Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri
Teror yang Tak Terdengar di Dalam Diri
Tentang kebencian, ego, dan jiwa yang perlahan kehilangan rahmah
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
Ada teror yang mudah kita kenali.
Ia datang dengan ancaman, kekerasan, darah, dan ketakutan. Kita dapat melihat akibatnya, menghitung korbannya, lalu menyebutnya sebagai bahaya.
Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih sunyi.
Tidak terdengar ledakan. Tidak ada sirene. Tidak ada kepanikan. Bahkan orang lain mungkin tidak mengetahui bahwa sesuatu sedang terjadi.
Ia tumbuh perlahan di dalam dada.
Mulanya hanya ketidaksukaan. Kemudian menjadi prasangka. Prasangka yang terus diberi makan dapat menjadi kebencian. Kebencian membuat kita semakin mudah melihat keburukan orang lain. Lalu pada suatu titik, kita tidak lagi sekadar membenci perbuatannya—kita mulai merendahkan manusianya.
Dan yang paling mengkhawatirkan, semua itu kadang terjadi ketika kita masih merasa sebagai orang baik.
Ketika Kebencian Mengubah Cara Kita Melihat Manusia
Tidak setiap kemarahan adalah kebencian. Tidak setiap kebencian akan melahirkan kekerasan. Dan tentu tidak tepat menyamakan penyakit hati seseorang dengan tindak terorisme.
Tetapi kekerasan tidak selalu bermula dari tangan.
Jauh sebelum seseorang mampu menyakiti manusia lain tanpa rasa bersalah, dapat terjadi perubahan pada cara ia memandang manusia tersebut.
Orang yang semula mempunyai nama berubah menjadi sekadar label.
“Dia kelompok itu.”
“Mereka memang seperti itu.”
“Orang seperti mereka tidak pantas didengar.”
Di sinilah batas moral perlahan bergeser.
Psikologi modern mengenal istilah dehumanization: ketika seseorang atau kelompok tidak lagi dipandang dalam keutuhan kemanusiaannya. Ada pula moral disengagement, ketika manusia menemukan pembenaran sehingga sesuatu yang semula terasa salah perlahan terasa dapat dilakukan.
Al-Qur'an membawa persoalan ini lebih jauh, sampai ke wilayah hati.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma'idah [5]: 8)
Allah tidak mensyaratkan kita menyukai seseorang terlebih dahulu agar dapat berlaku adil kepadanya. Justru keadilan diuji ketika kita berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai.
Ukuran kematangan jiwa bukan hanya bagaimana kita memperlakukan orang yang kita cintai. Kadang ukuran yang lebih jujur adalah bagaimana kita memperlakukan orang yang kita benci.
Musuh yang Pandai Menyamar
Berabad-abad lalu, al-Harits al-Muhasibi telah memberikan perhatian besar kepada gerak-gerik batin dalam al-Ri'ayah li Huquqillah. Ia membedah riya, ‘ujub, kesombongan, hasad, hawa nafsu, bahkan keterpedayaan seseorang oleh ilmu dan amalnya sendiri.
Pesannya terasa sangat modern: manusia tidak cukup mengawasi apa yang dilakukan tangannya. Ia juga perlu memeriksa apa yang sedang bergerak di balik tindakannya.
Sebab nafsu tidak selalu datang dengan mengatakan, “Lakukan kejahatan.”
Kadang ia jauh lebih cerdas.
“Bela kebenaran.”
“Jangan mau kalah.”
“Orang itu memang harus dipermalukan.”
“Kamu melakukan ini demi agama.”
Dua orang dapat melakukan tindakan yang tampak sama, tetapi membawa sesuatu yang berbeda di dalam hati. Yang satu mengoreksi karena kasih sayang. Yang lain mengoreksi karena menikmati posisi sebagai orang yang paling benar.
Dari luar, perbedaannya mungkin tipis. Di hadapan hati, jaraknya bisa sangat jauh.
Dan dunia hari ini menyediakan panggung yang luar biasa bagi permainan semacam itu. Kita dapat berdebat sepanjang malam dengan orang yang tidak pernah kita jumpai. Kita dapat mempermalukan seseorang di hadapan ribuan orang hanya dengan beberapa sentuhan jari.
Semua itu mungkin kita sebut kritik, dakwah, atau pembelaan terhadap kebenaran.
