Saat Anak Beranjak Dewasa, Apakah Hati Kita Semakin Dekat Kepada Allah?

Saat Anak Beranjak Dewasa, Apakah Hati Kita Semakin Dekat Kepada Allah? 

Oleh : Tsaqif Rasyid Dai 

Dulu, mereka begitu ringan di pangkuan, napasnya masih hangat di leher kita, langkahnya masih ragu mengejar bayangan sendiri. Kini, bahu mereka sudah setinggi pundak, suara mereka tak lagi memohon, dan dunia di depan mereka terbuka lebar. Anak-anak tumbuh dengan cara yang begitu nyata, sementara hati kita… kadang terasa diam di tempat. Selama bertahun-tahun kita membesarkan mereka, pernahkah kita bertanya dalam sunyi: apakah jiwa kita juga ikut tumbuh?

Kita sering mengira bahwa status sebagai orang tua adalah garis finis kedewasaan. Padahal, kematangan ruhiyah tidak datang otomatis bersama usia atau akta kelahiran. Bisa jadi rambut telah beruban dan tanggung jawab menumpuk, tapi emosi masih mudah tersulut, ego masih enggan mengalah, dan ibadah masih berjalan di permukaan. Kita sibuk mencarikan sekolah terbaik, les tambahan, dan peta masa depan yang mulus untuk mereka, sementara shalat kita sendiri masih terburu-buru, tilawah masih sering tertunda, dan hati masih jauh dari keheningan yang sejati.

Anak-anak tidak tumbuh dari nasihat yang kita ucapkan, melainkan dari siapa diri kita saat mereka memperhatikan. Mereka merekam cara kita marah, cara kita menghadapi kegagalan, cara kita menunduk saat sujud. Ironisnya, kita kerap menuntut mereka jujur dan disiplin, sementara diri kita masih piawai mencari alasan untuk menunda kebaikan. Kita ingin mereka saleh, tapi lupa bahwa teladan bukan dibangun dari kata-kata, melainkan dari jejak kaki yang konsisten menuju cahaya yang sama. Mereka belajar lebih banyak dari “siapa kita” daripada “apa kata kita”.

Setiap fase pertumbuhan mereka sebenarnya adalah alarm halus bagi jiwa kita. Saat mereka mulai bertanya, apakah kita punya jawaban yang berakar pada iman? Saat mereka remaja, apakah kita cukup tenang membimbing tanpa ledakan amarah? Kita sering terjebak dalam rutinitas mengasuh—antar-jemput, bekerja, mengurus rumah—tanpa menyisakan ruang untuk muhasabah. Tanpa sadar, luka yang belum kita obati, kesabaran yang belum kita latih, atau pola bicara yang keras, justru kita wariskan kepada mereka. Mereka tidak butuh orang tua yang sempurna, tapi mereka sangat membutuhkan orang tua yang berani berhenti menurunkan luka.

Semakin besar mereka, semakin berkurang ketergantungan mereka pada kita. Waktu yang kita habiskan untuk memeluk, menasihati, dan mendampingi perlahan menyusut. Di sinilah pertanyaan itu harus kita hadapi: saat mereka kelak tak lagi membutuhkan kita, apakah kita sudah menemukan kedekatan yang sesungguhnya dengan Allah? Jangan sampai kita kehilangan peran sebagai orang tua, namun belum sempat menapaki peran sebagai hamba yang pulang dengan tangan penuh amal. Usia mereka bertambah, tapi waktu kita justru menyusut.

Maka, mari kita mulai menumbuhkan hati yang sempat layu. Perbaiki kualitas shalat, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Biarkan rumah hidup dengan dzikir dan lantunan ayat yang menenangkan. Jadilah murid kembali, belajar agama bersama mereka. Tidak ada malu dalam mengakui kesalahan di hadapan anak, justru di situlah mereka belajar tentang kerendahan hati dan keberanian untuk bertaubat. Kurangi ego, perbanyak doa, dan izinkan hati kita melunak. Orang tua yang terus bertumbuh adalah tanah yang subur, tempat generasi baru belajar bernapas dalam iman.

Kita telah menemani mereka hingga berdiri tegak… kini giliran kita menatap ke dalam: apakah hati ini juga sedang berjalan menuju-Nya, atau hanya diam menunggu masa berlalu?

Ya Allah, yang menggenggam setiap detik umur kami dan setiap detak hati anak-anak kami, jangan biarkan kami tertipu oleh kesibukan yang mengosongkan jiwa. Jika Engkau berikan kami usia untuk menyaksikan mereka tumbuh, berikan pula keberanian untuk ikut tumbuh dalam ketakwaan. Lembutkan ego kami, basahi hati kami dengan dzikir yang tak putus, dan jadikan rumah ini tempat di mana rahmat-Mu turun lebih dahulu sebelum lelah kami datang.

Semoga di setiap langkah mereka menjauh, kami justru semakin dekat pada-Mu. Dan ketika akhirnya kita semua dipanggil pulang, biarkan jejak ini bukan sekadar kenangan, melainkan doa yang masih berpijar: bahwa kami pernah mencoba menjadi lebih baik, bukan untuk dunia, tapi semata karena rindu pada ridha-Mu.

Artikel Populer

Lelaki yang Dirindukan Langit, Tapi Tidak Dikenal Bumi

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Lanskap Desa dan Keindahan Hewan Ternaknya

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya