Ora Patheken, Ora Paten

T A Z K I Y A T U N  N A F S

Ora Patheken, Ora Paten

Manusia Bisa Berubah, Penilaian Kita Pun Seharusnya

✒️ Tsaqif Rasyid Dai


 

Profesor itu memang nyentrik. Pilihan katanya kadang membuat orang mengernyitkan dahi. Ada psikologi. Ada langit. Ada panggung politik yang tidak pernah kekurangan kejutan.

Yang lebih menggelitik, sosok yang selama ini dikenal lantang melontarkan kritik itu justru dilantik menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Dari pengamat yang kerap mengkritik kekuasaan, kini menjadi bagian dari lembaga yang memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Jagat komentar pun ramai. Ada yang menyambut. Ada yang menyindir. Ada yang merasa kehilangan panutan. Ada pula yang buru-buru menyimpulkan: akhirnya sama saja.

Padahal, apa yang sesungguhnya berubah? Pandangannya? Keadaannya? Kepentingannya? Atau justru cara kita memandang dirinya?

Entahlah.

Profesor itu bisa siapa saja. Bisa akademisi, ulama, aktivis, politisi, atau orang biasa yang pernah kita kenal. Bahkan, boleh jadi kita sendiri. Sebab yang sedang dibicarakan bukan siapa yang berpindah barisan, melainkan bagaimana manusia berubah dan bagaimana kita menyikapi perubahannya.

Manusia memang bukan batu prasasti. Sekali dipahat, lalu selamanya begitu.

Ora patheken. Ora paten.

Namun sebelum memutuskan siapa yang berubah dan mengapa ia berubah, ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa jauh kita mengetahui duduk perkaranya?

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini mengajarkan kehati-hatian sebelum mengambil sikap berdasarkan sebuah kabar. Tidak setiap berita layak langsung dipercaya. Tidak setiap peristiwa dapat dipahami hanya dari potongan yang beredar. Apalagi ketika penilaian kita menyangkut kehormatan seseorang. Kadang sikap terbaik justru tidak ikut menyimpulkan perkara yang belum kita ketahui.

Kita tentu masih mahfum dengan perjalanan Umar bin Khattab, Abu Sufyan, dan Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhum. Mereka memiliki kisah masing-masing sebelum menerima Islam. Ada yang dahulu keras menentang dakwah. Ada yang pernah memimpin perlawanan. Ada pula yang kemampuan kepemimpinannya semula digunakan menghadapi kaum muslimin, kemudian diabdikan untuk membela Islam.

Khalid bin Walid, misalnya. Namanya tidak bisa dilepaskan dari peristiwa Uhud ketika pasukan berkuda Quraisy memanfaatkan kelemahan barisan kaum muslimin. Namun setelah memeluk Islam, kemampuan militernya justru menjadi bagian penting perjuangan umat. Pada Perang Mu'tah, Rasulullah ﷺ menyebut Khalid sebagai salah satu pedang Allah. Dari sanalah ia dikenal sebagai Saifullah. (HR. Al-Bukhari, no. 4262).

Hidayah mengubah arah hidupnya.

Tentu perubahan keimanan para sahabat tidak dapat disamakan dengan perubahan pilihan politik. Keduanya berbeda dalam hakikat dan kedudukannya. Namun perjalanan mereka mengajarkan satu hal: manusia tidak harus selamanya menjadi seperti dirinya pada masa lalu.

Sayangnya, kita sering memperlakukan orang lain seolah-olah perubahan itu mustahil. Sekali keliru, selamanya dicurigai. Sekali berbeda pandangan, selamanya dianggap lawan. Bahkan ketika seseorang memperbaiki diri, masih saja muncul komentar, “Paling-paling ana karepe.”

Boleh jadi memang ada kepentingan. Boleh jadi pula ada pemahaman baru, pengalaman yang mendewasakan, atau kesadaran yang sebelumnya belum tumbuh. Masalahnya muncul ketika kita sudah menutup semua kemungkinan selain kesimpulan yang telanjur kita sukai.

Di sinilah penyakit hati mulai bekerja.

Pengamat merasa paling tahu. Pengikut merasa paling setia. Pelaku perubahan pun bisa merasa paling benar.

Dalam psikologi kontemporer dikenal istilah motivated reasoning, yaitu kecenderungan menalar dengan dipengaruhi oleh kesimpulan yang ingin dipertahankan. Informasi yang mendukung keyakinan lebih mudah diterima, sedangkan informasi yang mengganggunya diperiksa dengan kecurigaan lebih besar.

Kajian mengenai partisan bias juga menunjukkan bagaimana keberpihakan kelompok dapat memengaruhi cara seseorang mencari, mempercayai, dan mengingat informasi. Mekanismenya tidak selalu sederhana, tetapi gejalanya cukup akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika tokoh yang tidak kita sukai melakukan sesuatu, kesalahannya mudah terlihat. Sebaliknya, ketika tokoh pujaan melakukan tindakan serupa, kita sibuk mencari alasan pembenar.

