Sumringah, Ora Bungah

Sumringah, Ora Bungah

Menjaga kehormatan di tengah kekurangan

✒️ Tsaqif Rasyid Dai

 


Murid pertamanya kini telah menjadi dosen agama. Ia sendiri masih setia mengajarkan Alif, Ba, Ta, Tsa.

Rambutnya telah memutih. Usianya semakin senja. Tetapi semangat mengajarnya tak ikut menua. Anak yang terbata-bata dituntunnya. Yang lupa diajaknya mengulang. Wajahnya tetap sumringah. Ada kelapangan dada yang tidak habis oleh pengulangan, tidak surut oleh perjalanan usia. Baginya, mengajarkan huruf-huruf pertama Al-Qur'an bukanlah pekerjaan kecil.

Penampilannya sederhana, tetapi rapi. Tutur katanya hangat dan terjaga. Orang mengenalnya sebagai guru yang tenang dan bersahaja. Tidak banyak yang mengetahui betapa cermat ia harus menghitung kebutuhan hidupnya. Barangkali hanya orang-orang terdekat yang memahami keadaan sebenarnya.

Al-Qur'an telah menggambarkan orang-orang yang menjaga kehormatan di tengah kesempitan hidup:

يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ

"Orang yang tidak mengetahui keadaan mereka menyangka bahwa mereka kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta." (QS. Al-Baqarah: 273)

Ayat ini berbicara tentang orang-orang fakir yang terhalang mencari penghidupan karena pengabdian di jalan Allah. Mereka bukan orang-orang berkecukupan. Namun, kehormatan diri yang dijaga membuat orang yang tidak mengetahui keadaan mereka menyangka sebaliknya.

Ibnu Katsir, dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, menjelaskan bahwa mereka disangka kaya karena menjaga kehormatan dalam pakaian, keadaan, dan perkataan mereka:

مِنْ تَعَفُّفِهِمْ فِي لِبَاسِهِمْ وَحَالِهِمْ وَمَقَالِهِمْ

Inilah ta‘affuf. Menjaga diri dari meminta-minta dan tidak menggantungkan kehormatan kepada belas kasihan manusia.

Pakaiannya tidak harus mahal. Cukup bersih dan pantas. Keadaannya mungkin sedang sulit, tetapi ia tetap berusaha menunaikan tanggung jawab. Perkataannya tidak dipenuhi keluhan, apalagi sengaja menjadikan kesusahan sebagai alat untuk menarik simpati.

Ia tidak pernah mengaku kaya. Orang-oranglah yang telanjur menganggapnya mampu.

Namun, ta‘affuf bukan gengsi. Bukan pula keharusan menyembunyikan semua kesulitan. Meminta pertolongan ketika benar-benar membutuhkan tidak otomatis menghilangkan kehormatan seseorang. Orang yang menjaga dirinya dari meminta-minta pun tetap memiliki hak untuk diperhatikan dan dibantu.

Guru tua itu manusia biasa. Ada kebutuhan keluarga yang mesti dipenuhi. Ada pengeluaran yang harus ditunda. Ada kegelisahan yang mungkin hanya dibicarakannya dengan pasangan atau diadukannya kepada Allah.

Tetapi kesempitan hidup tidak harus membuatnya kehilangan kelapangan dalam berbuat baik.

Ia mengetahui sabda Rasulullah ﷺ:

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

"Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah." (HR. At-Tirmidzi no. 1956)

Kesadaran itu sederhana, tetapi tidak kecil. Ketika hartanya terbatas untuk disedekahkan, masih ada kebaikan yang mampu ia berikan setiap hari. Wajah yang ramah, sapaan yang menyenangkan, dan sambutan yang membuat murid-muridnya merasa diterima.

Sumringahnya bukan sandiwara untuk menutupi kesusahan. Ia menemukan kegembiraan ketika dapat mengajar, meskipun tidak seluruh persoalan hidupnya telah selesai. Kelapangan hati dalam menunaikan amanah tidak selalu berarti kelapangan dalam urusan dunia.

Lebih dari itu, ia mempunyai ilmu untuk ditularkan. Barangkali hanya beberapa huruf yang terus diulangnya dari tahun ke tahun. Tetapi ia tahu betapa besar nilai mengajarkan Al-Qur'an.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari no. 5027)

Abu Abdurrahman As-Sulami, seorang tabi'in yang meriwayatkan hadis tersebut dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dikenal mengajarkan Al-Qur'an selama bertahun-tahun, sejak masa pemerintahan Utsman hingga masa Al-Hajjaj. Ia menyebut hadis itulah yang membuatnya tetap duduk mengajar.

