Ketika Kebenaran Tidak Lagi Membuat Kita Rendah Hati

Ketika Kebenaran Tidak Lagi Membuat Kita Rendah Hati

Renungan tentang ilmu, ego, dan tawaduk di hadapan Allah

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada satu keadaan yang sesungguhnya lebih berbahaya daripada sekadar tidak mengetahui kebenaran: kita mengetahui kebenaran, tetapi pengetahuan itu diam-diam membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Kita membawa ayat. Kita membawa hadis. Argumen kita barangkali benar. Tetapi perlahan-lahan kita mulai sulit menerima nasihat, sulit mengakui kekeliruan, mudah meremehkan orang yang berbeda pendapat, dan diam-diam senang ketika lawan bicara kita dipermalukan.

Di titik inilah muncul sebuah paradoks yang layak kita renungkan bersama: bagaimana mungkin kebenaran yang datang dari Allah justru membuat seorang hamba merasa besar? Barangkali yang sedang membesar bukan kebenarannya. Barangkali ego kitalah yang sedang berdiri di belakang kebenaran itu, memakai bajunya, meminjam wibawanya.

Islam sama sekali tidak mengajarkan keraguan terhadap kebenaran. Seorang muslim boleh, bahkan semestinya, berkata, "Saya meyakini ini benar." Namun ada jarak yang sangat jauh antara ucapan itu dengan ucapan lain: "Karena saya benar, berarti saya lebih baik daripada Anda." Kebenaran adalah satu perkara. Merasa diri lebih tinggi karena membawa kebenaran adalah perkara yang sama sekali berbeda. Maka renungan ini bukan relativisme, bukan pula anggapan bahwa semua pendapat setara. Yang sedang kita periksa adalah apa yang terjadi pada hati kita ketika sedang memegang sesuatu yang kita yakini benar.

Allah ﷻ berfirman, mengingatkan hamba-Nya agar tidak tergesa menyucikan diri sendiri:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

Fa lā tuzakkū anfusakum, huwa a'lamu bimanittaqā.

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa." (QS. An-Najm [53]: 32)

Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menjadi rem terhadap kecenderungan manusia untuk memuji dan menyucikan dirinya sendiri, atau merasa memiliki kedudukan tertentu di sisi Allah. Yang mengetahui hakikat ketakwaan seseorang bukanlah dirinya sendiri, melainkan Allah semata. Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain mengarahkan makna ayat ini pada larangan mengklaim kesucian diri, karena Allah-lah yang paling mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.

Kita sering sangat teliti menilai orang lain: dia salah, dia kurang mengikuti sunnah, dia tidak paham, dia menyimpang. Namun ayat ini seolah memindahkan kamera dari orang lain menuju diri kita sendiri. Siapa yang menjamin bahwa ketika kita sedang sibuk menunjukkan kesalahan orang lain, hati kita sendiri sedang selamat?

Salah satu kalimat kesombongan paling terkenal dalam Al-Qur'an diucapkan oleh makhluk yang justru memiliki pengetahuan, bukan kebodohan. Ketika diperintahkan sujud kepada Adam, Iblis menjawab:

أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

Anā khairun minhu, khalaqtanī min nārin wa khalaqtahu min ṭīn.

"Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al-A'raf [7]: 12; bandingkan QS. Shad [38]: 76)

Iblis tidak berkata bahwa ia tidak tahu siapa Adam. Ia mengetahui siapa yang menciptakan dirinya, ia mengetahui siapa yang menciptakan Adam, bahkan ia mempunyai argumentasi yang tampak logis. Namun seluruh pengetahuannya runtuh pada satu kalimat: "aku lebih baik darinya." Kisah ini memperlihatkan bagaimana kesombongan dapat memakai argumentasi untuk membenarkan penolakan terhadap perintah Allah. Maka salah satu penyakit yang paling halus bukanlah kebodohan, melainkan menjadikan pengetahuan sebagai bahan bakar untuk membangun superioritas diri.

Rasulullah ﷺ memberikan definisi kesombongan yang sangat mengerikan bagi siapa saja yang merasa berada di pihak kebenaran:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Lā yadkhulul-jannata man kāna fī qalbihi mithqālu dharratin min kibr.

"Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah."

Ketika seorang sahabat bertanya tentang orang yang menyukai pakaian dan sandal yang bagus, khawatir hal itu termasuk kesombongan, Nabi ﷺ menjelaskan dengan sabda yang menjadi salah satu definisi paling penting dalam kajian akhlak:

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Innallāha jamīlun yuḥibbul-jamāl. Al-kibru baṭarul-ḥaqqi wa ghamṭun-nās.

