Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi
Ketika Ilmu Tinggi Tidak Membuat Hati Tinggi
Muhasabah tentang Takabbur, Ujub, dan Bahaya Merasa Lebih Mulia dari Orang Lain
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Ada sebuah ironi yang sering luput dari kesadaran kita. Seseorang bisa menghabiskan bertahun-tahun mempelajari cara menyembuhkan tubuh manusia, tetapi belum tentu pernah belajar bagaimana menyembuhkan hatinya sendiri.
Belakangan publik kembali digemparkan oleh percakapan di ruang digital yang menyeret tenaga kesehatan dan pasien pengguna layanan jaminan kesehatan. Kata-kata yang dianggap merendahkan memantik amarah luas, dan wajar bila hal semacam itu layak dikritisi karena profesionalitas memang harus dijaga. Namun setelah kemarahan itu reda, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk dibawa pulang: mengapa manusia bisa sampai merasa lebih tinggi daripada manusia lainnya?
Perilaku merendahkan orang lain dapat berakar pada penyakit hati seperti merasa diri lebih tinggi, senang membandingkan diri, dan memandang orang lain lebih rendah—bukan karena kita tahu persis apa yang ada di dalam batin seseorang, sebab itu bukan wilayah yang bisa kita ketahui, melainkan karena pola perilaku semacam itu memang dikenal dalam tradisi tazkiyah sebagai buah dari akar yang sama. Dan inilah yang membuat persoalan ini bukan milik satu profesi saja. Ia adalah penyakit yang bisa menyelinap ke hati siapa pun, termasuk hati kita yang sedang membaca tulisan ini.
Imam Al-Ghazali, dalam Kitab Keajaiban Hati dari Ihya' Ulumuddin, menggambarkan hati sebagai raja yang memerintah seluruh kerajaan tubuh, sementara akal, nafsu, panca indra, dan anggota badan lainnya berperan sebagai aparatur yang menjalankan perintahnya. Ketika raja itu sakit—dihinggapi rasa lebih tinggi dari sesama—maka seluruh kerajaan turut sakit, sekalipun dari luar tampak tertib dan berwibawa.
Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat tajam tentang kesombongan. Dalam sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas'ud RA, ketika seorang sahabat bertanya apakah menyukai pakaian dan sandal yang bagus termasuk kesombongan, beliau bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ... إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi... Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim, no. 131)
Perhatikan betapa dalam definisi Nabi ﷺ ini. Kesombongan ternyata bukan sekadar soal pakaian, gaya bicara, cara berjalan, atau penampilan. Akar kesombongan justru berada pada dua sikap hati: menolak kebenaran (baṭarul-ḥaqq) dan meremehkan manusia (ghamṭun-nās).
Menolak kebenaran berarti seseorang merasa terlalu tinggi untuk menerima koreksi. Ia mungkin memiliki ilmu, pengalaman, jabatan, atau otoritas, tetapi semua itu tidak membuatnya lebih mudah mengatakan, "saya mungkin keliru." Sebaliknya, kelebihan yang dimilikinya justru menjadi dinding yang menghalanginya dari nasihat. Adapun meremehkan manusia adalah ketika seseorang mulai mengukur nilai orang lain berdasarkan apa yang tampak di matanya: gelar, pekerjaan, penghasilan, jabatan, penampilan, status sosial, bahkan jenis layanan yang digunakannya. Padahal manusia tidak pernah memiliki pengetahuan yang cukup untuk memastikan siapa yang lebih mulia di sisi Allah.
Di sinilah ayat Allah menjadi begitu mengguncang:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok." (QS. Al-Hujurat [49]: 11)
Boleh jadi orang yang kita anggap rendah justru lebih tinggi di sisi Allah. Boleh jadi orang yang kita anggap tidak penting justru memiliki hati yang lebih bersih. Boleh jadi seseorang yang secara sosial berada di bawah kita justru lebih dekat kepada Allah daripada kita. Karena itu, penyakit takabbur pada akhirnya bukan hanya membuat seseorang merendahkan manusia—ia membuat manusia salah membaca ukuran kemuliaan.
Lalu jika bukan status sosial, jabatan, atau profesi yang menentukan kemuliaan seseorang, apa sebenarnya ukurannya? Allah menjawabnya sendiri beberapa ayat setelahnya:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Bukan jenis layanan kesehatan, bukan gelar atau jabatan, bukan pula profesi—ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah takwa. Dan takwa adalah perkara hati yang tidak sanggup diukur manusia dengan mata telanjang.
