Mutatharrif di Dalam Diri

Mutatharrif di Dalam Diri

Mengenali Benih Ekstremisme sebelum Menuding Orang Lain

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Ada sebuah ironi dalam pembicaraan tentang ekstremisme.

Kita begitu mudah mengenali ekstremisme ketika ia muncul pada orang lain, tetapi begitu sulit mengenalinya ketika ia tumbuh dalam diri sendiri.

Ketika seseorang keras kepada kelompok lain, kita menyebutnya fanatik. Ketika ia mudah menuduh sesat, kita menyebutnya ekstremis. Ketika ia membenarkan kekerasan, kita menyebutnya radikal.

Tetapi ketika kita melakukan sesuatu yang serupa terhadap orang yang berbeda dengan kita, kita sering memberinya nama yang lebih terhormat: ketegasan, perjuangan, pembelaan agama, menjaga kemurnian ajaran, atau membela kelompok.

Di sinilah tazkiyatun nufus mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: sebelum memperbaiki dunia di luar diri, manusia perlu belajar membaca apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Yang universal adalah kemungkinan penyimpangan manusia ketika sesuatu yang dianggap suci dipertemukan dengan ego manusia.

Tulisan ini bukan tentang siapa yang ekstrem. Ia adalah cermin, bukan diagnosis. Kita tidak sedang menunjuk seseorang dan berkata "kamu mutatharrif". Kita sedang bertanya kepada diri sendiri: benih apa yang mungkin sedang tumbuh, jauh sebelum ia menjelma menjadi kata-kata keras, apalagi tindakan.

Sebab ekstremisme bukan monopoli satu agama, bangsa, atau ideologi. Ia dapat muncul dalam berbagai wajah — keagamaan, etnis, nasionalisme, bahkan gerakan yang mengaku membela kemanusiaan — setiap kali identitas yang dianggap suci bertemu dengan ketakutan, rasa terancam, kebutuhan akan pengakuan, atau keyakinan bahwa kelompok sendiri memiliki hak eksklusif atas kebenaran. Kita tidak perlu menyusuri satu per satu contohnya untuk memahami hal ini. Cukup kita sadari: agama dapat menjadi sumber rahmah dan pengendalian diri, tetapi manusia juga dapat memakai bahasa agama untuk membenarkan kebencian yang sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri.

Maka pertanyaan pertama yang biasa kita ajukan — "siapa yang ekstrem?" — bukanlah pertanyaan yang tepat untuk memulai. Tazkiyatun nufus mengajukan pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman: apa yang membuat manusia mudah menjadi ekstrem? Dan yang lebih personal lagi: apakah benih-benih itu mungkin ada dalam diriku?

Seseorang mungkin belum pernah melakukan kekerasan, tetapi sudah terbiasa dengan kekerasan verbal. Ia belum pernah menyakiti tubuh orang lain, tetapi gemar menyakiti kehormatan orang lain. Ia belum pernah mengangkat senjata, tetapi setiap hari menghunus kata-kata. Ia tidak pernah mengkafirkan secara terbuka, tetapi diam-diam merasa bahwa hanya kelompoknya yang benar-benar berada di jalan Allah.

Tidak setiap orang yang memiliki prasangka akan menjadi ekstremis. Tidak setiap orang yang keras akan melakukan kekerasan. Namun setiap manusia memiliki kewajiban untuk memeriksa hatinya ketika ia mulai menikmati kebencian, merasa senang melihat kelompok lain dipermalukan, atau menganggap manusia yang berbeda tidak lagi layak mendapatkan kasih sayang.

Di sinilah kita perlu masuk lebih dalam — bukan kepada peristiwa, melainkan kepada proses batin yang mendahuluinya. Sebab tidak ada seorang pun yang bangun pagi lalu memutuskan menjadi ekstrem. Ia bermula dari sesuatu yang jauh lebih halus, bahkan tampak baik.

