Lanskap Desa dan Keindahan Hewan Ternaknya

Lanskap Desa dan Keindahan Hewan Ternaknya

Oleh : Abdullah Madura 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ada pemandangan yang tak pernah bosan saya pandangi. Pagi hari di desa, ketika matahari baru saja mengintip dari balik punggung bukit — kabut tipis masih menggantung di atas padang rumput — dan seorang lelaki tua menggiring ternaknya ke arah ladang. Sapi-sapi itu melangkah tenang. Kambing-kambing itu berlarian kecil. Ada sesuatu yang damai, bahkan khidmat, dalam pemandangan itu. Dan Al-Qur'an, kitab yang tidak pernah melewatkan satu pun keajaiban alam semesta tanpa menjadikannya pelajaran, ternyata telah berbicara tentang momen yang tepat seperti ini jauh sebelum kita sempat merenunginya.

Allah Ta'ala berfirman dalam Surat An-Nahl ayat 5 hingga 8 :

وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ ۝ وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ تَسْرَحُونَ ۝ وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ۝ وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Dan hewan ternak telah Dia ciptakan untuk kamu. Padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan. Dan kamu memperoleh keindahan padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya (ke tempat penggembalaan). Dan ia mengangkut beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup mencapainya kecuali dengan susah payah. Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui."
(QS. An-Nahl: 5–8)

Ayat ini turun di tengah kehidupan masyarakat Arab yang sangat akrab dengan unta, sapi, kambing, kuda, dan keledai. Hewan-hewan itu bukan sekadar binatang — mereka adalah sumber kehidupan, kekayaan, dan kebanggaan. Maka ketika Allah menyebutnya dalam Al-Qur'an dengan penuh perhatian dan rasa syukur, ada pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar inventarisasi nikmat.

Perhatikan kata pertama : خَلَقَهَا لَكُمْ — "Dia ciptakan untuk kamu." Ini bukan kalimat biasa. Ini adalah pengakuan teologis. Bahwa setiap hewan yang melangkah di atas bumi ini, yang berbulu dan bernapas, yang bersuara di pagi buta dan pulang ke kandang di sore hari — semua ada dalam rencana Allah, dan semua diperuntukkan bagi manusia. Maka siapa yang berhak disembah kalau bukan Sang Pencipta itu sendiri?

Para ulama menyebut ini sebagai bukti tauhid rububiyah yang secara logis menuntut hadirnya tauhid uluhiyah. Jika Dialah yang mengatur, menciptakan, dan memberi — maka Dialah pula yang berhak menerima sembah dan ibadah. Tidak ada ruang bagi sekutu dalam keagungan seperti ini.

Lalu ayat itu menyebut دِفْء — kehangatan. Dari bulu domba, dari lapisan halus yang menyelimuti tubuh unta dan sapi, manusia membuat pakaian, karpet, kasur, dan permadani. Sebelum ada pabrik tekstil, sebelum ada benang sintetis, ada bulu-bulu itu yang menjaga tubuh manusia dari dinginnya malam dan gigitan musim. Dan semua itu — tidak kita ciptakan sendiri. Ia hadir sebagai karunia.

Kemudian Allah menyebut yang paling menyentuh : وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ — "Dan kamu memperoleh keindahan padanya." Bukan sekadar manfaat ekonomis. Bukan sekadar daging dan susu. Tapi jamal — keindahan, estetika, rasa kagum yang terpancar dari dalam dada ketika mata memandang.

Momen itu disebut dua kali dengan sangat spesifik. حِينَ تُرِيحُونَ — ketika kamu menggiring mereka pulang di waktu petang. Dan حِينَ تَسْرَحُونَ — ketika kamu melepas mereka di pagi hari. Dua momen yang berbeda rasa, tapi sama-sama memancarkan keindahan.

Sore hari — ketika hewan-hewan itu pulang dengan perut kenyang, ambing penuh susu, dan langkah yang tenang — itu adalah keindahan kemakmuran. Ada rasa syukur yang tidak perlu diucapkan, karena ia terasa sendiri di dalam dada. Sedangkan pagi hari — ketika mereka berlari kecil ke ladang, gesit dan bersemangat — itu adalah keindahan yang memberi bangga. Bangga bahwa kita punya, bahwa kita bisa merawat, bahwa kehidupan masih berlanjut.

Imam Al-Qurthubi rahimahullah, salah satu mufassir besar Andalusia, memberikan perhatian khusus pada ayat ketujuh. Beliau menjelaskan bahwa perjalanan jauh menuju negeri yang tidak bisa dijangkau kecuali dengan susah payah itu menjadi sangat mungkin karena hewan-hewan tunggangan. Seandainya tidak ada mereka, manusia harus bertungkus lumus berjalan kaki membawa beban berat melintasi gurun dan pegunungan. Dan Allah menutup ayat itu dengan kalimat yang menggetarkan hati : إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ — "Sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang." Setelah menyebut sederetan karunia, Allah tidak meminta apa-apa. Ia hanya memperkenalkan diri-Nya : Akulah yang memberi semua ini, dan Aku Maha Penyayang.

