Ketika Sains Melupakan Tuhan
Ketika Sains Melupakan Tuhan: Pelajaran dari Tragedi Fritz Haber
Bayangkan seorang ilmuwan yang begitu brilian hingga karyanya menyelamatkan jutaan manusia dari kelaparan, namun pada saat yang sama, tangannya juga menciptakan senjata yang merenggut ribuan nyawa dalam penderitaan mengerikan. Ini bukan plot fiksi ilmiah, melainkan kisah nyata Fritz Haber—seorang kimiawan Jerman yang warisannya mengajukan pertanyaan paling fundamental tentang ilmu pengetahuan: untuk siapa kita bekerja, dan kepada siapa kita bertanggung jawab? Bagi kita yang beriman, pertanyaan ini bukan sekadar perdebatan filosofis, melainkan ujian iman yang menentukan apakah pengetahuan kita akan menjadi berkah atau justru bumerang di akhirat kelak.
Paradoks Seorang Genius yang Terlupakan Fitrahnya
Fritz Haber hidup dalam dualitas yang mencerminkan krisis spiritual zamannya—dan mungkin juga zaman kita. Di satu sisi, proses Haber-Bosch yang ia ciptakan untuk mensintesis amonia dari nitrogen udara merevolusi pertanian global. Pupuk yang dihasilkan dari proses ini memungkinkan produksi pangan berlipat ganda, menyelamatkan miliaran manusia dari ancaman kelaparan. Atas pencapaian ini, ia dianugerahi Hadiah Nobel Kimia tahun 1918.
Namun di sisi lain, Haber adalah arsitek program senjata kimia Jerman dalam Perang Dunia I. Ia mengawasi penggunaan gas klorin pertama kali di medan perang Ypres, Belgia, pada April 1915, yang membunuh ribuan tentara Sekutu dalam kematian yang menyiksa. Istrinya, Clara Immerwahr—seorang kimiawan juga—begitu trauma dengan apa yang dilakukan suaminya hingga mengakhiri hidupnya sendiri. Namun Haber melanjutkan pekerjaannya, mengembangkan gas mustard dan senjata kimia lainnya yang lebih mematikan.
Bagaimana seorang ilmuwan bisa hidup dengan kontradiksi semacam ini? Jawabannya terletak pada bagaimana ia memahami—atau lebih tepatnya, salah memahami—hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu sebagai Amanah, Bukan Sekadar Pencapaian
Dalam pandangan Barat yang sekular, sains sering dipahami sebagai bebas nilai (value-free). Ilmuwan dianggap hanya bertanggung jawab untuk menemukan kebenaran, sementara penggunaan pengetahuan itu adalah tanggung jawab politisi, militer, atau masyarakat luas. Haber tampaknya menganut pandangan ini—ia melihat dirinya sebagai pelayan sains dan negara, bukan sebagai penjaga moral dari konsekuensi penemuannya.
Islam menolak dikotomi artificial ini. Dalam perspektif Islam, tidak ada pemisahan antara ilmu dan akhlak, antara pengetahuan dan tanggung jawab moral. Setiap ilmu adalah amanah dari Allah, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana kita memperolehnya, menggunakannya, dan menyebarkannya.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Wa laa taqfu maa laisa laka bihii 'ilm, inna as-sam'a wal-bashara wal-fu'aada kullu ulaa-ika kaana 'anhu mas'uulaa
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini memberikan fondasi epistemologi Islam yang radikal: setiap fakultas kognitif yang Allah anugerahkan kepada kita—pendengaran, penglihatan, dan hati (yang dalam tradisi Islam dipahami sebagai pusat pemahaman dan kesadaran)—adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Ini berarti seorang ilmuwan Muslim tidak bisa bersembunyi di balik klaim netralitas ilmiah atau argumen bahwa "saya hanya melakukan penelitian."
