AI, Sakdet Saknyet

[ TAZKIYATUN NAFS ]

AI, Sakdet Saknyet

Ketika Kecepatan Menjawab Mendahului Ketelitian Ilmu

Tsaqif Rasyid Dai

فَتَبَيَّنُوا

"Maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

"Wis takon AI?"

"Wis. Sakdet saknyet."

"Wis dipriksa maneh?"

"Lha jawabane wis masuk akal, kok!"

Begitulah kita hari ini. Minta AI memperbaiki satu kalimat, malah dikasih ceramah panjang. Kita jengkel. "Wis, cukup! Aku mung takon sakmenir."

Tapi ketika AI menyodorkan jawaban yang sejalan dengan pendapat kita, lengkap dengan dalil, nama kitab, bahkan nomor halaman, kita manggut-manggut. "Nah, iki! Cocok!" Tak ada yang bertanya: benarkah kitab itu ada? Benarkah halamannya demikian?

Yang masuk akal belum tentu benar. Yang meyakinkan belum tentu terverifikasi. Yang cocok dengan selera belum tentu cocok dengan kenyataan.

Untuk urusan sederhana, cepat itu nikmat. Tetapi untuk urusan agama, ilmu, dan keputusan yang menyangkut orang lain, yang segera tersedia belum tentu layak dipercaya.

Di tengah budaya serba sakdet saknyet, ada tradisi keilmuan yang kian perlu dirawat: tahqiq. Bukan sekadar mencari jawaban, melainkan memastikan kebenarannya. Bukan mencari dalil agar pendapat terasa benar, melainkan rela mengoreksi pendapat ketika dalil berkata lain.

Mulailah dari yang kecil: buka kitabnya, cek halamannya, tanya yang lebih paham, sebelum jempol menekan tombol "bagikan".

Tabayyun, Sebelum Datang Penyesalan

Perintah fatabayyanu dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 tidak berdiri sendiri. Allah menyebutkan akibat yang hendak dicegah:

أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"...agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu."

Imam ath-Thabari dalam Jami' al-Bayan menjelaskan makna fatabayyanu sebagai perintah menunggu hingga diketahui kebenaran suatu berita, tidak tergesa-gesa menerimanya.

Memang, konteks ayat ini berbicara tentang berita yang dibawa orang fasik, bukan tentang teknologi. Namun, prinsip kehati-hatian terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya tetap relevan.

Informasi keliru bisa melahirkan prasangka. Prasangka berkembang menjadi tuduhan. Ketika telanjur disebarkan, nama baik seseorang dapat rusak. Kebenaran mungkin ditemukan belakangan, tetapi kerusakannya belum tentu mudah dipulihkan.

Tabayyun bukan sekadar memastikan informasi, melainkan juga mempertimbangkan akibat ketika informasi itu dipercaya dan digunakan.

Cepat dan Teliti, Pada Kadarnya

Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, pada pembahasan adab berfatwa, mengingatkan:

فَمِنَ التَّسَاهُلِ أَنْ لَا يَتَثَبَّتَ، وَيُسْرِعَ بِالْفَتْوَى قَبْلَ اسْتِيفَاءِ حَقِّهَا مِنَ النَّظَرِ وَالْفِكْرِ

"Termasuk sikap menggampangkan fatwa ialah tidak melakukan pemeriksaan secara cermat dan tergesa-gesa memberikan fatwa sebelum memenuhi tuntutan pengkajian dan pemikiran."

Menariknya, beliau melanjutkan:

فَإِنْ تَقَدَّمَتْ مَعْرِفَتُهُ بِالْمَسْئُولِ عَنْهُ فَلَا بَأْسَ بِالْمُبَادَرَةِ

"Apabila ia telah memiliki pengetahuan sebelumnya tentang persoalan yang ditanyakan, tidak mengapa segera menjawab."

Imam an-Nawawi tidak sedang memuji kelambanan. Beliau menempatkan kecepatan dan ketelitian sesuai kadarnya.

Tentu pembahasan beliau secara khusus mengenai fatwa. Namun, adab keilmuannya memberikan pelajaran lebih luas.

Memperbaiki ejaan berbeda dengan memastikan kesahihan hadis. Menyusun undangan tidak sama dengan menyimpulkan hukum agama. Tidak semua pertanyaan memerlukan pengkajian panjang, tetapi tidak semua persoalan layak dijawab dengan pengetahuan sepintas.

Kecepatan adalah kemampuan. Ketelitian adalah tanggung jawab. Kebijaksanaan terletak pada kemampuan menempatkan keduanya sesuai kadarnya.

Tahqiq, Tradisi yang Patut Dirawat

Dalam khazanah keilmuan Islam, tahqiq merupakan usaha sungguh-sungguh memastikan ketepatan suatu keterangan. Ia menuntut pemeriksaan sumber, redaksi, konteks, dan dasar penarikan kesimpulan.

Sebuah hadis yang populer belum tentu sahih. Perkataan yang dinisbatkan kepada ulama belum tentu benar berasal darinya. Bahkan dalil yang benar pun dapat digunakan untuk mendukung kesimpulan yang keliru.

