Ketika Rasulullah ﷺ Disakiti: Bagaimana Luka Tidak Meracuni Hati?

Ketika Rasulullah ﷺ Disakiti: Bagaimana Luka Tidak Meracuni Hati?

Belajar dari Sirah Nabi ﷺ tentang Marah, Memaafkan, dan Menjaga Jiwa

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

Pernahkah engkau merasa satu luka lama diam-diam mengubah caramu memandang orang lain? Bukan luka fisik, tapi luka yang lebih dalam — dikhianati, dihina, difitnah, diperlakukan tidak adil oleh orang yang seharusnya menyayangimu.

Tanpa disadari, luka itu bisa menjelma menjadi sesuatu yang lain: kecurigaan yang mengeras, kemarahan yang tak pernah benar-benar reda, atau bahkan kezaliman baru yang lahir dari kezaliman lama yang belum sembuh. Berapa banyak orang yang dulu adalah korban, kini tumbuh menjadi pelaku dengan wajah berbeda?

Maka pertanyaannya menjadi penting: bagaimana seseorang bisa terus-menerus disakiti, namun tidak membiarkan luka itu mengambil alih kendali atas akhlaknya? Untuk pertanyaan sebesar ini, ada satu pribadi dalam sejarah manusia yang mengalami hampir seluruh bentuk luka itu sekaligus, dan tetap menjaga jiwanya tetap bersih. Pribadi itu adalah Rasulullah ﷺ.

Mari kita menengok beberapa fragmen dari perjalanan hidup beliau — bukan untuk mengenang kepedihannya semata, tapi untuk memahami apa yang beliau lakukan dengan kepedihan itu.

Suatu hari di dekat Ka'bah, sekelompok pembesar Quraisy bersepakat mempermalukan Nabi ﷺ saat beliau sedang sujud. Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, 'Uqbah bin Abi Mu'ait meletakkan isi perut unta di antara kedua pundak beliau ketika beliau sujud, dan orang-orang di sekeliling tertawa terbahak-bahak. Beliau tidak mengangkat kepalanya hingga putrinya, Fathimah radhiyallahu 'anha, datang menyingkirkan kotoran itu.

Setelah itu barulah beliau mengangkat kepala dan berdoa, "Ya Allah, timpakanlah balasan kepada Quraisy," diucapkan tiga kali, lalu menyebut nama-nama mereka satu per satu: Abu Jahal, 'Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, al-Walid bin 'Utbah, Umayyah bin Khalaf, dan 'Uqbah bin Abi Mu'ait sendiri.

Riwayat ini shahih diriwayatkan Imam al-Bukhari (no. 240) dari Abdullah bin Mas'ud. Ibnu Mas'ud sendiri kelak bersaksi bahwa seluruh nama yang disebut Nabi ﷺ hari itu ia lihat tergeletak tewas di sumur Badar. Perlu jujur diakui: di sini Rasulullah ﷺ memang mendoakan keburukan atas pelaku yang jelas identitasnya. Ini penting dicatat, sebab keteladanan beliau bukanlah gambaran seorang manusia tanpa emosi yang selalu dan otomatis memaafkan apa pun yang terjadi padanya.

Kekerasan fisik terhadap beliau juga bukan sekali. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, suatu hari seorang Arab Badui menarik selendang Najran yang dikenakan Nabi ﷺ dengan sangat keras, hingga bekas pinggiran kain itu terlihat pada bahu beliau. Si Badui lantas berteriak meminta harta. Rasulullah ﷺ menoleh, tersenyum, dan memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu.

Dua peristiwa yang berdekatan ini saja sudah menunjukkan sesuatu yang penting: respons Rasulullah ﷺ terhadap luka tidak pernah mekanis. Dalam satu keadaan beliau mendoakan keburukan atas pelaku tertentu; dalam keadaan lain beliau membalas kekasaran dengan senyum dan pemberian. Keteladanan beliau bukan tentang menghapus seluruh emosi, melainkan menempatkan emosi, keadilan, dan rahmat masing-masing pada tempatnya.