Dari perspektif psikologi spiritual Islam, sikap Haber mencerminkan apa yang oleh para ulama tasawuf disebut sebagai ghafla (kelalaian)—kondisi di mana seseorang begitu terpaku pada tujuan duniawi hingga melupakan dimensi akhirat dari setiap tindakannya. Ini bukan sekadar kelalaian kognitif, tetapi kelalaian eksistensial yang mengaburkan kesadaran tentang Allah sebagai Saksi atas setiap tindakan kita.
Ketika Nasionalisme Mengalahkan Kemanusiaan Universal
Haber membenarkan pengembangan senjata kimia dengan argumen patriotisme. Dalam suratnya, ia menulis bahwa "seorang ilmuwan milik dunia di masa damai, tetapi milik negaranya di masa perang." Baginya, melayani Jerman adalah kewajiban moral tertinggi, bahkan jika itu berarti menciptakan cara-cara baru untuk membunuh manusia.
Tragisnya, sikap ini bukan anomali sejarah. Kita melihat pola yang sama berulang sepanjang abad ke-20 dan hingga hari ini: ilmuwan-ilmuwan brilian yang bekerja untuk program senjata nuklir, biologis, dan teknologi pengawasan massa, semuanya dengan pembenaran kepentingan nasional atau keamanan nasional.
Islam mengajarkan perspektif yang secara fundamental berbeda. Meskipun cinta kepada tanah air adalah sesuatu yang natural dan bahkan terpuji, ia tidak boleh mengalahkan prinsip-prinsip kemanusiaan universal yang diajarkan agama. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Laa yu'minu ahadukum hattaa yuhibba li-akhiihi maa yuhibbu linafsihi
"Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kata "saudaranya" (akhiihi) dalam hadis ini dipahami oleh mayoritas ulama dalam konteks yang luas. Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa ini mencakup persaudaraan iman dan juga persaudaraan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyyah). Artinya, seorang Muslim tidak boleh menerima untuk orang lain—bahkan musuh sekalipun—apa yang tidak ia terima untuk dirinya sendiri.
Dari perspektif psikologi moral Islam, nasionalisme ekstrem yang mengalahkan nilai-nilai kemanusiaan adalah bentuk dari ta'ashshub (fanatisme buta), yang secara eksplisit dikecam oleh Islam. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang berdakwah dengan seruan jahiliyyah (fanatisme kesukuan/golongan), maka ia termasuk penghuni neraka." Para sahabat bertanya: "Meskipun ia shalat dan puasa?" Beliau menjawab: "Meskipun ia shalat dan puasa." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Maqasid Syariah sebagai Kompas Moral Ilmuwan
Salah satu kontribusi paling brilian dari tradisi keilmuan Islam adalah konsep maqasid syariah—tujuan-tujuan universal dari hukum Islam. Dikembangkan oleh ulama-ulama besar seperti Imam al-Juwayni, Imam al-Ghazali, dan disempurnakan oleh Imam asy-Syatibi, kerangka ini menawarkan kompas moral yang jelas dan aplikatif bagi berbagai aspek kehidupan, termasuk sains dan teknologi.
Menurut Imam asy-Syatibi dalam magnum opusnya al-Muwafaqat, ada lima tujuan fundamental (al-maqasid al-khamsah) yang harus dilindungi oleh syariat Islam:
- Hifdz ad-Diin (Perlindungan Agama): Memastikan kebebasan beragama dan praktik keimanan
- Hifdz an-Nafs (Perlindungan Jiwa): Melindungi kehidupan manusia dari kehancuran
- Hifdz al-'Aql (Perlindungan Akal): Menjaga kemampuan berpikir dan kesadaran manusia
- Hifdz an-Nasl (Perlindungan Keturunan): Melindungi kelangsungan dan kehormatan generasi
- Hifdz al-Maal (Perlindungan Harta): Menjaga hak kepemilikan dan kesejahteraan ekonomi
Kerangka maqasid ini bukan abstraksi teoritis, tetapi alat praktis untuk mengevaluasi setiap tindakan, termasuk penelitian ilmiah. Mari kita aplikasikan pada kasus Haber:
Gas beracun yang dikembangkan Haber jelas-jelas melanggar hifdz an-nafs (perlindungan jiwa). Ia dirancang khusus untuk membunuh dengan cara yang menyiksa—korban gas klorin mati lemas dalam penderitaan yang mengerikan, paru-paru mereka hancur oleh reaksi kimia. Tidak ada argumen kepentingan nasional atau kemajuan ilmiah yang bisa membenarkan pelanggaran terang-terangan terhadap salah satu maqasid fundamental ini.