Kemudian Allah berbicara tentang kuda, bagal, dan keledai secara terpisah dari unta, sapi, dan kambing. Bukan tanpa alasan. Para ulama mencatat bahwa pemisahan ini menyimpan isyarat yang halus dalam persoalan hukum. Ulama berbeda pendapat tentang halal-haramnya daging kuda. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berpendapat bahwa daging kuda, bagal, dan keledai adalah haram, dan beliau diikuti oleh Imam Abu Hanifah serta Imam Malik. Dasar pendapat ini adalah bahwa ketiga hewan tersebut disebutkan berpasangan dengan fungsi kendaraan dan hiasan — bukan konsumsi — berbeda dengan unta, sapi, dan kambing yang disebutkan juga dalam konteks dimakan dagingnya.

Namun Syekh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah berpendapat berbeda. Beliau memisahkan kuda dari bagal dan keledai. Menurutnya, daging bagal dan keledai memang haram, tetapi daging kuda adalah halal. Beliau berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar radhiyallahu 'anha : "Kami menyembelih kuda di Madinah pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kami memakannya." (HR. Muslim). Diperkuat lagi oleh hadits dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu : "Pada hari Khaibar kami menyembelih kuda, bagal, dan himar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang kami makan daging bagal dan himar, namun tidak melarang kami makan daging kuda." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Adapun letak bagal di antara kuda dan himar dalam urutan ayat — ini adalah salah satu keindahan balaghah Al-Qur'an yang sering luput dari perhatian. Bagal adalah hasil perkawinan silang antara kuda dan keledai. Maka Allah meletakkannya tepat di antara keduanya dalam susunan kalimat. Sebuah keteraturan yang mencerminkan keteraturan alam itu sendiri.

Dan ayat ini tidak berhenti di kuda dan keledai. Allah menutupnya dengan kalimat yang terasa seperti sebuah pintu terbuka lebar : وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ — "Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui." Para sahabat yang mendengar ayat ini pertama kali belum mengenal mobil, kereta api, atau pesawat terbang. Tapi Al-Qur'an sudah mengisyaratkan bahwa Allah akan terus menciptakan sarana-sarana perjalanan yang melampaui imajinasi manusia pada zamannya. Ini adalah mukjizat yang dibuktikan oleh sejarah — setiap abad mempersembahkan pembuktiannya sendiri.

Ada satu pelajaran lagi yang tidak boleh kita lewatkan, yang muncul dari kata jamal — keindahan. Islam tidak pernah alergi dengan keindahan. Allah indah dan mencintai keindahan, demikian sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Hewan ternak pun dijadikan sumber keindahan bagi manusia. Maka keinginan manusia untuk berhias, untuk tampil rapi, untuk merawat diri — pada asalnya adalah sesuatu yang selaras dengan fitrah. Islam membolehkannya, bahkan menganjurkannya untuk tujuan yang benar : menjaga kebersihan diri, merawat kesehatan, atau menyenangkan pasangan hidup.

Yang Islam larang adalah tabarruj — mempertontonkan kecantikan secara berlebihan di hadapan yang bukan mahram. Yang Islam larang adalah mengubah ciptaan Allah dengan cara yang tidak dibenarkan : mencukur alis, menyambung rambut dengan cara yang dilarang, atau menggunakan bahan-bahan yang haram dan berbahaya. Dan yang Islam ingatkan adalah bahwa hiasan paling agung bagi seorang mukmin tetaplah keindahan akhlak, keindahan hati yang bersih, dan keindahan yang memancar dari dalam — bukan dari apa yang dilekatkan di permukaan.

Kembali ke lanskap desa di pagi hari itu. Lelaki tua yang menggiring ternaknya — mungkin ia tidak tahu tentang balaghah Al-Qur'an. Mungkin ia tidak hafal nama-nama ulama yang berdebat tentang hukum daging kuda. Tapi tiap pagi ia bangun, ia buka pintu kandang, ia sapa hewan-hewan itu dengan cara yang hanya ia dan mereka yang mengerti — dan tanpa sadar, ia sedang menghidupi sebuah ayat. Ia sedang mengkonfirmasi bahwa Allah itu nyata, karunia-Nya itu nyata, dan keindahan yang dijanjikan dalam Al-Qur'an itu bisa dilihat, bisa dirasakan, bahkan bisa dihirup bersama udara pagi.

Maka jangan lewatkan itu. Ketika kamu melihat sapi pulang ke kandang di sore hari, ketika kamu melihat kambing berlari di pagi buta — berhentilah sejenak. Itu bukan sekadar pemandangan. Itu adalah ayat Allah yang sedang dibacakan langsung oleh alam.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

— Abdullah Madura —

Artikel Populer

Lelaki yang Dirindukan Langit, Tapi Tidak Dikenal Bumi

Beratnya Mencintai karena Allah di Zaman yang Penuh Luka

Zina Bukan Sekadar Perbuatan, Tapi Proses Panjang yang Diabaikan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...

Arsip

Tampilkan selengkapnya