Misykat: Sebuah Kritik Epistemologis terhadap Krisis Identitas Kognitif Muslim Kontemporer

Misykat: Sebuah Kritik Epistemologis terhadap Krisis Identitas Kognitif Muslim Kontemporer

Abstrak

Karya Hamid Fahmi Zarkasyi, Misykat, menawarkan analisis mendalam tentang fenomena disonansi kognitif yang dialami Muslim kontemporer dalam mengintegrasikan keimanan dengan sistem pengetahuan modern. Tulisan ini mengkaji Misykat dari perspektif psikologi kognitif dan spiritual Islam, mengidentifikasi bagaimana kolonisasi epistemologis menciptakan fragmentasi internal antara keyakinan teologis dan kerangka berpikir sekular yang terinternalisasi tanpa kesadaran kritis.

1. Pendahuluan: Anatomisasi Krisis Epistemologis

Fenomena yang diidentifikasi Misykat bukanlah sekadar krisis keimanan dalam pengertian konvensional, melainkan apa yang dapat disebut sebagai epistemic colonization—proses dimana struktur kognitif individu Muslim dibentuk oleh paradigma epistemologis Barat tanpa kesadaran reflektif. Dalam terminologi psikologi kognitif, ini merupakan bentuk implicit belief formation dimana asumsi-asumsi filosofis terinternalisasi sebagai "kebenaran yang terberi" (given truths).

Hamid Fahmi mengidentifikasi bahwa problem utama bukanlah kehilangan iman (loss of faith), melainkan kehilangan kedaulatan epistemologis (epistemic sovereignty)—ketidakmampuan untuk menentukan kriteria kebenaran berdasarkan worldview Islam sendiri. Ini menciptakan kondisi yang dalam psikologi disebut cognitive dissonance, dimana individu memegang dua sistem kepercayaan yang bertentangan secara bersamaan.

2. Kerangka Teoritis: Psikologi Kognitif dan Epistemologi Islam

2.1 Disonansi Kognitif dan Fragmentasi Identitas

Leon Festinger (1957) menjelaskan bahwa disonansi kognitif terjadi ketika individu mengalami ketidakkonsistenan antara kognisi, kepercayaan, atau perilaku. Pada Muslim kontemporer, disonansi ini termanifestasi dalam bentuk:

  • Kepercayaan eksplisit: "Al-Qur'an adalah kebenaran mutlak"
  • Kepercayaan implisit: "Sesuatu baru benar jika dapat diverifikasi secara empiris-saintifik"

Ketika dua proposisi ini berbenturan, muncul psychological distress yang sering tidak disadari karena berada di level meta-kognitif—individu tidak menyadari bahwa ia sedang menggunakan dua sistem penilaian yang berbeda.

2.2 Internalisasi Paradigma dan Schema Theory

Menurut teori schema dalam psikologi kognitif, manusia mengorganisir pengetahuan dalam struktur mental yang disebut schemas atau mental frameworks. Misykat menunjukkan bahwa sistem pendidikan modern telah menanamkan secular schemas sebagai kerangka default untuk memproses informasi, sementara Islamic schemas hanya diaktifkan dalam konteks ritual atau emosional.

Inilah yang menciptakan apa yang dapat disebut compartmentalization of consciousness—pemisahan kesadaran dimana iman dan rasionalitas berada di ruang terpisah, tidak terintegrasi.

3. Dimensi Spiritual: Tauhid sebagai Prinsip Integrasi Kognitif

3.1 Tauhid: Lebih dari Teologi, Sebuah Epistemologi

Dalam tasawuf dan filsafat Islam klasik, التوحيد tauhid bukan hanya pengakuan keesaan Tuhan, tetapi juga prinsip penyatuan seluruh realitas di bawah sumber kebenaran tunggal. Al-Ghazali dalam إحياء علوم الدين Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa puncak pengetahuan adalah ketika seluruh ilmu merujuk kembali kepada Allah sebagai الحقّ al-Haqq (Kebenaran Absolut).

