Ora Mung Ngundhuh
Ora Mung Ngundhuh
Tentang nikmat yang diterima, warisan ilmu, dan amanah yang diuji
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
Yang diserahkan bukan hanya pekerjaan. Ada sejumlah persoalan yang belum selesai, riwayat keputusan yang tidak seluruhnya terdokumentasi, dan nama besar yang sudah dikenal orang. Dari luar, semuanya tampak mapan. Kegiatan berjalan, orang-orangnya sudah ada, fasilitas pun tersedia. Tinggal meneruskan. Namun, setelah ditelusuri, tidak semua yang terlihat berjalan itu benar-benar bergerak. Catatan sebagian pekerjaan tidak lagi utuh, persoalan lama belum terurai, sementara kebiasaan terus berlangsung meskipun perkembangan nyaris tidak terlihat.
Begitulah warisan. Tidak selalu datang dalam keadaan siap dinikmati. Ada buah yang bisa dipetik, ada pohon yang mesti dirawat, bahkan ada akar yang diam-diam mulai rapuh. Seorang anak menerima harta tanpa mengalami seluruh pengorbanan orang tuanya. Seorang murid memperoleh ilmu tanpa menempuh panjangnya perjalanan sang guru. Sebuah lembaga menikmati kepercayaan yang dibangun puluhan tahun oleh orang-orang yang namanya mungkin sudah jarang disebut. Sebagian menerima kemudahan, sebagian lainnya menerima persoalan. Tidak jarang keduanya datang bersamaan.
Ora mung ngundhuh.
Sebab persoalan sesungguhnya bukan semata apa yang telah diterima, melainkan bagaimana seseorang memandang dan memperlakukan apa yang berada dalam genggamannya. Apakah ia melihatnya sebagai karunia yang patut disyukuri, hak yang memang pantas dinikmati, atau amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan?
Di tengah berbagai peninggalan manusia, ada warisan yang jauh lebih agung.
Dalam khutbah Haji Wada', Rasulullah ﷺ bersabda:
وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابَ اللَّهِ
"Aku telah meninggalkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan tersesat sesudahku, yaitu Kitab Allah." (HR. Muslim no. 1218).
Rasulullah ﷺ juga memerintahkan umatnya berpegang teguh kepada Sunnah beliau dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk (HR. Abu Dawud no. 4607). Sedangkan mengenai kemuliaan ilmu, beliau bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi."
Kelanjutan hadis itu menegaskan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan ilmu. Siapa yang mengambilnya, ia memperoleh bagian yang besar (HR. Abu Dawud no. 3641).
Peninggalan manusia dapat mengandung kekurangan yang perlu diperbaiki. Adapun Al-Qur'an dan Sunnah merupakan petunjuk yang menjadi ukuran untuk menimbangnya. Ilmu yang diwariskan para nabi bukan sekadar sesuatu yang disimpan, dibanggakan, atau dijadikan identitas. Ia menuntut pemahaman dan pengamalan. Seseorang boleh memiliki banyak kitab, tetapi belum tentu ilmunya telah membimbing akhlaknya. Ia mungkin memahami dalil tentang keadilan, tetapi sulit berlaku adil ketika kepentingannya terganggu. Mengerti larangan berprasangka, tetapi tergesa-gesa menilai orang lain. Mengajarkan tawadhu, tetapi diam-diam merasa paling berjasa atas keberhasilan yang diraihnya.
Menerima ilmu tidak otomatis berarti mewarisi kemuliaan akhlak orang yang mengajarkannya.
Al-Qur'an memperlihatkan dua sikap batin yang berbeda ketika manusia berhadapan dengan karunia. Ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana Ratu Balqis telah berada di hadapannya, beliau berkata:
هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari." (QS. An-Naml [27]: 40).
Sementara Qarun, ketika kaumnya menasihatinya tentang kekayaan yang dimiliki, justru menjawab:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي
"Sesungguhnya aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash [28]: 78).
