Kumingsun

Kumingsun

Ketika “aku” berdiri terlalu tinggi di belakang pengalaman, ilmu, dan jabatan

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai


 

Ada satu kalimat yang terdengar biasa dalam banyak percakapan: “Dari dulu caranya memang begini.” Tidak selalu diucapkan dengan suara tinggi. Bisa jadi yang mengatakannya memang telah puluhan tahun menggeluti pekerjaan itu, pernah melewati persoalan yang tidak diketahui orang-orang baru, pernah mencoba jalan yang ternyata buntu, dan pernah menyelesaikan masalah yang tidak tercatat dalam laporan. Pengalaman seperti itu tentu berharga. Masalahnya bukan pada kata dulu atau lamanya seseorang bekerja. Masalah mulai muncul ketika pengalaman tidak lagi diletakkan sebagai bahan pertimbangan, tetapi berubah menjadi palang pintu: karena aku lebih lama, maka percakapan selesai.

Orang Jawa mengenal satu kata yang terasa dekat dengan keadaan itu: kumingsun. Berasal dari ingsun—aku. Namun kumingsun bukan sekadar keberadaan “aku”. Ia menggambarkan keakuan yang membesar, ketika seseorang diam-diam menempatkan dirinya lebih tinggi. Ia tidak harus tampil dengan dada membusung atau berkata, “Aku paling hebat.” Ia bisa bersembunyi di belakang pengalaman, ilmu, umur, gelar, jabatan, masa pengabdian, bahkan niat baik.

Al-Qur'an mengingatkan:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”
QS An-Najm: 32

Ibnu Katsir menjelaskan falā tuzakkū anfusakum sebagai larangan memuji dan menyanjung diri serta membanggakan amal yang telah dilakukan. Manusia tentu boleh mengetahui kemampuannya. Pengalaman perlu dihargai, ilmu harus digunakan, jasa patut disyukuri. Tetapi mengetahui apa yang Allah titipkan kepada diri berbeda dengan memberikan sertifikat kepada diri bahwa karena semua itu, kita pasti lebih benar.

Pengalaman adalah fakta. Gelar adalah fakta. Jabatan dan jasa pun fakta. Semuanya dapat memberi bobot, tetapi tidak satu pun menjadikan pemiliknya kebal dari kekeliruan.

Di sinilah kumingsun menjadi halus. Yang senior bisa merasa lebih tahu karena telah lama berjalan. Yang muda bisa merasa lebih tahu karena membawa ilmu dan perangkat terbaru. Yang lama memiliki pengalaman. Yang baru mempunyai perspektif segar. Keduanya mempunyai sesuatu yang berharga. Keduanya juga dapat mempunyai penyakit yang sama: aku.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din, ketika menjelaskan hakikat kibr, menulis:

الِاسْتِرْوَاحُ وَالرُّكُونُ إِلَى رُؤْيَةِ النَّفْسِ فَوْقَ الْمُتَكَبَّرِ عَلَيْهِ

Kurang lebih: hati merasa nyaman dan menetap pada pandangan bahwa dirinya berada di atas orang lain.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa kibr berbeda dari 'ujb. 'Ujb dapat terjadi pada seseorang terhadap dirinya sendiri, sedangkan kibr melibatkan orang lain: seseorang melihat kedudukan dirinya, melihat kedudukan orang lain, lalu menempatkan dirinya di atas orang tersebut.

Aku lebih lama.
Aku lebih berilmu.
Aku lebih tahu keadaan.
Aku yang memimpin.

Semua mungkin benar sebagai fakta. Tetapi apakah fakta-fakta itu diam-diam membuat kita menyusun manusia di dalam hati: aku di atas, dia di bawah?

Kumingsun belum tentu selalu menjelma menjadi kesombongan yang tampak. Tetapi ketika “aku” mulai ditempatkan di atas orang lain, wilayah yang dijelaskan Al-Ghazali tentang kibr mulai terasa dekat.

Rasulullah ﷺ memberikan ukuran yang sangat terang:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”
HR Muslim

Maka salah satu ujian paling jujur terhadap “aku” bukanlah seberapa sederhana penampilan kita, tetapi bagaimana sikap kita ketika kebenaran datang dari orang yang tidak kita perhitungkan. Bisakah seorang senior menerima gagasan baik dari yang lebih muda? Bisakah pimpinan menerima koreksi bawahan? Dan bisakah kita membedakan antara mempertahankan kebenaran dengan mempertahankan harga diri karena tidak ingin terlihat salah?

Di sinilah pengalaman bisa menjadi hikmah, tetapi bisa pula menjadi tembok.

Pengalaman semestinya membuat seseorang semakin kaya pertimbangan, bukan semakin miskin kemungkinan. Orang yang sudah lama berjalan justru telah menyaksikan begitu banyak keputusan yang dahulu diyakini benar, tetapi kemudian harus ditinjau kembali. Semakin panjang perjalanan, mestinya semakin banyak alasan untuk menyadari bahwa pengetahuan manusia tidak pernah selesai.