"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia." (HR. Muslim, Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanih, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; shahih)

Ibn Hajar al-'Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa frasa ghamthun-nas bermakna merendahkan dan memandang hina manusia. Dengan penjelasan ini, kesombongan memiliki dua wajah sekaligus: ke atas, ia sulit tunduk kepada kebenaran; ke samping dan ke bawah, ia merendahkan sesama manusia. Maka ujian terbesar bagi seseorang yang merasa berada di pihak kebenaran bukan hanya, "apakah dalilku benar?" tetapi juga, "apa yang sedang dilakukan dalil ini terhadap hatiku?"

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya menjadi inti tazkiyatun-nafs. Ada orang yang senang mengetahui kebenaran karena ingin mengikutinya. Namun perlahan, ada kemungkinan lain yang menyusup halus: ia mulai senang menjadi orang yang dikenal sebagai pembawa kebenaran. Perbedaan keduanya sangat tipis. Yang pertama mencari Allah. Yang kedua, tanpa disadari, mulai mencari dirinya sendiri lewat jalan agama. Gejalanya biasa sekali tampak sederhana: senang ketika argumennya menang, namun kurang senang ketika kebenaran justru muncul dari mulut orang lain; mudah mengoreksi, tetapi sulit dikoreksi; mudah menemukan kesalahan orang, tetapi sulit menemukan penyakit di dalam dirinya sendiri; merasa bahwa bersikap keras kepada orang lain adalah bukti keteguhan; dan mulai menikmati penghormatan sebagai "orang yang paling lurus." Dalam perjalanan penyakit hati, ujub, ghurur, dan kibr dapat saling menguatkan satu sama lain.

Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin bahkan menyediakan pembahasan khusus untuk penyakit ini, dalam Kitab Dzamm al-Kibr wa al-'Ujub. Beliau menjelaskan bahwa penyakit kibr tidak cukup dilawan hanya dengan keinginan untuk tampak rendah hati; akarnya harus dicabut dari dalam hati, dan sebab-sebab yang memunculkannya harus dilawan melalui dua jalan sekaligus, yaitu ilmu dan amal. Poin yang layak direnungkan lebih dalam adalah bahwa ilmu itu sendiri adalah kemuliaan, tetapi justru karena kemuliaannya itulah, ilmu bisa menjadi bahan yang sangat halus bagi nafsu untuk berbisik, "aku lebih tahu." Bisikan itu kemudian bergeser menjadi, "aku lebih benar," dan tanpa terasa berubah lagi menjadi, "aku lebih baik." Padahal ketiga kalimat itu sama sekali tidak identik.

Prinsip ini sejalan dengan arah pendidikan al-Ghazali secara umum dalam tradisi tazkiyatun-nafs: memperbaiki lahiriah amal saja tidak cukup, karena batin juga perlu dijaga dari penyakit yang dapat merusak seluruh perjalanan seorang hamba menuju Allah. Maka orang yang beragama tidak cukup bertanya, "apa yang harus aku lakukan?" Ia perlu juga bertanya, "untuk siapa aku melakukan ini?" dan "apa yang sedang tumbuh di dalam hatiku setelah melakukannya?"

Syekh Ahmad Ibn 'Atha'illah as-Sakandari, dalam salah satu hikmahnya yang masyhur dalam Al-Hikam al-'Atha'iyyah, mengingatkan:

ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَا يَتِمُّ نِتَاجُهُ

Idfin wujūdaka fī ardhil-khumūl, famā nabata mimmā lam yudfan lā yatimmu nitājuh.

"Kuburlah keberadaanmu di tanah ketidaktenaran; sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak akan sempurna hasilnya."

Hikmah ini sama sekali bukan seruan agar seorang muslim meninggalkan dakwah atau menyembunyikan ilmu yang bermanfaat bagi umat. Yang perlu dikuburkan bukan ilmunya, melainkan keinginan ego untuk selalu terlihat. Ada perbedaan besar antara ingin kebenaran itu dikenal, dengan ingin dikenal sebagai pembawa kebenaran.

"Ada perbedaan besar antara ingin kebenaran itu dikenal, dengan ingin dikenal sebagai pembawa kebenaran."

Sampailah kita pada paradoks yang sesungguhnya menjadi puncak renungan ini. Semestinya, semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar betapa kecil dirinya. Semakin luas ilmunya, semakin banyak pula yang ia sadari belum diketahuinya. Semakin memahami agama, semakin takut ia berbicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu yang kokoh. Semakin mengenal penyakit hati, semakin sibuk ia mencurigai nafsunya sendiri, bukan nafsu orang lain. Maka sesuatu patut kita periksa kembali apabila yang terjadi justru sebaliknya: semakin belajar, semakin mudah merendahkan; semakin banyak dalil yang dihafal, semakin sulit menerima nasihat; semakin dikenal saleh, semakin membutuhkan pengakuan dan penghormatan; semakin merasa membela Allah, semakin mudah menghina hamba-hamba-Nya. Pertanyaannya sederhana namun berat: benarkah yang sedang tumbuh itu ilmu, ataukah sebenarnya ego yang kini telah belajar berbicara dengan bahasa agama?