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa Qarun memandang kekayaannya sebagai sesuatu yang diberikan Allah karena Dia mengetahui bahwa dirinya pantas memperolehnya. Seolah kelimpahan itu bukan lagi dipandang sebagai ujian, melainkan bukti bahwa dirinya memang istimewa dan pantas memperolehnya. Padahal nikmat yang diberikan kepada seseorang tidak dengan sendirinya menunjukkan keridaan Allah terhadap seluruh keadaan dirinya.
Nabi Sulaiman mengembalikan karunia kepada Allah dan memandangnya sebagai ujian syukur. Qarun justru menjadikan kelimpahan yang diterimanya sebagai pembenaran atas keistimewaan diri. Dua peristiwa dengan kedudukan dan konteks berbeda, tetapi menghadirkan cermin yang tajam bagi keadaan jiwa manusia.
Dalam psikologi modern dikenal istilah psychological entitlement, kecenderungan merasa berhak atas perlakuan atau keistimewaan secara berlebihan. Penelitian W. Keith Campbell dan rekan-rekannya (2004) mengaitkan kecenderungan ini dengan sejumlah perilaku interpersonal yang kurang konstruktif. Tentu tidak setiap orang yang menikmati kemudahan memiliki sifat tersebut. Namun, ketika sesuatu yang dahulu diperjuangkan dengan susah payah mulai dianggap sebagai hak yang sewajarnya diterima, manusia perlu memeriksa kembali hatinya.
Sebab perasaan berhak tidak selalu datang dengan kesombongan yang terang-terangan. Kadang ia tumbuh bersama keberhasilan.
Ketika persoalan mulai terurai, pekerjaan semakin tertata, dan hasilnya mulai terlihat, muncul bisikan yang nyaris tidak terdengar: Kalau bukan saya, mungkin semuanya masih seperti dulu.
Boleh jadi memang ada usaha besar yang telah dilakukan. Hasilnya nyata dan patut disyukuri. Tetapi mengakui keberhasilan berbeda dengan merasa bahwa seluruh keberhasilan itu semata-mata milik kita. Ada pertolongan Allah, kesempatan yang dibukakan, pengalaman pendahulu, dan kerja banyak orang yang mungkin tidak pernah disebut namanya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin, ketika membahas al-'ujb, menjelaskan penyakit ini sebagai sikap mengagungkan nikmat dan merasa tenteram dengannya, sementara hati melupakan bahwa nikmat itu berasal dari Allah. Kegembiraan terhadap keberhasilan yang disadari sebagai karunia Allah tidak dengan sendirinya merupakan ujub. Penyakitnya muncul ketika seseorang mulai terpukau pada dirinya sendiri dan kehilangan kesadaran terhadap Sang Pemberi nikmat.
Penawarnya bukan menyangkal kemampuan atau berpura-pura tidak memiliki kelebihan. Justru dengan mengenalinya sebagai pemberian Allah, seseorang belajar menggunakan kemampuan itu secara benar.
Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, pada pembahasan Manzilat asy-Syukr, menerangkan bahwa syukur dibangun di atas ketundukan kepada Pemberi nikmat, kecintaan kepada-Nya, pengakuan terhadap nikmat-Nya, pujian kepada-Nya, dan tidak menggunakan nikmat untuk sesuatu yang dibenci-Nya. Syukur dengan demikian tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Ia mesti berbuah dalam amal. Ilmu menghadirkan kebijaksanaan, kemampuan melahirkan manfaat, dan kewenangan digunakan untuk menjaga hak manusia.
Namun, justru ketika berhadapan dengan manusia, keadaan hati sering menghadapi ujian yang lebih rumit.
Pekerjaan dapat direncanakan. Hasil bisa diukur. Persoalan teknis dicari penyelesaiannya. Tetapi manusia memiliki kemampuan, kebiasaan, dan kesiapan yang berbeda. Ada yang cepat memahami, ada yang membutuhkan pendampingan. Ada yang memiliki kemampuan tetapi belum menemukan ritme yang tepat, ada pula yang masih perlu dibangun kesadaran tanggung jawabnya. Di tengah keadaan seperti itu, prasangka mudah menyusup. Orang yang lambat dinilai malas. Yang berbeda pendapat dianggap tidak mendukung. Yang banyak bertanya disangka mempersulit. Padahal belum tentu demikian.