Lebih jauh lagi, pengembangan senjata semacam ini juga berpotensi melanggar hifdz an-nasl, karena gas beracun tidak membedakan antara kombatan dan non-kombatan, dan efek jangka panjangnya bisa merusak generasi mendatang melalui kerusakan genetik dan lingkungan.
Aplikasi untuk Dilema Kontemporer
Kerangka maqasid ini sangat relevan untuk dilema etika sains kontemporer yang dihadapi ilmuwan Muslim hari ini:
Kecerdasan Buatan dan Teknologi Pengawasan: Sistem AI yang digunakan untuk pengawasan massa atau profiling rasial melanggar hifdz ad-diin (kebebasan beragama dan berkeyakinan) dan hifdz an-nafs (dalam arti perlindungan terhadap martabat dan privasi manusia). Seorang ilmuwan Muslim yang bekerja pada teknologi semacam ini harus mempertimbangkan apakah kontribusinya melindungi atau justru mengancam maqasid ini.
Rekayasa Genetika: Teknologi seperti CRISPR menawarkan potensi luar biasa untuk menyembuhkan penyakit genetik (hifdz an-nafs), tetapi juga membuka pintu untuk eugenik dan modifikasi manusia yang bisa melanggar hifdz an-nasl dan bahkan hifdz ad-diin jika sampai mengubah fitrah manusia yang diciptakan Allah.
Teknologi Persenjataan Otonom: Drone pembunuh dan sistem senjata otonom yang bisa membuat keputusan membunuh tanpa intervensi manusia jelas melanggar hifdz an-nafs dan prinsip akuntabilitas yang merupakan bagian integral dari hifdz al-'aql.
Tanggung Jawab di Hadapan Generasi Mendatang
Salah satu aspek paling tragis dari warisan Haber adalah dampak jangka panjang yang tidak ia antisipasi—atau pilih untuk tidak ia antisipasi. Senjata kimia yang ia kembangkan menjadi preseden bagi pengembangan senjata pemusnah massal yang lebih mengerikan. Zyklon B, pestisida yang dikembangkan dari penelitian Haber, kemudian digunakan oleh Nazi untuk membunuh jutaan orang di kamp konsentrasi, termasuk anggota keluarga Haber sendiri yang meninggal dalam Holocaust.
Ironi yang mengerikan ini mengilustrasikan prinsip penting: kita tidak bisa sepenuhnya mengontrol bagaimana pengetahuan kita akan digunakan di masa depan, tetapi justru karena itulah kita harus berhati-hati sejak awal.
Islam mengajarkan kita untuk berpikir melampaui generasi kita sendiri melalui konsep khalifah fil ardh (wakil Allah di bumi). Allah berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Wa idz qaala rabbuka lil-malaa-ikati innii jaa'ilun fil-ardhi khaliifah
"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.'" (QS. Al-Baqarah: 30)
Konsep khalifah mengandung dimensi temporal yang penting. Seorang khalifah bukan pemilik, tetapi wakil yang akan mempertanggungjawabkan pengelolaan amanah yang dipercayakan kepadanya. Ini berarti tanggung jawab kita bukan hanya kepada generasi kita sendiri, tetapi juga kepada mereka yang akan datang setelah kita.
Imam al-Ghazali dalam Ihya 'Ulum ad-Din menjelaskan bahwa salah satu tanda kesempurnaan iman adalah kemampuan untuk memikirkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan kita, termasuk konsekuensi yang mungkin baru terasa setelah kita tiada. Ini yang ia sebut sebagai tafakkur (kontemplasi mendalam) yang membedakan orang beriman dari yang hanya mengejar kepuasan jangka pendek.
