Ketika Kejujuran Mengalahkan Optimisme
Ketika Kejujuran Mengalahkan Optimisme: Paradigma Istighfar dalam Era Toxic Positivity
Dalam lanskap kontemporer yang didominasi oleh hustle culture dan imperativ produktivitas tanpa henti, kita tengah menyaksikan fenomena paradoksal: semakin banyak individu yang terjebak dalam kelelahan eksistensial (existential fatigue) justru karena dipaksa untuk terus-menerus tampil positif.
Artikel ini menawarkan sebuah alternatif epistemologis yang berakar pada tradisi spiritual Islam—konsep istighfar (ٱسْتِغْفَار) sebagai counternarrative terhadap afirmasi positif yang telah mengalami komodifikasi berlebihan dalam industri self-help modern.
Dilema Afirmasi Positif: Antara Emansipasi dan Represi
Gerakan positive psychology yang dipopulerkan oleh Martin Seligman (1998) telah membawa kontribusi signifikan dalam memahami flourishing dan well-being manusia. Namun, dalam praktiknya, afirmasi positif sering mengalami distorsi menjadi apa yang Barbara Ehrenreich (2009) sebut sebagai "bright-sided thinking"—sebuah tyranny of positive thinking yang justru menjadi mekanisme represi emosional.
Ketika seseorang dalam kondisi psychological distress diminta untuk mengulang-ulang mantra "I am happy" atau "I am successful," terjadi apa yang dalam psikoanalisis disebut sebagai cognitive dissonance (Festinger, 1957)—ketidakselarasan antara realitas internal dan narasi yang dipaksakan. Alih-alih mencapai transformasi autentik, individu justru mengalami emotional bypassing (Welwood, 2000), yakni penggunaan konsep spiritual atau positif untuk menghindari perasaan yang tidak terselesaikan.
Istighfar: Kejujuran Radikal sebagai Fondasi Transformasi
Dalam tradisi tasawuf (تَصَوُّف), konsep istighfar (ٱسْتِغْفَار) (dari akar kata غ-ف-ر yang berarti "menutupi" atau "mengampuni") bukan sekadar ritual verbal, melainkan sebuah praxis transformatif yang dimulai dari prinsip muhasabah (مُحَاسَبَة) (introspeksi kritis) dan inabah (إِنَابَة) (kembali kepada Sumber).
Imam al-Ghazali (الإمام الغزالي) dalam Ihya Ulumuddin (إحياء علوم الدين) menjelaskan bahwa istighfar yang sejati (istighfar haqiqi استغفار حقيقي) melibatkan tiga dimensi:
- 'Ilm (عِلْم) (pengetahuan kognitif tentang kesalahan)
- Hal (حَال) (pengalaman afektif berupa penyesalan tulus/nadam نَدَم)
- 'Amal (عَمَل) (komitmen perilaku untuk tidak mengulangi/'azm عَزْم)
Ketiga dimensi ini menciptakan apa yang dalam psikologi kontemporer disebut sebagai integrated self-awareness—kesadaran yang menyeluruh, bukan yang terfragmentasi.
Perbandingan Paradigmatik: Afirmasi vs. Istighfar
1. Locus of Control
Afirmasi Positif beroperasi dalam kerangka internal locus of control yang ekstrem. Ia menempatkan ego (nafs al-ammarah النَّفْس الأَمَّارَة) sebagai pusat kekuatan: "I can, I will, I am enough." Dalam konteks ini, kegagalan menjadi ancaman eksistensial terhadap narasi diri, memicu apa yang Carol Dweck (2006) identifikasi sebagai fixed mindset—ketakutan patologis terhadap kesalahan.
