Ojo Sembrono
Ojo Sembrono
Berani Saja Tidak Cukup
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
Ada orang yang dahulu kita jauhi karena kita menganggapnya berada di seberang jalan. Kita berdebat dengannya, mencurigai pilihannya, bahkan mungkin pernah memberinya sebutan yang tidak menyenangkan: “musuh bebuyutan.”
Bertahun-tahun kemudian, kita justru duduk semeja dengannya.
Bukan karena ayat-ayat Allah telah berubah. Bukan pula karena yang dahulu haram tiba-tiba menjadi halal. Dalil yang kita baca boleh jadi masih sama. Kitab yang kita buka pun masih kitab yang sama.
Tetapi ada sesuatu yang berubah:
cara kita melihat.
Yang dahulu tampak hitam-putih ternyata mempunyai rincian yang belum kita ketahui. Yang kita kira ketegasan, setelah perjalanan panjang kadang terlihat sebagai ketergesa-gesaan. Yang pernah kita sebut keberanian, setelah direnungkan kembali, sebagian mungkin hanyalah semangat yang belum cukup mengenal ukuran.
Tidak mudah mengakui perubahan semacam itu.
Mengoreksi orang lain membutuhkan keberanian. Tetapi terkadang mengoreksi diri sendiri membutuhkan keberanian yang lebih besar. Sebab yang kita hadapi bukan lagi argumen orang lain, melainkan ucapan yang pernah kita sampaikan, keputusan yang pernah kita bela, lingkungan yang pernah membentuk kita, bahkan pengorbanan yang pernah kita keluarkan.
Manusia cenderung mempertahankan gambaran yang telah lama dibangun tentang dirinya. Mengakui ada bagian dari cara pandang yang perlu diperbaiki kadang terasa seperti menggoyahkan sebagian identitas sendiri.
Maka persoalannya bukan selalu karena dahulu kita tidak mempunyai dalil.
Bisa jadi dalilnya ada, semangatnya tulus, dan keberaniannya sungguh-sungguh.
Hanya saja, rincian yang mampu kita lihat ketika itu belum sebanyak yang dapat kita lihat hari ini.
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah di atas bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.”
(QS. Yusuf: 108)
Para mufasir menjelaskan bashirah dengan ilmu, keyakinan, dan hujah yang membuat seseorang mampu melihat jalan dengan terang. Ia bukan sekadar kuatnya perasaan bahwa kita sedang berada di pihak yang benar.
Barangkali salah satu nikmat bashirah justru terasa ketika kita membaca kembali dalil yang sebenarnya sudah lama kita kenal. Pengalaman, ilmu, kesalahan, perjumpaan dengan orang lain, bahkan luka dari keputusan sendiri membuat kita menemukan rincian yang dahulu belum terlihat.
Kita kemudian memahami bahwa mengetahui dalil belum tentu berarti telah memahami seluruh tempat penerapannya.
Namun ada jebakan lain yang lebih halus. Setelah menyadari bahwa dahulu ada yang luput dari pandangan, jangan sampai sekarang kita kembali berkata, “Dahulu aku belum melihat. Sekarang aku telah mendapat bashirah. Maka langkahku sekarang pasti benar.”
Pengalaman pernah merasa begitu yakin semestinya justru membuat kita lebih rendah hati.
Bashirah seharusnya membuat pandangan semakin jernih, bukan membuat seseorang merasa tidak mungkin keliru.
Persoalannya kemudian bukan hanya apa yang kita yakini, tetapi apakah cara, waktu, dan akibat dari tindakan kita juga tunduk kepada petunjuk.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”
(HR. Muslim)
Hadis itu tidak mengajarkan kita menjadi pasif. Ada himmah di dalamnya: kesungguhan untuk bergerak dan keberanian mengambil risiko ketika memang harus diambil.
Tetapi tenaga yang besar tetap membutuhkan mata.
Keberanian adalah tenaga. Bashirah adalah mata.
Menjelang Bai‘at Aqabah kedua, ketika semangat kaum Anshar telah bulat untuk berbaiat kepada Rasulullah ﷺ, As‘ad bin Zurarah meminta mereka melihat terlebih dahulu harga dari keputusan itu.
Membawa Rasulullah ﷺ ke Yatsrib berarti menghadapi permusuhan bangsa Arab, kehilangan orang-orang terbaik, dan pedang yang mungkin mengenai mereka. Bila sanggup bersabar atas semua itu, lanjutkan. Bila tidak, saat itulah kesempatan untuk mundur.