Tetapi al-Muhasibi seakan menitipkan sebuah pertanyaan yang tetap relevan melintasi zaman:
Apa sebenarnya yang sedang bergerak di dalam dirimu ketika melakukan semua itu?
Ketika “Saya Benar” Berubah Menjadi “Saya Tidak Mungkin Salah”
Meyakini sesuatu sebagai benar bukanlah kesalahan. Seorang Muslim memang harus mempunyai prinsip. Ada haq dan batil. Ada halal dan haram. Ada perkara yang harus diperjuangkan.
Masalah bermula ketika “Saya meyakini ini benar” perlahan berubah menjadi “Karena itu, saya pasti benar dalam segala hal.”
Kemudian berkembang lagi: “Siapa yang berbeda dengan saya pasti buruk.”
Pada tahap itu, yang sedang kita bela mungkin bukan lagi semata-mata kebenaran. Bisa jadi ada ego yang ikut menumpang di dalamnya.
Kita sulit menerima koreksi. Kritik terasa seperti penghinaan. Perbedaan pendapat terasa seperti permusuhan. Kekalahan argumen terasa seperti kekalahan harga diri.
Imam al-Ghazali memberikan ruang luas dalam Ihya' ‘Ulum al-Din untuk membedah penyakit seperti kibr, ‘ujub, hasad, riya, dan amarah. Penyakit hati tidak cukup dikenali dari gejalanya; manusia perlu berani mencari akar yang menghidupkannya.
Betapa kontemporernya persoalan itu.
Hari ini harga diri juga dipertaruhkan di layar. Sebuah komentar dapat terasa seperti serangan terhadap identitas. Perbedaan kecil dapat berubah menjadi pengadilan akhlak. Satu potongan video kadang dianggap cukup untuk menilai seluruh pribadi seseorang.
Belum lagi algoritma yang terus menyodorkan apa yang menarik perhatian kita. Ketika berulang kali bertemu pandangan yang sama, kita mudah merasa seluruh orang yang waras tentu berpikir seperti kita.
Di sinilah confirmation bias menemukan rumah yang nyaman.
Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang benar?”
Tanpa sadar, pertanyaannya berubah menjadi: “Apa yang membuktikan bahwa saya benar?”
Ketika Rahmah Mulai Menghilang
Ada alarm lain yang seharusnya membuat kita berhenti dan memeriksa diri: hilangnya rahmah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.”
(HR. al-Bukhari no. 6013 dan Muslim no. 2319, dari Jarir bin Abdullah r.a.)
Rahmah kepada anak, keluarga, dan orang yang sepemikiran dengan kita tidak terlalu sulit. Ujian yang lebih berat datang ketika di hadapan kita berdiri seseorang yang berbeda, bahkan seseorang yang pernah menyakiti kita.
Apakah ketika mereka menderita masih ada sesuatu yang bergetar dalam hati kita? Ataukah kita diam-diam menikmatinya?
Ada fragmen kecil dalam kehidupan Buya Hamka yang menarik untuk direnungkan. Ia pernah merasakan pahitnya penjara pada masa pemerintahan Soekarno. Namun ketika Soekarno wafat, Hamka datang dan mengimami salat jenazahnya.
Yang menarik bukan sekadar peristiwa itu, tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya: apa yang kita lakukan terhadap luka yang pernah ditinggalkan orang lain di dalam diri kita?
Luka tetaplah luka. Ketidakadilan tidak menjadi benar hanya karena kita memilih memaafkan. Tetapi luka tidak harus diberi hak untuk menentukan akan menjadi manusia seperti apa kita setelahnya.
Hari ini bahkan luka dapat memperoleh penonton. Kemarahan mendapat tepuk tangan. Perseteruan mendapatkan pendukung. Tanpa sadar, kita bukan lagi sekadar memelihara luka—kita dapat memperoleh validasi untuk terus membenci.
Bahkan Kebaikan Dapat Direbut oleh Nafsu
Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin berkali-kali mengajak pembacanya memperhatikan hubungan yang sangat halus antara amal, keadaan hati, dan nafsu.
Ilmu adalah karunia. Tetapi nafsu dapat mengubahnya menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.
Keberanian adalah karunia. Tetapi nafsu dapat menyeretnya menjadi kegemaran merendahkan.
Kemampuan berbicara adalah karunia. Tetapi nafsu dapat menggunakannya untuk memenangkan diri sendiri.