Sebaliknya, kebaruan juga bukan dalil. Tidak semua yang baru lebih baik hanya karena lebih modern. Ada pengetahuan yang tidak tercatat dalam buku, tidak muncul dalam aplikasi, dan tidak tersusun dalam tabel. Ia tersimpan sebagai pengalaman orang-orang yang telah lama bersentuhan dengan kenyataan.

Yang lama bersedia diuji. Yang baru bersedia mendengar.

Perubahan sering menjadi saat ketika “aku” paling mudah terlihat. Yang sebelumnya by asumsi mulai diperiksa by data. “Menurut saya sudah baik,” bertemu dengan pertanyaan, “Targetnya berapa, dan capaiannya berapa?” Data tentu bukan segala-galanya, tetapi ia dapat menjadi cermin bagi kesan yang selama ini kita bangun tentang pekerjaan kita sendiri.

Namun target, capaian, disiplin, dan evaluasi bukan tujuan akhir. Al-Qur'an mengarahkan kita lebih tinggi:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”
QS Al-Mulk: 2

Yang dicari bukan sekadar pekerjaan selesai, bukan pula angka terlihat bagus, tetapi ahsanu ‘amalan—amal yang semakin baik dan semakin layak dipersembahkan dengan mengharap ridha Allah. Karena itu yang lama tidak cukup berkata, “Saya sudah lama mengabdi,” dan yang baru tidak cukup berkata, “Sistem ini lebih modern.” Keduanya tetap perlu bertanya: apakah ini benar-benar yang lebih baik, lebih maslahat, dan lebih dekat kepada ridha-Nya?

Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, ketika membahas muhasabah, mengingatkan:

حُسْنُ الظَّنِّ بِالنَّفْسِ يَمْنَعُ مِنْ كَمَالِ التَّفْتِيشِ

“Berbaik sangka kepada diri sendiri menghalangi kesempurnaan dalam memeriksanya.”

Beliau menjelaskan bahwa seseorang dapat melihat keburukannya sebagai kebaikan dan kekurangannya sebagai kesempurnaan ketika ia terlalu baik sangka kepada dirinya sendiri.

Di sinilah muhasabah menjadi lebih dari sekadar istilah yang indah dalam majelis. Muhasabah kadang datang sebagai kritik, sebagai angka yang tidak sesuai harapan, atau sebagai usulan dari orang yang sebelumnya tidak kita perhitungkan. Dan justru pada saat-saat seperti itulah kita dapat melihat: yang sedang kita bela benar-benar sebuah kebenaran, atau hanya citra bahwa selama ini kita sudah benar?

Tentu tawadhu tidak berarti kehilangan pendirian. Tidak setiap pendapat orang lain harus diterima dan tidak semua perubahan harus disetujui. Seseorang boleh bertahan pada pendapatnya setelah argumen ditimbang, kenyataan diperiksa, maslahat dipertimbangkan, dan ruang untuk mendengar benar-benar diberikan.

Karena ada perbedaan besar antara:

“Setelah saya pertimbangkan, saya tetap berpendapat demikian.”

dengan:

“Pokoke aku luwih ngerti.”

Yang pertama masih menyediakan tempat bagi kebenaran; yang kedua sudah menyediakan singgasana bagi “aku”.

Sebab boleh jadi yang kita pertahankan bukan lagi sebuah pendapat.

Yang kita pertahankan adalah aku yang tinggal di dalam pendapat itu.

Itulah mengapa kumingsun sulit dikenali. Ia bisa memakai pakaian pengabdian: aku sudah lama berjuang. Memakai pakaian ilmu: aku lebih memahami bidang ini. Bahkan memakai pakaian tanggung jawab: akulah yang memimpin.

Tidak semuanya salah.

Nafs hanya memerlukan satu tambahan kecil:

karena itu, aku lebih tinggi.

Tazkiyatun nafs tidak mengajarkan kita membuang pengalaman, merendahkan ilmu, menyembunyikan kemampuan, atau takut mengambil keputusan. Semua itu nikmat yang harus dipakai sebaik-baiknya.

Yang perlu diturunkan bukan ilmu, pengalaman, atau keberanian membawa perubahan.

Yang perlu diturunkan adalah “aku” yang berdiri terlalu tinggi di belakang semuanya.

Sebab yang dicari bukan kemenangan pendapat, melainkan ahsanu ‘amalan dan ridha Allah.

Barangkali salah satu tanda kematangan bukan ketika orang lain akhirnya mengakui betapa banyak yang telah kita ketahui.

Tetapi ketika, setelah sekian panjang pengalaman, kita masih sanggup berkata:

“Bisa jadi saya keliru. Mari kita lihat lagi.”


Referensi:

  1. Al-Qur'an, QS An-Najm [53]: 32. Tafsir Ibnu Katsir pada frasa فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ.
  2. Al-Qur'an, QS Al-Mulk [67]: 2.
  3. Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Iman, hadis tentang الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ.
  4. Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din, Kitab Dzamm al-Kibr wa al-'Ujb, pembahasan hakikat kibr.
  5. Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Manzilat al-Muhasabah.

Artikel Populer

Dolane Kurang Adoh

Ngelak, Nglunjak

Cakra Manggilingan

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...