Fragmen yang paling menyayat datang dari Tha'if. Ketika Makkah terasa semakin berat, beliau pergi ke sana berharap menemukan dukungan. Yang beliau dapati justru anak-anak dan orang-orang bodoh kota itu dikerahkan untuk melempari beliau dengan batu, hingga kedua kaki beliau berdarah.

Di kebun milik 'Utbah dan Syaibah, dalam kondisi terluka dan sendiri, beliau menengadahkan tangan dan mengucapkan salah satu doa paling jujur yang pernah terucap dari lisan manusia:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ. يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي، أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيَّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي

Yang artinya kurang lebih: "Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah, dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku — kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan atas urusanku? Selama Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, karena keluasan afiat-Mu jauh lebih aku butuhkan."

Riwayat doa ini dinukil dari jalur al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir serta al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi, dan masyhur pula dalam kitab-kitab sirah seperti Sirah Ibnu Hisyam dan al-Bidayah wa an-Nihayah. Perlu jujur disampaikan, sebagian ulama hadits menilai sanadnya dha'if karena adanya perawi yang mudallis. Meski begitu, teksnya masyhur dan banyak dinukil dalam literatur sirah dan sejarah, karena kandungan maknanya yang mendalam tentang kepasrahan total kepada Allah — bukan karena keindahan makna itu sendiri yang menjadikannya sahih, melainkan karena substansi kandungannya sejalan dengan akidah yang benar.

Yang terjadi setelahnya diriwayatkan dalam hadits yang muttafaq 'alaih — disepakati Imam al-Bukhari (no. 3231) dan Imam Muslim (no. 1795) dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Aisyah bertanya kepada Nabi ﷺ, apakah pernah ada hari yang lebih berat daripada Uhud. Beliau menjawab bahwa hari tersulitnya justru adalah hari 'Aqabah di Tha'if.

Dalam keadaan sedih itu, datanglah Jibril menyampaikan bahwa Allah telah mendengar penolakan kaumnya, dan mengutus malaikat penjaga gunung untuk beliau perintahkan sekehendaknya. Malaikat itu berkata, "Wahai Muhammad, jika engkau mau, aku bisa menimpakan Al-Akhsyabain kepada mereka" — dua gunung di sekitar Makkah, yang dikenal sebagai al-Akhsyabain. Rasulullah ﷺ menjawab, "Bahkan, aku justru berharap Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Kesempatan untuk membalas ada di hadapan beliau, tetapi beliau memilih berharap agar generasi setelah mereka mengenal Allah. Bandingkan ini dengan doa beliau atas Quraisy yang meletakkan kotoran unta di punggungnya. Dua peristiwa, dua respons berbeda, dan keduanya sama-sama datang dari jiwa yang sama. Di sinilah kita belajar bahwa keteladanan Nabi ﷺ bukan "disakiti lalu selalu memaafkan", melainkan disakiti, lalu tetap berada dalam kendali iman, keadilan, dan rahmat — bukan dikuasai oleh dendam yang membabi buta maupun oleh amarah yang meledak tanpa arah.

Fragmen lain datang dari Perang Uhud, ketika kepala dan wajah mulia beliau terluka serta gigi seri beliau patah. Dalam konteks peristiwa Uhud, Allah menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai mereka bukan berada di tangan Nabi ﷺ, melainkan sepenuhnya di tangan-Nya:

"Tidak ada sedikit pun campur tanganmu (Muhammad) dalam urusan mereka, baik Allah menerima tobat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang zalim." (QS. Ali Imran: 128)

Ada pula luka yang sifatnya lebih personal. Paman beliau sendiri, Abu Lahab, dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi bagian dari orang-orang yang memusuhi dakwah beliau. Al-Qur'an bahkan mengabadikan kecaman terhadap keduanya dalam Surah al-Masad:

"Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sungguh binasa dia. Tidaklah berguna baginya harta dan segala usahanya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak, begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar." (QS. al-Lahab: 1-4)

