Keutamaan Mengajarkan Ilmu: Warisan Mulia Para Nabi dan Pewaris Mereka

Keutamaan Mengajarkan Ilmu: Warisan Mulia Para Nabi dan Pewaris Mereka

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari, no. 5027)

Hadits singkat ini mengandung makna yang sangat dalam tentang posisi mulia seorang guru dan pengajar dalam Islam. Mari kita renungkan bersama bagaimana Islam menempatkan profesi mengajar pada derajat yang sangat tinggi, bukan hanya sebagai pekerjaan biasa, tetapi sebagai amanah suci yang dilakukan oleh para nabi dan rasul.

Mengajar: Misi Utama Para Rasul

Allah SWT mengutus para rasul dengan misi utama yang jelas: mengajarkan. Perhatikan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 151:

كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui."

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan kata "يُعَلِّمُكُمْ" (mengajarkan) sebanyak dua kali. Ini menunjukkan betapa sentralnya fungsi pengajaran dalam risalah kenabian. Nabi Muhammad SAW adalah guru agung umat manusia. Beliau mengajarkan tauhid, akhlak, ibadah, muamalah, dan seluruh aspek kehidupan.

Demikian pula dalam QS. Al-Jumu'ah ayat 2:

هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّۦنَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ

"Dialah yang mengutus seorang Rasul (Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah."

Ketika Allah mengutus Rasul-Nya, salah satu tugas pokoknya adalah mengajar. Ini berarti setiap orang yang mengajar dengan niat yang benar, sesungguhnya ia sedang meneruskan misi para nabi. Betapa mulianya profesi ini!

Guru Sebagai Pewaris Para Nabi

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Sesungguhnya ulama (orang berilmu) adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya (ilmu), maka ia telah mengambil bagian yang sangat banyak." (HR. Abu Daud no. 3641, dishahihkan Al-Albani)

Hadits ini memberikan kedudukan istimewa kepada para guru dan ulama: mereka adalah pewaris para nabi. Warisan yang dimaksud bukanlah harta benda, melainkan ilmu pengetahuan. Dan warisan ilmu ini jauh lebih berharga daripada emas dan perak, karena ia adalah cahaya yang menerangi jiwa dan akal manusia.

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Ilmu adalah warisan yang paling mulia, karena ia akan membela pemiliknya, sedangkan harta justnya harus dijaga oleh pemiliknya."

Pahala yang Mengalir Tanpa Henti

Salah satu keistimewaan terbesar dari mengajarkan ilmu adalah pahalanya yang terus mengalir meskipun sang guru telah wafat. Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)

Perhatikan kalimat "عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ" (ilmu yang bermanfaat). Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain atau dituliskan, sehingga terus bermanfaat setelah sang pengajar wafat. Setiap kali muridnya mengamalkan ilmu yang diajarkan, mengajarkannya lagi kepada orang lain, atau bahkan murid dari muridnya hingga generasi berikutnya mengambil manfaat, pahalanya tetap mengalir kepada guru pertama.

Bayangkan seorang guru yang mengajarkan satu murid untuk rajin shalat. Murid itu kemudian mengajarkan kepada anaknya, cucunya, dan seterusnya. Sampai hari kiamat, selama keturunannya masih mengamalkan shalat, pahala sang guru terus mengalir. Ini adalah investasi akhirat yang luar biasa besar.

Derajat Tinggi di Sisi Allah

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

"Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."

Kata "دَرَجَٰتٍ" (derajat-derajat) dalam bentuk jamak menunjukkan bahwa kenaikan derajat itu bertingkat-tingkat dan sangat tinggi. Orang yang berilmu dan mengajarkannya tidak hanya diangkat satu derajat, tetapi berkali-kali lipat.

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang berilmu memiliki keutamaan di dunia (dengan ilmunya ia dihormati dan didengar) dan di akhirat (Allah mengangkat derajatnya di surga).

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

"Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas bintang-bintang lainnya." (HR. Abu Daud no. 3641, dalam rangkaian hadits yang sama tentang ulama pewaris nabi)

Perumpamaan ini sangat indah. Bulan purnama memberikan cahaya yang menerangi malam, sementara bintang-bintang hanya memberikan sinar redup. Demikian pula orang yang berilmu dan mengajarkannya, ia menerangi kehidupan orang banyak, membimbing mereka dari kegelapan kebodohan menuju cahaya pengetahuan.

Mengajar Sebagai Sedekah yang Paling Mulia

Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah:

مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا فَلَهُ أَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهِ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الْعَامِلِ

"Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka baginya pahala orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mengamalkan." (HR. Ibnu Majah no. 240, hasan menurut sebagian ulama)

Ini adalah bentuk sedekah yang paling menguntungkan. Ketika Anda bersedekah harta, harta Anda berkurang. Tetapi ketika Anda bersedekah ilmu, ilmu Anda tidak berkurang, bahkan bertambah. Dan pahalanya terus mengalir selama ilmu itu diamalkan.

Dalam hadits lain yang shahih, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

"Barangsiapa menyeru kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka." (HR. Muslim no. 2674)

Mengajar adalah salah satu bentuk paling nyata dari "menyeru kepada petunjuk". Setiap murid yang kemudian menjadi orang shalih karena ilmu yang diajarkan, gurunya mendapat pahala yang setara.

