Ketika Realisme Berbicara: Mearsheimer dan Ilusi Kemenangan AS-Israel atas Iran

Ketika Realisme Berbicara: Mearsheimer dan Ilusi Kemenangan AS-Israel atas Iran

Oleh: Nuraini Persadani | Persadani – Media Analitik Islam Wasathiyah | 1447 H

Pengantar: Suara yang Tidak Ingin Didengar Washington

Di tengah gegap gempita propaganda perang — narasi tentang "kemenangan yang sudah dekat", "rezim Iran yang goyah", dan "misi pembebasan kawasan" — ada seorang akademisi yang sejak awal berbicara dengan nada berbeda. Bukan dari Teheran, bukan dari Moskow. Ia berbicara dari ruang kuliah University of Chicago.

John J. Mearsheimer, profesor ilmu politik dan salah satu arsitek teori offensive realism dalam hubungan internasional, telah memberikan penilaian yang tajam dan konsisten sejak perang ini meletus pada 28 Februari 2026. Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 5 April 2026 — program "The Bottom Line" bersama host Steve Clemons — ia menyampaikan dengan tenang: "There are no signs that this conflict is going to end quickly."

Artikel ini tidak sekadar merangkum posisi Mearsheimer. Ia mencoba meletakkan analisisnya dalam kerangka teoritisnya yang lebih dalam: mengapa struktur sistem internasional, bukan niat baik atau kekuatan militer semata, yang pada akhirnya menentukan siapa yang "menang" dan siapa yang terjebak dalam lumpur perang.

Memahami Mearsheimer: Offensive Realism sebagai Fondasi Intelektual

Untuk memahami mengapa Mearsheimer membaca perang ini seperti yang ia baca, kita perlu terlebih dahulu memahami konstruksi teoritis yang ia bangun selama puluhan tahun. Teorinya — yang ia sebut offensive realism — berbeda secara mendasar dari kebanyakan teori hubungan internasional yang optimis tentang kerja sama dan perdamaian.

Dalam karya magnum opus-nya, The Tragedy of Great Power Politics (2001), Mearsheimer membangun argumen di atas lima asumsi struktural yang ia sebut bedrock assumptions:

Asumsi Penjelasan
International Anarchy Sistem internasional tidak memiliki otoritas pusat. Tidak ada "pemerintah dunia" yang melindungi negara dari negara lain.
Offensive Military Capability Semua negara besar memiliki kapabilitas militer yang bisa digunakan menyerang — bukan hanya bertahan.
Uncertainty of Intentions Tidak ada negara yang bisa benar-benar memastikan niat negara lain. Sekutu hari ini bisa menjadi ancaman esok hari.
Survival as Primary Goal Kelangsungan hidup — integritas teritorial dan otonomi domestik — adalah tujuan paling fundamental setiap negara.
Rational Actors Negara bertindak secara rasional: menghitung biaya dan manfaat, memaksimalkan peluang bertahan hidup dalam jangka panjang.

Dari lima asumsi ini mengalirlah satu kesimpulan yang terasa "tragis" namun logis: negara-negara besar tidak pernah puas dengan keamanan minimum. Mereka selalu terdorong mencari lebih banyak kekuasaan relatif — bukan karena tamak, tapi karena itu satu-satunya cara rasional bertahan di dunia tanpa wasit.

Inilah yang Mearsheimer sebut sebagai "tragedy": bukan kejahatan pemimpin, melainkan struktur sistem yang memaksa bahkan pemimpin beritikad baik pun untuk bertindak agresif. The system compels, not the man.

Tidak Ada Kemenangan Cepat: Ilusi yang Berbahaya

Mearsheimer berulang kali mengingatkan satu hal yang tampaknya tidak ingin didengar oleh para perencana perang di Washington dan Tel Aviv: tidak ada yang namanya kemenangan cepat atas Iran. Ia menyebut harapan itu sebagai "illusions" — ilusi yang tidak hanya keliru, tetapi berbahaya.

Mengapa? Karena Iran, dari sudut pandang offensive realism, adalah aktor rasional yang telah mempersiapkan skenario ini selama puluhan tahun. Beberapa faktor struktural yang menopang ketahanan Iran:

Pertama: Dispersi Infrastruktur Militer

Iran tidak menyimpan semua telur dalam satu keranjang. Fasilitas militer, gudang rudal, pusat komando, dan kapabilitas nuklirnya tersebar (dispersed) di wilayah yang sangat luas. Serangan udara — betapapun presisi dan dahsyatnya — tidak dirancang untuk menyelesaikan perang semacam ini. Ia bisa merusak, tapi tidak menghancurkan secara menentukan.

Kedua: Jaringan Sekutu Regional yang Dalam

Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, faksi-faksi bersenjata di Irak dan Suriah — jaringan ini bukan sekadar "boneka" Teheran. Ia adalah ekosistem strategis yang telah dibangun Iran selama dua dekade, dengan ideologi, motivasi lokal, dan kapabilitas mandiri yang tidak bisa dieliminasi dengan membom wilayah Iran saja.

