Nandur Ora Kudu Ngundhuh

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

Tentang jiwa perintis, warisan kebaikan, dan kerelaan tidak ikut memanen

✒️ Tsaqif Rasyid Dai

 


Orang-orang dahulu menanam pohon jati. Mereka tahu, pohon itu memerlukan waktu puluhan tahun sebelum kayunya matang dan layak dimanfaatkan. Bisa jadi ketika pohon tersebut siap ditebang, orang yang menanamnya sudah tiada. Yang menikmati justru anak cucunya. Tetapi mereka tetap menanam. Merawat. Menjaga. Tidak setiap pagi menggali tanah untuk memastikan seberapa jauh akarnya berkembang.

Ada cara pandang yang menarik di sana. Mereka bekerja untuk masa depan yang belum tentu menjadi bagian dari hidupnya sendiri. Tidak semua yang ditanam harus dipanen oleh tangan yang sama. Tidak semua perjuangan harus berakhir dengan menyaksikan keberhasilan.

Nandur ora kudu ngundhuh.

Kalimat sederhana. Tetapi tidak selalu mudah dijalani. Apalagi ketika seseorang telah mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk merintis sekolah, pesantren, yayasan, organisasi dakwah, atau pekerjaan sosial yang bermula dari hampir tidak ada apa-apa.

Dalam Al-Qur'an, Allah mengajarkan sebuah doa yang indah:

وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74).

Imam Ath-Thabari dalam Jami' al-Bayan menjelaskan bahwa doa tersebut merupakan permohonan agar seseorang menjadi teladan yang diikuti dalam kebaikan. Beliau juga menukil penjelasan Mujahid tentang mengikuti keteladanan orang-orang terdahulu dan menjadi teladan bagi generasi sesudahnya. Ada kesinambungan kebaikan yang patut direnungkan: belajar dari pendahulu, mengamalkannya, kemudian berharap orang-orang setelah kita turut melanjutkannya.

Cita-cita semacam itulah yang dapat menggerakkan seseorang untuk merintis. Ingin mendirikan sekolah agar anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Membangun pesantren agar Al-Qur'an terus diajarkan. Menggerakkan kegiatan sosial agar masyarakat yang membutuhkan mendapatkan pertolongan. Semuanya berangkat dari harapan, dijalankan melalui ikhtiar, sementara keberhasilannya tetap berada dalam kehendak dan pertolongan Allah.

Pada mulanya, belum banyak yang dapat dibanggakan. Modal terbatas, tenaga sedikit, fasilitas seadanya. Satu orang kadang harus mengerjakan beberapa urusan sekaligus. Ada kebutuhan yang ditunda, biaya yang ditanggung sendiri, dan keputusan yang harus diambil dengan pengalaman yang masih terbatas.

Sing penting mlaku dhisik.

Bukan berarti asal berjalan. Tetapi tidak semua kebaikan harus menunggu keadaan sempurna untuk dimulai. Sebagian pengetahuan diperoleh setelah mencoba, sebagian kemampuan tumbuh bersama pengalaman, dan sebagian jalan baru terlihat setelah seseorang berani melangkah.

Kisah KH Ahmad Dahlan memberikan gambaran yang menarik. Sebagaimana dicatat dalam sejarah Muhammadiyah, beliau pernah merintis sekolah dengan delapan murid di ruang tamu rumahnya yang berukuran sekitar 2,5 × 6 meter. Beliau sendiri yang mengajar. Peralatan belajar pun sederhana. Dari ruang kecil itu, kegiatan pendidikan perlahan berkembang.

Ada bagian lain yang tidak kalah menarik. Ketika sekolah mulai tumbuh, seorang murid Kweekschool yang biasa datang berdiskusi menyarankan agar pengelolaannya tidak hanya bergantung kepada KH Ahmad Dahlan. Perlu organisasi yang memungkinkan sekolah terus berjalan, bahkan ketika beliau tidak lagi terlibat atau telah wafat. Gagasan itu turut menjadi bagian dari proses lahirnya Muhammadiyah pada 1912.

KH Ahmad Dahlan wafat pada 1923. Beliau sempat menyaksikan sebagian pertumbuhan perjuangannya, tetapi tidak mungkin melihat seluruh perkembangan lembaga pendidikan, kesehatan, dan berbagai amal usaha yang kemudian diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya.

Sebuah ruang tamu. Delapan murid. Lebih dari seabad perjalanan.