Etika Antisipasi dalam Sains
Ini menuntut apa yang bisa kita sebut sebagai "etika antisipasi"—kemampuan untuk membayangkan berbagai skenario penyalahgunaan dan mengambil langkah preventif sejak tahap penelitian. Seorang ilmuwan Muslim harus:
- Terlibat aktif dalam diskusi etika sains dan perumusan regulasi
- Mendokumentasikan dengan jelas limitasi dan potensi penyalahgunaan penelitiannya
- Menolak berpartisipasi dalam penelitian yang secara inheren membuka pintu untuk pelanggaran maqasid syariah
- Melakukan pendidikan publik tentang risiko dan manfaat teknologi baru
Tanggung jawab keilmuan dalam Islam tidak berhenti di laboratorium, tetapi berlanjut ke ruang publik, ke generasi mendatang, dan pada akhirnya, ke mahkamah Allah di akhirat.
Antara Kerendahan Hati dan Kesombongan Intelektual
Dalam biografinya, Haber digambarkan sebagai pribadi yang sangat percaya diri, bahkan arogan, terhadap kemampuan intelektualnya. Ia yakin bahwa sains dan teknologi bisa menyelesaikan masalah apa pun, termasuk masalah perang. Keyakinan pada supremasi rasio dan teknologi ini—yang merupakan karakteristik dari modernitas Barat—membutakan dia terhadap konsekuensi moral dari karyanya.
Ini adalah manifestasi dari apa yang dalam psikologi spiritual Islam disebut sebagai 'ujb (kekaguman berlebihan pada diri sendiri) dan kibr (kesombongan). Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu bahaya terbesar bagi ahli ilmu adalah jatuh dalam kesombongan intelektual, di mana mereka mulai merasa bahwa pengetahuan mereka membuat mereka superior dan tidak perlu tunduk pada prinsip-prinsip moral yang mengikat orang biasa.
Islam mengajarkan bahwa ilmu sejati harus disertai dengan tawadhu' (kerendahan hati). Semakin banyak seseorang tahu, semakin ia seharusnya menyadari betapa kecilnya pengetahuannya dibanding pengetahuan Allah. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman:
"Ilmu itu milik-Ku, dan Aku telah memberikan kepadamu sedikit darinya."
Rasulullah ﷺ, yang merupakan manusia paling berilmu, justru paling rendah hati. Beliau selalu memulai dengan bismillah dan berdo'a:
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnii 'ilmaa
"Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thaha: 114)
Kerendahan hati intelektual ini memiliki implikasi praktis yang sangat penting. Seorang ilmuwan yang rendah hati akan:
- Lebih berhati-hati dalam mengklaim kepastian, terutama dalam domain yang kompleks
- Lebih terbuka terhadap kritik dan perspektif alternatif
- Lebih mampu mengakui keterbatasan dan potensi kesalahan dalam penelitiannya
- Lebih mudah untuk mengatakan "tidak" pada proyek yang secara moral meragukan, meskipun secara intelektual menantang
Haber, dengan segala kepintarannya, tidak memiliki kerendahan hati ini. Ia begitu yakin dengan penilaiannya sendiri hingga mengabaikan keberatan istrinya, mengabaikan penderitaan korban, dan terus melaju dengan program senjata kimianya.
Relevansi untuk Ilmuwan Muslim Hari Ini
Kita hidup di era di mana sains dan teknologi berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Ilmuwan Muslim hari ini menghadapi dilema etika yang mungkin lebih kompleks dari yang dihadapi Haber:
Kecerdasan Buatan dan Machine Learning
Teknologi AI kini digunakan dalam sistem pengawasan massa, algoritma yang memperkuat bias rasial dalam sistem peradilan, dan bahkan dalam sistem senjata otonom. Seorang ilmuwan Muslim yang bekerja di bidang ini harus bertanya: apakah pekerjaan saya melindungi atau mengancam martabat manusia? Apakah ini berkontribusi pada keadilan atau justru memperkuat ketidakadilan?