Misykat menggunakan simbolisme cahaya dari Surah an-Nur ayat 35, dimana مِشْكَاة misykat (ceruk tempat cahaya) merepresentasikan wadah atau kerangka epistemologis. Jika wadahnya retak atau tercampur, cahaya yang sampai pada jiwa menjadi kabur atau menyesatkan.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ ۖ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ ۖ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus (misykat), yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu dalam tabung kaca, tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan." (QS. An-Nur: 35)

Dalam terminologi spiritual Islam:

  • القلب Qalb (hati spiritual) adalah pusat kesadaran dan pengetahuan sejati
  • العقل Aql (intelek) adalah instrumen, bukan hakim tertinggi
  • الوحي Wahyu adalah cahaya yang mengilluminasi aql

Ketika hierarki ini terbalik—ketika aql atau sains empiris dijadikan hakim atas wahyu—terjadi apa yang dalam tasawuf disebut غيرة قلبية ghirah qalbiyah (kebutaan hati), dimana mata hati kehilangan kemampuan untuk melihat kebenaran esensial.

3.2 Maqam Tawakal dan Epistemic Humility

Dalam psikologi spiritual Islam, مقام التوكل maqam tawakal (sikap bertawakal) mengandung dimensi epistemologis: pengakuan bahwa pengetahuan manusia terbatas dan Allah adalah sumber pengetahuan sejati. Ini berbeda dengan epistemic arrogance paradigma rasionalisme Barat yang menganggap akal manusia otonom dan mampu mencapai kebenaran absolut tanpa wahyu.

Misykat mengajak pada epistemic humility yang paradoksal: percaya diri pada wahyu sebagai sumber kebenaran, sambil rendah hati mengakui keterbatasan akal dalam memahaminya secara sempurna.

4. Analisis Psikologis: Mekanisme Internalisasi dan Resistensi

4.1 Hegemoni Gramscian dalam Konstruksi Kognitif

Antonio Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni budaya bekerja bukan melalui paksaan langsung, tetapi melalui internalisasi nilai-nilai dominan hingga dianggap sebagai "common sense". Dalam konteks epistemologis, paradigma saintisme-sekularisme telah mencapai status hegemonis dimana asumsi-asumsinya tidak lagi dipertanyakan.

Proses ini terjadi melalui:

  1. Pendidikan formal: Kurikulum yang memisahkan "ilmu agama" dan "ilmu umum", menciptakan hierarki implisit
  2. Discourse dominan: Bahasa akademis yang melegitimasi hanya metode empiris-positivistik
  3. Peer pressure kognitif: Takut dianggap "tidak rasional" atau "anti-sains"

4.2 Defensive Apologetics sebagai Gejala Inferioritas Epistemologis

Fenomena yang sering muncul adalah defensive apologetics—kecenderungan untuk "membela" Islam dengan menunjukkan bahwa ajaran Islam "sesuai dengan sains modern". Secara psikologis, ini adalah indikator epistemic insecurity: keyakinan yang sejatinya kuat namun merasa perlu validasi eksternal.

Dalam teori locus of control (Rotter, 1966), ini menunjukkan external locus of epistemic authority—kebenaran ditentukan oleh otoritas eksternal (sains Barat) bukan internal (wahyu). Ini menciptakan ketergantungan psikologis dan ketidakstabilan identitas intelektual.

5. Implikasi Klinis: Kecemasan Eksistensial dan Fragmentasi Diri

5.1 Existential Anxiety dalam Ruang Epistemologis

Viktor Frankl dalam Man's Search for Meaning menjelaskan bahwa krisis makna (existential vacuum) adalah sumber utama kecemasan modern. Ketika Muslim kontemporer kehilangan kerangka makna yang koheren—karena tidak bisa sepenuhnya menerima paradigma sekular namun juga tidak yakin dengan paradigma Islam—muncul epistemic anxiety: kecemasan yang berakar pada ketidakpastian tentang apa yang benar dan bagaimana mengetahuinya.

Gejala-gejalanya:

  • Keraguan berulang yang tidak produktif (rumination)
  • Defensive intellectualization (bersikap terlalu intelektual untuk menghindari ketidaknyamanan emosional)
  • Spiritual bypassing (menggunakan ritual keagamaan untuk menghindari pertanyaan epistemologis mendasar)

5.2 Fragmentasi Diri dan Integrasi Identitas

Carl Rogers menjelaskan bahwa kesehatan psikologis memerlukan kongruensi antara ideal self, real self, dan perceived self. Pada Muslim dengan krisis epistemologis, terjadi inkongruensi:

  • Ideal self: Muslim yang beriman penuh
  • Real self: Berpikir dengan kerangka sekular
  • Perceived self: Merasa tidak cukup religius atau tidak cukup rasional

Misykat menawarkan jalan menuju integrasi melalui epistemic self-awareness—kesadaran reflektif tentang kerangka berpikir yang sedang digunakan, sebagai langkah pertama menuju integrasi yang otentik.