Pada mulanya, seseorang hanya ingin mencari kebenaran. Ini niat yang mulia, dan setiap Muslim dianjurkan untuk memilikinya. Kemudian ia menemukan kelompok, guru, atau pemahaman yang menurutnya paling mendekati kebenaran itu. Ini pun masih wajar, bahkan diperlukan — manusia belajar melalui sanad, jamaah, dan guru. Tetapi perlahan, identitas kelompok itu mulai menyatu dengan identitas dirinya. Ketika itu terjadi, kritik terhadap kelompok mulai terasa seperti serangan terhadap dirinya sendiri, dan ia mulai membela kelompoknya sebelum memeriksa kembali kebenaran yang sedang dibelanya.

Khazanah Islam sesungguhnya sangat kaya dalam menghadapi persoalan ini, jauh sebelum istilah "ekstremisme" menjadi bahasa modern. Para ulama tidak hanya bertanya, "apakah dalilnya ada?" Mereka juga bertanya, "bagaimana dalil itu dipahami? Apa maqashid-nya? Apa akibat penerapannya?" Dan yang lebih dalam lagi: "apa yang sedang dilakukan hawa nafsu terhadap cara kita memahami agama?"

Allah berfirman mengingatkan tentang bahaya ghuluw — sikap melampaui batas dalam beragama:

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ
"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu dengan cara yang tidak benar." (QS. Al-Ma'idah: 77)

Ayat ini memang berbicara kepada Ahlul Kitab dalam konteksnya. Namun prinsip larangan melampaui batas dalam agama mempunyai pelajaran yang jauh lebih luas. Seorang Muslim tidak seharusnya membaca ayat ini hanya untuk menunjuk kesalahan umat terdahulu. Ia juga perlu bertanya: apakah aku sedang membaca peringatan Allah sebagai cermin, atau sebagai senjata untuk menyerang orang lain?

Nabi ﷺ pun tidak membentuk generasi yang sekadar "keras dalam prinsip". Beliau membentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara prinsip dan rahmah. Diriwayatkan, tiga orang datang bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ. Ketika mereka merasa ibadah mereka sendiri terlalu sedikit, sebagian dari mereka bertekad untuk berpuasa terus-menerus, shalat sepanjang malam, dan tidak menikah. Nabi ﷺ mengoreksi kecenderungan itu. Beliau bersabda bahwa beliau berpuasa dan berbuka, shalat dan tidur, serta menikah — lalu menegaskan bahwa siapa yang tidak menyukai sunnah beliau bukanlah bagian dari jalan beliau (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesannya sangat dalam: kesalehan yang kehilangan keseimbangan dapat berubah menjadi penyimpangan, justru karena ia bermula dari keinginan melakukan kebaikan. Nabi ﷺ juga memperingatkan:

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
"Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan." (HR. Muslim)

Istilah mutanatti'un penting untuk direnungkan karena ia menggambarkan manusia yang melampaui batas dalam perkataan, sikap, dan cara menjalankan agama — bukan hanya dalam tindakan yang tampak nyata.

Jika ditelusuri lebih cermat, penyakit-penyakit hati itu jarang tumbuh sendirian. Ia sering kali saling berkelindan: satu membuka jalan bagi yang lain, lalu perlahan membentuk pola batin yang semakin sulit disadari.

Ia dapat bermula dari ghuluw — sikap berlebih-lebihan dalam beragama — yang pada mulanya bahkan tampak seperti semangat, kesungguhan, dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Ketika tidak disertai ilmu, hikmah, dan keseimbangan, ghuluw dapat menumbuhkan 'ujub: kekaguman terhadap amal, pemahaman, atau kesalehan diri sendiri.

Dari 'ujub, seseorang dapat tergelincir menuju kibr: perasaan lebih tinggi, lebih benar, atau lebih dekat kepada Allah daripada orang lain. Ketika kibr mengeras, lahirlah ta'ashshub — keterikatan fanatik kepada kelompok, guru, tokoh, atau pemahaman sendiri — hingga perlahan batas antara membela kebenaran dan membela identitas diri menjadi kabur.

Dari sini, ta'ashshub dapat menyuburkan su'uzhan: prasangka buruk kepada mereka yang berbeda. Orang lain tidak lagi didengar untuk dipahami, tetapi diamati untuk dicari kesalahannya. Perbedaan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang perlu dijelaskan dan ditimbang, melainkan sebagai tanda bahwa "mereka" memang bermasalah.

