Cacat Fondasi Amal

Cacat Fondasi Amal

Tenar tetapi Terseret Wajahnya: Terapi Tazkiyatun Nafs bagi Hati yang Haus Pujian

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai


 

Lunas di Dunia

Tiga orang masuk daftar sidang pertama di hari kiamat: seorang yang gugur di medan perang, seorang yang mengajarkan ilmu dan Al-Qur'an, dan seorang yang menginfakkan hartanya. Kalau CV mereka kita setorkan ke panitia mana pun di dunia ini, semuanya lolos seleksi.

Namun hadis riwayat Imam Muslim (no. 1905) mengabarkan bahwa ketiganya justru diseret dengan wajah tersungkur ke neraka. Kepada masing-masing dikatakan:

فَقَدْ قِيلَ

Faqad qīl. Sebutan yang kau cari sudah kau dapatkan.

Ibarat transaksi, pembayaran sudah lunas di dunia. Yang mereka kejar telah diperoleh. Tetapi pujian manusia bukanlah bekal yang dapat menggantikan keridaan Allah.

Bangunan Megah, Tak Ada yang Menengok Fondasi

Perhatikan bahwa ketiganya bukan pemalas. Pengorbanan mereka nyata dan manfaatnya boleh jadi dirasakan banyak orang. Yang dipersoalkan bukan jenis amalnya, melainkan tujuan yang bersembunyi di baliknya.

Imam an-Nawawi, dalam syarahnya atas hadis ini, menegaskan beratnya larangan riya dan pentingnya mengikhlaskan amal hanya untuk Allah.

Amal itu seperti bangunan yang menjulang. Orang kagum pada arsitekturnya, berteduh di dalamnya, dan memuji pembangunnya. Tak ada yang menengok fondasinya. Semakin tinggi bangunan, semakin mengerikan ketika runtuh.

Tetapi hadis ini bukan alasan untuk berhenti membangun. Ia alasan untuk rajin memeriksa fondasi.

Satu Hadis, Berkali-kali Memeriksa Niat

Innamal-a‘mālu bin-niyyāt. Amal bergantung pada niatnya (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam membahas hal yang jarang kita perhatikan: riya yang datang ketika amal sedang berlangsung. Bila ia sekadar terlintas lalu ditolak, amal tidak rusak. Bila dibiarkan, terdapat perincian dan perbedaan pendapat ulama tentang pengaruhnya.

Beliau juga menukil perkataan Sulaiman bin Dawud al-Hasyimi yang mengisahkan bahwa niatnya terkadang berubah ketika sedang menyampaikan sebuah hadis. Sampai-sampai satu hadis pun membutuhkan perhatian berulang terhadap niat.

Kalau orang-orang yang bersungguh-sungguh menjaga amalnya saja masih harus memeriksa niat, kita tak pantas merasa selesai hanya karena pernah berniat baik di awal.

Niat juga bisa tumbuh semakin baik. Anak yang belajar salat mula-mula mengerjakannya karena disuruh. Lewat pembiasaan, keteladanan, dan pendidikan hati, ia diharapkan sampai pada ketaatan yang sadar. Tentu ini gambaran proses pendidikan jangka panjang, bukan keringanan untuk salat yang niatnya baru hadir belakangan, sebab ibadah semacam itu memiliki ketentuan niat tersendiri.

Orang dewasa pun bisa mengalami perjalanan serupa. Banyak pengabdian bermula dari yo wis lah, dilakoni wae. Lalu di tengah jalan ia melihat manfaatnya dan bertanya dalam hati: kenapa tidak sekalian kuniatkan untuk Allah?

Pekerjaannya sama, capeknya sama, tetapi arah hatinya mulai berubah.

Tentu niat baru tidak otomatis berlaku surut pada seluruh pekerjaan yang telah berlalu. Namun dalam pengabdian yang terus berlangsung, selalu ada kesempatan meluruskan niat untuk amal berikutnya.