Imam Al-Ghazali, dalam Kitab Tercelanya Sifat Takabbur dan 'Ujub dari Ihya' Ulumuddin, membedakan dua penyakit hati yang sering tertukar ini secara tajam. Ujub adalah kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri dan apa yang ia miliki, tanpa harus didahului oleh kehadiran orang lain sebagai objek perbandingan—seandainya ia sendirian di muka bumi, kekaguman itu tetap akan muncul. Sedangkan takabbur baru lahir ketika ada orang lain sebagai pembanding, sehingga muncul perasaan "saya lebih tinggi, maka dia lebih rendah". Adapun ghurur adalah tertipu oleh keadaan diri sendiri—mengira bahwa karena berilmu, maka pasti baik; karena beribadah, maka pasti dicintai Allah, padahal ilmu dan ibadah adalah amanah, bukan sertifikat kesucian. Ketiganya bukan tahapan yang selalu berurutan secara baku, melainkan penyakit yang saling berkelindan dan saling menguatkan.
Persoalannya bukan pada ilmu itu sendiri. Ilmu tidak bersalah. Yang berbahaya adalah ketika ilmu berhenti melahirkan khasyah dan justru berubah menjadi bahan bakar ego. Allah berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ"Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fathir [35]: 28)
Ilmu yang benar semestinya menuntun seseorang kepada khasyah, bukan kepada rasa berhak merendahkan makhluk-Nya. Seseorang bisa saja memiliki ilmu yang benar, namun akhlaknya tetap rusak jika ilmu itu tidak diamalkan dengan tawaduk.
Perlu ditegaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman: tawaduk bukan berarti kehilangan kapasitas atau profesionalitas. Seorang dokter, pendidik, atau pemegang otoritas tetap boleh bersikap tegas, mengoreksi kesalahan, menegakkan aturan, bahkan menolak tuntutan yang tidak pada tempatnya. Tawaduk bukan tentang merendahkan kapasitas diri, melainkan tentang mengetahui kapasitas diri tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan orang lain. Percaya diri tidak sama dengan sombong. Tegas tidak sama dengan kasar. Berilmu tidak sama dengan merasa paling mulia.
Maka mari kita periksa diri sendiri, bukan orang lain. Bagaimana respons hati kita ketika dikoreksi oleh bawahan, dinasihati oleh orang yang kita anggap kurang berpendidikan, atau dikritik oleh seseorang yang secara sosial "tidak setara"? Bagaimana pula hati kita ketika orang yang kita layani tidak menunjukkan rasa hormat yang kita harapkan? Sebab terkadang ujian takabbur bukan datang ketika kita berada di atas, melainkan justru ketika orang yang kita anggap berada di bawah tidak bersikap sesuai ekspektasi kita.
Al-Ghazali menambahkan satu peringatan yang perlu kita waspadai bersama: di antara akibat hati yang mulai berpenyakit adalah tumbuhnya kebiasaan tajassus, yaitu suka mengintai-intai kesalahan orang lain. Hati yang sudah dihinggapi buruk sangka tidak akan puas hanya dengan dugaan; ia akan mencari-cari pembuktian. Maka jika kita mendapati diri senang mengorek aib orang lain, atau merasa lebih mulia karena tidak melakukan dosa yang dilakukan orang lain, waspadalah—bisa jadi itu bukan kepekaan moral, melainkan ujub yang mengendap tanpa disadari.
Ada satu kewaspadaan yang paling halus dan paling sering luput: jangan sampai kita menjadi sombong karena menentang kesombongan. Seseorang yang sedang mengecam kesombongan orang lain bisa terjatuh pada bentuk kesombongan yang berbeda—merasa dirinya lebih suci karena berhasil menemukan kesalahan orang lain. Kita boleh menegakkan kebenaran, tetapi tidak dengan merasa diri paling benar. Di sinilah titik balik yang sesungguhnya: dari "mereka salah" menjadi "jangan-jangan saya juga", hingga akhirnya "Ya Allah, periksa hatiku". Itulah tazkiyah yang sebenarnya—bukan sibuk melihat orang lain, melainkan mulai berani melihat diri sendiri.