Di Madinah, luka berganti bentuk menjadi fitnah dari dalam. Tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul termasuk tokoh yang berperan dalam penyebaran fitnah keji terhadap Aisyah radhiyallahu 'anha, hingga Allah menurunkan belasan ayat dalam QS. an-Nur untuk membersihkan namanya. Bahkan ketika Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk membunuh Abdullah bin Ubay, beliau menolaknya dengan pertimbangan bahwa hal itu dapat menimbulkan anggapan, "Muhammad membunuh sahabatnya sendiri." Di sini pun terlihat: menahan diri dari membalas bukan berarti menutup mata dari kezaliman — Aisyah tetap dibela habis-habisan lewat wahyu, sementara nyawa pelaku fitnah tidak diambil karena pertimbangan maslahat yang lebih besar.

Inilah yang penting untuk diluruskan: memaafkan dalam sirah Nabi ﷺ tidak pernah berarti membiarkan kezaliman berlangsung tanpa batas. Ada perbedaan antara luka pribadi yang bisa beliau lepaskan demi kelapangan hati, dan pelanggaran terhadap hak orang lain atau kehormatan yang harus tetap dibela. Rasulullah ﷺ mengajarkan pengendalian dendam pribadi, bukan penghapusan prinsip keadilan.

Dan pada akhirnya, ketika Makkah takluk dan orang-orang yang dulu menyiksanya berdiri di hadapannya menunggu keputusan, dalam riwayat sirah yang masyhur disebutkan beliau bertanya kepada mereka apa yang mereka duga akan beliau lakukan. Mereka menjawab, mengharap kebaikan sebagaimana layaknya seorang saudara yang mulia. Nabi ﷺ pun berkata: "Pergilah, kalian semua bebas." Lafaz spesifik ini masyhur dalam literatur sirah seperti Sirah Ibnu Hisyam dan tercatat dalam Dala'ilun Nubuwwah al-Baihaqi, meski sanad redaksinya sendiri dinilai sebagian ulama tidak mencapai derajat sahih. Yang menjadi kepastian sejarah yang didukung banyak riwayat sahih adalah substansinya: pemberian keamanan dan pengampunan secara luas kepada penduduk Makkah yang dulu memusuhinya.

Mengapa fragmen-fragmen ini penting direnungkan bukan sekadar sebagai kisah heroik, tetapi sebagai cermin bagi jiwa kita sendiri?

Karena yang terjadi pada diri Rasulullah ﷺ bukanlah ketiadaan rasa sakit, dan juga bukan ketiadaan amarah. Doa beliau di kebun Tha'if menunjukkan kelelahan yang jujur diakui. Doa beliau atas Quraisy yang menghinakannya menunjukkan bahwa beliau pun bisa marah terhadap kezaliman yang nyata. Yang membedakan bukanlah ada-tidaknya emosi itu, melainkan apakah emosi tersebut mengambil alih kendali atas akhlak beliau. Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita untuk tidak memiliki kemarahan — beliau mengajarkan bagaimana kemarahan tidak mengambil alih kendali atas hati.

Beliau sendiri menegaskan hakikat kekuatan yang sesungguhnya:

"Orang yang kuat bukanlah yang bisa mengalahkan orang lain dalam perkelahian, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah." (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dan beliau juga bersabda, "Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat" (HR. Muslim no. 2599). Rahmat di sini bukan berarti ketiadaan sikap tegas. Dalam banyak respons beliau, rahmat menjadi kerangka yang menjaga agar ketegasan tidak berubah menjadi kebencian pribadi — baik saat beliau mendoakan keburukan atas pelaku tertentu, berharap hidayah bagi generasi mendatang, maupun tersenyum kepada seorang Badui yang kasar.

