Oleh-olehe Ndi?

Oleh-olehe Ndi?

Jos Gandos, Implementasinya Menyusul

✒️ Tsaqif Rasyid Dai

Belum juga sempat melepas sepatu, pertanyaan itu sudah menyambar.

“Oleh-olehe ndi?”

Pertanyaan khas orang rumah ketika seseorang baru pulang bepergian. Bisa dari luar kota, menghadiri undangan, atau sekadar mampir ke tempat wisata. Tidak selalu sungguh-sungguh meminta sesuatu. Kadang hanya menggoda. Tetapi kalau benar-benar membawa oleh-oleh, tentu lebih menyenangkan.

Rupanya pertanyaan serupa juga berlaku bagi mereka yang baru pulang dari pelatihan, seminar, studi banding, atau kegiatan peningkatan kapasitas.

“Piye pelatihane?”
“Wah, apik tenan! Jos gandos!”
“Materinya?”
“Luar biasa. Narasumbernya hebat. Banyak ilmu baru. Sangat menginspirasi.”
“Terus, oleh-olehe ndi?”
“Kesel.”

Hehehe. Jawaban pendek. Jujur. Sekaligus nyesek.

Berangkat pagi, pulang sore. Duduk berjam-jam, mendengarkan materi, mencatat, berdiskusi, sesekali bertepuk tangan. Tidak lupa foto bersama. Pulang membawa sertifikat, setumpuk catatan, dan badan yang minta segera direbahkan.

Kalau yang bertanya serius, biasanya mengharapkan rangkuman, laporan kegiatan, atau rencana tindak lanjut. Jawaban yang cukup populer pun sudah tersedia.

“Insyaallah, ke depan akan kita implementasikan.”

Kalimat yang terdengar meyakinkan. Penuh optimisme. Sekaligus cukup lentur digunakan dalam berbagai kesempatan.

Sebulan kemudian ditanya lagi. Masih dalam proses. Tiga bulan berikutnya, sedang disesuaikan dengan kondisi lembaga. Setengah tahun berlalu, barangkali sudah ada undangan pelatihan berikutnya.

Yang lama belum terlaksana, yang baru sudah menanti.

Begitulah. Kita cukup akrab dengan seminar, workshop, studi banding, dan berbagai kegiatan pengembangan diri. Semuanya penting. Bahkan sering kali sangat diperlukan. Persoalannya bukan pada banyaknya kegiatan, melainkan apa yang sungguh-sungguh dibawa pulang.

Apalagi kalau pelatihannya dibiayai lembaga. Tidak sedikit ongkos yang dikeluarkan. Biaya pendaftaran, transportasi, penginapan, hingga pekerjaan yang sementara harus ditinggalkan. Ada waktu, tenaga, dan kepercayaan yang ikut dititipkan.

Sayang sekali kalau semuanya hanya berakhir sebagai cerita perjalanan. Yang pulang kesel. Yang membiayai pun bisa ikut kesel.

Ben ora muspro.

Namun, jangan pula terburu-buru menghakimi. Ada perbedaan antara terkesan, memahami, dan mampu menerapkan. Ketiganya tidak selalu datang bersamaan.

Orang bisa sangat terkesan oleh pembicara, tetapi belum memahami keseluruhan gagasannya. Bisa memahami materi dengan baik, tetapi belum menguasai keterampilan untuk menjalankannya. Bisa pula sudah tahu caranya, tetapi lingkungan kerjanya belum memungkinkan.

Seorang guru pulang dari pelatihan pembelajaran. Ia membawa metode baru yang menarik. Tetapi menerapkannya memerlukan persiapan, penyesuaian dengan murid, bahkan dukungan sekolah. Seorang pengurus mengikuti studi banding tentang tata kelola lembaga. Gagasannya bagus, tetapi belum tentu semuanya cocok diterapkan di tempat asal.

Maka tidak adil jika setiap gagasan yang belum terlaksana langsung dianggap sebagai kegagalan. Lembaga yang membiayai pun mempunyai tanggung jawab menyediakan ruang untuk mencoba, mendampingi, dan mengevaluasi. Jangan hanya menagih laporan, kemudian menyimpannya dalam arsip.

Meski demikian, ada persoalan lain yang terkadang lebih sulit daripada urusan anggaran, fasilitas, atau sistem.

Diri kita sendiri.

Sewaktu mendengarkan materi, semuanya terasa mudah. Ide-ide bermunculan. Semangat berkobar. Dalam benak, berbagai perubahan sudah terbayang. Tetapi begitu kembali ke meja kerja, alasan mulai berdatangan.

Besok saja. Menunggu waktu longgar. Menunggu fasilitas lengkap. Menunggu semua pihak siap. Menunggu rapat berikutnya.

Ada saja yang ditunggu.