Yang patut direnungkan bukan semata-mata besarnya hasil yang kemudian terlihat, melainkan kesediaan memulai kebaikan tanpa mengetahui seberapa jauh kelak ia akan berkembang.

Abdullah bin Al-Mubarak رحمه الله pernah berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niatnya, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niatnya.”

Perkataan yang dinukil Ibn Rajab dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam ini mengingatkan bahwa ukuran lahiriah sebuah pekerjaan tidak selalu menggambarkan nilainya di sisi Allah. Sesuatu yang tampak kecil dapat memiliki nilai besar karena niat yang benar. Sebaliknya, hasil yang mengagumkan manusia tidak otomatis menunjukkan kemuliaan amal pelakunya.

Namun, niat yang baik pada permulaan bukan jaminan bahwa hati akan selalu berada dalam keadaan yang sama.

Tahun demi tahun berlalu. Murid bertambah, bangunan berkembang, masyarakat mulai mengenal. Orang-orang datang menawarkan bantuan. Nama perintis semakin lekat dengan lembaga yang dibangunnya. Penghormatan pun tumbuh bersama keberhasilan.

Di situlah muncul ujian yang dahulu mungkin belum pernah dihadapi.

Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله pernah mengakui:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَنْقَلِبُ عَلَيَّ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat kuperjuangkan daripada niatku, karena ia terus berubah dalam diriku.”

Betapa jujurnya pengakuan seorang ulama besar. Niat tidak cukup sekali diluruskan, kemudian dianggap selesai. Ia memerlukan penjagaan sepanjang perjalanan, bahkan ketika seseorang sedang sibuk mengerjakan kebaikan.

Psikologi organisasi mengenal istilah psychological ownership, yakni perasaan memiliki yang tumbuh terhadap sesuatu yang dibangun atau dikerjakan seseorang. Bagi seorang perintis, lembaga yang didirikannya bukan sekadar tempat bekerja. Di dalamnya tersimpan sejarah hidup, pengorbanan, kenangan, dan harapan yang diperjuangkan bertahun-tahun.

Perasaan itu dapat melahirkan kepedulian dan tanggung jawab yang besar. Tetapi jika tidak dikelola, ia juga bisa membuat seseorang sulit menerima perubahan. Kritik terhadap kebijakan terasa seperti serangan terhadap pribadi. Keberhasilan generasi penerus yang seharusnya menggembirakan justru diam-diam menimbulkan kegelisahan.

Dahulu ia ingin lembaganya tumbuh. Sekarang ia mulai kesulitan ketika lembaga itu tumbuh melalui cara orang lain.

Di sinilah ojo dumeh perlu dibisikkan kepada diri sendiri.

Ojo dumeh aku sing mbabat alas.

Jangan hanya karena dahulu kita yang merintis, lalu merasa seluruh perjalanan berikutnya harus selamanya berada dalam genggaman kita.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin, ketika membahas cinta kedudukan (hubb al-jah), membedakan antara kedudukan yang diperlukan sebagai sarana mencapai kebaikan dan kedudukan yang dicintai sebagai tujuan bagi dirinya sendiri. Seseorang mungkin memerlukan kewenangan untuk menjalankan amanah. Tetapi ketika penghormatan dan pengaruh mulai dicintai demi kepuasan diri, hatinya memasuki wilayah yang perlu diwaspadai.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa pengobatan cinta kedudukan memerlukan ilmu dan amal. Melalui ilmu, seseorang memahami betapa sementara dan terbatasnya penghormatan manusia. Melalui amal, ia melatih diri agar tidak terus bergantung pada pengakuan orang lain.

Dalam kehidupan organisasi hari ini, pelajaran itu dapat diterjemahkan menjadi latihan yang nyata. Membagikan pengalaman, menyiapkan kader, memberikan kepercayaan, dan membangun sistem yang tidak bergantung kepada satu orang. Termasuk belajar menerima bahwa penerus mungkin mengambil keputusan berbeda, bahkan menemukan cara yang lebih baik daripada cara yang dahulu digunakan.

Tentu tidak setiap perintis yang masih memimpin sedang mempertahankan kekuasaan karena nafsu. Ada amanah yang belum selesai, penerus yang belum siap, atau tanggung jawab formal yang masih harus dijalankan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar usia atau lamanya menjabat, melainkan apakah kepemimpinannya masih membawa maslahat, membuka ruang koreksi, serta mempersiapkan keberlanjutan.

