Dolane Kurang Adoh

Dolane Kurang Adoh

Tentang khilaf, nyinyir, dan hati yang belum menep dalam ilmu

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Beberapa hari ini saya mengikuti keramaian setelah terbit buku Ustadz Adi Hidayat tentang Syaikh Al-Albani, Syaikh Albani di Antara Muhaddits dan Bahitsul Hadits. Ada yang membahas bukunya, ada yang membantah, ada yang membela Al-Albani, ada pula yang membela Ustadz Adi Hidayat. Itu biasa.

Yang menarik justru ketika perdebatan mulai bergeser dari argumentasi menjadi sindiran, dari membahas pendapat menjadi membahas orang. Lalu muncul satu hal yang sangat akrab di media sosial: nyinyir.

Melihat beberapa komentar, saya malah teringat ungkapan sederhana yang kadang dipakai orang Jawa ketika melihat seseorang terlalu cepat bicara tentang sesuatu yang belum banyak ia kenal:

“Dolane kurang adoh.”

Bukan berarti kurang piknik. Kadang yang kurang jauh bukan perjalanan kakinya, tetapi perjalanan pikirannya.


Pernah Gumun

Saya pernah berada di fase itu. Pernah mendengar seorang ustadz menjelaskan suatu masalah dengan hafalan yang luas, ayat dan hadis mengalir, penjelasannya runtut, jawabannya cepat, lalu dalam hati muncul rasa gumun:

“Wong kok cerdase koyok ngono.”

Dan itu manusiawi. Kita bertemu seseorang yang membuka pintu-pintu pengetahuan yang sebelumnya tidak kita kenal. Banyak pertanyaan seperti mendapat jawabannya. Sesuatu yang sebelumnya terasa ruwet menjadi sederhana. Lalu kita mengikuti kajiannya, membaca tulisannya, mengutip pendapatnya, dan semakin lama semakin banyak jawaban yang kita dapatkan.

Masalahnya bukan pada kekaguman. Masalah mulai muncul ketika kekaguman yang semestinya menjadi pintu belajar perlahan berubah menjadi pagar. Dari “beliau alim sekali” bergeser menjadi “kalau beliau mengatakan begitu, berarti memang begitu”, lalu “kalau ada ulama lain berbeda, kok bisa?”, sampai akhirnya: “Ulama kok pendapatnya begini?”

Kita tidak sadar bahwa perjalanan kita berhenti di rumah orang yang kita kagumi.


Kampung Sendiri

Fase seperti itu juga pernah saya rasakan ketika mulai akrab dengan kajian yang sangat menekankan dalil. “Dalilnya mana?”, “Apakah Nabi mencontohkan?”, “Hadisnya sahih?” Pertanyaan-pertanyaan itu baik. Meminta dalil tentu bukan masalah.

Tetapi pada fase yang belum matang, agama terasa menjadi sangat sederhana. Kita mendapat banyak ayat, banyak hadis, banyak perkataan ulama, banyak argumentasi. Semuanya terasa sangat kuat, apalagi yang membawakan dalil itu orang-orang dari lingkungan yang kurang lebih sama, membaca buku yang sama, mengutip ulama yang sama, dan sampai pada kesimpulan yang kurang lebih sama.

Lalu muncullah satu kata:

pokoke.

Pokoke ngene. Pokoke dalile jelas. Pokoke Nabi ora tau nggawe. Pokoke sing bener iki.

Anehnya, ngeyel semacam ini tidak selalu lahir karena kita kekurangan dalil. Kadang justru lahir karena merasa mempunyai terlalu banyak dalil, hanya saja hampir semuanya datang dari kampung sendiri. Kita mengenal setiap gangnya, hafal rumah-rumahnya, tahu jalan pintasnya, kemudian tanpa sadar merasa telah mengenal seluruh kota.

Padahal belum tentu.

Banyak mengutip belum tentu dolane adoh. Bisa jadi kita hanya mondar-mandir di halaman rumah guru yang sama.


Ternyata Jalannya Panjang

Setelah berjalan sedikit lebih jauh, barulah kita menemukan bahwa pertanyaan sederhana “dalilnya mana?” ternyata mempunyai banyak pertanyaan lanjutan. Dalil yang mana? Bagaimana kesahihannya? Bagaimana lafaznya dipahami? Umum atau khusus? Mutlak atau muqayyad? Adakah dalil lain yang membatasinya? Adakah hadis lain yang tampak bertentangan sehingga perlu dijamak? Bagaimana para sahabat memahaminya? Bagaimana fuqaha menarik hukum darinya? Apakah tidak adanya contoh langsung dari Nabi selalu berarti larangan? Apakah ini wilayah ibadah mahdhah, adat, muamalah, atau persoalan ijtihadi?