Dalam pembahasan tazkiyatun nafs, kebiasaan menunda-nunda kebaikan dikenal dengan istilah taswif. Sederhananya, penyakit mengko wae. Bukan karena tidak mengetahui apa yang baik, melainkan karena diri terus mencari alasan untuk tidak segera mengerjakannya.

Tentu tidak setiap penundaan merupakan penyakit hati. Ada pekerjaan yang memang memerlukan persiapan dan pertimbangan. Tetapi ada pula penundaan yang sesungguhnya hanya cara halus untuk menghindari kesulitan.

Lebih nyaman membicarakan perubahan daripada menjalaninya. Lebih menyenangkan menyusun rencana daripada menghadapi kerepotan ketika rencana itu dilaksanakan.

Bahkan kadang kita sudah merasa menjadi lebih baik hanya karena selesai mendengarkan sesuatu yang baik. Merasa bertambah pintar karena mengikuti pelatihan hebat. Merasa lebih berpengalaman karena pernah belajar dari orang-orang ternama.

Padahal rasa terinspirasi belum tentu menghasilkan perubahan. Kekaguman kepada narasumber tidak otomatis menjadikan kita mampu mengamalkan ilmunya.

Di sinilah hati perlu diajak bercermin. Jangan sampai kepuasan karena telah belajar justru membuat kita berhenti belajar lebih jauh, apalagi merasa tidak perlu lagi memperbaiki diri.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim, no. 2722, bagian dari doa yang lebih panjang).

Doa ini mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dihafalkan, atau dibanggakan. Ada manfaat yang semestinya kita harapkan darinya.

Tentu manfaat ilmu tidak selalu langsung terlihat. Ada pengetahuan yang baru terasa gunanya bertahun-tahun kemudian. Ada nasihat yang dahulu hanya kita dengarkan, tetapi belakangan menyelamatkan kita dari keputusan yang keliru.

Bahkan ada oleh-oleh yang tidak berupa keterampilan ataupun program baru. Seusai belajar, seseorang menjadi lebih berhati-hati dalam berpendapat, lebih mudah menerima koreksi, dan tidak lagi merasa paling tahu. Semakin banyak yang dipelajari, semakin sadar pula betapa banyak yang belum diketahui.

Itu juga oleh-oleh. Tidak bisa dimasukkan ke tas, tetapi bisa dirasakan orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, agar pelatihan tidak muspro, barangkali kita tidak perlu pulang dengan terlalu banyak janji. Cukup membawa satu gagasan yang mungkin dikerjakan, satu kebiasaan yang perlu diperbaiki, atau satu keterampilan yang sungguh-sungguh ingin dilatih.

Tidak semua harus diterapkan. Tidak harus sekaligus. Tidak semua yang bagus di tempat lain cocok dipindahkan ke tempat kita.

Yang penting, jangan sampai tidak ada usaha sama sekali.

Seorang guru mungkin belum mampu mengubah seluruh metode pembelajarannya, tetapi bisa mulai memperbaiki satu cara mengajar. Seorang pemimpin mungkin belum sanggup membenahi seluruh sistem organisasinya, tetapi bisa mulai dengan kebiasaan sederhana: mendengar lebih dahulu sebelum memutuskan.

Perubahan kecil semacam itu barangkali tidak cukup menarik untuk dipresentasikan. Tidak pula selalu menghasilkan dokumentasi yang layak dipamerkan. Namun, justru di sanalah ilmu mulai menemukan manfaatnya.

Dan pertanyaan “oleh-olehe ndi?” sebenarnya tidak hanya pantas diajukan kepada peserta pelatihan. Ia juga layak kita ajukan kepada diri sendiri setelah menempuh perjalanan hidup yang panjang.

Bertahun-tahun belajar, apa yang berubah? Puluhan tahun bekerja, apa yang membaik? Lama memegang amanah, siapa yang merasakan manfaatnya?

Tetapi jangan sampai pertanyaan itu hanya menjadi alat menagih orang lain. Sebab kita sendiri pun belum tentu selalu mampu menjawabnya.

Pada akhirnya, jos gandos adalah kesan. Implementasi adalah pekerjaan. Keduanya baik, tetapi jangan sampai yang pertama terus dirayakan sementara yang kedua tidak pernah dimulai.

Kalau sepulang pelatihan oleh-olehnya baru rasa lelah, tidak mengapa. Istirahatlah. Kalau masih perlu belajar, belajarlah lagi. Kalau belum mampu menerapkan, akuilah dan cari jalan.

Yang penting, jangan sampai setelah lelahnya hilang, ilmunya ikut menguap, sementara rencananya tetap tersimpan rapi dalam dua kata:

“Ke depan.”

Lha, ngarep tekan ndi?


Referensi dan Rujukan

Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a wa at-Taubah wa al-Istighfar, hadis no. 2722, riwayat Zaid bin Arqam radhiyallahu 'anhu.

Artikel Populer

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

Kumingsun

Kebas, Ora Mempan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...