Jika semua ini terus dibiarkan, muncullah keyakinan yang paling berbahaya: bukan lagi sekadar "pendapat saya benar", tetapi "saya dan kelompok saya adalah ukuran kebenaran itu sendiri."

Rantai ini jarang terasa sebagai dosa ketika sedang berlangsung. Sebaliknya, ia dapat terasa seperti istiqamah, ghirah, keberanian membela agama, atau kesetiaan kepada kebenaran. Justru di situlah letak tipu dayanya.

Sebagaimana digambarkan Ibn al-Jawzi dalam Talbis Iblis, manusia dapat tertipu ketika sesuatu yang berasal dari dorongan yang keliru tampil dalam bentuk yang tampak baik. Penyakit hati tidak selalu datang dengan wajah keburukan; kadang ia mengenakan pakaian kesalehan.

Karena itu, pertanyaan tazkiyah bukan hanya, "apakah yang saya perjuangkan itu benar?" Tetapi juga, "apakah cara saya memperjuangkannya masih tunduk kepada kebenaran, atau perlahan telah tunduk kepada ego saya sendiri?"

Asy-Syatibi memberi kita perangkat penting untuk memeriksa hal ini melalui maqashid al-syari'ah. Pemahaman terhadap hukum tidak cukup berhenti pada satu teks yang dipetik secara terpisah. Seorang fakih harus memahami keseluruhan bangunan syariat, tujuan-tujuannya, sebab-sebab hukum, dan konsekuensi penerapannya. Maka ketika seseorang berkata, "saya memiliki dalil," pertanyaan ilmiahnya belum selesai. Masih ada: bagaimana dalil itu dipahami? Apa kedudukannya dalam keseluruhan dalil? Apa maqashid-nya? Apakah penerapannya menghasilkan maslahat atau mafsadah?

Dan tazkiyah menambahkan satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang terjadi dengan hati orang yang sedang menggunakan dalil itu? Seseorang tidak cukup hanya memiliki dalil. Ia membutuhkan ilmu yang benar, metode yang benar, tujuan yang benar, dan hati yang terus dikoreksi.

Seorang Muslim boleh, bahkan dituntut, untuk yakin bahwa agamanya benar. Iman menuntut keyakinan. Tetapi ada perbedaan yang sangat halus antara "saya meyakini kebenaran" dengan "karena saya meyakini kebenaran, maka saya berhak merendahkan semua orang yang berbeda". Yang pertama dapat menjadi iman. Yang kedua dapat menjadi pintu kesombongan.

Ini bukan ajakan menuju relativisme. Tawadhu epistemik tidak berarti semua pendapat dianggap sama benar. Kita boleh yakin. Kita boleh memiliki prinsip. Kita boleh mengatakan benar dan salah dengan tegas. Yang tidak boleh adalah menjadikan keyakinan itu sebagai lisensi untuk menyombongkan diri, menghina manusia, atau memonopoli keselamatan atas nama Allah. Inilah yang membedakan wasathiyah dari sekadar sikap lunak tanpa pendirian.

Demikian pula dalam persoalan khilafiyah. Seseorang boleh memiliki pendapat yang kuat, tetapi kekuatan pendapat tidak otomatis memberikan hak untuk menghapus kehormatan orang yang berbeda. Di sinilah adab ulama terdahulu menjadi sangat penting. Mereka dapat berbeda tajam dalam masalah ilmiah, tetapi tidak selalu menjadikan perbedaan sebagai permusuhan personal. Imam Syafi'i dikenal dengan sikap yang sering dikutip dalam literatur adab ikhtilaf:

"Pendapatku benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan; pendapat orang lain salah, tetapi mungkin mengandung kebenaran."

Pesannya bukan bahwa semua pendapat sama benarnya. Pesannya adalah, manusia dapat sangat yakin terhadap suatu pendapat tanpa menganggap dirinya memiliki pengetahuan yang sempurna. Inilah salah satu antibodi terhadap mutatharrif di dalam diri.