Allah memerintahkan agar amanah ditunaikan kepada yang berhak dan keputusan di antara manusia ditetapkan dengan adil (QS. An-Nisa' [4]: 58). Allah juga mengingatkan agar orang beriman menjauhi banyak prasangka karena sebagian prasangka adalah dosa (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Larangan berprasangka bukan berarti membiarkan ketidakberesan. Tetapi mengetahui bahwa sebuah pekerjaan belum selesai tidak sama dengan mengetahui niat orang yang mengerjakannya. Memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri juga tidak berarti membiarkan kelalaian terus membebani orang lain. Kesabaran tidak harus menghilangkan ketegasan, sebagaimana ketegasan tidak boleh berubah menjadi pelampiasan ketidaksabaran.
Rasulullah ﷺ, melalui riwayat Hudzaifah bin al-Yaman, menjelaskan bahwa amanah turun ke pangkal hati manusia, kemudian mereka mempelajari Al-Qur'an dan Sunnah. Beliau juga mengabarkan bagaimana amanah dapat berangsur-angsur dicabut dari hati, hingga orang-orang masih menjalankan berbagai urusan, tetapi sifat amanah semakin sulit ditemukan (HR. Al-Bukhari no. 6497).
Betapa menggetarkannya peringatan itu. Seseorang dapat dikenal cerdas, cekatan, dan mempunyai banyak kemampuan, tetapi semua kelebihan tersebut tidak otomatis menjamin keadaan hatinya. Ada kejujuran yang harus dijaga ketika tidak seorang pun mengawasi. Ada hak yang mesti ditunaikan meskipun tidak ada yang menagih.
Nasihat yang diterima Qarun justru dijawab dengan perasaan bahwa kelimpahan itu memang layak baginya. Penyakit serupa dapat tumbuh pada siapa saja. Ketika nikmat dianggap bukti keistimewaan diri, kritik menjadi gangguan dan teguran selalu menemukan pembenaran. Perlahan hati menjadi kebas, ora mempan. Bukan karena setiap kritik pasti benar, melainkan karena kemungkinan dirinya keliru tak lagi bersedia dipertimbangkan.
Dan amanah mempunyai lawan: khianat. Allah melarang orang beriman mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadanya, sedangkan ia mengetahui (QS. Al-Anfal [8]: 27). Namun, tidak setiap kesalahan atau kegagalan layak disebut pengkhianatan. Menjaga diri agar tidak mengkhianati kepercayaan harus berjalan bersama kehati-hatian agar tidak menuduh orang lain tanpa pengetahuan.
Di sinilah muhasabah menemukan tempatnya.
Di hadapan pekerjaan yang belum tuntas, seseorang mulai belajar membedakan persoalan yang benar-benar harus diselesaikannya dari segala sesuatu yang ingin dikendalikannya. Tidak setiap kekurangan orang lain merupakan kesengajaan. Tidak semua persoalan lama dapat dibereskan sekaligus. Ia perlu mendengar sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum memutuskan, dan bersedia mengakui apabila tuntutannya sendiri belum proporsional.
Ketika keputusan ternyata keliru, ia memperbaikinya. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, ia mengupayakannya. Jika ada hak yang terabaikan, ia berusaha memulihkannya. Dan ketika hasil mulai membaik, ia kembali memeriksa hatinya: apakah kegembiraan itu masih berwujud syukur, atau mulai berubah menjadi keinginan membuktikan bahwa dirinya lebih mampu daripada orang lain?
