Pengabdian Sunyi

Pengabdian Sunyi

Ketika Kita Menasihati Orang Lain agar Ikhlas, tetapi Lupa Menunaikan Terima Kasih

Oleh: Tsaqif Rasyid Dai

 

Ada orang yang namanya besar karena sering dibicarakan. Ada pula yang baru disebut setelah ia tak lagi bisa pulang.

Yang pertama kadang butuh panggung. Yang kedua tak sempat meminta tepuk tangan.

Rabu, 4 November 2026, sebuah helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat jatuh di perairan Seruyan, Kalimantan Tengah. Helikopter itu lepas landas dari Kuala Pembuang pagi harinya untuk menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Tiga prajurit dilaporkan gugur, sementara lima lainnya selamat.

Mereka tidak sedang berperang. Mereka sedang memadamkan api yang bukan mereka nyalakan.

Ironi itu sulit dilewatkan. Tak sedikit kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan ulah atau kelalaian manusia. Ada yang menyalakan, ada yang memadamkan, dan ada pula yang hanya mengeluh di media sosial tentang langit yang berasap.

Ada yang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api. Ada pula yang merasa tugasnya selesai setelah melontarkan keluhan dari balik layar.

Maka pertanyaan tentang ikhlas hari ini tidak bisa berhenti di meja para prajurit. Ia harus sampai ke meja kita.

Al-Qur'an merekam ketulusan orang-orang yang memberi dalam sebuah ucapan yang indah:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan rida Allah. Kami tidak menginginkan balasan dan terima kasih darimu." (QS. Al-Insan: 9)

Perhatikan siapa yang berbicara di ayat itu. Pemberi yang menyatakan sikapnya sendiri, bukan penerima yang menyatakan haknya.

Ayat ini tentang sikap batin orang yang berbuat baik. Ia bukan izin bagi orang yang menerima kebaikan untuk lupa berterima kasih. Namun kita sering membacanya terbalik, seolah-olah karena mereka ikhlas, kita bebas dari kewajiban apa pun.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, merasa cukup, dan tidak menonjolkan diri." (HR. Muslim No. 2965)

Al-khafiyy, yang tersembunyi. Bukan berarti kebaikannya kecil. Boleh jadi kebaikannya raksasa, hanya saja ia tidak menjadikan pandangan manusia sebagai tujuan.

Di sinilah pengabdian bertemu tazkiyatun nafs. Zaman kita membuat kebaikan mudah berubah menjadi tontonan. Menolong perlu dokumentasi, menyumbang perlu publikasi, dan kadang kamera sudah siap sebelum orang yang ditolong tiba.

Tidak semua publikasi keliru. Transparansi dan ajakan berbuat baik punya tempatnya. Tetapi pertanyaan yang jujur tetap layak diajukan kepada hati sendiri: kalau kamera dimatikan, apakah semangat kita masih menyala?

Sampai di sini, nasihatnya terdengar nyaman. Kita mengangguk, merasa tersentuh, lalu bersiap membagikan kutipan tentang ikhlas.

Padahal paruh kedua pelajarannya justru menyentil kita.

Kita pandai meminta orang lain ikhlas. Kita fasih berkata, "Mereka tidak butuh pujian, cukup Allah yang membalas." Kalimat itu benar, tetapi sering kita ucapkan sebagai alasan yang rapi untuk tidak berbuat apa-apa.

Keikhlasan seseorang bukan alasan bagi orang lain untuk abai. Ikhlasnya adalah urusannya dengan Allah. Menjamin keselamatannya, memperhatikan keluarganya, dan menghargai jasanya adalah urusan kita.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa siapa yang berbuat baik kepada kita hendaknya dibalas. Bila tak mampu membalas, doakan sampai kita merasa telah membalas kebaikannya. (HR. Abu Dawud No. 1672)

Perhatikan, perintah itu ditujukan kepada penerima kebaikan, bukan kepada pemberinya.

Beliau juga bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

"Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR. at-Tirmidzi No. 1955)

Kalimat ini tajam kalau dibaca pelan-pelan. Orang yang bernapas lega karena api padam, lalu tak pernah mengingat siapa yang memadamkannya, sedang diuji kualitas syukurnya kepada Allah.

Bagaimana kita mengaku bersyukur kepada Allah, jika melalui tangan manusia yang Dia jadikan perantara kebaikan, kita justru enggan mengucapkan terima kasih?

Jadi, jangan buru-buru mengubah duka ini menjadi kuliah tentang riya. Para prajurit itu tidak sedang menunggu ceramah kita tentang niat. Mereka layak mendapatkan doa yang sungguh-sungguh, keluarga yang diperhatikan, dan masyarakat yang berhenti menyalakan api yang kemudian harus dipadamkan orang lain.

Kita memang tidak tahu isi hati mereka. Kita pun tidak berhak menimbang derajat ikhlas siapa pun. Husnuzan dan doa adalah bagian kita, dan selebihnya kita titipkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Yang bisa kita periksa hanyalah diri sendiri. Barangkali masalah kita bukan kekurangan kesempatan berbuat baik, melainkan terlalu sering butuh saksi. Dan barangkali masalah kita yang lain lebih memalukan lagi, yaitu terlalu sering menikmati jasa orang lain tanpa merasa perlu berkata terima kasih.

Ujian terberat sebuah pengabdian mungkin bukan saat pekerjaan terasa berat. Ujian itu datang ketika pekerjaan selesai, manfaatnya dinikmati banyak orang, dan tak seorang pun menyebut namanya.

Manusia boleh tidak melihat, tidak mengingat, bahkan tidak mengenal. Tetapi tidak ada satu kebaikan pun yang luput dari pengetahuan Allah.

Semoga kita dijauhkan dari dua penyakit sekaligus: haus tepuk tangan ketika berbuat, dan kikir terima kasih ketika menerima.

Ya Allah, rahmatilah para prajurit yang gugur, pulihkan saudara-saudara mereka yang selamat, mudahkan seluruh proses evakuasi, dan kuatkan keluarga yang ditinggalkan.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 127)



Rujukan:
Al-Qur'an, QS. Al-Insan: 9; QS. Al-Baqarah: 127.
Imam Muslim, Sahih Muslim, No. 2965.
Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, No. 1672.
At-Tirmidzi, Jami' at-Tirmidzi, No. 1955.
ANTARA, laporan kecelakaan helikopter Mi-17V5 di Seruyan, 4–5 November 2026.
BNPB, keterangan korban kecelakaan helikopter, 5 November 2026.

Artikel Populer

Sadap, Ngeri-Ngeri Sedap

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ: Saat Orang Cerdas Mengadili Dirinya Sendiri

Sulitnya Bener tur Pener

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...