Yang satu dianggap berkhianat. Yang lain disebut sedang berijtihad.

Yang satu dituduh mengejar jabatan. Yang lain dipuji sedang mengambil tanggung jawab.

Padahal tindakannya belum tentu jauh berbeda.

Kadang bukan kebenaran yang sedang kita bela, melainkan harga diri karena telanjur membela.

Penyakit ini tidak mengenal batas politik. Ia bisa tumbuh di lingkungan dakwah, organisasi, lembaga pendidikan, bahkan dalam pertemanan. Semakin kuat seseorang melekatkan harga dirinya pada tokoh atau kelompok tertentu, semakin berat baginya mengakui kekeliruan mereka.

Penilaian yang belum matang sering tidak berhenti sebagai pikiran pribadi. Ia diceritakan, dikomentari, lalu disebarkan. Satu potongan ucapan berubah menjadi kesimpulan tentang keseluruhan pribadi seseorang.

Dahulu, kabar berpindah dari mulut ke mulut. Sekarang cukup satu jempol. Bahkan sebelum sempat berpikir, cerita sudah berkeliling ke mana-mana.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan segala sesuatu yang didengarnya.” (HR. Muslim, no. 5, dalam Muqaddimah Shahih Muslim).

Tidak semua yang didengar harus diceritakan. Tidak semua yang diketahui harus diumumkan. Apalagi diviralkan.

Bahkan setelah suatu informasi terbukti benar, masih ada pertanyaan yang harus dijawab: apakah menyebarkannya mendatangkan manfaat, atau justru membuka pintu prasangka dan merusak kehormatan orang lain?

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12).

Ayat ini bukan larangan untuk berpikir kritis, memeriksa tindakan, atau meminta pertanggungjawaban. Tetapi ada jarak antara mengkritik tindakan dan menjadikan kekeliruan seseorang sebagai bahan sindiran serta pergunjingan.

Kita boleh mengkritik keputusan politik. Boleh mempertanyakan konsistensi seorang tokoh. Boleh menelusuri alasan dan akibat kebijakannya. Tetapi penilaian terhadap tindakan tidak memberi kita kewenangan untuk memastikan isi hati seseorang.

Sementara bagi pelaku perubahan, persoalannya juga tidak ringan.

Berubah pikiran bukan aib apabila didorong oleh pengetahuan dan pertimbangan yang lebih baik. Mengoreksi kekeliruan bukan kelemahan. Namun perubahan tidak otomatis menjadi kebajikan hanya karena diberi nama kedewasaan, rekonsiliasi, atau kemaslahatan.

Ada prinsip yang harus dijaga. Ada amanah yang mesti dipertanggungjawabkan. Ada kepentingan diri yang harus terus diperiksa.

Tidak setiap perubahan berarti kemajuan. Tidak setiap keteguhan berarti istiqamah. Bisa jadi seseorang memang teguh di atas kebenaran. Bisa pula ia sekadar keras kepala mempertahankan kesalahan.

Maka ora patheken perlu ditempatkan secara proporsional. Tidak ambil pusing terhadap celaan yang tidak berdasar merupakan keteguhan. Tetapi menutup telinga terhadap nasihat yang benar justru bisa menjadi kesombongan.

Ora patheken bukan berarti ora mempan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' ‘Ulum ad-Din, pada pembahasan Riyadhat an-Nafs wa Tahdzib al-Akhlaq, menjelaskan bahwa akhlak dapat mengalami perubahan melalui latihan dan pendidikan jiwa. Jika akhlak sama sekali tidak mungkin diperbaiki, nasihat, pembinaan, dan upaya mendidik manusia akan kehilangan maknanya.

Pandangan ini memberi harapan sekaligus tanggung jawab.

Harapan, karena kesalahan masa lalu tidak harus menjadi penjara seumur hidup. Tanggung jawab, karena perubahan yang baik memerlukan usaha, mujahadah, dan kesediaan mengoreksi diri.

Namun ada sesuatu yang sering luput. Kita begitu bersemangat menuntut orang lain berubah, tetapi tidak selalu bersedia memperbarui penilaian kita sendiri.

Orang lain sudah meninggalkan keburukannya, sementara kita masih memelihara cerita lama tentang dirinya. Orang lain sedang memperbaiki akhlaknya, sementara kita tetap menikmati kesalahannya sebagai bahan perbincangan.

Seolah-olah kita lebih senang memiliki bukti bahwa penilaian kita dahulu benar daripada menyaksikan seseorang benar-benar menjadi lebih baik.

Di titik inilah muhasabah diperlukan.

Mulailah dengan tabayyun. Bedakan fakta dari dugaan, informasi dari tafsiran, dan kritik terhadap tindakan dari prasangka terhadap pribadi. Jangan menjadikan potongan pernyataan, kabar berantai, atau komentar pengikut sebagai dasar untuk menyimpulkan keseluruhan pribadi seseorang.

