Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta?

Mengapa Nabi ﷺ Disebut Rahmat bagi Semesta?

Ketika Kesalehan Pribadi Berubah Menjadi Rahmat bagi Sesama

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan pada diri sendiri, padahal jawabannya menentukan mutu keberagamaan kita: bukan "seberapa saleh saya?", melainkan "seberapa banyak rahmat yang mengalir melalui kesalehan saya?"

Perlu segera diluruskan agar tidak terjebak kesalahpahaman: ini bukan berarti kesalehan seseorang hanya bernilai jika orang lain merasa nyaman dengannya. Ada orang yang menjalankan kebenaran secara benar tetapi tetap tidak disukai — Nabi ﷺ sendiri ditentang, dicaci, bahkan diperangi oleh sebagian kaumnya. Maka ukuran yang lebih tepat adalah: kesalehan yang benar tidak selalu membuat kita disukai semua orang, tetapi semestinya membuat kita semakin sulit berbuat zalim kepada siapa pun. Kata "semestinya" penting di sini, sebab tazkiyah adalah proses, bukan klaim kesempurnaan.

Pertanyaan ini mengantarkan kita pada kedalaman ittiba' kepada Rasulullah ﷺ yang sesungguhnya — bukan sekadar memperbanyak simbol dan aktivitas ibadah, tetapi menghadirkan akhlak kenabian dalam relasi dengan sesama.

Allah berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـٰلَمِينَ
Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-'ālamīn.
"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya' [21]: 107)

Ayat ini menggambarkan pengutusan Nabi ﷺ sebagai rahmat bagi seluruh alam; melalui risalah yang beliau bawa dan akhlak yang beliau teladankan, Allah menghadirkan rahmat kepada makhluk. Tafsir Jalalain menjelaskan bahwa cakupan al-'ālamīn dalam ayat ini meliputi manusia dan jin. Dalam penjelasan ath-Thabari, rahmat kenabian menjangkau siapa pun yang menjadi sasaran risalah, namun bentuknya berbeda sesuai keadaan manusia: orang beriman memperoleh hidayah, keselamatan, dan manfaat risalah secara langsung, sementara orang yang belum beriman pun turut merasakan rahmat berupa ditangguhkannya azab yang dahulu menimpa umat-umat pembangkang. Nabi ﷺ, dengan demikian, menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepada seluruh makhluk.

Salah satu bentuk paling nyata dari rahmat kenabian itu adalah akhlak beliau. Allah bersaksi sendiri atas hal ini:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wa innaka la'alā khuluqin 'aẓīm.
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Allah bahkan menjelaskan mekanismenya secara langsung:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
Fa bimā raḥmatin minallāhi linta lahum, wa lau kunta faẓẓan ghalīẓal-qalbi lanfaḍḍū min ḥaulik.
"Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu." (QS. Ali 'Imran [3]: 159)

Perhatikan bahwa Allah tidak hanya menyebut rahmat sebagai sifat batin; rahmat itu tampak dalam cara Nabi ﷺ memperlakukan manusia — "linta lahum", engkau berlaku lembut kepada mereka. Ayat ini hampir seperti jawaban langsung terhadap pertanyaan kita hari ini: kalau ittiba' kita kepada Nabi ﷺ benar, seharusnya muncul kelembutan dan sikap tidak kasar dalam diri kita, meskipun kita tetap memegang teguh kebenaran.

Rahmat bukan kelemahan; ia adalah buah dari hati yang telah ditazkiyah. Sumber-sumber tazkiyah — di antaranya penjelasan Imam al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumiddin dan Ibnu Qayyim dalam pembahasannya tentang penyakit hati — menegaskan bahwa tazkiyah adalah membersihkan jiwa dari dosa dan cacat, sekaligus menghiasinya dengan keutamaan dan akhlak mulia. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Qad aflaḥa man zakkāhā, wa qad khāba man dassāhā.
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams [91]: 9–10)

Rahmat kenabian mempunyai lingkaran yang meluas: kepada diri sendiri, kepada keluarga, kepada sesama Muslim, kepada orang yang berbeda keyakinan, hingga kepada makhluk Allah secara umum. Yang jarang dibahas justru lingkaran pertama — rahmat kepada diri sendiri. Suatu ketika tiga sahabat bertekad beribadah secara ekstrem: seorang berniat shalat malam terus-menerus, yang lain berpuasa tanpa henti, dan yang lain lagi memutuskan tidak menikah seumur hidup. Nabi ﷺ mengoreksi mereka:

"Adapun aku, aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga berbuka, dan aku menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kesalehan bukan berarti terus memaksa diri sampai rusak, melainkan mengikuti keseimbangan yang telah dicontohkan Nabi ﷺ. Rahmat bukan hanya bagaimana kita memperlakukan orang lain, tetapi juga bagaimana syariat mengajarkan kita memperlakukan diri sendiri.