Di zaman Ibn Qayyim, seseorang mungkin mendapatkan pujian dari majelis yang dihadirinya. Hari ini sebuah pendapat dapat memperoleh ribuan tanda suka dalam beberapa jam. Nama kita dapat disebut, dipuji, dibela.
Semua itu bukan dosa pada dirinya.
Tetapi jiwa mempunyai kemampuan menakjubkan untuk mengambil bagian dari sesuatu yang semula kita niatkan bagi Allah.
Pertanyaannya bukan hanya: “Berapa banyak orang yang mendengar saya?”
Tetapi: “Apa yang terjadi pada hati saya setelah banyak orang mendengar saya?”
Ketika Kebencian Mendapat Pembenaran
Kebencian menjadi semakin berbahaya ketika kita berhasil memberinya alasan moral.
Kita sakit hati, tetapi menyebutnya ketegasan.
Kita ingin menang, tetapi menyebutnya perjuangan.
Kita ingin mempermalukan seseorang, tetapi mengatakan sedang membela kebenaran.
Kita menikmati kehancuran orang lain, tetapi merasa sedang membela agama.
Di sinilah warisan para ulama tazkiyah terasa dekat dengan kehidupan modern. Al-Muhasibi mengajak kita memeriksa gerak batin. Al-Ghazali mengajak mencari akar penyakitnya. Ibn Qayyim memperlihatkan betapa nafsu dapat mengambil bagian bahkan dari sesuatu yang tampaknya baik.
Bukan agar manusia mencurigai setiap kebaikan sampai tidak berani berbuat apa-apa, tetapi agar ia tidak mudah memberikan sertifikat kesucian kepada dirinya sendiri.
Karena itu tidak cukup bertanya:
“Apakah yang saya perjuangkan benar?”
Ada pertanyaan kedua:
“Apakah cara saya memperjuangkannya juga benar?”
Dan ada pertanyaan yang lebih sunyi:
“Apa sebenarnya yang sedang bergerak di dalam hati saya ketika memperjuangkannya?”
Ketika Algoritma Mengenal Kemarahan Kita
Ada sesuatu yang tidak pernah dihadapi al-Muhasibi, al-Ghazali, maupun Ibn Qayyim: algoritma.
Tetapi manusia yang menghadapi algoritma tetap membawa nafsu yang sama—kebutuhan akan pengakuan, kemarahan, hasad, dan keinginan untuk menang.
Teknologinya berubah. Medan tazkiyahnya tetap ada.
Kita hidup pada masa ketika kemarahan dapat menjadi engagement. Konten yang membuat orang marah, takut, atau tersinggung mudah mengundang reaksi.
Jangan sampai apa yang terus-menerus kita konsumsi bukan membuat pandangan semakin luas, tetapi membuat kebencian semakin terlatih.
Jangan sampai kita merasa sedang mencari ilmu, padahal hanya mengumpulkan amunisi untuk mengalahkan orang lain.
Di titik itu, masalahnya bukan lagi sekadar apa yang ada di layar.
Masalahnya adalah apa yang layar itu lakukan terhadap hati kita.
Siapa yang Melakukan Deteksi Dini?
Kita mempunyai banyak cara untuk mengenali ancaman yang datang dari luar. Kita belajar membaca tanda-tandanya dan mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat.
Tetapi siapa yang melakukan deteksi dini terhadap apa yang tumbuh di dalam dada?
Siapa yang memberi peringatan ketika prasangka mulai berubah menjadi kebencian?
Siapa yang membunyikan alarm ketika perbedaan mulai membuat kita kehilangan keadilan?
Siapa yang mengingatkan ketika ilmu tidak lagi membuat kita rendah hati, tetapi justru semakin gemar merendahkan?
Tidak ada alat pemindai untuk itu.
Tidak ada sirene.
Karena penjaganya adalah kita sendiri.
Di sinilah muhasabah menemukan maknanya yang sangat aktual.
Sesekali matikan layar. Berhenti dari perdebatan. Jauhkan diri sebentar dari hiruk-pikuk siapa melawan siapa.
Kemudian tanyakan:
Apakah akhir-akhir ini saya semakin mudah membenci?
Apakah saya mulai menikmati penghinaan terhadap orang yang berbeda?
Apakah saya hanya membaca sesuatu yang membenarkan kelompok saya?
Apakah saya masih mampu mengakui kebaikan orang yang tidak saya sukai?
Apakah saya masih mampu mengakui kesalahan orang yang saya kagumi?