Mereka telah melihat risikonya.
Dan tetap berbaiat.
As‘ad tidak sedang memadamkan keberanian. Ia sedang memastikan bahwa keberanian tidak melangkah dengan mata tertutup.
Semangat yang sedang memuncak memang dapat mempersempit pandangan. Kita begitu jelas melihat apa yang hendak dicapai, sementara risiko, keterbatasan, dan akibat yang tidak sesuai dengan keinginan mudah terdesak ke pinggir.
Bashirah memperlebar kembali medan pandang itu.
Dan setelah semuanya terlihat, keberanian sejati masih dapat mengatakan: kita lanjutkan.
Tetapi keberanian tidak selalu mengambil bentuk maju.
Pada masa Makkah, ketika kaum Muslimin mengalami penindasan dan sebagian mereka ingin melawan, datang perintah:
“Tahanlah tangan kalian dan dirikanlah salat.”
(QS. an-Nisa': 77)
Mereka bukan sedang dididik menjadi pengecut. Mereka sedang belajar bahwa keberanian pun harus mau diperintah.
Kelak keadaan berubah. Datang izin untuk berperang, dan tiba masa ketika orang-orang yang dahulu diperintahkan menahan tangan justru harus maju menghadapi risiko yang jauh lebih besar.
Menahan diri ketika diperintahkan adalah ketaatan. Maju ketika diperintahkan juga ketaatan.
Di sinilah wasathiyah tidak selalu berarti mengambil posisi di tengah dua kutub. Ia bukan selalu memilih yang lebih lunak, sebagaimana ia bukan kegemaran mengambil sikap yang paling keras.
Yang dicari adalah ketepatan menempatkan diri di bawah petunjuk.
Hudaibiyah memperlihatkan sisi yang lebih halus.
Umar bin Khattab رضي الله عنه bukan orang yang kekurangan keberanian. Justru karena itu kegelisahannya ketika melihat isi perjanjian Hudaibiyah terasa sangat manusiawi.
Bukankah Rasulullah ﷺ benar-benar utusan Allah? Bukankah kaum Muslimin berada di atas kebenaran? Mengapa harus menerima kesepakatan yang pada saat itu terasa begitu berat?
Umar membawa kegelisahan itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu kepada Abu Bakar رضي الله عنه. Rasulullah ﷺ tetap berjalan pada apa yang diperintahkan Allah.
Lalu turun firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
(QS. al-Fath: 1)
Yang terasa seperti mundur justru disebut Allah sebagai kemenangan.
Manusia mudah mempunyai gambaran sendiri tentang bagaimana kemenangan semestinya terlihat: harus maju, harus mengalahkan, harus tampak tegas. Ketika kenyataan datang dalam bentuk lain, kita kesulitan mengenalinya.
Bukan selalu karena kita tidak mencintai kebenaran. Terkadang justru karena kita sangat mencintainya—tetapi tanpa sadar telah menambahkan gambaran kita sendiri tentang bagaimana kebenaran itu seharusnya menang.
Di titik inilah pertanyaan menjadi lebih personal:
Apakah aku sedang tunduk kepada dalil, atau hanya memilih bagian-bagian dalil yang dapat memberi nama baik kepada sesuatu yang sejak awal ingin dilakukan oleh egoku?
Rasulullah ﷺ pernah menggeser ukuran kekuatan dari sesuatu yang tampak di luar kepada pergulatan di dalam diri:
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat. Orang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(Muttafaq ‘alaih)
Al-Ghazali memberikan rumusan yang menarik tentang syaja‘ah:
Kekuatan amarah itu tunduk kepada akal ketika maju maupun ketika menahan diri.
Kekuatannya tidak dimatikan. Ia dididik agar mau diperintah.
Al-Ghazali menempatkan syaja‘ah di antara jubn—kepengecutan—dan tahawwur, keberanian yang melampaui ukuran. Ibn Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq menggunakan kerangka serupa: tidak setiap rasa takut adalah pengecut, sebagaimana tidak setiap keberanian mengambil risiko adalah syaja‘ah.
Maka ukuran keberanian bukan sekadar seberapa besar risiko yang sanggup kita tanggung, tetapi untuk apa risiko itu diambil dan apakah memang di situlah kita harus mengambilnya.