Guru tua itu memahami betapa pentingnya membimbing anak mengenal huruf pertama Al-Qur'an. Huruf yang kelak dirangkai menjadi bacaan, dihafalkan, dipahami, dan semoga diamalkan sepanjang kehidupan.

Murid pertamanya telah menjadi dosen agama. Barangkali sudah mengajarkan ilmu kepada ratusan mahasiswa. Sementara ia masih duduk bersama anak-anak kecil, membetulkan makhraj dan mengulang pelajaran yang sama.

Tidak ada alasan baginya untuk merasa tertinggal. Sebab kemuliaan mengajar tidak selalu diukur dari tingginya jenjang pendidikan yang ditangani. Ada pengabdian besar pada pintu pertama yang membuka jalan bagi perjalanan ilmu berikutnya.

Ia tidak sedang berlomba dengan pencapaian murid-muridnya. Ia sedang setia menunaikan bagiannya dalam perjalanan ilmu.

Ia berharap setiap huruf yang diajarkannya menjadi amal yang diterima Allah. Setiap ilmu yang bermanfaat menjadi kebaikan yang terus tumbuh. Bukan untuk dihitung-hitung sebagai jasanya, melainkan diharapkan menjadi bekal ketika kelak menghadap-Nya.

Di hadapan murid-muridnya, ia sumringah. Di hadapan manusia, ia menjaga kehormatannya. Dan kepada Allah, ia menambatkan harapan akan rida-Nya.

Tentu, keikhlasan seperti ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan seorang guru. Mengajar dengan ikhlas bukan berarti tidak membutuhkan penghasilan yang layak. Kesabaran seseorang tidak menggugurkan kewajiban orang lain untuk memenuhi haknya.

Justru di sinilah Al-Qur'an mengajarkan sesuatu yang sering luput dari perhatian.

تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

"Engkau mengenali mereka dari ciri-cirinya; mereka tidak meminta secara mendesak kepada orang lain." (QS. Al-Baqarah: 273)

As-Sa‘di, dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, menjelaskan bahwa orang yang tidak mengetahui keadaan mereka menganggap mereka kaya. Adapun orang yang memiliki kepekaan dapat mengenali keadaan mereka melalui tanda-tandanya. Kalaupun mereka meminta karena kebutuhan, mereka tidak mendesak-desak.

Berarti ayat ini tidak hanya mendidik orang yang membutuhkan agar menjaga kehormatannya. Ia juga mendidik orang yang berkecukupan agar tidak kehilangan kepekaan.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa di antara orang miskin ada yang tidak memiliki kecukupan, tetapi orang lain tidak menyadari kebutuhannya sehingga tidak memberinya sedekah, sementara ia sendiri tidak meminta-minta. (HR. Muslim no. 1039)

Mereka mungkin ada di sekitar kita. Tetangga yang tetap menyapa dengan ramah. Rekan kerja yang selalu datang rapi. Guru yang setiap pagi menyambut murid-muridnya dengan wajah cerah. Tidak pernah meminta, tetapi bukan berarti tidak membutuhkan.

Betapa mudahnya kita mengukur kecukupan orang lain dari penampilan. Lalu merasa tidak perlu lagi memperhatikan keadaannya. Padahal boleh jadi, orang yang tampak paling tenang sedang berjuang keras menjaga kehormatannya.

Sumringah, ora bungah.

Wajahnya tetap cerah, meskipun kehidupannya belum sepenuhnya lapang.

Ia tidak meminta untuk dikasihani. Tetapi bukan berarti ia tidak membutuhkan kepedulian.

Ia sedang menjaga kehormatannya. Jangan sampai kita justru kehilangan kepekaan.


Referensi dan Rujukan

  1. Al-Qur'an, QS. Al-Baqarah: 273.
  2. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, tafsir QS. Al-Baqarah: 273, pembahasan ta‘affuf.
  3. Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di, Taisir Al-Karim Ar-Rahman, tafsir QS. Al-Baqarah: 273.
  4. Imam At-Tirmidzi, Al-Jami', hadis no. 1956, tentang senyum sebagai sedekah.
  5. Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, hadis no. 5027, tentang keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an, beserta keterangan Abu Abdurrahman As-Sulami.
  6. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab Az-Zakah, hadis no. 1039, tentang orang miskin yang tidak diketahui kebutuhannya dan menjaga diri dari meminta-minta.

Artikel Populer

Kumingsun

Nandur Ora Kudu Ngundhuh

Dolane Kurang Adoh

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...