Belum lagi perbedaan dalam qiyas, amal ahl al-Madinah, qaul sahabi, mafhum, istishab, maslahat, dan sekian pintu ushul lainnya. Ternyata perjalanan dari sebuah nash menuju kesimpulan hukum kadang lebih panjang daripada yang tampak dalam video dua menit.

Maka semakin banyak kitab fikih perbandingan dibuka, semakin banyak pula kejutan. Abu Hanifah bisa berbeda dengan Malik. Malik berbeda dengan Syafi'i. Syafi'i mengkritik gurunya. Dari Imam Ahmad sendiri dalam satu persoalan bisa terdapat dua riwayat, bahkan lebih. Ibnu Hazm mempunyai sejumlah pilihan yang sangat jauh dari jumhur. Ibn Taymiyyah mempunyai tarjih yang pada zamannya ditentang keras oleh fuqaha lain. Al-Albani juga mempunyai pendapat yang tidak diterima banyak ulama.

Lalu siapa yang hendak kita tertawakan?

Kalau semua pendapat yang terasa aneh menurut kampung kita dijadikan bahan olok-olok, semua mazhab akan mempunyai bahan untuk saling menertawakan. Tidak akan selesai.


Dari Gumun Menjadi Nyinyir

Mungkin perjalanan yang belum matang sering berjalan seperti ini: gumun — menjadi penggemar — banyak mengutip — merasa argumen sudah lengkap — pokoke — ngeyel. Kalau tidak hati-hati, ada satu tahap berikutnya: nyinyir.

Inilah yang lebih dalam daripada sekadar sindiran. Orang yang berbeda tidak lagi cukup dianggap keliru. Ada semacam kenikmatan ketika menunjukkan kekeliruannya. Potongan pendapatnya disebarkan, diberi lingkaran merah, ditambahi kalimat “Ulama kok begini?” atau “Katanya ahli hadis?”, kadang ditutup emoji tertawa.

Padahal ada perbedaan besar antara kritik dan nyinyir. Kritik ingin menunjukkan letak kesalahan. Nyinyir juga ingin menunjukkan siapa yang lebih hebat. Kritik bisa mengatakan, “Dalam masalah ini saya menilai dalil beliau lemah.” Nyinyir ingin menambahkan, “Begitu saja kok tidak paham.”

Di sinilah persoalannya mulai berpindah dari fikih menuju hati.


Ketika Membantah Menjadi Kenikmatan

Imam al-Ghazali membicarakan penyakit semacam ini ketika menjelaskan mira’ dan jidal dalam pembahasan penyakit lisan. Seseorang bisa sangat sibuk mencari cacat dalam perkataan lawan—pada lafaznya, maknanya, bahkan maksudnya—bukan semata-mata karena mencintai kebenaran, tetapi karena ada keinginan menampakkan kelebihan dirinya dan kekurangan orang lain.

Ini yang menakutkan. Sebab nafsu tidak selalu datang dengan ajakan, “Tolak dalil.” Kadang ia datang dengan pakaian yang jauh lebih indah: “Bela kebenaran.”

Kita merasa sedang membela sunnah, sedang meluruskan, sedang menjaga umat. Bisa jadi memang demikian. Tetapi hati tetap perlu ditanya: kalau kebenaran itu keluar dari mulut orang yang tidak saya sukai, apakah saya tetap bergembira? Kalau kekeliruan justru ditemukan pada guru yang saya kagumi, apakah saya masih memakai timbangan yang sama?

Mengapa ketika pendapat ganjil datang dari ulama “kampung sebelah” kita begitu cepat berkata, “Syadz.” Tetapi ketika pendapat yang sama ganjilnya keluar dari imam yang kita cintai, mendadak kita menjadi ahli ushul yang sangat sabar: “Jangan dipotong. Baca dulu alasannya. Pahami konteksnya. Lihat metode istidlalnya. Tidak sesederhana itu.”

Lho. Mengapa keadilan ilmiah baru bekerja setelah kita mengetahui siapa orangnya?