6. Terapi Epistemologis: Jalan Menuju Integrasi Kognitif-Spiritual

6.1 Metacognitive Awareness sebagai Langkah Awal

Terapi kognitif modern (Beck, 1979) menekankan pentingnya kesadaran meta-kognitif: kemampuan untuk mengamati dan mengevaluasi proses berpikir sendiri. Misykat pada dasarnya adalah latihan meta-kognitif: mengajak pembaca untuk tidak hanya berpikir, tetapi berpikir tentang cara mereka berpikir.

Proses ini melibatkan:

  1. Identifikasi asumsi tersembunyi: Apa yang saya anggap "jelas dengan sendirinya"?
  2. Pelacakan genealogi kognitif: Dari mana asumsi ini berasal?
  3. Evaluasi konsistensi internal: Apakah kerangka berpikir saya koheren dengan worldview Islam?

6.2 Reframing: Dari Defensive ke Confident Epistemology

Dalam terapi kognitif, reframing adalah teknik mengubah cara memandang situasi tanpa mengubah situasinya. Misykat melakukan reframing epistemologis:

Dari: "Bagaimana Islam bisa dibuktikan dengan sains?"
Menjadi: "Dengan kriteria apa sains sendiri menentukan kebenaran, dan apakah kriteria itu universal?"

Dari: "Apakah ajaran Islam masih relevan di era modern?"
Menjadi: "Apa definisi 'relevan' dan siapa yang menentukannya?"

Ini bukan penolakan terhadap sains atau modernitas, tetapi repositioning: menempatkan Islam kembali sebagai subjek yang bertanya, bukan objek yang dipertanyakan.

6.3 Tazkiyatun Nafs: Purifikasi Epistemologis

Dalam tradisi spiritual Islam, تزكية النفس tazkiyatun nafs (purifikasi jiwa) bukan hanya pembersihan moral tetapi juga purifikasi kognitif. Imam al-Ghazali dalam المنقذ من الضلال al-Munqidz min ad-Dalal menjelaskan perjalanannya keluar dari keraguan melalui pembersihan hati dari التعصّب ta'assub (fanatisme buta) dan التقليد taqlid (peniruan tanpa pemahaman).

Aplikasi kontemporer tazkiyah epistemologis:

  • التخلّي Takhalli (pengosongan): Membuang asumsi-asumsi yang tidak dikritisi
  • التحلّي Tahalli (pengisian): Mengisi dengan prinsip-prinsip epistemologis Islami
  • التجلّي Tajalli (illuminasi): Mencapai kejernihan visi dimana wahyu dan akal terintegrasi secara harmonis

7. Studi Kasus: Manifestasi Klinis Krisis Epistemologis

Kasus A: Mahasiswa Sains dengan Identity Confusion

Seorang mahasiswa biologi yang taat beribadah mengalami kecemasan kronik ketika mempelajari teori evolusi. Ia tidak bisa menolaknya (karena "secara saintifik terbukti") tetapi juga tidak nyaman menerimanya (karena "bertentangan dengan Al-Qur'an").

Analisis: Disonansi kognitif menciptakan approach-avoidance conflict. Solusi yang sering dipilih: compartmentalization—menerima evolusi di kelas, menerima penciptaan di masjid, tanpa pernah mengintegrasikan keduanya.

Intervensi berbasis Misykat: Bukan menyelesaikan debat evolusi vs penciptaan, tetapi menyadarkan bahwa teori evolusi sendiri dibangun di atas asumsi-asumsi filosofis tertentu (naturalisme, materialisme) yang bisa dipertanyakan. Membuka ruang untuk bertanya: "Apa yang dimaksud 'terbukti secara saintifik' dan apakah itu satu-satunya cara mengetahui kebenaran?"

Kasus B: Aktivis Muslim dengan Kelelahan Argumentatif

Seorang da'i muda yang aktif berdebat di media sosial mengalami burnout intelektual. Ia merasa selalu kalah argumen meskipun "merasa benar", lalu menyalahkan diri sendiri karena "kurang ilmu".

Analisis: Epistemic inferiority complex—merasa harus membuktikan Islam dengan standar yang ditetapkan lawan debat. Ini menciptakan perpetual defensive stance yang menguras energi mental.