Psikologi perkembangan mengenal konsep generativity yang dikembangkan Erik Erikson, yaitu kepedulian untuk membimbing generasi berikutnya dan menghasilkan sesuatu yang manfaatnya melampaui kepentingan diri sendiri. Dalam kematangan seperti ini, perhatian seseorang tidak lagi berhenti pada apa yang berhasil dibangunnya, tetapi juga pada siapa yang kelak mampu melanjutkannya.

Ketika usia mulai senja, sebagian perintis masih diberi kesempatan menyaksikan hasil perjuangannya. Orang-orang yang dahulu dididik kini telah mampu memikul tanggung jawab. Ada saatnya mereka tidak lagi harus mengurusi setiap keputusan, tetapi tetap dapat mendampingi dan memberikan nasihat.

Dalam sebagian organisasi dan yayasan, hubungan dengan para sesepuh tetap dirawat. Mereka dikunjungi, dimintai pertimbangan, atau sekadar diberi kabar tentang perkembangan lembaga. Tidak selalu untuk meminta persetujuan, melainkan untuk menjaga hubungan dan menghormati pengalaman. Nasihat didengarkan dengan sungguh-sungguh, sementara keputusan dijalankan oleh pihak yang memperoleh kewenangan sesuai ketentuan organisasi.

Bagi sesepuh, keadaan itu menjadi ruang pengabdian sekaligus latihan kelapangan dada. Tetap peduli tanpa harus mengendalikan setiap urusan. Bagi penerus, meminta nasihat menjadi latihan kerendahan hati, sebab ilmu dan pengalaman tidak seluruhnya diperoleh dari pendidikan formal.

Menepi dari kepemimpinan bukan berarti berhenti mengabdi. Dan meneruskan kepemimpinan bukan berarti berhenti berbakti.

Tetapi generasi penerus pun memiliki jebakan nafsunya sendiri.

Mereka datang ketika bangunan telah berdiri dan jalan sudah terbuka. Dengan teknologi, pengetahuan manajemen, dan sumber daya yang lebih baik, mereka mulai menemukan berbagai kekurangan dalam sistem yang diwariskan.

Mengapa dahulu pencatatannya seperti ini? Mengapa pembagian tugas tidak jelas? Mengapa pengawasan belum berjalan sebagaimana mestinya?

Pertanyaan itu sah. Bahkan diperlukan. Tetapi dari tempat yang sudah terang, jalan yang dahulu gelap sering tampak begitu mudah dikenali. Kita cenderung menilai keputusan masa lalu menggunakan pengetahuan dan keadaan yang baru tersedia belakangan.

Padahal para perintis mengambil keputusan dengan kemampuan, informasi, dan sumber daya pada zamannya. Sebagian cara yang sekarang terlihat kurang tepat mungkin dahulu merupakan pilihan yang paling memungkinkan.

Memahami keadaan tersebut bukan berarti membenarkan seluruh keputusan. Ada keterbatasan yang patut dimaklumi, kekeliruan yang harus diperbaiki, dan pelanggaran amanah yang tetap menuntut pertanggungjawaban.

Kesalahan perintis tidak menghapus jasanya. Besarnya jasa tidak menghapus kesalahannya.

Karena itu, evaluasi harus dilakukan secara proporsional. Lembaga pendidikan, misalnya, perlu menilai mutu pembelajaran, pengelolaan keuangan, efektivitas program, kesiapan kader, dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Data diperlukan agar keputusan tidak hanya didasarkan pada kebiasaan, kesan pribadi, atau romantisme masa lalu.

Tetapi data tidak dapat digunakan untuk mengukur kemurnian niat seseorang. Sebaliknya, niat yang baik juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi kekeliruan pengelolaan.

Evaluasi pekerjaan membutuhkan data. Evaluasi batin membutuhkan muhasabah.

Keduanya perlu berjalan bersama.

Generasi penerus harus berani memperbaiki sistem, tetapi juga belajar memeriksa hatinya sendiri. Apakah kritik yang disampaikan benar-benar demi kemaslahatan, atau diam-diam ada kepuasan ketika menemukan kekurangan pendahulu? Apakah pembaruan dilakukan untuk memperbaiki amanah, atau untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat?