Istighfar, sebaliknya, beroperasi dalam paradigma theo-centric empowerment. Formula istighfar yang komprehensif—"أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ" "Astaghfirullah al-'Adhim, alladhi la ilaha illa Huwal Hayyul Qayyum wa atubu ilaih"—mengandung tiga elemen psiko-spiritual:
- Pengakuan keterbatasan ('ajz عَجْز): "Aku lemah, Engkau Maha Kuat"
- Rekognisi terhadap Sumber (tawakal تَوَكُّل): Menempatkan kebergantungan pada al-Hayy (الْحَيّ) (Yang Maha Hidup) dan al-Qayyum (الْقَيُّوم) (Yang Maha Mengurus)
- Komitmen transformatif (taubah تَوْبَة): Kembali kepada jalan yang benar bukan dengan arogansi, melainkan dengan inabah (إِنَابَة) (kepasrahan yang aktif)
2. Relasi dengan Kegagalan
Dalam framework afirmasi positif, kegagalan adalah anomali yang harus dihindari atau di-reframe sedemikian rupa hingga tidak lagi terasa sebagai kegagalan. Ini menciptakan apa yang Brené Brown (2012) sebut sebagai "vulnerability hangover"—rasa malu yang mendalam ketika realitas tidak sesuai dengan proyeksi ideal diri.
Istighfar, sebaliknya, memperlakukan kegagalan sebagai ontological constant—bagian inheren dari kondisi manusia (bashariyyah بَشَرِيَّة). Hadits Nabi Muhammad SAW menegaskan:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
"Kullu bani Adam khatta', wa khayru al-khatta'in at-tawwabun" (Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat - HR. Tirmidzi).
Ini bukan fatalism, melainkan realistic optimism—pengharapan yang membumi, yang tidak menyangkal realitas kelemahan manusiawi namun tetap percaya pada kemungkinan pembaruan melalui rahmat Ilahi.
3. Mekanisme Psikologis
Riset dalam neuroscience menunjukkan bahwa self-affirmation yang dipaksakan ketika sedang dalam negative emotional state justru dapat mengaktivasi anterior cingulate cortex—area otak yang terkait dengan deteksi konflik (Critcher & Dunning, 2015). Ini menjelaskan mengapa afirmasi positif sering terasa "tidak nyaman" atau bahkan memperburuk kondisi.
Istighfar, dengan struktur kejujurannya, justru memfasilitasi apa yang dalam terapi modern disebut emotional validation—pengakuan terhadap perasaan tanpa judgment. Ketika seseorang berkata, "Ya Allah, aku telah berbuat salah," ia sedang melakukan affect labeling yang terbukti secara neurologis dapat mengurangi aktivitas amygdala (Lieberman et al., 2007)—pusat emosi negatif di otak.
Lebih jauh, istighfar yang diikuti dengan mengingat sifat-sifat Allah (al-Hayy, al-Qayyum, al-Ghafur الْغَفُور, ar-Rahim الرَّحِيم) mengaktivasi apa yang dalam psikologi disebut secure attachment system. Seperti yang dijelaskan dalam Attachment Theory (Bowlby, 1969; Ainsworth, 1978), rasa aman yang konsisten dari figur attachment memungkinkan individu untuk mengeksplorasi dunia dan menghadapi kegagalan tanpa kehilangan sense of self-worth.
Protokol "Reset Spiritual": Integrasi Istighfar dalam Praxis Keseharian
Berikut adalah protokol praktis yang mensintesiskan wisdom tradisi dengan pemahaman psikologis kontemporer:
Langkah 1: Pause & Presence
Berhenti dari aktivitas. Praktikkan mindful breathing selama 3-5 siklus napas. Ini mengaktifkan sistem parasimpatis dan menurunkan kortisol (hormon stres).
Langkah 2: Radical Honesty (Muhasabah)
Akui kesalahan dengan spesifik tanpa self-judgment yang destruktif. Katakan dalam hati atau lisan: "Ya, aku telah melakukan [sebutkan kesalahan spesifik]. Ini adalah bagian dari kemanusiaanku."
Ini adalah praktik self-compassion (Neff, 2003)—mengakui kesalahan sambil tetap menjaga self-kindness.
