Ketika Azan Berkumandang: Ke Mana Hati Kita Berlari Lebih Dahulu?

Ketika Azan Berkumandang: Ke Mana Hati Kita Berlari Lebih Dahulu?

Membaca Kembali QS. Al-Jumu'ah 9–11 di Tengah Kafilah Notifikasi yang Tak Pernah Berhenti

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Azan sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi dalam beberapa menit itu, hati kita sering kali memperlihatkan siapa yang paling ia dahulukan.

Ada yang badannya sudah melangkah ke masjid, tapi pikirannya masih tertinggal di meja kerja. Ada yang duduk paling depan shaf, tapi hatinya masih membalas chat yang belum sempat terjawab.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Jumu'ah: 9)

Para mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud bukanlah berlari secara fisik, melainkan bersegera dengan kesungguhan memenuhi panggilan Allah. Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan agar seseorang datang dengan sakinah dan waqar — tenang, tidak tergesa-gesa, dan tetap menjaga ketenangan diri.

Dari sinilah muncul lapisan makna yang lebih dalam. Sa'yu tetap bermakna bersegera menuju ibadah secara nyata. Namun jika ayat ini kita bawa ke ruang muhasabah, ada pertanyaan lanjutan yang layak direnungkan: apakah hati kita sudah lebih dahulu menyambut panggilan itu, atau baru kaki yang bergerak sementara pikiran masih tertinggal di dunia?

Menariknya, ayat berikutnya tidak menyuruh kita menjauhi dunia sama sekali. Setelah shalat ditunaikan, umat justru diperintahkan kembali bertebaran di muka bumi mencari karunia Allah, sambil tetap banyak mengingat-Nya (QS. Al-Jumu'ah: 10).

Islam tidak meminta kita keluar dari dunia. Islam hanya mengajarkan agar dunia tidak mengambil tempat yang semestinya menjadi milik Allah dalam hati kita.

Ketika Allah memanggil, tinggalkan dahulu urusan dagang. Setelah ibadah selesai, silakan kembali mengejar rezeki. Yang ditata bukan boleh-tidaknya dunia hadir, melainkan urutan prioritasnya.

Namun ternyata, menjaga urutan ini bukan perkara mudah — bahkan bagi generasi pertama umat ini.

Suatu Jumat, saat Rasulullah ﷺ sedang berdiri berkhutbah, sebuah kafilah dagang tiba di Madinah membawa muatan makanan di tengah masa paceklik. Maka sebagian besar sahabat pun bubar meninggalkan majelis, tertarik menuju kafilah tersebut, dan yang tersisa bersama Nabi ﷺ hanya dua belas orang.

Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan: "Datang kafilah dagang saat kami sedang shalat Jumat bersama Nabi ﷺ, maka orang-orang pun bubar kecuali dua belas orang. Lalu turunlah ayat ini." (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Jumu'ah)

"Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri. Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan.' Dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki." (QS. Al-Jumu'ah: 11)

Bayangkan: itu bukan sembarang majelis. Itu Rasulullah ﷺ sendiri, sedang berdiri, sedang berbicara langsung di hadapan mereka. Tapi begitu ada kebutuhan mendesak di tengah paceklik, banyak yang memilih beranjak.

Bukankah ini cermin yang jujur untuk kita hari ini?

Kita mungkin tidak pernah bubar dari masjid karena kafilah unta. Tapi kafilah dagang zaman ini tidak lagi berbentuk unta bermuatan gandum. Ia hadir dalam layar kecil yang selalu menyala — pesanan yang masuk, chat yang harus segera dibalas, notifikasi yang datang persis di tengah dzikir atau shalat.

Tapi berhenti sejenak — masalahnya sebenarnya bukan pada layar itu sendiri. Ponsel yang sama bisa menjadi wasilah membaca Al-Qur'an, mengikuti kajian, mencari nafkah yang halal, bahkan berdakwah.

Maka persoalan sesungguhnya bukan dunia yang memanggil. Persoalannya adalah hati yang tidak lagi tahu kapan harus menjawab panggilan itu, dan kapan harus menahan diri.

Di sinilah letak tazkiyah yang sesungguhnya perlu kita gali: mengapa hati ini begitu mudah berpaling?

Barangkali karena hati kita telah terbiasa hidup dalam distraksi. Perhatian kita terpecah sepanjang hari, hingga kita merasa setiap pesan harus segera dijawab, setiap notifikasi harus segera dilihat. Kita bahkan mulai terbiasa merasa tidak nyaman ketika tidak sedang melihat sesuatu. Perlahan, hati kehilangan kemampuan untuk tinggal diam di hadapan satu perkara.

Dan ketika kemampuan itu hilang, yang terganggu bukan hanya kekhusyukan shalat kita. Yang sesungguhnya terluka adalah jiwa yang lupa caranya berhenti.

Maka pertanyaan yang layak kita bawa pulang dari ayat ini bukan sekadar "ke mana kaki kita pergi setiap Jumat", karena secara fisik kita mungkin selalu hadir. Pertanyaannya lebih tajam: apa yang pertama kali kita tinggalkan ketika Allah memanggil, dan apa yang pertama kali kita cari begitu panggilan itu usai?

Dunia boleh kita kejar. Rezeki boleh kita cari sepenuh usaha. Tetapi jangan sampai, ketika Allah memanggil, dunia menjadi alasan kita tidak segera menjawab.

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, bantulah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."


Referensi

  1. Al-Qur'an, Surah Al-Jumu'ah (62): 9-11
  2. Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jumu'ah, bab tentang firman Allah "Wa Idza Ra'au Tijaratan aw Lahwan"; riwayat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma — juga termuat dalam Kitab At-Tafsir, Tafsir Surah Al-Jumu'ah
  3. Fath al-Bari, Ibnu Hajar al-'Asqalani, syarah hadits kafilah dagang pada Kitab Al-Jumu'ah

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

Mutatharrif di Dalam Diri

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...