sumber yang tersedia dan dapat berubah sewaktu-waktu.

Sumber: Al Jazeera, Reuters, AP, BBC, Euronews, New York Times, IAEA (pernyataan Rafael Mariano Grossi), HRANA, IFRC / Iranian Red Crescent, Chatham House, Arms Control Association, International Crisis Group — per 3 April 2026.

Artikel Populer

Tubuhnya Dicambuk — Tapi Imannya Tak Pernah Retak

Hadits Tiga Pilar Pendidikan Ruhani

Antrian Mengular di SPBU Seluruh Indonesia: Panic Buying BBM yang Tidak Perlu

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...