Yang lebih sulit dikenali adalah ketika ego tidak menolak dalil.
Ia justru ikut membawanya.
Ketika ingin maju, kita mudah menemukan dalil tentang himmah, ketegasan, dan keberanian. Ketika takut mengambil risiko, kita mudah menemukan pembicaraan tentang sabar, hikmah, maslahat, dan kehati-hatian.
Semua itu benar.
Persoalannya adalah siapa yang mengambil keputusan terlebih dahulu: dalil atau ego?
Di sinilah kita pernah bertemu dengan “mutatharrif di dalam diri”: kecenderungan batin memberi nama yang terhormat kepada dorongan yang sebenarnya belum selesai kita periksa.
Tazkiyatun nafs karena itu tidak selalu berupa perjuangan meninggalkan sesuatu yang terang-terangan buruk. Kadang ia meminta kita memeriksa kembali tindakan yang telah lama kita beri nama baik: keberanian, semangat, ketegasan, pembelaan terhadap kebenaran, bahkan bashirah.
Barangkali itu pula yang membuat saya perlu membuka kembali beberapa keyakinan lama.
Bukan untuk membuang dalilnya.
Tetapi untuk memeriksa apakah dahulu saya telah memberi kesempatan kepada seluruh rinciannya untuk berbicara.
Ada masa ketika kita perlu berdamai dengan sejarah hidup tanpa membenarkan kesalahan. Setelah perjalanan yang panjang, kita membuka mushaf yang sama, membaca ayat yang sama, dan menemukan hadis yang dahulu juga pernah kita baca.
Tidak ada yang berubah pada wahyu.
Kitalah yang tidak lagi membacanya dengan diri yang persis sama.
Ada pengalaman yang telah dilewati. Ada keputusan yang pernah kita sesali. Ada orang yang dahulu kita jauhi, ternyata kemudian mengajarkan sesuatu. Ada keberanian yang pernah kita banggakan, tetapi setelah bertahun-tahun baru terlihat bagian egonya. Ada pula sikap yang dahulu kita kira sebagai kehati-hatian, ternyata hanya ketakutan yang pandai mencari alasan.
Dalilnya sama. Rinciannya ternyata jauh lebih luas daripada yang dahulu mampu kita lihat.
Mungkin dahulu kita menyebutnya memenej keberanian.
Sekarang saya lebih suka menyebutnya mendisiplinkan keberanian di bawah bashirah.
Bukan supaya keberanian berkurang, tetapi agar ia tahu tempatnya. Agar ketika harus maju, kita tidak berlindung di balik kata hikmah. Dan ketika harus menahan diri, kita tidak memaksakan kata syaja‘ah untuk membenarkan ketergesa-gesaan.
Barangkali wasathiyah bukan ketika kita berhasil berdiri tepat di tengah dua kubu.
Ia bermula ketika ego tidak lagi kita izinkan menentukan di mana kita harus berdiri, lalu meminta dalil membenarkannya.
Dan mungkin di situlah perjalanan itu belum selesai.
Ojo sembrono.
“Sebab sebelum pikiran benar-benar menep, keberanian masih perlu terus dididik agar tahu tempatnya.”
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
Referensi
- Al-Qur'an: QS. Yusuf: 108; QS. an-Nisa': 77; QS. al-Fath: 1.
- Shahih Muslim, Kitab al-Qadar: hadis احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز.
- Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: hadis ليس الشديد بالصرعة... tentang kemampuan menguasai diri ketika marah.
- Ath-Thabari, Jāmi‘ al-Bayān, tafsir QS. Yusuf: 108.
- Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azhīm, tafsir QS. Yusuf: 108 dan rangkaian peristiwa Hudaibiyah pada QS. al-Fath.
- Ibn Hisyam, al-Sīrah al-Nabawiyyah, peristiwa Bai‘at Aqabah kedua dan Hudaibiyah.
- Musnad Ahmad, riwayat Bai‘at Aqabah kedua dan peringatan tentang konsekuensi baiat.
- Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitab Riyādhah al-Nafs wa Tahdzīb al-Akhlāq, pembahasan quwwah al-ghadhab dan syaja‘ah.
- Ibn Miskawaih, Tahdzīb al-Akhlāq wa Tathhīr al-A‘rāq, pembahasan syaja‘ah, jubn, dan tahawwur.