Bioteknologi dan Rekayasa Genetika
Teknologi pengeditan gen seperti CRISPR membuka kemungkinan untuk "mendesain" manusia dengan karakteristik tertentu. Ini mengangkat pertanyaan mendalam tentang fitrah (nature asli manusia) dan batasan intervensi kita terhadap ciptaan Allah. Kapan terapi genetik untuk menyembuhkan penyakit berubah menjadi eugenik yang melanggar prinsip kesetaraan manusia di hadapan Allah?
Teknologi Digital dan Media Sosial
Algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan engagement sering kali mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia, menyebarkan misinformasi, dan mempolarisasi masyarakat. Seorang data scientist Muslim harus mempertanyakan: apakah metrik kesuksesan saya sejalan dengan kemaslahatan (benefit) manusia atau justru merusak?
Industri Farmasi dan Akses Kesehatan
Ilmuwan yang bekerja di industri farmasi sering menghadapi dilema antara profit dan akses. Apakah etis untuk mengembangkan obat yang hanya bisa dijangkau oleh orang kaya, sementara jutaan orang mati karena penyakit yang bisa dicegah? Ini bukan hanya pertanyaan ekonomi, tetapi pertanyaan tentang keadilan ('adalah) yang merupakan nilai sentral Islam.
Belajar dari Warisan Keilmuan Islam
Para ilmuwan Muslim di masa kejayaan peradaban Islam memberikan teladan tentang bagaimana mengintegrasikan keunggulan ilmiah dengan komitmen moral dan spiritual yang kuat.
Ibnu Sina (Avicenna): Dalam al-Qanun fit-Tibb (The Canon of Medicine), ia tidak hanya menulis tentang pengobatan penyakit, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dokter untuk merawat pasien tanpa memandang status sosial atau kemampuan bayar mereka. Baginya, ilmu kedokteran adalah amanah untuk melayani kemanusiaan.
Al-Razi (Rhazes): Dikenal karena etika medisnya yang tinggi, ia mendirikan rumah sakit pertama yang memberikan perawatan gratis untuk orang miskin. Ia menulis: "Tugas dokter adalah menyembuhkan, dan yang membedakan dokter sejati dari penipu adalah bahwa dokter sejati mengobati yang miskin dan kaya dengan dedikasi yang sama."
Al-Biruni: Ilmuwan ensiklopedis ini terkenal dengan integritasnya dalam penelitian. Ia menolak untuk memalsukan data atau menarik kesimpulan yang tidak didukung bukti, meskipun itu akan menyenangkan patronnya. Ia menulis: "Kebenaran adalah mulia, dan jika saya harus memilih antara kebenaran dan patron saya, saya akan memilih kebenaran."
Para ilmuwan ini memahami bahwa tujuan akhir dari ilmu bukanlah ketenaran, kekayaan, atau bahkan kemajuan ilmiah semata, tetapi ma'rifatullah (pengenalan kepada Allah) dan kemaslahatan ummah (kesejahteraan umat).
Membangun Framework Etika untuk Ilmuwan Muslim
Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah kita diskusikan, kita bisa merumuskan framework etika praktis untuk ilmuwan Muslim:
1. Prinsip Niat (Niyyah)
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." Seorang ilmuwan Muslim harus senantiasa mengoreksi niatnya—apakah riset ini untuk mencari ridha Allah dan manfaat kemanusiaan, atau untuk ketenaran pribadi, kekayaan, atau bahkan tujuan yang merusak?
2. Prinsip Maqasid
Setiap riset harus dievaluasi berdasarkan apakah ia melindungi atau mengancam lima maqasid fundamental: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jika sebuah riset berpotensi melanggar salah satu dari ini, ia harus ditolak atau dimodifikasi secara fundamental.
3. Prinsip Antisipasi (Tafakkur)
Ilmuwan Muslim harus berpikir jangka panjang tentang berbagai cara penelitiannya bisa disalahgunakan, dan mengambil langkah preventif sejak awal. Ini termasuk membatasi publikasi detail tertentu yang berbahaya, terlibat dalam advokasi regulasi, dan mendidik publik.