Intervensi berbasis Misykat: Kesadaran bahwa ia tidak perlu "menang debat" dengan standar lawan. Yang perlu dilakukan adalah mengklarifikasi: "Kita sedang berdebat dengan asumsi dan kriteria siapa?" Ini menggeser posisi dari defensif menjadi reflektif, dari reaktif menjadi proaktif.

8. Implikasi untuk Pendidikan dan Pembinaan Mental Muslim

8.1 Kurikulum yang Terintegrasi Epistemologis

Pendidikan Islam kontemporer perlu melampaui pengajaran "mata pelajaran agama" terpisah, menuju integrated Islamic education dimana setiap disiplin ilmu diajarkan dengan kesadaran epistemologis:

  • Sains diajarkan bukan sebagai "kebenaran objektif" tetapi sebagai metode inquiry dengan limitasi tertentu
  • Sejarah diajarkan dengan kesadaran bahwa historiografi sendiri tidak netral
  • Filsafat diajarkan bukan untuk meng-Islamisasi filsafat Barat, tetapi untuk mengembangkan filsafat dari dalam tradisi Islam

8.2 Pembinaan Kesehatan Mental Holistik

Psikologi Islam perlu mengembangkan model terapi yang tidak hanya menangani gejala (kecemasan, depresi) tetapi juga akar epistemologis. Ini melibatkan:

  • Epistemic counseling: Membantu individu mengidentifikasi dan mengatasi disonansi kognitif epistemologis
  • Worldview therapy: Membangun kembali pandangan dunia yang koheren dan stabil
  • Spiritual-cognitive integration: Menyatukan dimensi spiritual dan kognitif dalam proses penyembuhan

9. Kesimpulan: Misykat sebagai Proyek Emansipasi Kognitif

Misykat bukan sekadar kritik terhadap pemikiran Islam kontemporer, tetapi proyek emansipasi kognitif—pembebasan kesadaran Muslim dari kolonisasi epistemologis yang menciptakan fragmentasi internal dan inferioritas intelektual.

Dari perspektif psikologis, Misykat adalah bentuk consciousness-raising: membawa ke permukaan asumsi-asumsi yang selama ini bekerja di bawah sadar, sehingga individu dapat membuat pilihan epistemologis yang sadar dan otentik.

Dari perspektif spiritual Islam, Misykat adalah panggilan kembali ke tauhid epistemologis: penyatuan seluruh pengetahuan di bawah cahaya wahyu, dimana akal berfungsi sebagai instrumen yang terintegrasi dengan hati spiritual, bukan sebagai hakim otonom yang terpisah dari bimbinan Ilahi.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

"Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)

Integrasi ini bukan penolakan terhadap modernitas atau sains, tetapi repositioning: menempatkan Islam kembali sebagai subjek yang bertanya, mengkritisi, dan mengevaluasi—bukan objek yang selalu harus membela diri atau menyesuaikan diri.

Pada akhirnya, kesehatan mental dan spiritual Muslim kontemporer memerlukan lebih dari sekadar terapi simptomatik. Yang dibutuhkan adalah rekonstruksi epistemologis fundamental: membangun kembali fondasi kognitif yang kokoh, dimana iman dan akal terintegrasi secara harmonis, dan individu dapat berdiri dengan percaya diri di atas tanahnya sendiri—bukan di atas tanah pinjaman yang bisa runtuh kapan saja.


Referensi

  • Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. إحياء علوم الدين Ihya Ulumuddin.
  • Al-Ghazali, Abu Hamid. المنقذ من الضلال al-Munqidz min ad-Dalal.
  • Frankl, V. (1946). Man's Search for Meaning. Beacon Press.
  • Rogers, C. (1961). On Becoming a Person. Houghton Mifflin.
  • Beck, A. (1979). Cognitive Therapy and the Emotional Disorders. Penguin Books.
  • Rotter, J. B. (1966). "Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement". Psychological Monographs, 80(1).
  • Zarkasyi, H.F. مشكاة Misykat: Mata Air Pemikiran Islam.

Artikel ini ditulis sebagai kajian akademis untuk memahami dimensi psikologis dan spiritual dari krisis epistemologis yang dialami Muslim kontemporer, sebagaimana diidentifikasi dalam karya Misykat. Semoga bermanfaat untuk pengembangan pemikiran Islam yang lebih matang dan terintegrasi.

Artikel Populer

Nabi Adam Korban Cinta pada Keagungan Allah

Malu, Mahkota Akhlak yang Terlupakan

Psikologi di Balik Kalimat-kalimat Zikir yang Menyembuhkan Jiwa

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...