Sebab ekstremisme, pada akarnya, hampir selalu membutuhkan pembagian dunia yang sederhana: kami baik, mereka jahat; kami benar, mereka sesat; kami membela Tuhan, mereka melawan Tuhan. Padahal realitas manusia jauh lebih kompleks. Di dalam kelompok kita sendiri ada orang baik dan buruk. Di luar kelompok kita pun demikian. Bahkan orang yang berbeda keyakinan dengan kita tetap memiliki sifat-sifat manusiawi yang sama: mencintai keluarga, takut kehilangan, ingin dihargai, menyesali kesalahan, dan merindukan kehidupan yang damai. Kemampuan melihat manusia sebagai manusia adalah salah satu bentuk rahmah.

Dan bagi siapa pun yang merasa pernah terjerumus, sejauh apa pun, jalan pulang selalu terbuka. Manusia tidak selalu identik dengan kesalahan terburuk yang pernah dilakukannya. Sejumlah mantan anggota kelompok ekstremis di berbagai penjuru dunia menunjukkan bahwa proses melepaskan diri dari kebencian dapat berubah menjadi keterlibatan aktif dalam menyembuhkan luka yang sama. Taubat bukan berarti "tidak pernah terjadi apa-apa". Taubat berarti "saya mengakui apa yang terjadi, menerima tanggung jawab, lalu berusaha mengubah arah hidup." Inilah ruh tazkiyah: mengakui, menyesal, berhenti, memperbaiki, lalu istiqamah.

Maka pada akhirnya, tulisan ini tidak mengajak kita mencari siapa yang mutatharrif di sekitar kita. Ia mengajak kita bertanya kepada diri sendiri, dengan satu pertanyaan yang cukup untuk terus mengganggu kita lama setelah tulisan ini selesai dibaca:

Apakah aku sedang membela kebenaran, atau sedang membela diriku sendiri dengan menggunakan kebenaran?

Jika jawabannya membuat kita tidak nyaman, jangan buru-buru memberi label pada diri sendiri. Itulah saatnya bercermin, bukan menghakimi.

Tazkiyatun Nufus bukan seni mencari penyakit hati orang lain. Ia adalah keberanian melihat penyakit hati sendiri.

Kita tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang merasa dirinya paling suci. Kita membutuhkan manusia yang berani mengoreksi dirinya — ilmu yang membuat semakin rendah hati, agama yang melahirkan rahmah tanpa kehilangan prinsip, dan ketegasan yang tidak berubah menjadi kebencian.

Karena itu, sebelum bertanya, "siapa orang ekstrem di sekitar saya?", mungkin lebih baik kita bertanya, "apakah ada sedikit sifat mutatharrif yang sedang tumbuh di dalam diri saya?" Jika ada, jangan putus asa. Cabut ia ketika masih menjadi benih — sebelum menjadi akar, sebelum menjadi kebiasaan, sebelum menjadi identitas, sebelum tangan ikut melakukan apa yang sebelumnya hanya dilakukan oleh hati dan lisan.

Taubat dimulai ketika manusia berani bercermin. Wasathiyah dimulai ketika manusia bersedia mengoreksi diri. Dan tazkiyatun nufus dimulai ketika kita berhenti menjadikan agama sebagai cermin untuk menghakimi orang lain, lalu mulai menggunakannya untuk melihat siapa diri kita sebenarnya.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.


Referensi

  1. QS. Al-Ma'idah: 77
  2. HR. Muslim, hadits tentang larangan sikap berlebih-lebihan (tanattu')
  3. HR. Bukhari dan Muslim, hadits tiga orang yang bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ
  4. Ibn al-Jawzi, Talbis Iblis
  5. Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah
  6. Ungkapan masyhur Imam Syafi'i dalam literatur adab ikhtilaf
  7. Kisah disengagement mantan anggota kelompok ekstremis, sebagai ilustrasi umum jalan taubat

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

Malam Terakhir Para Kekasih Allah

Gotong Royong: Nafas Persaudaraan yang Membangun Indonesia

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...