4. Prinsip Transparansi dan Akuntabilitas
Seorang ilmuwan Muslim harus terbuka tentang limitasi, asumsi, dan potensi bias dalam penelitiannya. Ini adalah manifestasi dari kejujuran (shidq) yang merupakan salah satu sifat terpuji dalam Islam.
5. Prinsip Keadilan ('Adalah)
Hasil penelitian harus dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya elite yang kaya atau negara-negara maju. Ilmuwan Muslim harus aktif memperjuangkan akses terbuka (open access) dan transfer teknologi untuk negara berkembang.
6. Prinsip Musyawarah
Keputusan etika yang sulit tidak boleh dibuat sendirian. Ilmuwan Muslim harus berkonsultasi dengan ahli etika, ulama, dan stakeholder lain sebelum melanjutkan riset yang berpotensi kontroversial.
7. Prinsip Keberanian Moral
Terkadang, keputusan etis yang benar adalah menolak proyek yang menguntungkan secara finansial atau prestis. Seorang ilmuwan Muslim harus memiliki keberanian untuk mengatakan "tidak" dan bersedia menanggung konsekuensinya, dengan keyakinan bahwa rezeki yang halal akan datang dari Allah.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Wa man yattaqil-laaha yaj'al lahu makhrajaa wa yarzuqhu min haytsu laa yahtasib
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." (QS. At-Talaq: 2-3)
Studi Kasus: Ilmuwan Muslim yang Menolak Kompromi
Sejarah kontemporer mencatat beberapa contoh ilmuwan Muslim yang memilih integritas moral di atas keuntungan pribadi:
Dr. Abdus Salam: Pemenang Hadiah Nobel Fisika pertama dari negara Muslim (Pakistan) ini menolak terlibat dalam pengembangan senjata nuklir Pakistan, meskipun mendapat tekanan besar dari pemerintah. Ia menyatakan bahwa ilmu fisika yang ia pelajari adalah untuk kemajuan kemanusiaan, bukan untuk destruksi. Keputusan ini membuatnya tersisih di negara asalnya, namun ia tetap pada prinsipnya.
Prof. Ahmed Zewail: Peraih Nobel Kimia asal Mesir ini aktif mempromosikan sains untuk perdamaian dan pembangunan. Ia mendirikan institusi pendidikan di Mesir dengan visi bahwa ilmu pengetahuan harus melayani masyarakat lokal dan menyelesaikan masalah-masalah nyata rakyat, bukan sekadar mengejar publikasi di jurnal internasional.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk menjadi ilmuwan kelas dunia sambil tetap berpegang pada prinsip-prinsip etika Islam. Bahkan lebih dari itu, integritas moral mereka justru menambah bobot dan makna pencapaian ilmiah mereka.
Menghadapi Dilema Praktis: Panduan Bertindak
Bagaimana seorang ilmuwan Muslim harus bertindak ketika menghadapi dilema etika dalam pekerjaan sehari-hari? Berikut adalah langkah-langkah praktis:
Langkah 1: Identifikasi Dimensi Etika
Tanyakan pada diri sendiri: Apa dampak potensial dari riset ini terhadap lima maqasid? Siapa yang akan diuntungkan dan siapa yang mungkin dirugikan? Apakah ada potensi penyalahgunaan?
Langkah 2: Konsultasi dan Musyawarah
Diskusikan dengan mentor, rekan sejawat yang dipercaya, dan jika mungkin, dengan ulama yang memahami isu sains dan teknologi. Perspektif berbeda akan membantu melihat aspek-aspek yang mungkin terlewat.
Langkah 3: Evaluasi Alternatif
Apakah ada cara untuk memodifikasi riset sehingga mengurangi risiko etika? Apakah ada pendekatan alternatif yang bisa mencapai tujuan ilmiah tanpa menimbulkan masalah moral?
Langkah 4: Istikharah dan Refleksi Spiritual
Lakukan shalat istikharah dan renungkan keputusan ini dalam konteks akhirat. Bayangkan diri Anda berdiri di hadapan Allah mempertanggungjawabkan keputusan ini—apakah Anda akan merasa tenang atau menyesal?