Dari diri sendiri, rahmat kenabian bergerak ke lingkaran yang paling dekat: rumah. Ketika al-Aqra' bin Habis melihat Nabi ﷺ mencium cucunya, Hasan bin Ali, ia berkata bahwa dirinya memiliki sepuluh anak namun belum pernah mencium seorang pun dari mereka. Nabi ﷺ menegurnya:

Man lā yarḥam lā yurḥam.
"Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ukuran keberhasilan spiritual seseorang tidak hanya terlihat ketika ia berada di mimbar, tetapi juga ketika pintu rumah ditutup dan hanya keluarganya yang menyaksikan dirinya. Rasulullah ﷺ menunjukkan betapa seriusnya kedudukan rahmat kepada manusia dalam kehidupan seorang Muslim melalui sabda beliau yang lain:

Man lā yarḥamin-nāsa lā yarḥamhullāh.
"Barang siapa tidak menyayangi manusia, Allah tidak akan menyayanginya." (HR. Muslim)

Hadis ini layak direnungkan dalam tiga lapis. Pertama, rahmat kepada yang dekat — keluarga, anak, pasangan, tetangga. Kedua, rahmat kepada yang berbeda — orang yang berbeda pandangan maupun keyakinan dengan kita. Ketiga, dan ini yang paling menentukan, rahmat ketika kita berada dalam posisi kuat — kepada orang yang tidak mampu membalas kita. Rahmat paling teruji bukan ketika kita lemah, melainkan justru ketika kita memiliki kekuasaan untuk membalas namun memilih adil. Nabi ﷺ mengaitkan kekuatan sejati justru dengan pengendalian diri:

Laisasy-syadīdu bish-shur'ah, innamasy-syadīdulladzī yamliku nafsahu 'indal-ghaḍab.
"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat; orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Rahmat juga berlaku kepada mereka yang berbeda keyakinan, tanpa menghapus batas aqidah. Al-Qur'an menegaskan prinsip yang sangat indah:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Lā yanhākumullāhu 'anilladzīna lam yuqātilūkum fid-dīni wa lam yukhrijūkum min diyārikum an tabarrūhum wa tuqsiṭū ilaihim. Innallāha yuḥibb al-muqsiṭīn.
"Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil." (QS. Al-Mumtahanah [60]: 8)

Peristiwa Asma' binti Abu Bakr memberikan gambaran praktis tentang prinsip ini. Ketika ibunya yang masih musyrik datang menemuinya membawa hadiah, Asma' bertanya kepada Nabi ﷺ apakah ia boleh tetap menyambung silaturahim dengan ibunya. Beliau menjawab, "Ya, sambunglah hubungan dengan ibumu." (HR. al-Bukhari dan Muslim) Rahmat, dengan demikian, tidak identik dengan menghapus perbedaan. Islam tetap memiliki aqidah, prinsip, dan batas halal-haram yang tegas. Namun perbedaan prinsip tidak otomatis menghapus birr, qisth, adab, dan kemanusiaan.

Bagian tersulit dari rahmat justru muncul ketika berhadapan dengan orang yang tidak menyukai kita. Pertanyaannya bukan "apakah saya baik kepada orang yang baik kepada saya?", melainkan "apakah saya masih mampu menjaga adab ketika orang lain tidak menyukai saya?" Allah memberikan jawaban yang sangat tegas untuk situasi ini:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
Wa lā yajrimannakum syana'ānu qaumin 'alā allā ta'dilū. I'dilū huwa aqrabu lit-taqwā.
"Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah [5]: 8)

Islam tidak meminta kita menyukai semua orang. Islam meminta kita tetap adil kepada orang yang tidak kita sukai. Mudah bersikap lembut kepada orang yang memuji kita; yang sulit adalah tetap adil ketika ego kita terluka. Jika hati belum bersih, agama bisa berubah menjadi kendaraan ego — marah karena merasa diri paling benar, berdakwah karena ingin menang, mengkritik karena ingin mempermalukan, bahkan menggunakan dalil untuk membenarkan kebencian pribadi. Kita semua perlu waspada: bahkan ketika merasa sedang membela agama, ego tetap bisa menyusup ke dalam cara kita berbicara dan bersikap. Rahmat kenabian mendidik seorang Muslim keluar dari ego dan 'ashabiyyah, sehingga kebenaran tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Salah satu musuh terbesar rahmat justru bersemayam di dalam diri kita sendiri — meski ini tidak berarti menyangkal adanya kezaliman, kebencian, dan permusuhan yang nyata di luar diri. Tazkiyah mengajarkan kita menguasai respons kita terhadap semua itu. Setidaknya ada lima penyakit yang layak kita periksa satu per satu dalam diri. Kibr: kalau kita merasa benar, mengapa kita masih perlu merendahkan orang lain? 'Ujub: apakah kita diam-diam merasa lebih suci daripada orang lain? Ghadhab: apakah kemarahan kita sedang membela Allah, atau sebenarnya membela harga diri kita? Riya': apakah kita benar-benar ingin agama Allah dimuliakan, atau kita ingin dipandang sebagai orang yang sedang memuliakannya? Hubb al-jah: apakah kita ingin kebenaran yang menang, atau ingin diri kita yang terlihat sebagai pembelanya?