Lihatlah Ihya' 'Ulum al-Din, karya monumental Imam al-Ghazali. Kitab yang begitu berpengaruh dalam tradisi penyucian jiwa itu tetap menjadi objek kajian kritis para ulama.

Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi menelusuri sumber dan kualitas hadis-hadisnya melalui Al-Mughni 'an Haml al-Asfar. Imam Tajuddin as-Subki dalam Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra mencatat sejumlah hadis yang belum beliau temukan sanadnya. Imam Murtadha az-Zabidi kemudian memperkaya pembahasan kitab tersebut melalui Ithaf as-Sadah al-Muttaqin.

Pekerjaan menelusuri sumber dan kualitas hadis secara khusus dikenal sebagai takhrij, salah satu wujud ketelitian dalam tradisi keilmuan.

Begitulah ilmu dirawat. Ketinggian kedudukan seorang ulama tidak menjadikan setiap riwayat dalam karyanya bebas dari pemeriksaan.

Menghormati ulama tidak berarti berhenti meneliti. Mengoreksi riwayat tidak berarti merendahkan penulisnya.

Kitab ulama besar saja diperiksa, apalagi jawaban mesin yang muncul sakdet saknyet.

Namun, verifikasi memang tidak selalu mudah. Harus membuka kitab, mencocokkan redaksi, memahami konteks, bahkan mungkin menemukan bahwa kesimpulan yang kita sukai ternyata keliru.

Repot.

"Lha, wis masuk akal, kok!"

Di situlah tahqiq mulai tersisih oleh kepuasan instan.

Kepuasan Instan dan Psikologi Cocokilogi

Dalam psikologi dikenal istilah confirmation bias, yakni kecenderungan mencari dan menerima informasi yang mendukung keyakinan sendiri, sementara informasi yang bertentangan cenderung diabaikan.

Bahasa sederhananya: cocokilogi.

Kita bertanya kepada AI. Jawabannya kurang sesuai dengan pendapat sendiri. Pertanyaan diulang. Kalimat diubah. Instruksi diperhalus. Sampai akhirnya muncul jawaban yang diharapkan.

"Nah, iki! Persis!"

Puas.

Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan kenikmatan merasa dibenarkan.

Padahal, kecenderungan semacam itu sudah ada jauh sebelum AI hadir.

Imam an-Nawawi, masih dalam pembahasan adab berfatwa, turut memperingatkan bahaya kepentingan yang menyimpang: mencari celah untuk memudahkan pihak yang hendak diuntungkan atau memberatkan pihak yang tidak disukai.

Persoalannya bukan sekadar kemampuan memahami dalil, melainkan juga kejujuran hati ketika menggunakannya.

Di sinilah tahqiq bertemu dengan tazkiyatun nafs. Kita bisa sangat teliti memeriksa pendapat orang lain, tetapi begitu longgar ketika informasi mendukung keyakinan sendiri.

Dalil semestinya digunakan untuk menguji pendapat, bukan dipilih hanya untuk membenarkannya.

AI bukan pencipta penyakit ini. Ia hanya membuat jalan menuju pembenaran terasa semakin singkat, cepat, dan mudah.

Menep bukan berarti memperlambat semua urusan. Yang sudah jelas, selesaikan. Yang belum pasti, periksa. AI pun perlu tahu batas.

Sing dijaluk sakdet saknyet, ojo digawe mbulet. Sing kudu ditahqiq, ojo digarap instan.

Ketika AI bertele-tele, kita mudah menegurnya. Tetapi ketika AI membenarkan pendapat kita, yang perlu ditanya justru diri sendiri:

"Aku iki wis nemu sing bener, apa mung nemu sing cocok?"


Referensi dan Rujukan

  1. Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 6, tentang tabayyun dan akibat bertindak berdasarkan berita yang belum dipastikan kebenarannya.
  2. Imam ath-Thabari, Jami' al-Bayan 'an Ta'wil Ay al-Qur'an, tafsir QS. Al-Hujurat: 6. Baca tafsir.
  3. Imam an-Nawawi, Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, juz 1, hlm. 80, pembahasan At-Tasahul fi al-Fatwa. Baca rujukan.
  4. Imam al-Ghazali, Ihya' 'Ulum al-Din.
  5. Al-Hafizh Zainuddin al-Iraqi, Al-Mughni 'an Haml al-Asfar fi al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ihya' min al-Akhbar. Kajian sumber dan kualitas hadis dalam Ihya'.
  6. Imam Tajuddin as-Subki, Thabaqat asy-Syafi'iyyah al-Kubra, juz 6, pembahasan hadis-hadis Ihya' yang belum ditemukan sanadnya. Baca rujukan.
  7. Imam Murtadha az-Zabidi, Ithaf as-Sadah al-Muttaqin bi Syarh Ihya' 'Ulum al-Din. Baca rujukan.
  8. American Psychological Association, APA Dictionary of Psychology, entri Confirmation Bias. Baca definisi.

Artikel Populer

Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe

Cetho Welo-Welo

JIHAD ORA JAHAT

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...