Langkah 5: Bertindak dengan Keberanian
Setelah melalui proses yang matang, ambil keputusan dan bertindak sesuai dengan itu, bahkan jika ada konsekuensi karir atau finansial. Percayalah bahwa Allah akan membuka jalan lain yang lebih baik.
Langkah 6: Dokumentasi dan Transparansi
Jika memutuskan untuk melanjutkan riset yang sensitif, dokumentasikan pertimbangan etika Anda, batasan yang Anda tetapkan, dan langkah-langkah preventif yang Anda ambil. Ini adalah bentuk akuntabilitas kepada masyarakat dan sejarah.
Peran Komunitas Ilmiah Muslim
Tanggung jawab etika dalam sains bukan hanya beban individu, tetapi juga memerlukan dukungan komunitas. Komunitas ilmiah Muslim perlu:
Membangun Institusi Etika Sains Islam
Kita memerlukan lembaga-lembaga yang secara khusus mengkaji implikasi etika dan syariah dari perkembangan sains dan teknologi kontemporer. Ini bukan sekadar komite etika konvensional, tetapi lembaga yang berakar dalam tradisi keilmuan Islam sambil memahami kompleksitas sains modern.
Integrasi Etika dalam Kurikulum
Universitas-universitas Muslim harus memasukkan etika sains Islam sebagai bagian integral dari pendidikan STEM, bukan sekadar mata kuliah pilihan. Mahasiswa harus belajar maqasid syariah bersama dengan metodologi penelitian, belajar tentang tanggung jawab moral bersama dengan teknik laboratorium.
Jaringan Dukungan untuk Ilmuwan
Ilmuwan yang menghadapi dilema etika sering merasa terisolasi. Komunitas perlu menyediakan jaringan dukungan—baik emosional, intelektual, maupun finansial—untuk mereka yang memilih jalan integritas meskipun dengan konsekuensi karir.
Platform Publikasi Alternatif
Sistem publikasi ilmiah saat ini sering memprioritaskan novelty dan dampak (impact factor) di atas manfaat sosial. Komunitas Muslim bisa mengembangkan platform publikasi yang menilai riset berdasarkan kontribusinya terhadap maqasid syariah dan kemaslahatan umat.
Mendidik Generasi Mendatang
Sebagai orangtua, pendidik, dan mentor, kita memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi ilmuwan Muslim berikutnya dengan fondasi etika yang kuat:
Mulai Sejak Dini: Ajari anak-anak kita bahwa setiap ilmu adalah amanah dari Allah. Ketika mereka belajar matematika, sains, atau teknologi, ingatkan mereka bahwa ini adalah cara untuk memahami ciptaan Allah dan melayani kemanusiaan.
Berikan Contoh Nyata: Ceritakan kisah-kisah ilmuwan Muslim yang berintegritas, seperti yang telah kita bahas. Tapi juga ceritakan kisah peringatan seperti Haber, agar mereka belajar dari kesalahan sejarah.
Latih Pemikiran Kritis Etis: Ajak anak-anak dan mahasiswa untuk menganalisis berita teknologi terkini dari perspektif maqasid syariah. Misalnya, ketika ada berita tentang teknologi pengenalan wajah atau deepfake, diskusikan implikasi etisnya.
Kembangkan Keberanian Moral: Apresiasi ketika mereka memilih untuk jujur meskipun ada konsekuensi negatif. Ini membangun fondasi karakter yang akan mereka butuhkan ketika menghadapi dilema etika yang lebih besar di masa depan.
Doa Seorang Ilmuwan Muslim
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Allahumma inni a'udzu bika min 'ilmin laa yanfa', wa min qalbin laa yakhsya', wa min nafsin laa tashba', wa min da'watin laa yustajabu laha
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim)
Doa ini mengandung hikmah mendalam. Ilmu yang tidak bermanfaat ('ilm laa yanfa') bukan hanya ilmu yang tidak berguna secara praktis, tetapi ilmu yang tidak membawa berkah, yang terputus dari tujuan akhirnya untuk mendekatkan kita kepada Allah dan melayani ciptaan-Nya.