Langkah 3: Transformative Istighfar
Ucapkan dengan penuh kesadaran (khusyu' خُشُوع):
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
"Astaghfirullaha al-'Adhim, alladhi la ilaha illa Huwal Hayyul Qayyumu wa atubu ilaih"
(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Maha Mengurus makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya)
Resapi tiga proses dalam formula ini:
- Takhalli (تَخَلِّي) (pembersihan): Melepaskan beban psikologis dari kesalahan
- Tahalli (تَحَلِّي) (pengisian): Mengisi kekosongan dengan kesadaran akan al-Hayy al-Qayyum—Sumber energi yang tidak pernah habis
- Tajalli (تَجَلِّي) (manifestasi): Komitmen untuk kembali (taubah) dengan dibimbing, bukan hanya dengan willpower
Langkah 4: Behavioral Commitment
Identifikasi satu tindakan konkret sebagai manifestasi taubah. Ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang directionality—arah menuju yang lebih baik.
Dari Self-Reliance ke God-Reliance: Rekonstruksi Inner Strength
William James (1902) dalam The Varieties of Religious Experience mengidentifikasi dua tipe religiusitas: religion of healthy-mindedness (yang menghindari realitas penderitaan) dan religion of the sick soul (yang mengakui brokenness sebagai pintu menuju wholeness).
Istighfar termasuk dalam kategori kedua—ia tidak menawarkan ilusi kontrol atau kekuatan yang artifisial, melainkan kekuatan yang lahir dari kerendahan hati (tawadhu' تَوَاضُع).
Dalam Futuhul Ghaib (فتوح الغيب), Syekh Abdul Qadir al-Jailani (الشيخ عبد القادر الجيلاني) menulis:
"Kekuatanmu terletak dalam pengakuan kelemahanmu di hadapan-Nya."
Ini bukan paradoks, melainkan psychological wisdom: ketika ego tidak lagi memikul beban untuk menjadi sempurna, energi psikis yang sebelumnya digunakan untuk defensiveness dapat dialihkan untuk pertumbuhan autentik.
Kesimpulan: Menuju Authentic Growth
Kita tidak membutuhkan lebih banyak motivasi untuk "menjadi positif." Yang kita butuhkan adalah izin untuk menjadi manusiawi—untuk gagal, untuk lemah, untuk tidak selalu baik-baik saja.
Istighfar menawarkan path menuju authentic growth yang tidak berbasis pada self-deception, melainkan pada kejujuran radikal yang dipeluk oleh kasih sayang Ilahi (rahmah رَحْمَة).
Berhentilah menjadi superhero yang exhausted. Jadilah 'abd (عَبْد) (hamba) yang jujur—yang setiap kali jatuh, ia tahu persis kemana harus kembali. Dan dalam kepulangan itu, ia menemukan kekuatan yang jauh lebih kokoh daripada segala afirmasi yang bisa ia ciptakan sendiri.
Wallahu a'lam bishawab. (وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ)
inspirasi dari FB:Fauzan Azima
Referensi
- Ainsworth, M. D. S. (1978). Patterns of Attachment. Psychology Press.
- Brown, B. (2012). Daring Greatly. Gotham Books.
- Critcher, C. R., & Dunning, D. (2015). Self-affirmations provide a broader perspective on self-threat. Personality and Social Psychology Bulletin, 41(1).
- Dweck, C. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.
- Ehrenreich, B. (2009). Bright-Sided: How Positive Thinking Is Undermining America. Metropolitan Books.
- Festinger, L. (1957). A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford University Press.
- Al-Ghazali. (1995). Ihya Ulumuddin (Terj.). Pustaka Progressif.
- James, W. (1902). The Varieties of Religious Experience. Longmans, Green & Co.
- Lieberman, M. D., et al. (2007). Putting feelings into words. Psychological Science, 18(5).
- Neff, K. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization. Self and Identity, 2(2).
- Seligman, M. (1998). Learned Optimism. Pocket Books.
- Welwood, J. (2000). Toward a Psychology of Awakening. Shambhala.