Perpustakaan yang Tak Pernah Tutup, Hati yang Tak Kunjung Buka

Saya sendiri ikut belasan grup WhatsApp. Isinya seperti perpustakaan yang tak pernah tutup: tausiyah pagi, hadis siang, flyer muhasabah malam.

Lalu apa yang berubah dalam diri saya? Sering kali tidak banyak. Nasihat yang mestinya menjadi cermin pelan-pelan berubah menjadi pengeras suara, ramai diteruskan ke orang lain, sepi diterapkan ke diri sendiri.

Bahkan nasihat tentang keikhlasan pun bisa menjadi bahan untuk memperlihatkan betapa kita memahami keikhlasan.

Maka pertanyaannya bukan siapa yang kurang menyimak nasihat, melainkan ini: apakah ilmu saya sudah membuat saya ringan mengerjakan kebaikan, atau baru membuat saya pandai menjelaskannya?

Pengabdian yang Masih Pegang Kalkulator

Menanyakan upah dan menuntut keadilan itu sah. Lembaga yang baik wajib menunaikan hak orang yang bekerja di dalamnya, dan ikhlas tidak boleh dijadikan dalih untuk menekan orang agar bekerja tanpa penghargaan yang layak.

Kalkulator yang perlu kita periksa bukan kalkulator gaji, melainkan kalkulator pengakuan.

Mengapa pujian manusia kadang terasa lebih penting daripada manfaat yang hendak kita hadirkan?

Ujian sederhananya: bila manfaat tetap sampai kepada banyak orang, tetapi nama kita tak disebut dan di spanduk tertulis salah ketik, hati kita tenang atau gelisah?

Bukan berarti setiap kekecewaan menandakan riya. Tetapi reaksi hati itu bisa menjadi pintu masuk untuk memeriksa kembali apa yang sesungguhnya kita harapkan dari pengabdian.

Keahlian yang Allah titipkan bukan hanya alat tukar. Ia juga jalan kemaslahatan.

Jangan Menunggu Hati Sempurna

Hati yang sempurna tidak pernah datang menjemput. Maka terapi tazkiyatun nafs yang realistis bisa dimulai dari tiga latihan kecil.

Pertama, perbarui niat. Sebelum memulai amal, hadirkan tujuan yang benar. Ketika di tengah jalan muncul keinginan untuk dilihat dan dipuji, kembalilah meluruskan niat. Cukup dengan berbisik dalam hati, "Ya Allah, ini untuk-Mu."

Kedua, periksa reaksi hati. Ketika amal tidak dipuji atau nama tidak disebut, akui kegelisahan yang muncul. Jangan buru-buru membenarkannya. Barangkali di situlah ada bagian hati yang masih membutuhkan perbaikan.

Ketiga, latih amal tersembunyi. Biasakan satu amal yang tidak kita ceritakan kepada orang lain, semata-mata mengharap rida Allah. Bukan untuk menyembunyikan semua kebaikan, melainkan melatih hati agar tidak bergantung pada penonton.

Dan jangan terbalik: takut riya bukan alasan untuk berhenti beramal. Melawan malas tidak sama dengan mencari pujian. Kita beramal sambil memeriksa, bukan memeriksa sampai tak sempat beramal.

Pada awalnya kita belajar mengerjakan amal. Sepanjang hidup, kita belajar mengikhlaskannya.

Sudah berapa lama kita beramal, dan kapan terakhir kali sungguh-sungguh memeriksa untuk siapa semua itu dikerjakan?

Rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-Samī‘ul-‘Alīm.

"Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127).


Rujukan

  1. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, hadis no. 1905.
  2. Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hadis no. 1; Imam Muslim, Shahih Muslim, hadis no. 1907.
  3. Imam an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, juz 13, hlm. 50–51, pembahasan riya dan keikhlasan. Rujukan syarah.
  4. Ibnu Rajab al-Hanbali, Jāmi‘ al-‘Ulūm wa al-Ḥikam, syarah hadis pertama, juz 1, hlm. 81–84. Rujukan syarah.

Artikel Populer

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

Sadap, Ngeri-Ngeri Sedap

Mesra, tapi Sadis

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...