Memahami Krisis Mental Generasi Z dan Peran Orang Tua yang Penuh Hikmah

Saat Jiwa Muda Berteriak: Memahami Krisis Mental Generasi Z dan Peran Orang Tua yang Penuh Hikmah

"Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah luka fisik—tapi kata-kata yang terus menggema di kepala, seolah kita tak pernah cukup baik."

Di tengah gemerlap dunia digital yang serba instan, generasi Z tumbuh dengan akses informasi tanpa batas—namun juga beban emosional yang tak terlihat. Dalam sebuah episode podcast yang mendalam antara Helmy Yahya dan psikiater dr. Vivi Syarif, terungkap betapa kompleksnya tantangan mental yang dihadapi anak muda hari ini, serta betapa pentingnya peran orang tua sebagai safe haven, bukan sumber tekanan.

1. NPD: Ketika Cinta Diri Menjadi Racun bagi Orang Lain

Banyak anak muda kini mulai menyadari bahwa mereka tumbuh di bawah bayang-bayang figur otoriter—entah orang tua, guru, atau atasan—yang menunjukkan ciri-ciri Narcissistic Personality Disorder (NPD). Bukan sekadar percaya diri, NPD adalah kondisi di mana seseorang:

  • Merasa dirinya paling hebat, paling benar, dan layak dikagumi.
  • Minim empati: sulit memahami perasaan orang lain, bahkan cenderung meremehkannya.
  • Sering menggunakan gaslighting: manipulasi emosional yang membuat korban meragukan realitas sendiri.
    “Apa iya aku salah? Atau jangan-jangan aku memang terlalu sensitif?”

Yang perlu dipahami: narsisme sehat itu wajar—kita semua butuh mencintai diri sendiri. Tapi ketika narsisme berubah menjadi “overdosis” hingga melukai orang di sekitarnya, itulah saatnya intervensi diperlukan.

2. Anxiety dan Depresi: Dua Wajah Kegelisahan Generasi Digital

Generasi Z lebih sadar kesehatan mental daripada generasi sebelumnya—tapi ironisnya, mereka juga paling rentan terhadap anxiety dan depresi.

  • Anxiety muncul dalam bentuk khawatir berlebihan, jantung berdebar, susah tidur, dan pikiran yang terus berputar (overthinking). Sering kali dipicu oleh budaya "flexing" di media sosial—di mana setiap unggahan orang lain terasa seperti standar yang mustahil dicapai.

  • Depresi jauh lebih dalam: kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukai, lelah ekstrem, bahkan kehilangan makna hidup. Bangun dari tempat tidur saja terasa seperti mendaki gunung.

Keduanya bukan “cuma lelah biasa”. Ini adalah sinyal jiwa yang meminta pertolongan.

3. Luka Warisan: Trauma yang Tak Pernah Diminta

Salah satu poin paling menyentuh dalam podcast ini adalah konsep generational trauma—luka batin yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Orang tua yang keras, perfeksionis, atau suka mengkritik sering kali bukan jahat dengan sengaja. Mereka sendiri mungkin dibesarkan dalam lingkungan yang penuh tekanan, kemiskinan, atau kekerasan—dan tanpa sadar, pola itu mereka ulangi pada anak-anaknya.

Namun, yang semakin memperparah luka adalah stigma agama yang keliru:

“Kamu depresi? Pasti kurang ibadah.”
“Cemas terus? Kurang syukur, deh!”

Alih-alih memberi ruang untuk curhat, respons seperti ini justru membuat anak merasa dihakimi, diabaikan, dan akhirnya menjauh dari agama itu sendiri—padahal agama sejatinya adalah sumber rahmat dan penyembuhan.

4. Gaya Keterikatan: Akar Konflik dalam Hubungan Dewasa

Dr. Vivi menjelaskan bahwa cara kita berhubungan dengan orang lain dibentuk sejak masa kanak-kanak melalui pola asuh:

  • Anxious attachment: selalu butuh validasi, takut ditinggalkan.
  • Avoidant attachment: menutup diri, takut terlalu dekat secara emosional.

Ketika dua gaya ini bertemu—misalnya, pasangan yang anxious ingin komunikasi terbuka, sementara yang avoidant memilih silent treatment—maka konflik pun meledak. Dan ironisnya, banyak rumah tangga retak bukan karena masalah besar, tapi karena ketidakpahaman akan luka emosional masing-masing.

5. Solusi yang Menyembuhkan: Dengarkan, Jangan Menghakimi

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Bagi orang tua, guru, atau pemimpin:
Latih public listening—dengarkan sepenuh hati, tanpa langsung memberi nasihat atau menghakimi.
Tunda penilaian. Biarkan anak merasa aman untuk berkata: “Aku sedang tidak baik-baik saja.”
Jangan gantikan terapi dengan ceramah agama. Agama adalah pelita, bukan cambuk.

Bagi anak muda yang sedang berjuang:
๐ŸŒฑ Kamu tidak sendiri.
๐ŸŒฑ Perasaanmu valid.
๐ŸŒฑ Mencari bantuan profesional bukan tanda lemah—itu tanda keberanian.

Dan jangan lupa: mindfulness—belajar hadir di saat ini, tanpa menghakimi diri sendiri—adalah langkah kecil yang sangat kuat.

Penutup: Menuju Keluarga yang Menyembuhkan, Bukan Melukai

Allah SWT berfirman:

ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู‚ُูˆุง ุฃَู†ูُุณَูƒُู…ْ ูˆَุฃَู‡ْู„ِูŠูƒُู…ْ ู†َุงุฑًุง
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini bukan hanya tentang dosa besar, tapi juga tentang menjaga jiwa dari luka yang tak terlihat. Karena surga dimulai dari rumah yang penuh empati, bukan tekanan.

Mari kita ubah warisan trauma menjadi warisan penyembuhan.
Dengan mendengar, memahami, dan berani berubah—kita tak hanya menyelamatkan generasi muda, tapi juga menyelamatkan masa depan umat.

"Orang tua terbaik bukan yang sempurna, tapi yang mau belajar memperbaiki diri demi anak-anaknya."

sumber Podcast YouTube 

 https://youtu.be/E4cJXjJGCdE?si=xdspmLPoZQk2FSGC


.

Artikel Populer

Nabi Adam Korban Cinta pada Keagungan Allah

Malu, Mahkota Akhlak yang Terlupakan

Psikologi di Balik Kalimat-kalimat Zikir yang Menyembuhkan Jiwa

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...