Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

Tentang kesediaan mengambil bagian, menjaga niat, dan belajar tidak merasa paling berjasa.

✒️ Tsaqif Rasyid Dai

 


Pekerjaan itu sudah disepakati untuk disengkuyung bareng. Semua mengangguk. Semua merasa ikut bertanggung jawab.

Namun, ketika ditanyakan siapa yang akan mengerjakan, seseorang menjawab dengan tenang.

“Wis, paling wis ono sing nekel.”

Legalah semua.

Rupanya, dalam gotong royong ada satu hal yang bisa dibagi rata tanpa perlu bekerja: keyakinan bahwa orang lain pasti sudah mengerjakannya.

Biasanya yang dimaksud adalah Fulan. Orang yang dikenal prigel, cekatan, dan hampir selalu bisa diandalkan. Bahkan sebelum dimintai tolong, pundaknya sudah lebih dahulu kebagian beban.

Nyengkuyung bareng, ojo njagakake.

Dalam psikologi sosial, dikenal fenomena diffusion of responsibility, ketika tanggung jawab yang dipikul bersama justru membuat seseorang merasa tidak perlu segera mengambil bagian karena menganggap orang lain akan mengerjakannya. Semakin banyak yang merasa bertanggung jawab, terkadang semakin kabur siapa yang sungguh-sungguh bergerak.

Fenomena ini tidak asing dalam lembaga nirlaba. Ratusan orang merasa menjadi bagian dari perjuangan, tetapi penggeraknya sering kali tetap orang-orang yang sama. Sebagian hanya mampu menyisihkan sisa waktu dan tenaga setelah urusan lainnya selesai. Sementara segelintir orang justru menemukan kegembiraan dalam berkhidmah. Mereka menikmati kebersamaan dan menuntaskan pekerjaan.

Tentu tidak adil menyamakan mereka yang belum mampu dengan mereka yang enggan mengambil bagian. Namun, ada perbedaan antara keterbatasan yang sungguh-sungguh dengan kebiasaan menggantungkan tanggung jawab pada orang lain.

Di sinilah petuah Jawa menemukan kedalamannya.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Bukan sekadar bekerja keras tanpa banyak bicara. Ada pendidikan jiwa agar seseorang bersedia mengambil bagian, tetapi tidak merasa paling berjasa setelah pekerjaan diselesaikan.

Allah menggambarkan ketulusan orang-orang yang memberi karena mengharap keridaan-Nya:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah. Kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”

(QS. Al-Insan: 9)

Perhatikan kalimat terakhirnya. Bukan hanya tidak mengharapkan imbalan, tetapi juga tidak menuntut ucapan terima kasih.

Sebab, pamrih tidak selalu berupa uang, jabatan, atau kedudukan. Kadang hanya keinginan sederhana agar orang lain mengetahui bahwa kita juga ikut bekerja.

Bahkan boleh jadi seseorang tidak ingin dipuji, tetapi diam-diam masih berharap orang lain mengetahui bahwa dirinya tidak membutuhkan pujian.

Ternyata menyembunyikan amal lebih mudah daripada menyembunyikan keinginan untuk dihargai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tidak menonjolkan dirinya.”

(HR. Muslim No. 2965)

Sifat al-khafiy menggambarkan hamba yang tidak mencari ketenaran. Ia tidak menggantungkan nilai amalnya pada perhatian manusia. Cukup baginya bahwa Allah mengetahui kesungguhannya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin, ketika membahas riya yang tersembunyi, mengingatkan bahwa seseorang mungkin telah merahasiakan ibadahnya, tetapi masih berharap dihormati atau memperoleh perlakuan istimewa. Ketika penghormatan itu tidak didapatkan, hatinya merasa berat.

Betapa halusnya penyakit ini. Amal berhasil disembunyikan, tetapi pamrih belum sepenuhnya disingkirkan.

Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat aku perbaiki daripada niatku, karena ia senantiasa berubah-ubah.”

Dinukil Ibnu Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam.

Awalnya seseorang bekerja karena ingin membantu. Setelah sering dipercaya, ia mulai merasa dibutuhkan. Ketika banyak persoalan berhasil diselesaikan, perlahan tumbuh perasaan bahwa dirinya sulit tergantikan.

Dahulu ia bergembira karena mendapat kesempatan beramal. Sekarang, ketika namanya tidak disebut, ada sesuatu yang mengganjal.

Padahal pekerjaannya tetap sama. Yang berubah adalah isi hatinya.

Tentu tidak setiap kekecewaan menandakan riya atau 'ujub. Ada kelelahan yang nyata, pembagian tugas yang tidak adil, dan hak yang terkadang diabaikan. Keikhlasan tidak boleh dijadikan alasan untuk membebankan seluruh pekerjaan kepada orang-orang yang sama.

Justru lembaga nirlaba membutuhkan budaya saling menyengkuyung, pembagian amanah yang sehat, dan kesediaan menumbuhkan penggerak-penggerak baru.

Sebab, sepi ing pamrih bukan berarti mengabaikan hak orang yang bekerja. Begitu pula rame ing gawe bukan sekadar tampak sibuk, melainkan kesungguhan menghasilkan manfaat dan menuntaskan amanah.

Pada akhirnya, petuah ini bukan alat untuk mengukur keikhlasan orang lain. Ia adalah cermin untuk memeriksa diri sendiri.

Barangkali kita masih senang dipuji, kecewa ketika dilupakan, atau diam-diam merasa paling berjasa. Mengakuinya memang tidak mudah. Namun, jauh lebih berbahaya apabila kita berhenti memeriksa hati karena telanjur merasa sudah ikhlas.

Pekerjaan bisa selesai. Amanah dapat berganti. Orang-orang yang dahulu bekerja bersama pun suatu saat akan berpisah. Tetapi perjuangan mendidik niat terus berlangsung selama kita masih diberi kesempatan beramal.

Maka jangan sampai kita begitu ringan menyerahkan pekerjaan kepada orang lain, tetapi begitu berat melepaskan pengakuan ketika akhirnya ikut bekerja.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Biar tangan terus belajar mengambil bagian, sementara hati belajar mencukupkan diri dengan pengetahuan Allah atas apa yang dikerjakan.

Dan semoga, ketika tidak ada lagi yang menyebut nama kita, kegembiraan untuk berbuat baik itu tetap tinggal.


Referensi dan Rujukan

  1. Al-Qur'an, QS. Al-Insan: 9.
  2. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Az-Zuhd wa ar-Raqa'iq, hadis No. 2965.
  3. Imam Al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin, Kitab Dzamm al-Jah wa ar-Riya', pembahasan riya tersembunyi.
  4. Ibnu Rajab Al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, syarah hadis pertama tentang niat; perkataan Sufyan Ats-Tsauri.
  5. American Psychological Association, APA Dictionary of Psychology, entri Diffusion of Responsibility.

Artikel Populer

Kebas, Ora Mempan

Kumingsun

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...