Perlahan ia belajar bahwa menunaikan amanah bukan berarti mengendalikan segala sesuatu. Ia dituntut bersungguh-sungguh menunaikan kewajibannya, bukan memaksakan seluruh keadaan berjalan menurut kehendaknya. Ada yang harus diperbaiki melalui tindakan, ada yang diselesaikan dengan musyawarah, dan ada pula hasil yang harus diserahkan kepada Allah setelah ikhtiar ditunaikan.
Tetapi memeriksa hati sendiri pun tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan diri. Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
"Ya Allah, karuniakanlah kepada jiwaku ketakwaannya. Sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkaulah Pelindung dan Pemeliharanya." (HR. Muslim no. 2722).
Dalam rangkaian doa yang sama, Rasulullah ﷺ juga memohon perlindungan dari ketidakmampuan, kemalasan, ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, serta jiwa yang tidak pernah puas.
Doa itu seakan mempertemukan seluruh kegelisahan manusia: ingin mampu tetapi menyadari keterbatasan, ingin bekerja dengan benar tetapi masih memiliki kelemahan, menerima nikmat tetapi khawatir tidak mampu mensyukurinya. Maka rasa takut kepada hisab perlu berjalan bersama harapan terhadap rahmat Allah. Muhasabah mengantarkan seseorang kepada perbaikan, sedangkan tawakal menjaganya agar tidak tenggelam dalam kegelisahan atas sesuatu yang berada di luar kemampuannya.
Hati yang sehat bukan hati yang tidak pernah merasa berat, melainkan hati yang menjadikan beratnya tanggung jawab sebagai alasan untuk semakin mendekat kepada Allah.
Di tengah berbagai peninggalan manusia, kita telah menerima petunjuk yang jauh lebih agung: Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Petunjuk itu kelak bukan hanya menjadi ukuran bagi amal kita, tetapi juga bagian dari pertanggungjawaban kita.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ
"Al-Qur'an adalah hujah bagimu atau terhadapmu." (HR. Muslim no. 223).
Kita telah menerima begitu banyak. Sebagian tanpa pernah ikut menanamnya. Sebagian lain datang bersama persoalan yang tidak kita mulai. Namun, kelak bukan hanya apa yang berada dalam genggaman kita yang akan ditanyakan, melainkan apa yang telah kita lakukan dengannya. Lebih-lebih setelah petunjuk Allah dan Sunnah Rasul-Nya sampai kepada kita.
Ora mung ngundhuh.
Referensi dan Rujukan
- Al-Qur'an al-Karim: QS. An-Naml [27]: 40; Al-Qashash [28]: 78; An-Nisa' [4]: 58; Al-Hujurat [49]: 12; Al-Anfal [8]: 27.
- Imam Muslim, Shahih Muslim: Kitab al-Hajj, hadis no. 1218 (Khutbah Haji Wada'); Kitab ath-Thaharah, hadis no. 223 (Al-Qur'an sebagai hujah); Kitab adz-Dzikr wa ad-Du'a, hadis no. 2722 (doa penyucian jiwa).
- Imam Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari: Kitab ar-Riqaq, Bab Raf' al-Amanah, hadis no. 6497 (amanah yang tertanam dalam hati dan hilangnya amanah).
- Imam Abu Dawud, Sunan Abi Dawud: Kitab al-'Ilm, hadis no. 3641 (ulama pewaris para nabi); Kitab as-Sunnah, hadis no. 4607 (berpegang teguh kepada Sunnah).
- Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim: Tafsir QS. An-Naml: 40 dan QS. Al-Qashash: 78.
- Imam Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin: Kitab Dzamm al-Kibr wa al-'Ujb, pembahasan hakikat ujub dan cara mengobatinya.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin baina Manazil Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in: Pembahasan Manzilat asy-Syukr, khususnya dasar-dasar syukur dan pengaruhnya terhadap amal.
- Campbell, W. Keith; Bonacci, Angelica M.; Shelton, Jeremy; Exline, Julie J.; dan Bushman, Brad J. (2004). Psychological Entitlement: Interpersonal Consequences and Validation of a Self-Report Measure. Journal of Personality Assessment, 83(1), 29–45.