Allah mengingatkan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Ma'idah: 8)

Kalau kepada orang yang kita tidak sukai saja Allah memerintahkan keadilan, mestinya ilmu membuat timbangan kita semakin lurus—bukan justru semakin mudah berubah mengikuti siapa yang sedang ditimbang.


Pokoke dan Kesombongan

Rasulullah ﷺ menjelaskan kesombongan dalam kalimat yang pendek:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)

Dua-duanya ternyata bisa hadir dalam perdebatan ilmu. بَطَرُ الْحَقِّ adalah menolak kebenaran. Kadang wujudnya sederhana: ngeyel. Argumennya sudah layak dipertimbangkan, tetapi karena datang dari orang yang tidak kita sukai, hati berat menerimanya. Karena kalau diterima, seolah-olah “kampung kita” kalah.

Lalu غَمْطُ النَّاسِ, merendahkan manusia. Di sinilah nyinyir tumbuh. Tidak cukup mengatakan pendapatnya lemah; orangnya juga perlu dibuat kecil. Tidak cukup membantah kesimpulannya; martabatnya ikut diseret. Tidak cukup mengatakan “saya tidak setuju”; harus ditambahkan, “Begitu kok disebut ulama?”

Padahal kebenaran sebuah bantahan tidak membutuhkan penghinaan agar menjadi lebih benar.


Ulama Bisa Salah

Ibn al-Qayyim mengingatkan tentang zallat al-‘alim—tergelincirnya seorang alim. Seorang alim tetap manusia. Ia bisa salah. Karena tidak maksum, perkataannya tidak boleh ditempatkan seperti perkataan orang yang maksum. Ini penting terutama ketika kekaguman kepada guru mulai berubah menjadi pembelaan terhadap setiap ucapannya.

Tetapi al-Syathibi memberi keseimbangan yang tidak kalah penting. Ketika membicarakan kekeliruan seorang alim, ia menjelaskan bahwa kekeliruannya memang tidak boleh diikuti. Namun kesalahan itu juga tidak semestinya dijadikan alasan untuk menjelek-jelekkannya atau menjatuhkan kedudukannya.

Indah sekali timbangannya:

kesalahannya tidak diikuti, orangnya tidak direndahkan.

Tidak perlu fanatik membela semua perkataan ulama yang kita cintai. Tetapi tidak perlu pula nyinyir ketika menemukan kesalahan ulama yang tidak kita sukai.

Al-Albani bisa salah. Ibnu Hazm bisa salah. Ibn Taymiyyah bisa salah. Ibn al-Qayyim bisa salah. Abu Hanifah bisa salah. Malik bisa salah. Syafi'i bisa salah. Ahmad bisa salah. Mengatakan kemungkinan itu tidak merendahkan mereka, justru karena mereka bukan Nabi.

Masalahnya muncul ketika satu kesalahan seorang alim kita jadikan alasan untuk membuang seluruh keilmuannya. Atau sebaliknya, karena terlalu mencintainya, setiap kesalahannya harus dicarikan pembelaan. Dua-duanya bisa lahir dari akar yang sama: kita sudah menentukan siapa yang harus menang sebelum membaca persoalannya.


Enam atau Tujuh Jalan

Ada ucapan Imam Ahmad yang menarik. Diriwayatkan bahwa beliau mengatakan:

نَحْنُ كَتَبْنَا الْحَدِيثَ مِنْ سِتَّةِ وُجُوهٍ وَسَبْعَةِ وُجُوهٍ لَمْ نَضْبِطْهُ، فَكَيْفَ يَضْبِطُهُ مَنْ كَتَبَهُ مِنْ وَجْهٍ وَاحِدٍ؟

Kurang lebih: “Kami menulis hadis dari enam atau tujuh jalur, tetapi belum juga benar-benar menguasainya. Lalu bagaimana orang yang menulisnya hanya dari satu jalur akan menguasainya?”

Saya berhenti cukup lama di sini. Enam atau tujuh jalur, masih berhati-hati. Kita kadang baru mendapat satu video, satu potongan ceramah, satu thread, satu screenshot, lalu sudah sampai pada: pokoke.

Bisa jadi yang kurang bukan semangat kita mencari dalil. Yang kurang hanyalah perjalanan kita melihat dalil itu dari arah yang lain.


Dolane Adoh

Tetapi dolane adoh juga bukan sekadar membaca lebih banyak buku. Ada orang membaca banyak kitab tetapi semakin sombong. Ada yang hafal banyak pendapat tetapi semua hanya dipakai menjadi amunisi untuk memenangkan kelompoknya. Ia pernah keluar dari kampung, tetapi sepanjang perjalanan hanya mencari orang sekampung.

