Bisikan Hati yang Tak Boleh Dibungkam
Antara Diam dan Iman: Saat Netralitas Jadi Pengkhianatan
Pernahkah kamu melihat temanmu diejek beramai-ramai, lalu memilih diam karena takut ikut jadi sasaran? Atau menyaksikan kabar bohong menyebar di grup WhatsApp, tapi engkau hanya menggulung layar dan pura-pura tak tahu? Di dalam hati kecilmu mungkin bergumam: “Aku tidak memihak siapa-siapa. Aku netral.”
Tapi benarkah demikian?
Ketika Diam Menjadi Pilihan
Banyak dari kita memilih diam bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa tak berdaya. “Apa gunanya aku bicara? Toh, tidak akan didengar.” Atau, “Nanti malah ribut, lebih baik diam saja.”
Para peneliti pernah menemukan fenomena menarik: semakin banyak orang yang menyaksikan suatu kejadian buruk, semakin kecil kemungkinan seseorang mengambil tindakan. Ini disebut efek penonton. Setiap orang menunggu orang lain bertindak—dan akhirnya, tak seorang pun maju.
Di kelas, di media sosial, bahkan di lingkungan sekitar, diam sering kali lahir dari rasa takut, lelah, atau kebingungan. Tapi diam itu sendiri bukanlah ruang kosong. Ia adalah pilihan—dan pilihan itu punya konsekuensi.
Diam dalam Perspektif Akhlak Islam
Islam tidak mengajarkan sikap netral saat kezaliman terjadi. Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
(Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya—dan itulah selemah-lemahnya iman.)
Perhatikan: bahkan mengingkari dengan hati—yang merupakan bentuk paling minimal—tetap diwajibkan. Artinya, diam total tanpa penolakan batin pun sudah keluar dari batas iman.
Ibnu Taimiyah dalam kitab al-Hisbah fi al-Islam menjelaskan bahwa menjaga keadilan dan mencegah kemungkaran adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas penguasa atau ulama. Setiap Muslim adalah bagian dari “penjaga” bagi saudaranya.
Bukan Soal Kekuatan, Tapi Keberanian Moral
Sejarah mencatat bagaimana orang-orang biasa bisa terbawa arus kejahatan hanya karena memilih diam. Psikolog Philip Zimbardo menyebutnya Efek Lucifer: kebaikan bisa memudar ketika lingkungan membiarkan keburukan tumbuh tanpa tantangan.
Namun, di sisi lain, para pejuang keadilan seperti Nabi Ibrahim عليه السلام justru mulai dari satu suara. Saat seluruh kaumnya menyembah berhala, beliau berkata dengan tenang namun tegas:
«إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَىٰ رَبِّي سَيَهْدِينِ»
(Sesungguhnya aku pergi kepada Tuhanku; Dia akan memberiku petunjuk.)
Beliau tidak menunggu massa. Beliau tidak menuntut kekuatan besar. Cukup dengan keyakinan dan keberanian moral, langkah kecilnya menjadi cahaya abadi.
Kamu pun tak perlu menjadi pahlawan yang berteriak di podium. Cukuplah engkau menolak membenarkan yang salah—dalam obrolan, di kolom komentar, atau bahkan dalam diam yang tidak lagi pasif, tapi penuh penolakan batin yang hidup.
Mulai dari Diri, Bergerak dengan Hikmah
Menentang kezaliman bukan berarti membakar diri. Islam mengajarkan hikmah: bertindak sesuai kadar kemampuan, dengan niat yang lurus, dan cara yang bijak.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum al-Din mengingatkan: perbaiki niatmu terlebih dahulu. Jangan berbicara untuk mencari pujian, tapi untuk menegakkan kebenaran.
Dan jangan lupa: jaga hatimu juga. Jangan sampai semangatmu padam karena terlalu keras pada diri sendiri. Seperti kata ilmuwan modern, self-compassion—kasih sayang pada diri sendiri—justru membuatmu bertahan lebih lama dalam perjuangan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
(Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.)
Tapi ingat: diam di sini bukan berarti menyetujui kebatilan. Diam itu indah hanya jika ucapan justru akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Namun, jika diammu justru melindungi kezaliman, maka diam itu sendiri adalah bentuk kejahatan.
Penutup: Bisikan yang Mengguncang Langit
Jangan biarkan diammu menjadi tembok yang melindungi kezaliman. Bahkan bisikan kebenaran, jika datang dari hati yang ikhlas, bisa mengguncang langit.
Allah tidak meminta engkau mengubah dunia dalam sehari. Tapi Ia menantimu untuk tidak diam saat hatimu tahu mana yang benar.
Karena diam—dalam dunia yang penuh ujian—bukanlah netral.
Diam adalah suara yang tak terucap…
dan suara itu tetap didengar oleh Yang Maha Mendengar.