Dari Ibrahim sampai Gen Z: Menjaga Nilai, Menghormati Perbedaan

Dari Ibrahim sampai Gen Z: Menjaga Nilai, Menghormati Perbedaan

Di tengah kehidupan keluarga, tempat kerja, hingga majelis ilmu, kita sering menyaksikan gesekan halus—atau kadang tajam—antara generasi yang berbeda. Yang lebih muda dianggap “terlalu sensitif”, “sulit diarahkan”, atau “tidak punya akhlak seperti dulu”. Sementara yang lebih tua kerap dituding “kaku”, “tidak paham zaman”, atau “suka menggurui”.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah akar konflik ini benar-benar perbedaan nilai—atau hanya perbedaan cara berbicara?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini mengingatkan kita: perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, tapi justru panggilan untuk saling memahami. Dan di antara bentuk perbedaan yang paling nyata hari ini adalah generasi.

1. Bicaralah sebagai Sahabat, Bukan Hakim

Generasi Z tumbuh di tengah lautan informasi. Mereka terbiasa menelusuri, menimbang, dan memilih—bukan sekadar menerima. Maka, ketika komunikasi datang dari posisi “saya yang paling benar”, insting alami mereka adalah menutup diri.

Sebaliknya, ajaklah mereka berdialog. Tanyakan pendapatnya terlebih dahulu. Dengarkan. Lalu sampaikan pandanganmu sebagai tambahan—bukan koreksi. Inilah esensi sabda Nabi ﷺ:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya."

(HR. Tirmidzi)

Kebaikan itu dimulai dari cara kita berbicara—dengan lembut, setara, dan penuh hormat.

2. Hargai Perasaan, Bukan Hanya Fakta

Generasi muda hari ini sangat jujur dalam mengekspresikan emosi. Dan jangan salah: kejujuran emosional bukan tanda lemah, tapi tanda keinginan untuk dipahami.

Jangan langsung menghakimi perasaan mereka dengan “dulu kami tidak begini!” atau “itu berlebihan.” Cukup katakan: “Aku mengerti kenapa kamu merasa begitu.”

Dengan mengakui perasaan, kamu membuka pintu akal. Tanpa itu, dinding defensif akan tertutup rapat. Ini bukan membenarkan kesalahan—tapi membangun jembatan untuk kebenaran.

3. Ajak dengan Hikmah, Bukan Nostalgia

Kalimat “zaman kami dulu...” sering terdengar seperti pintu yang dikunci dari luar. Generasi muda hari ini tidak menolak pengalaman—mereka hanya ingin tahu mengapa sesuatu itu benar, bukan hanya kapan itu terjadi.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak memaksa kaumnya menerima tauhid dengan cerita masa lalu—ia menggunakan logika dan pengamatan:

فَرَاغَ إِلَىٰ آلِهَتِهِمْ فَقَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
"Lalu dia (Ibrahim) menghampiri berhala-berhala mereka dan berkata: ‘Mengapa kalian tidak makan?’"

(QS. Ash-Shaffat: 91)

Gunakan akal, data, dan dampak nyata—bukan hanya kebiasaan. Itulah cara mengajak kepada kebenaran dengan hikmah, sebagaimana Allah perintahkan:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik."

(QS. An-Nahl: 125)

4. Akui Realitas Zaman Mereka

Tekanan ekonomi, kecemasan eksistensial, dan tuntutan digital yang tak berhenti—semua itu adalah medan perang spiritual dan mental yang berbeda dari generasi sebelumnya. Mengabaikan realitas ini sama saja dengan memberi obat tanpa mendiagnosis penyakit.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dikenal tegas, tapi juga peka. Suatu hari, ia melihat seorang pemuda yang kelelahan dan lapar. Alih-alih menegur, ia justru membawanya pulang dan memberinya makan. Baru setelah itu, ia membimbingnya.

Membimbing dimulai dengan memahami.

5. Cari Titik Temu dalam Nilai, Bukan Gaya

Di balik gaya bicara yang cepat, pakaian yang berbeda, atau cara beribadah yang terasa “baru”, banyak nilai yang tetap utuh:

  • keinginan untuk dihargai,
  • kerinduan pada keadilan,
  • dan hasrat untuk berkembang dalam kebaikan.

Fokuslah pada tujuan bersama: membina keluarga yang harmonis, membangun tempat kerja yang adil, atau menciptakan komunitas yang saling menopang.

Ketika tujuan disepakati, metode bisa didiskusikan—tanpa saling menyalahkan.

6. Jadilah Teladan, Bukan Hanya Pengingat

Generasi muda sangat peka pada inkonsistensi. Mereka tidak buta: mereka melihat apakah kita hanya pandai berkata, atau juga mampu menjalani.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."

(HR. Ahmad)

Bukan retorika. Bukan slogan. Tapi akhlak nyata—yang terlihat dalam cara kita mendengar, merespons kritik, dan menghormati perbedaan.

Penutup: Umat yang Saling Memahami

Perbedaan generasi bukan takdir perpecahan—ia adalah ujian persaudaraan. Dan ujian terbaik bukanlah siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling mau memahami.

Mari kita bangun budaya komunikasi yang:

  • berakar pada rahmah,
  • berpegang pada kebenaran,
  • dan berjalan dengan akhlak.

Karena sejatinya, di mata Allah, yang paling mulia bukanlah yang paling tua atau paling muda—tapi yang paling bertakwa.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Jika tulisan ini menyentuh pengalamanmu—dalam keluarga, kantor, atau komunitas—bagikanlah. Dan tuliskan pandanganmu di kolom komentar. Karena dari dialog yang tulus, lahir pemahaman yang utuh.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Artikel Populer

Nabi Adam Korban Cinta pada Keagungan Allah

Malu, Mahkota Akhlak yang Terlupakan

Psikologi di Balik Kalimat-kalimat Zikir yang Menyembuhkan Jiwa

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...