Ketiga: Logika Perang Attrisi

Dalam wawancaranya, Mearsheimer menegaskan: Iran tidak perlu "menang" dalam pengertian konvensional. Iran hanya perlu bertahan. Dan dalam logika perang attrisi, pihak yang memiliki kedalaman strategis lebih besar — wilayah, populasi, cadangan pertahanan, dan tekad — yang akan menentukan hasil akhir. Laporan yang beredar menyebut sekitar 80% rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan Israel, dan tidak ada indikasi stok rudal Teheran akan habis dalam waktu dekat.

"Iran hanya perlu bertahan hidup tanpa menyerah — itu sudah kemenangan bagi Teheran. Bahkan jika rudal dan infrastruktur rusak, Iran tetap bisa melanjutkan program nuklir, rudal, dan dukungan ke Hamas, Houthi, dan Hizbullah."
— John J. Mearsheimer, Substack, 3 Maret 2026

AS Tanpa Off-Ramp: Blunder Strategis yang Terjebak

Salah satu argumen paling provokatif Mearsheimer adalah bahwa AS sebenarnya sudah "kalah" secara strategis — bahkan sebelum konflik ini mencapai titik penentunya. Bukan kalah secara militer, tapi kalah dalam pengertian yang lebih dalam: AS tidak memiliki off-ramp yang kredibel.

Tujuan awal operasi ini — regime change di Iran, menginstal pemimpin yang tunduk, dan menghilangkan ancaman nuklir secara permanen — adalah tujuan yang, menurut Mearsheimer, tidak bisa dicapai melalui kekuatan udara. Sejarah membuktikan hal ini berulang kali. Dari Vietnam hingga Irak, dari Libya hingga Afghanistan: pemboman dari udara tidak pernah berhasil mengubah rezim secara permanen dan menggantinya dengan tatanan yang stabil.

Lebih jauh, Mearsheimer mengidentifikasi akar masalah yang lebih dalam: AS tidak punya kepentingan nasional sejati untuk menyerang Iran. Iran bukan ancaman eksistensial bagi Amerika. Perang ini, dalam pandangannya, adalah "another war for Israel" — konflik yang diprakarsai oleh kepentingan Israel dan dimungkinkan oleh pengaruh lobby Israel yang luar biasa di Kongres AS.

"Ancaman terbesar stabilitas Timur Tengah justru adalah kerja sama erat AS dengan Israel — bukan Iran."
— John J. Mearsheimer, Al Jazeera, 5 April 2026

Ia menyebut narasi bahwa AS-Israel sedang "membuat Timur Tengah lebih aman" sebagai sesuatu yang "ludicrous" — absurd dan tidak berdasar. Israel, dalam pandangan Mearsheimer, adalah kekuatan agresif yang secara sistematis berusaha melemahkan semua rival regionalnya — Iran, Suriah, Lebanon — demi memperluas ruang geopolitiknya dan menuntaskan agenda Palestina.

Dampak Sistemik: Lebih dari Sekadar Medan Tempur

Mearsheimer tidak hanya berbicara tentang medan tempur. Ia melihat dampak yang jauh lebih luas dan lebih meresahkan:

Paradoks Penguatan Hardliner

Serangan dari luar justru memperkuat kelompok hardliner di dalam Iran dan meminggirkan kelompok moderat. Ini adalah paradoks yang berulang dalam sejarah: tekanan eksternal yang keras tidak melemahkan rezim — ia menyatukan rakyat di balik pemimpinnya. Tehran hari ini lebih solid secara domestik dibanding sebelum perang dimulai.

Negara-Negara Teluk dalam Bahaya Eksistensial

Negara-negara Teluk — yang secara geografis berada dalam jangkauan rudal Iran dan secara ekonomi bergantung pada stabilitas kawasan — berada dalam posisi yang sangat rentan. Mereka tidak sepenuhnya mendukung operasi AS-Israel, namun juga tidak bisa menghindar dari risiko menjadi korban eskalasi yang tidak mereka inginkan.

Ekonomi Global dan Selat Hormuz

Ketergantungan dunia pada Selat Hormuz menjadikan konflik ini bukan sekadar urusan Timur Tengah. Setiap eskalasi yang mengancam lalu lintas energi di selat itu berdampak langsung pada harga minyak global, inflasi, dan stabilitas ekonomi negara-negara importir — termasuk Indonesia.

Risiko Proliferasi Nuklir

Ini mungkin yang paling mengkhawatirkan. Jika Iran — setelah diserang — menyimpulkan bahwa tidak ada jalan lain untuk menjamin kelangsungan hidupnya selain memiliki senjata nuklir, maka serangan justru mempercepat proliferasi yang ingin dicegah. Dan jika Iran berhasil, negara-negara lain di kawasan akan mengikuti. Ini adalah skenario mimpi buruk yang tidak bisa diselesaikan dengan lebih banyak bom.