Al-Qur'an memberikan pelajaran tentang adab orang-orang beriman yang datang kemudian:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Hasyr: 10, petikan ayat).

Dalam konteks asalnya, ayat ini berkaitan dengan generasi beriman setelah kaum Muhajirin dan Ansar. Namun, darinya kita dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya mendoakan pendahulu, menghargai kebaikannya, dan membersihkan hati dari kebencian.

Maka dengarkan sejarah sebelum menghakimi. Pelajari alasan sebelum mengubah. Bedakan nilai perjuangan yang harus dijaga dari cara kerja yang memang perlu diperbaiki. Berikan penghormatan secara patut, tanpa mengorbankan keadilan dan tanggung jawab.

Sebab perasaan paling berjasa dapat menjebak kedua generasi.

Perintis merasa, tanpa saya semua ini tidak akan ada. Penerus merasa, tanpa saya semua ini tidak akan berkembang.

Padahal keduanya hanyalah bagian dari perjalanan panjang sebuah amanah.

Dan setelah semua pekerjaan dilakukan, masih ada ujian hati yang lebih sunyi.

Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa para salaf bersungguh-sungguh menyelesaikan, menyempurnakan, dan memperbagus amal. Setelah itu, mereka tetap memikirkan apakah amalnya diterima Allah serta khawatir jika ditolak.

Mereka tidak menjadikan keikhlasan sebagai alasan untuk bekerja seadanya. Amal harus dikerjakan dengan baik. Tetapi keberhasilan menunaikannya tidak membuat mereka merasa pasti memperoleh penerimaan di sisi Allah.

Dalam QS. Al-Mu'minun ayat 60, Allah menggambarkan orang-orang yang beramal, sedangkan hati mereka dipenuhi rasa takut karena akan kembali kepada-Nya. Ketika Aisyah رضي الله عنها bertanya tentang ayat tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, tetapi tetap khawatir amalnya tidak diterima. (HR. At-Tirmidzi no. 3175).

Ternyata menjaga keikhlasan tidak selesai ketika pekerjaan berakhir.

Orang yang pernah menyumbangkan harta, tenaga, dan waktunya untuk membangun lembaga masih harus menjaga diri agar tidak menjadikan pengorbanan tersebut sebagai alat menuntut penghormatan. Allah memperingatkan agar sedekah tidak dirusak dengan mengungkit pemberian dan menyakiti penerimanya (QS. Al-Baqarah: 264).

Ayat itu secara langsung berbicara tentang sedekah. Tetapi peringatannya mengajak kita memeriksa hati: jangan sampai kebaikan yang dahulu dikerjakan berubah menjadi sesuatu yang terus-menerus ditagihkan kepada manusia.

Di sisi lain, penerus pun harus belajar menerima bahwa pembaruan yang dilakukannya bukan akhir dari perjalanan. Kelak ia akan menua. Sistem yang hari ini dianggap paling baik mungkin perlu diperbaiki lagi. Orang-orang yang sekarang dipimpinnya akan tumbuh menjadi generasi yang memiliki cara dan pengetahuan baru.

Yang hari ini menjadi penerus, suatu saat akan menjadi pendahulu.

Maka keikhlasan harus dirawat sebelum memulai, ketika menjalani, bahkan setelah menyelesaikan pengabdian. Ia bukan hanya tentang tidak mengharapkan pujian pada awal pekerjaan, melainkan juga tentang kesanggupan melepaskan pengakuan ketika pekerjaan itu telah menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Namun, tidak semua perintis memperoleh kesempatan menyaksikan buah perjuangannya.

Sebagian telah wafat ketika sekolah masih kecil, bangunan belum selesai, atau organisasi masih tertatih. Barangkali baru beberapa generasi kemudian manfaat yang lebih luas mulai terlihat. Mereka tidak sempat mengetahui sampai sejauh mana sesuatu yang dahulu diusahakannya akan berkembang.

Pada tingkat bangsa pun demikian. Kita menikmati kemerdekaan, sementara sebagian orang yang turut membuka jalan menuju kemerdekaan telah wafat jauh sebelumnya. Ada yang namanya tercatat dalam buku sejarah, ada pula yang nyaris tidak dikenal. Tetapi generasi hari ini menikmati sesuatu yang tidak seluruhnya mereka usahakan sendiri.

Lalu, apa yang sedang kita tanam untuk generasi berikutnya?