Tradisi tazkiyatun nafs mengajarkan tiga langkah untuk menundukkan hati kembali. Pertama, takhalli—mengenali dan mengosongkan diri dari penyakitnya: mengakui potensi ujub dalam diri, mengenali momen ketika hati mulai merasa lebih, dan menghentikan kebiasaan meremehkan sekecil apa pun. Kedua, tahalli—mengisi ruang yang telah dikosongkan itu dengan sifat-sifat terpuji: tawaduk, rahmah, syukur, dan husnuzan kepada sesama. Ketiga, mujahadah—melatihnya dalam tindakan nyata: menerima nasihat dari siapa pun sumbernya, melayani orang yang tidak memiliki status sosial apa-apa di mata dunia, dan secara sengaja mengakui kelebihan orang lain yang selama ini luput dari perhatian kita.
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, dalam Madarij as-Salikin, menjelaskan bahwa hati mudah terjangkiti dua penyakit kronis: riya' dan takabur. Jika tidak diobati, keduanya akan membinasakan pemiliknya. Dalam pembahasan tafsir Surat Al-Fatihah pada kitab yang sama, beliau meriwayatkan perkataan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa iyyaka na'budu menolak penyakit riya', dan iyyaka nasta'in menolak penyakit takabur. Kita dapat merenungkan kalimat yang kita ulang di setiap rakaat shalat ini sebagai latihan batin: hanya kepada-Mu kami beribadah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan—sebuah pengakuan yang mendidik hati untuk tidak menjadikan diri sendiri sebagai pusat segala sesuatu.
Dalam bagian lain dari kitab yang sama, Ibn Qayyim juga menguraikan—dengan gaya bahasanya sendiri, bukan sebagai kutipan langsung—bahwa dosa-dosa hati seperti takabur, ujub, dan dengki sesungguhnya jauh lebih diharamkan daripada dosa-dosa besar yang tampak zahir, karena keburukan itu muncul dari ketidaktahuan tentang ubudiyah hati. Beliau menggambarkan bahwa antara amal dan hati terdapat semacam jarak perjalanan panjang, dan di sepanjang jalan itu ada rintangan-rintangan yang menghadang amal agar tidak sampai murni ke dalam hati, berupa ujub, takabur, membanggakan amal, dan mencemooh amal orang lain.
Lini masa akan segera berpindah dari satu kemarahan ke kemarahan berikutnya. Tetapi hati yang tidak disucikan dapat membawa penyakit yang sama ke mana pun ia pergi—ke ruang kerja, ke rumah, ke majelis ilmu, bahkan ke dalam ibadah itu sendiri. Barangkali berita itu datang bukan hanya untuk memperlihatkan buruknya sebuah ucapan, tetapi untuk bertanya kepada kita: apa yang keluar dari hati kita ketika kita merasa berada di atas orang lain?
Sebab seseorang bisa saja menjadi tabib bagi tubuh orang lain, namun tetap membutuhkan perjalanan panjang untuk menjadi tabib bagi hatinya sendiri.
Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu, dan jauhkanlah kami dari kesombongan seberat biji sawi sekalipun. Jadikanlah kami hamba yang tawaduk, yang mudah memaafkan, dan yang mengenal kelemahan dirinya di hadapan kebesaran-Mu, meski Engkau titipkan ilmu, jabatan, atau kelebihan apa pun kepada kami. Aamiin.
Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi
- Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 11.
- Al-Qur'an, QS. Al-Hujurat [49]: 13.
- Al-Qur'an, QS. Fathir [35]: 28.
- Shahih Muslim, no. 131, Kitab al-Iman: hadis riwayat Abdullah bin Mas'ud RA tentang larangan kibr dan definisi "al-kibru baṭarul-ḥaqqi wa ghamṭun-nās".
- Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz III (Rubu' al-Muhlikat), Kitab Keajaiban Hati (Kitab ke-21): perumpamaan hati sebagai raja dan anggota badan sebagai prajurit.
- Al-Ghazali, Ihya' Ulumuddin, Juz III (Rubu' al-Muhlikat), Kitab Tercelanya Sifat Takabbur dan 'Ujub (Kitab ke-29): pembedaan ujub dan takabbur, serta pembahasan tajassus.
- Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Juz I, pembahasan tafsir Surat Al-Fatihah (iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in): dua penyakit kronis hati (riya' dan takabur), serta perkataan Ibnu Taimiyah yang diriwayatkan Ibn Qayyim.
- Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij as-Salikin, Juz I, pembahasan ubudiyah hati dan jarak perjalanan amal menuju hati.