Kemudian latih tawadhu. Akui kemungkinan bahwa pengetahuan kita belum lengkap. Pengalaman orang lain boleh jadi lebih panjang daripada yang tampak di layar. Ada pertimbangan yang belum kita ketahui, meskipun ketidaktahuan itu tidak mengharuskan kita menyetujui setiap keputusannya.

Setelah itu, lakukan mujahadah. Lawan dorongan untuk selalu memenangkan pendapat sendiri. Beranilah mengakui bahwa tokoh yang kita sukai dapat melakukan kesalahan, sementara orang yang tidak kita sukai tetap mungkin melakukan kebaikan.

Kesetiaan kepada kebenaran menuntut ukuran yang sama, baik kepada kawan maupun lawan.

Dan yang paling berat, arahkan pemeriksaan itu kepada diri sendiri.

Seandainya suatu hari kita menemukan bukti bahwa penilaian selama ini keliru, apakah kita bersedia mengubahnya? Ataukah kita akan terus mencari alasan agar tidak perlu mengakui kesalahan?

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32).

Ayat ini menuntun kita meninggalkan perasaan paling bersih, paling lurus, dan paling memahami persoalan.

Sebab seseorang dapat benar dalam satu perkara, tetapi keliru dalam perkara lain. Ia bisa memiliki pengalaman luas, namun tetap membutuhkan nasihat. Ia dapat berhasil menilai kesalahan orang lain, tetapi gagal mengenali kesombongan yang tumbuh dalam dirinya sendiri.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami‘ al-‘Ulum wa al-Hikam, ketika membahas hadis tentang perjalanan amal dan penutup kehidupan, mengingatkan pentingnya memperhatikan akhir perjalanan seseorang. Keadaan yang tampak hari ini tidak dengan sendirinya memastikan bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya.

Kesadaran itu semestinya melahirkan dua sikap sekaligus: harapan terhadap orang lain dan kewaspadaan terhadap diri sendiri.

Kita berharap orang lain diberi kesempatan memperbaiki diri, sembari memohon agar kebaikan kita sendiri tidak berubah menjadi kesombongan.

Sebab bukan hanya mereka yang bisa berubah. Kita pun bisa.

Orang yang hari ini kita pandang buruk boleh jadi sedang berjalan menuju kebaikan. Sebaliknya, orang yang hari ini merasa paling lurus belum tentu terbebas dari kemungkinan tergelincir.

Maka jangan terlalu cepat mematenkan orang lain. Jangan pula terlalu percaya diri mematenkan kebaikan sendiri.

Kita boleh menilai perbuatan. Boleh mengkritik keputusan. Boleh berbeda pandangan. Tetapi jangan merasa telah mengetahui akhir perjalanan seseorang.

Ora patheken terhadap celaan yang tak berdasar. Tetapi jangan sampai ora mempan terhadap nasihat yang benar.

Sebab yang patut lebih kita khawatirkan bukan semata-mata bagaimana orang lain berubah, melainkan bagaimana kita sendiri akan berakhir.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6607).


Referensi dan Rujukan

  1. Al-Qur'an al-Karim. QS. Al-Hujurat: 6, 12; QS. An-Najm: 32.
  2. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, pembahasan Perang Mu'tah, hadis no. 4262; Kitab al-Qadar, Bab al-'Amal bi al-Khawatim, hadis no. 6607.
  3. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, Muqaddimah, Bab an-Nahy 'an al-Hadits bi Kulli ma Sami'a, hadis no. 5.
  4. Ibnu Hisyam, Abdul Malik. As-Sirah an-Nabawiyyah, pembahasan Perang Uhud, Fathu Makkah, dan keislaman Khalid bin Walid.
  5. Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A'lam an-Nubala', biografi Umar bin Khattab, Abu Sufyan, dan Khalid bin Walid.
  6. Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulum ad-Din, Kitab Riyadhat an-Nafs wa Tahdzib al-Akhlaq wa Mu'alajat Amradh al-Qalb, bagian Bayan Qabul al-Akhlaq li at-Taghyir bi Thariq ar-Riyadhah.
  7. Ibnu Rajab al-Hanbali. Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, syarah hadis keempat, pembahasan tentang perjalanan amal dan penutup kehidupan.
  8. Kunda, Ziva. “The Case for Motivated Reasoning.” Psychological Bulletin, Vol. 108, No. 3, 1990, hlm. 480–498.
  9. Ditto, Peter H., Jared B. Celniker, Shiri Spitz Siddiqi, Mertcan Güngör, dan Daniel P. Relihan. “Partisan Bias in Political Judgment.” Annual Review of Psychology, Vol. 76, 2025, hlm. 717–740.

Artikel Populer

Kumingsun

Dolane Kurang Adoh

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...