Rasulullah ﷺ pernah memberikan pengajaran yang mengagumkan. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, beliau bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

“Apabila Hari Kiamat tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat bibit pohon kurma, lalu ia masih mampu menanamnya sebelum Kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya.”

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 479 dan Ahmad no. 12981. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 9).

Betapa dalam pengajaran tersebut. Ketika Hari Kiamat telah tiba dan seseorang masih memiliki kesempatan menanam bibit yang berada di tangannya, Rasulullah ﷺ tetap menganjurkan agar ia menanamnya.

Barangkali pohon itu tidak akan sempat tumbuh. Tidak ada buah yang dipetik, tidak pula generasi yang berteduh di bawahnya. Tetapi pekerjaan baik yang masih mungkin dilakukan tidak perlu ditinggalkan hanya karena hasilnya tidak lagi dapat disaksikan.

Bahkan ketika tidak ada lagi hari esok untuk memanen, Rasulullah ﷺ tetap mengajarkan kita untuk menanam.

Namun, menanam tetap harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Memilih bibit yang baik, menyiapkan tanah, merawat pertumbuhan, memperbaiki yang keliru, dan mempersiapkan tangan-tangan berikutnya untuk melanjutkan perawatan selama kesempatan masih tersedia.

Nandur kudu tenanan anggone nandur.

Sebab rela tidak ikut memanen bukan berarti boleh meninggalkan tanaman tanpa tanggung jawab.

Menanam, pada akhirnya, bukan cara memaksa masa depan mengikuti keinginan kita. Ia adalah kesempatan beramal pada waktu yang Allah berikan. Kita bertanggung jawab atas kesungguhan ikhtiar dan amanah yang dipikul, lalu belajar lapang ketika orang lain melanjutkan perjuangan itu.

Nandur ora kudu ngundhuh.

Bukan berarti tidak boleh berharap menikmati hasil. Tetapi jangan sampai keinginan ikut memanen membuat kita lupa untuk terus menanam.

Sebab yang semestinya diperjuangkan adalah keberlangsungan kebaikan, bukan keabadian nama atau kedudukan kita.

Dan ketika orang lain yang memanen, bahkan namanya yang dikenang, masihkah hati kita mampu ikut berbahagia?

Referensi dan Rujukan

  1. Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Furqan: 74; Al-Hasyr: 10; Al-Mu'minun: 60; dan Al-Baqarah: 264.
  2. Imam Ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Furqan: 74, mengenai keteladanan dalam kebaikan dan penjelasan Mujahid.
  3. Imam Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. Al-Hasyr: 10, mengenai adab generasi beriman terhadap para pendahulu.
  4. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, syarah hadis pertama, "Innamal A'malu binniyyat", memuat perkataan Abdullah bin Al-Mubarak dan Sufyan Ats-Tsauri tentang niat.
  5. Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, Rub' al-Muhlikat, Kitab Dzamm al-Jah wa ar-Riya', bagian "Ma Yuhmad min Hubb al-Jah wa Ma Yudzamm" dan "Bayan 'Ilaj Hubb al-Jah".
  6. Imam Ibn Rajab Al-Hanbali, Latha'if al-Ma'arif fima li Mawasim al-'Am min al-Wazha'if, pembahasan amalan bulan Ramadan, khususnya penyempurnaan amal dan kekhawatiran terhadap penerimaannya.
  7. Imam At-Tirmidzi, Al-Jami' al-Kabir (Sunan At-Tirmidzi), Kitab Tafsir al-Qur'an, Bab Surat Al-Mu'minun, hadis no. 3175.
  8. Imam Al-Bukhari, Al-Adab al-Mufrad, Kitab al-I'tina' bid-Dunya, hadis no. 479, mengenai menanam bibit ketika Hari Kiamat tiba. Lihat pula Al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadis no. 9.
  9. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Sejarah Berdirinya Muhammadiyah, mengenai perintisan pendidikan KH Ahmad Dahlan dan kesinambungan organisasi Muhammadiyah.
  10. Erik H. Erikson, Childhood and Society (1950), bagian "Eight Ages of Man", mengenai konsep generativity.
  11. Jon L. Pierce, Tatiana Kostova, dan Kurt T. Dirks, "Toward a Theory of Psychological Ownership in Organizations", Academy of Management Review, Vol. 26, No. 2 (2001), hlm. 298–310.

Artikel Populer

Dolane Kurang Adoh

Kumingsun

Blingsatan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...