Apakah kritik membuat saya mencari kebenaran—atau sekadar mencari cara membalas?
Apakah ilmu membuat saya semakin tawaduk?
Apakah keberagamaan saya membuat hati semakin penuh rahmah, atau justru semakin keras?
Medan Itu Bernama Jiwa
Al-Qur'an membawa perhatian manusia kembali kepada medan yang sangat dekat: dirinya sendiri.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams [91]: 9–10)
Ibn Katsir menjelaskan di antara makna menyucikan jiwa dalam ayat ini adalah menyucikannya dengan ketaatan kepada Allah dan membersihkannya dari akhlak yang rendah dan sifat tercela. Sebaliknya, jiwa dapat direndahkan ketika dibiarkan menjauh dari petunjuk hingga tenggelam dalam kemaksiatan.
Jiwa bukan sesuatu yang cukup dibiarkan.
Ia harus dirawat. Diperiksa. Dibersihkan. Dikoreksi.
Barangkali inilah benang yang mempertemukan al-Muhasibi, al-Ghazali, dan Ibn Qayyim dengan manusia abad ini.
Mereka hidup jauh sebelum istilah confirmation bias, echo chamber, dehumanization, atau social media engagement dikenal.
Tetapi mereka mengenal sesuatu yang berada di belakang semuanya:
manusia.
Manusia yang ingin dipuji. Manusia yang sulit dikalahkan. Manusia yang mudah marah. Manusia yang dapat tertipu oleh dirinya sendiri. Dan manusia yang mampu menyebut dorongan nafsunya dengan nama yang terdengar sangat mulia.
Teknologi berubah.
Nafsu tidak banyak berubah.
Teror yang Paling Sunyi
Barangkali kita tidak pernah membawa senjata.
Tidak pernah merencanakan kekerasan.
Tidak pernah menjadi ancaman bagi keamanan siapa pun.
Dan sekali lagi, penyakit hati tidak boleh disamakan begitu saja dengan terorisme atau tindak kekerasan.
Namun ada pertanyaan lain yang lebih dekat:
Adakah sesuatu di dalam diri kita yang sedang merampas rahmah, keadilan, dan kerendahan hati sedikit demi sedikit?
Mungkin namanya kebencian.
Mungkin dendam.
Mungkin ‘ujub.
Mungkin fanatisme.
Mungkin kebutuhan untuk selalu menang.
Atau mungkin ego yang begitu pandai berbicara atas nama kebenaran sehingga kita tidak lagi mengenalinya sebagai ego.
Itulah sebabnya tazkiyatun nafs bukan pekerjaan sekali selesai.
Hari ini kita membersihkan hati. Besok kita memeriksanya lagi.
Sebab debu tidak meminta izin sebelum hinggap. Dan penyakit hati tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan.
Sebagiannya justru datang sambil berbisik:
“Kamulah yang paling benar.”
Mungkin itulah teror yang paling sunyi.
Tidak terdengar oleh telinga. Tidak tertangkap oleh mata. Tetapi perlahan dapat mengambil sesuatu yang sangat berharga dari diri kita:
kemampuan untuk tetap adil ketika membenci, tetap rendah hati ketika merasa benar, dan tetap memiliki rahmah ketika berhadapan dengan mereka yang berbeda.
Sebab sebagian teror terdengar oleh banyak orang.
Sebagian lainnya hanya terdengar oleh hati—jika hati itu masih mau mendengarkan.
Wallahu a‘lam.
Referensi
- Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-Ma'idah [5]: 8 dan QS. Asy-Syams [91]: 7–10.
- Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adab, hadis no. 6013.
- Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, Kitab al-Fadha'il, hadis no. 2319.
- Al-Harits al-Muhasibi, al-Ri'ayah li Huquqillah.
- Abu Hamid al-Ghazali, Ihya' ‘Ulum al-Din, khususnya pembahasan penyakit hati, riya, ‘ujub, kibr, hasad, dan amarah.
- Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin bayna Manazil Iyyaka Na‘budu wa Iyyaka Nasta‘in.
- Ibn Katsir, Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Ma'idah [5]: 8 dan QS. Asy-Syams [91]: 9–10.
- Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkam al-Qur'an, tafsir QS. Asy-Syams [91]: 9–10.
- Al-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj.
- Ibn Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari.
✒️ Tsaqif Rasyid Dai
🌐 persadani.org