Maka ilmu masih membutuhkan perjalanan yang lain: perjalanan hati.

Semakin jauh seseorang berjalan dalam ilmu, mestinya semakin sering ia menemukan bahwa dunia tidak sesederhana yang dahulu ia bayangkan. Yang semula dianggap tidak punya pijakan, ternyata mempunyai cara memahami dalil yang berbeda. Yang semula kita kira pendapat aneh seorang ulama, ternyata pernah dikatakan ulama sebelumnya. Yang semula kita sangka sudah tidak diperselisihkan, ternyata kitab-kitab mencatat khilaf di dalamnya. Yang semula kita anggap khilaf kuat, setelah diteliti ternyata memang lemah.

Perjalanan itu tidak membuat semuanya menjadi relatif. Yang kuat tetap bisa dikatakan kuat, yang lemah tetap boleh disebut lemah, yang salah tetap bisa dibantah.

Tetapi ada sesuatu yang berubah:

kita semakin sulit merendahkan.


Lalu Menep

Di sinilah saya teringat kata lain: menep.

Dolane adoh membuat seseorang melihat banyak hal. Menep membuatnya tidak gampang ribut karena semua yang dilihatnya.

Orang yang menep bukan orang yang kehilangan pendirian. Ia masih memilih, masih mentarjih, masih bisa berkata, “Dalam persoalan ini saya lebih cenderung kepada pendapat tersebut.” Tetapi ia tidak membutuhkan nyinyir agar pendapatnya terasa kuat. Ia mampu mengatakan, “Saya menilai beliau salah dalam masalah ini,” tanpa harus mengatakan, “Beliau memang tidak paham.”

Ada jarak antara mengoreksi dan merendahkan. Ada jeda antara terkejut dan menghakimi. Mungkin kematangan justru tampak pada kemampuan menjaga jeda tersebut.

Semakin luas seseorang mengenal khilaf, semestinya semakin lambat tangannya menertawakan. Bukan karena ia tidak lagi mengenal benar dan salah, tetapi karena ia mulai tahu bahwa jalan seorang alim menuju satu kesimpulan kadang sangat panjang—jauh lebih panjang daripada potongan yang lewat di layar telepon kita.


Kita Pernah di Sana

Mudah sekali menggunakan kalimat “Dolane kurang adoh” untuk menunjuk orang lain. Yang lebih sulit adalah menggunakannya untuk bercermin.

Saya pernah gumun, pernah terlalu mudah merasa “ini jelas”, pernah merasa jawaban dari lingkungan sendiri sudah cukup untuk melihat semuanya, pernah pokoke, pernah ngeyel, mungkin juga pernah nyinyir.

Karena itu dolane kurang adoh jangan sampai berubah menjadi ejekan baru kepada orang yang kita anggap belum matang. Kalau itu terjadi, kita hanya memindahkan nyinyir dari satu kampung ke kampung lainnya.

Lebih baik ia menjadi pertanyaan untuk diri sendiri: sudah sejauh apa sebenarnya kita berjalan? Berapa banyak jalan yang sudah kita lihat? Berapa banyak pendapat yang sungguh-sungguh kita pahami sebelum membantahnya?

Dan setelah berjalan sejauh itu—

sudahkah hati ikut menep?

Sebab kadang yang terlalu jauh bukan perjalanan ilmunya. Yang terlalu jauh justru kesimpulannya.

Sementara dolane,

isih kurang adoh.



Rujukan:

Al-Qur'an, QS. al-Ma'idah: 8.
Muslim bin al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis no. 91.
Abu Hamid al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum al-Din, Kitab Afat al-Lisan, pembahasan tentang al-mira’ wa al-jidal.
Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, I‘lam al-Muwaqqi‘in ‘an Rabb al-‘Alamin, pembahasan tentang zallat al-‘alim dan ketidakmaksuman ulama.
Abu Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat, pembahasan tentang zallat al-‘alim.
Syamsuddin al-Dzahabi, Siyar A‘lam al-Nubala’, biografi Imam Ahmad bin Hanbal; lihat pula Ibn Rajab al-Hanbali, Syarh ‘Ilal al-Tirmidzi.

Artikel Populer

Cakra Manggilingan

Ojo Sembrono

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...