Mearsheimer versus Narasi Resmi: Di Mana Letak Perbedaannya?

Ada satu hal yang membuat Mearsheimer berbeda dari kebanyakan analis Barat: ia tidak menggunakan lensa ideologi atau moralitas dalam analisanya. Ia tidak menilai siapa yang "baik" dan siapa yang "jahat". Ia menggunakan kacamata struktural: kepentingan, kapabilitas, dan kalkulasi rasional.

Dari lensa itu, narasi resmi Washington — bahwa ini adalah perang demi demokrasi, demi stabilitas, demi mencegah senjata nuklir jatuh ke tangan "rezim teror" — adalah narasi yang tidak memegang air secara strategis. Ia adalah ideological packaging untuk apa yang sesungguhnya adalah permainan kekuasaan yang buruk kalkulasinya.

Mearsheimer secara konsisten merekomendasikan strategi yang ia sebut offshore balancing untuk AS: tidak terlibat langsung di daratan kawasan, tapi menyeimbangkan dari kejauhan dengan mendukung aktor lokal agar tidak muncul hegemon regional baru yang mengancam kepentingan AS. Strategi ini lebih hemat, lebih berkelanjutan, dan lebih sesuai dengan kepentingan strategis AS jangka panjang — terutama di saat Washington harus memfokuskan perhatian pada kompetisi dengan China di Asia.

Catatan Analitis Persadani

Bacaan Mearsheimer tentang perang ini relevan tidak hanya bagi pengamat Barat, tetapi juga bagi kalangan Muslim dan masyarakat Global South yang ingin memahami konflik ini secara jernih — tanpa terbawa arus propaganda dari satu sisi maupun sisi lain.

Beberapa catatan kritis yang perlu ditambahkan pada kerangka analisis Mearsheimer:

Pertama, offensive realism mengabaikan dimensi normatif dan peradaban. Iran bukan sekadar negara yang menghitung kekuasaan — ia adalah peradaban dengan lapisan sejarah, teologi, dan identitas yang dalam. Faktor-faktor ini mempengaruhi kalkulasi strategis dengan cara yang tidak selalu bisa diukur oleh teori struktural.

Kedua, analisis Mearsheimer tentang "lobby Israel" telah ia tuangkan secara panjang lebar dalam The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007, bersama Stephen Walt). Buku ini kontroversial namun secara empiris menunjukkan bagaimana struktur politik domestik AS dapat mendistorsi kepentingan strategis nasionalnya sendiri — sebuah anomali dalam teori realis.

Ketiga, dari perspektif Islam, konflik ini mengingatkan kita pada kaidah yang telah lama dikenal dalam tradisi fiqh siyasah: bahwa al-zulm la yaqumu — kezaliman tidak akan langgeng. Kekuatan yang mengandalkan kekerasan tanpa legitimasi moral dan hukum akan menghadapi resistensi yang tidak bisa diselesaikan dengan senjata semata.

Penutup: Tragedi yang Bisa Dihindari

Mearsheimer menamakan bukunya tentang politik kekuasaan besar sebagai "tragedi" — bukan karena ia romantis tentang perang, melainkan karena ia melihat betapa sistematisnya jalan menuju konflik ketika aktor-aktor rasional bertindak dalam sistem yang tidak memiliki rem. Perang AS-Israel melawan Iran, dalam pembacaannya, adalah konfirmasi tragedi itu: sebuah konflik yang tidak perlu terjadi, dipicu oleh kalkulasi yang salah, dan kini tidak memiliki jalan keluar yang mudah.

Yang tersisa adalah pertanyaan: sampai kapan Washington bersedia membayar harga dari perang yang bukan kepentingan strategisnya sendiri? Dan sampai kapan komunitas internasional — termasuk negara-negara Muslim yang paling terdampak — berdiam diri dalam posisi yang nyaman namun tidak bermartabat?

Mearsheimer tidak memberikan jawaban moral. Tapi ia memberikan sesuatu yang lebih berharga dalam jangka panjang: kejernihan analitis untuk melihat kenyataan apa adanya.

Persadani – Media Analitik Islam Wasathiyah | persadani.org

Sumber primer: John J. Mearsheimer, wawancara Al Jazeera "The Bottom Line" (5 April 2026); Substack "Big Trouble Ahead in Iran" (3 Maret 2026); The Tragedy of Great Power Politics (Norton, 2001); The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (Farrar, Straus and Giroux, 2007, bersama Stephen Walt).

Artikel Populer

Menghindari Sikap Berlebihan Dalam Beragama

Antrian Mengular di SPBU Seluruh Indonesia: Panic Buying BBM yang Tidak Perlu

Dampak Perang Iran–Israel–AS terhadap Indonesia: Energi, Pangan, Petani, dan Nelayan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...