Tanggung Jawab Berat dan Amanah yang Agung

Namun perlu diingat, dengan keutamaan yang besar ini, datang pula tanggung jawab yang berat. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَكَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

"Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka ia akan dikekang dengan kekang dari api pada hari kiamat." (HR. Abu Daud no. 3658, Tirmidzi no. 2649, dishahihkan Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amanah yang harus disampaikan. Menyembunyikan ilmu, terutama yang berkaitan dengan kebenaran dan kebaikan, adalah dosa besar.

Oleh karena itu, seorang guru harus:

Pertama, mengajar dengan niat yang ikhlas karena Allah, bukan karena mencari pujian, popularitas, atau harta semata. Imam Ahmad berkata, "Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat yang benar."

Kedua, memastikan ilmu yang diajarkan adalah benar dan bermanfaat. Dalam QS. Al-Isra ayat 36, Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ

"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui."

Seorang guru harus memiliki ilmu yang cukup tentang apa yang diajarkannya. Mengajar tanpa ilmu yang memadai bisa menyesatkan murid.

Ketiga, menjadi teladan dalam mengamalkan ilmu yang diajarkan. Allah mengecam orang yang mengajarkan kebaikan tetapi tidak mengamalkannya dalam QS. Ash-Shaff ayat 2-3:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."

Keteladanan Para Salafush Shalih dalam Mengajar

Para ulama salaf sangat memahami keutamaan mengajar dan mereka mendedikasikan hidup mereka untuk itu.

Imam Abu Hanifah mengajar murid-muridnya dengan sabar selama puluhan tahun. Beliau berkata, "Kalian mengambil ilmu dari kami dengan cuma-cuma, maka sampaikanlah kepada orang lain juga dengan cuma-cuma."

Imam Malik duduk mengajar di Masjid Nabawi selama hampir 60 tahun. Ribuan murid datang kepadanya dari berbagai penjuru dunia. Beliau berkata, "Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."

Imam Asy-Syafi'i selalu berkata kepada murid-muridnya, "Aku berharap semua orang belajar ilmu dariku tanpa ada satu huruf pun yang dinisbatkan kepadaku." Ini menunjukkan keikhlasan beliau dalam mengajar, tidak mencari nama atau kemasyhuran.

Imam Ahmad bin Hanbal mengajar dengan penuh kesabaran meskipun mengalami siksaan dan penjara. Beliau berkata, "Aku mengajar karena aku ingin ilmu ini hidup dan tersebar, bukan karena aku ingin dipuji."

Mengajar dalam Konteks Kekinian

Di zaman sekarang, mengajar bukan hanya di kelas formal. Setiap Muslim yang memiliki ilmu bisa mengajar sesuai kapasitasnya:

Orang tua mengajarkan anak-anaknya tentang akidah, akhlak, dan ibadah. Ini adalah bentuk pengajaran paling fundamental.

Guru di sekolah dan madrasah yang mendidik generasi muda dengan ilmu agama dan ilmu umum.

Da'i dan khatib yang menyampaikan ilmu melalui ceramah dan khutbah.

Penulis buku dan artikel yang menyebarkan ilmu melalui tulisan.

Pembuat konten edukasi di media sosial, YouTube, podcast, dan platform digital lainnya.

Semuanya adalah bentuk mengajar yang akan mendapat pahala jika diniatkan karena Allah dan bermanfaat bagi orang lain.

Doa bagi Para Guru

Rasulullah SAW pernah berdoa untuk orang yang menyampaikan ilmu beliau:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا ثُمَّ أَدَّاهَا إِلَى مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا

"Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar perkataanku lalu memahaminya kemudian menyampaikannya kepada orang yang belum mendengarnya." (HR. Tirmidzi no. 2656, hasan shahih)

Doa ini adalah doa nabi untuk para guru: semoga Allah mencerahkan wajahnya, baik secara lahiriah (dengan kecantikan dan ketampanan) maupun batiniah (dengan cahaya keimanan dan keberkahan).

Penutup: Jadilah Guru yang Mulia

Keutamaan mengajarkan ilmu dalam Islam sungguh luar biasa. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi jihad di jalan Allah dengan cara yang paling mulia: memerangi kebodohan dengan cahaya ilmu.

Setiap Muslim yang memiliki ilmu, sekecil apa pun, memiliki kewajiban untuk mengajarkannya. Tidak perlu menunggu menjadi ulama besar atau profesor. Mulailah dari lingkaran terdekat: keluarga, teman, tetangga, atau siapa saja yang bisa kita jangkau.

Dan bagi para guru profesional yang berdedikasi di sekolah, madrasah, pesantren, atau lembaga pendidikan lainnya, ketahuilah bahwa apa yang kalian lakukan adalah amal yang sangat mulia di sisi Allah. Meskipun mungkin gaji kalian tidak seberapa, meskipun mungkin apresiasi dunia tidak sebanding dengan jerih payah kalian, ketahuilah bahwa Allah mencatat setiap usaha kalian dan akan membalasnya dengan balasan yang tidak terbatas.

Mari kita tingkatkan niat kita dalam mengajar: bukan untuk mencari pujian, bukan untuk mencari kemasyhuran, tetapi semata-mata untuk meneruskan misi para nabi dan meraih ridha Allah SWT.

وَقُلِ اعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ

"Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.'" (QS. At-Taubah: 105)

Wallahu a'lam bishawab. Semoga Allah memberkahi para guru dan menjadikan ilmu mereka bermanfaat hingga hari kiamat.

Artikel Populer

Nabi Adam Korban Cinta pada Keagungan Allah

Malu, Mahkota Akhlak yang Terlupakan

Psikologi di Balik Kalimat-kalimat Zikir yang Menyembuhkan Jiwa

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...