Seorang ilmuwan Muslim seharusnya memulai setiap hari kerjanya dengan doa untuk diberi petunjuk, dengan kesadaran bahwa setiap eksperimen, setiap perhitungan, setiap publikasi adalah ibadah jika diniatkan dengan benar dan dilakukan dengan cara yang benar.
Penutup: Sains yang Membawa Berkah
Fritz Haber meninggal dalam pengasingan di Basel, Swiss, pada tahun 1934. Ia meninggalkan Jerman karena Nazi—rezim yang sebagian dipersenjatai oleh teknologi yang ia kembangkan—menolaknya karena asal Yahudinya. Istri pertamanya telah bunuh diri, anaknya mengalami trauma mendalam, dan warisannya penuh dengan kontradiksi yang menyakitkan.
Dalam memoarnya, salah seorang rekannya menulis bahwa Haber di akhir hayatnya tampak seperti orang yang tersiksa oleh keputusannya sendiri. Ia mencapai puncak kesuksesan ilmiah, namun kehilangan ketenangan jiwa. Ini adalah pengingat bahwa kesuksesan duniawi tanpa fondasi moral dan spiritual adalah kesuksesan yang hampa.
Kontras ini dengan para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, yang di akhir hayatnya dilaporkan menghabiskan waktu dengan ibadah, membaca Al-Qur'an, dan berbagi ilmunya secara gratis kepada murid-muridnya. Atau Al-Biruni, yang bahkan di ranjang kematian masih bertanya tentang masalah ilmiah yang belum terjawab, bukan karena obsesi duniawi, tetapi karena kecintaan sejati pada pengetahuan sebagai jalan menuju Allah.
Kisah Haber mengajarkan kita bahwa kepintaran tanpa kebijaksanaan, pengetahuan tanpa etika, dan ambisi tanpa kompas moral akan berakhir dengan tragedi. Bagi kita sebagai Muslim, tantangannya adalah memastikan bahwa ilmu yang kita kejar dan kembangkan adalah ilmu yang membawa barakah—ilmu yang nafi' (bermanfaat) bagi kehidupan, yang melindungi maqasid syariah, yang mendekatkan kita kepada Allah, dan yang akan menjadi bekal di akhirat kelak.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Yarfa'il-laahul-ladziina aamanuu minkum wal-ladziina uutul-'ilma darajaat
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menjanjikan peninggian derajat bagi mereka yang menggabungkan iman dengan ilmu. Bukan iman saja, bukan ilmu saja, tetapi keduanya bersama-sama. Inilah jalan yang ditempuh oleh para ulama dan ilmuwan Muslim terbaik sepanjang sejarah, dan inilah jalan yang harus kita tempuh jika kita ingin ilmu kita menjadi berkah, bukan bencana.
Di tengah kompleksitas sains modern dengan segala dilema etikanya, kita memerlukan lebih dari sekadar kepandaian teknis. Kita memerlukan hikmah (kebijaksanaan), taqwa (kesadaran akan Allah), dan keberanian untuk memilih yang benar meskipun sulit. Kita memerlukan hati yang hidup (qalbun salim), bukan hanya otak yang cerdas.
Semoga Allah memberikan kita ilm nafi' (ilmu yang bermanfaat), amal shalih (amal yang saleh), dan husnul khatimah (akhir yang baik). Semoga Dia memberikan kita hikmat untuk menggunakan ilmu kita dengan bijaksana, keberanian untuk mengatakan tidak pada yang batil meskipun itu menguntungkan secara duniawi, dan keikhlasan untuk menjadikan setiap riset dan penemuan kita sebagai ibadah kepada-Nya.
Dan semoga kita tidak mati dalam keadaan di mana ilmu kita menjadi hujjah (bukti) melawan kita di hari kiamat, tetapi sebaliknya, menjadi syafa'ah (pemberi syafaat) yang menyelamatkan kita. Amin ya Rabbal 'alamin.
Wallahu a'lam bishawab—Dan Allah lebih mengetahui yang benar.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subhanaka Allahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik
"Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Engkau, aku mohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."