Ada empat hal yang perlu senantiasa kita bedakan agar tidak tertukar. Pertama, kebenaran itu sendiri, yang tetap harus dicari dan dibela. Kedua, pemahaman kita terhadap kebenaran, yang sebagai pemahaman manusia tidak pernah sempurna. Ketiga, cara kita menyampaikan kebenaran, karena sesuatu yang benar tidak lantas menghalalkan segala cara untuk menyampaikannya. Keempat, keadaan hati kita ketika sedang membawa kebenaran itu, yang justru sering menjadi wilayah yang paling terlupakan dalam tazkiyatun-nafs.

Ada baiknya kita menguji diri dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana ini. Ketika orang yang tidak kita sukai mengatakan sesuatu yang benar, mampukah kita menerimanya? Ketika dikoreksi oleh orang yang ilmunya lebih rendah dari kita, apakah hati kita langsung menolak? Apakah kita lebih senang ketika kebenaran itu sendiri yang menang, atau lebih senang ketika kitalah yang menang? Ketika saudara kita keliru, apakah kita bersedih, atau diam-diam menikmati kesempatan untuk mempermalukannya? Apakah bertambahnya ilmu membuat kita semakin takut kepada Allah, atau justru semakin mudah menilai manusia? Dan pertanyaan yang paling berat dari semuanya: masihkah kita mampu mengatakan, "saya keliru"?

Jangan takut menjadi orang yang yakin. Takutlah justru ketika keyakinan itu membuat kita tidak lagi bisa mendengar. Jangan takut membela kebenaran. Takutlah ketika membela kebenaran mulai terasa seperti membela harga diri sendiri. Jangan berhenti menunjukkan kesalahan yang memang perlu diluruskan. Namun jangan sampai kita begitu sibuk menemukan kesalahan orang lain, hingga lupa mencari penyakit yang bersemayam dalam diri sendiri. Sebab Rasulullah ﷺ tidak mendefinisikan kesombongan dengan "memiliki pendapat yang kuat," melainkan dengan sabdanya yang telah kita baca: kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Barangkali pertanyaan terpenting setelah kita mempelajari agama bukan sekadar, "berapa banyak kebenaran yang sudah aku ketahui?" melainkan, "menjadi manusia seperti apa aku setelah mengetahui kebenaran itu?" Jika ilmu membuat kita semakin takut kepada Allah, semakin mudah menerima nasihat, semakin lembut kepada sesama manusia, dan semakin curiga terhadap kesombongan diri sendiri, mudah-mudahan ilmu itu sedang benar-benar menjadi cahaya. Namun jika ilmu justru membuat kita semakin membutuhkan kemenangan, semakin sulit dikoreksi, dan semakin mudah memandang rendah manusia, barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang membawa kebenaran, ataukah diam-diam sedang menggunakan kebenaran itu untuk membawa ego kita sendiri? Sebab kebenaran yang benar-benar meresap ke dalam hati semestinya tidak membuat seorang hamba merasa semakin besar. Ia justru membuatnya semakin sadar betapa kecil dirinya di hadapan Allah ﷻ.

Ada sebuah doa ma'tsur yang disebutkan Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Baqarah [2]: 213, doa yang layak menjadi penutup renungan ini:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَوَفِّقْنَا لِاجْتِنَابِهِ

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnattibā'ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan wa waffiqnā lijtinābih.

"Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami kemampuan mengikutinya; perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami taufik untuk menjauhinya."

Wallahu a'lam bish-shawab.


Referensi

  1. Ayat: QS. An-Najm [53]: 32; QS. Al-A'raf [7]: 12; QS. Shad [38]: 76; QS. Al-Baqarah [2]: 213
  2. Tafsir: Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, tafsir QS. An-Najm [53]: 32, QS. Al-A'raf [7]: 12, QS. Shad [38]: 76, dan QS. Al-Baqarah [2]: 213 (sumber doa ma'tsur penutup)
  3. Tafsir Jalalain: Tafsir al-Jalalain, Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir QS. An-Najm [53]: 32
  4. Hadis: HR. Muslim, Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanih, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu
  5. Syarah: Ibn Hajar al-'Asqalani, Fath al-Bari, Kitab al-Adab, pembahasan tentang kibr dan tawaduk
  6. Tazkiyah: Imam Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin, Kitab Dzamm al-Kibr wa al-'Ujub
  7. Hikmah: Ibn 'Atha'illah as-Sakandari, Al-Hikam al-'Atha'iyyah, hikmah "Idfin wujudaka fi ardhil-khumul"

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Ketika Rasulullah ﷺ Disakiti: Bagaimana Luka Tidak Meracuni Hati?

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...