Nabi ﷺ memperingatkan bahwa keberagamaan dapat kehilangan arah ketika seseorang melampaui batas. Beliau bersabda, diulanginya tiga kali:

Halaka al-mutanaṭṭi'ūn.
"Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan." (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan al-mutanaṭṭi'ūn sebagai orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan dan melampaui batas dalam perkataan maupun perbuatan. Dalam konteks tema ini, peringatan tersebut relevan untuk mengingatkan bahwa semangat kesalehan pun harus tetap berada dalam koridor hikmah, keseimbangan, dan akhlak. Nabi ﷺ juga mengajarkan cara memperlakukan kesalahan orang lain:

Yassirū wa lā tu'assirū, wa basysyirū wa lā tunaffirū.
"Permudahlah dan jangan mempersulit; berilah kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kesalahan orang lain tidak otomatis menjadi izin bagi kita untuk menghancurkan harga dirinya. Dalam banyak keadaan, dakwah bukan sekadar membuat orang tahu bahwa ia salah; dakwah juga berarti membantu orang menemukan jalan kembali kepada Allah.

Namun perlu ditegaskan: rahmat tidak berarti membenarkan yang batil, menghapus batas halal dan haram, atau menganggap semua pendapat sama. Nabi ﷺ adalah manusia paling penyayang, tetapi beliau juga paling tegas ketika batas-batas Allah dilanggar. Rahmat tanpa keadilan bisa menjadi kelembekan; keadilan tanpa rahmat bisa menjadi kekerasan. QS Al-Mumtahanah ayat 8 di atas sudah memberi formulanya: berbuat baik sekaligus berlaku adil — bukan rahmat tanpa prinsip, melainkan rahmat yang berjalan bersama haq, 'adl, dan hikmah.

Ada satu peristiwa yang menghubungkan seluruh tema ini dengan sangat indah: hati Nabi ﷺ sendiri. Ketika cucu beliau menjelang wafat dan dibawa ke pangkuannya, air mata Nabi ﷺ menetes. Sa'ad bin Ubadah bertanya keheranan, "Apa ini, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab:

"Ini adalah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penyayang." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Air mata itu bukan tanda lemahnya iman, melainkan bukti bahwa hati yang paling lembut justru adalah hati Nabi ﷺ sendiri. Dari sinilah kita belajar bahwa rahmat bukan sekadar akhlak yang dipraktikkan di luar, tetapi buah dari qalb yang telah ditazkiyah.

Nabi ﷺ tidak hanya mengajarkan manusia bagaimana menjadi hamba yang saleh; beliau menunjukkan bagaimana kesalehan itu seharusnya mengubah cara seorang hamba memperlakukan makhluk Allah. Karena itu, pertanyaan terdalam dari rahmatan lil-'alamin bukan hanya "seberapa besar kita mencintai Nabi ﷺ?", tetapi "seberapa jauh akhlak beliau telah mengubah kita menjadi manusia yang lebih adil, lebih lembut, lebih tawadhu, dan lebih aman bagi orang-orang di sekitar kita?"

Apa yang dirasakan orang-orang terdekat dari keberadaan kita? Ketika kita pulang ke rumah, apakah keluarga merasa aman? Ketika kita berbeda pendapat, apakah lawan bicara tetap merasa dihormati? Ketika kita memiliki kuasa, apakah orang yang lemah merasa terlindungi? Ketika seseorang menyakiti kita, apakah kita masih mampu menjaga keadilan?

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba yang mewarisi akhlak kenabian, yang rahmat-Mu mengalir melalui lisan dan perbuatan kami kepada sesama. Ya Rahman, ya Rahim, curahkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana kami berusaha menebarkan kasih sayang, kebaikan, dan kemanfaatan kepada makhluk-Mu. Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, innaka Hamidun Majid.


Referensi

  1. Al-Qur'an: QS. Al-Anbiya' [21]: 107; QS. Al-Qalam [68]: 4; QS. Ali 'Imran [3]: 159; QS. Asy-Syams [91]: 9–10; QS. Al-Mumtahanah [60]: 8; QS. Al-Ma'idah [5]: 8.
  2. Tafsir: Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi, Tafsir al-Jalalain, pada QS. Al-Anbiya' [21]: 107. Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Jami' al-Bayan, pada QS. Al-Anbiya' [21]: 107.
  3. Hadis: Shahih al-Bukhari no. 69, 2620, 5063, 5978, 5979, 5997, 6114, 7377; Shahih Muslim no. 923, 1003, 1401, 1734, 2318, 2319, 2609, 2670.
  4. Syarah: Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, penjelasan hadits al-mutanaṭṭi'ūn.
  5. Tazkiyah: Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' 'Ulumiddin, pembahasan penyakit hati (kibr, 'ujub, ghadhab, riya', hubb al-jah). Ibnu Qayyim al-Jauziyah, pembahasan penyakit hati dan perjalanan jiwa menuju Allah.

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Adab dan Ilmu: Penjelasan Mendalam tentang Hubungan Keduanya

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...