Di sinilah letak pelajaran tazkiyatun nafs yang paling praktis untuk kita hari ini. Luka yang tidak diolah dengan benar cenderung mencari jalan keluar yang keliru — pada orang lain yang tidak bersalah, pada generasi berikutnya, atau pada diri sendiri dalam bentuk kepahitan yang menetap. Dari jiwa Rasulullah ﷺ, setidaknya ada empat pelajaran yang bisa kita bawa pulang: mengakui bahwa luka itu ada, tanpa membiarkannya menjadi identitas; mengadukan luka itu kepada Allah, bukan memeliharanya sebagai kebencian; memisahkan antara menegakkan keadilan dan memelihara dendam pribadi; dan yang terakhir, tidak membiarkan pelaku menentukan siapa diri kita akan menjadi.

Orang yang menyakiti kita mungkin hanya melukai tubuh atau perasaan kita sekali. Tetapi ketika luka itu terus kita bawa bertahun-tahun tanpa kita olah, pengalaman tersebut dapat terus melukai kita bahkan ketika pelakunya sudah tidak lagi berada di sekitar kita. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemenangan atas luka bukan sekadar ketika kita berhasil membalas, tetapi ketika orang yang menyakiti kita tidak berhasil mengubah kita menjadi pribadi yang kita sendiri tidak sukai.

Maka pantas kiranya kita bertanya pada diri sendiri: apakah luka yang sedang kualami sekarang ini sedang membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, ataukah diam-diam sedang mengubahku menjadi versi lain dari orang yang telah menyakitiku? Sebab salah satu bentuk kemenangan atas orang yang menyakiti kita adalah ketika ia gagal membuat kita kehilangan akhlak yang selama ini kita perjuangkan.

"Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." (QS. Fushshilat: 34)

"(yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 134)

Semoga Allah membersihkan hati kita dari dendam yang merusak, memberi kita kekuatan untuk menegakkan keadilan tanpa kehilangan rahmat, dan menjaga jiwa kita dari luka yang berubah menjadi kezaliman baru. Aamiin.


Referensi

  1. HR. al-Bukhari no. 240, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — peletakan isi perut unta saat Nabi ﷺ sujud, dan doa beliau atas para pelaku yang disebut namanya
  2. HR. al-Bukhari (no. 5809/6088) dan Muslim (no. 1057), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — seorang Badui menarik selendang Nabi ﷺ dengan sangat keras, lalu beliau tersenyum dan memerintahkan pemberian
  3. Doa Tha'if — dinukil al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dan al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Jami' li Akhlaq ar-Rawi; juga tercatat dalam Sirah Ibnu Hisyam dan al-Bidayah wa an-Nihayah Ibnu Katsir. Sanad dinilai dha'if oleh sebagian ulama hadits (karena 'an'anah seorang perawi mudallis), namun teksnya masyhur diterima dalam literatur sirah
  4. HR. al-Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795 (muttafaq 'alaih), dari Aisyah radhiyallahu 'anha — kisah hari Tha'if/'Aqabah dan tawaran malaikat penjaga gunung
  5. HR. al-Bukhari, dari Anas bin Malik — Nabi ﷺ terluka di Uhud
  6. QS. Ali Imran: 128
  7. QS. al-Lahab: 1-4
  8. Fitnah Abdullah bin Ubay bin Salul (hadits al-Ifk) — HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah radhiyallahu 'anha
  9. "Pergilah, kalian semua bebas" — riwayat sirah masyhur (di antaranya dinukil dalam Dala'ilun Nubuwwah al-Baihaqi dan Sirah Ibnu Hisyam); lafaz spesifiknya dinilai sebagian ulama tidak mencapai derajat sahih, meski substansi amnesti penaklukan Makkah didukung riwayat-riwayat sahih
  10. HR. Muslim no. 2599 — "aku tidak diutus sebagai orang yang suka melaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat"
  11. QS. Fushshilat: 34
  12. QS. Ali Imran: 134
  13. HR. al-Bukhari dan Muslim — hakikat orang yang kuat adalah yang menahan diri ketika marah

Artikel Populer

Hati yang Hidup dan Hati yang Mati

10 Hari yang Menguji Kejujuran Hati

Mutatharrif di Dalam Diri

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...