Males, Capek, Cepek
Males, Capek, Cepek
Ketika Keahlian Terlalu Sibuk Menghitung Harga
Oleh: Tsaqif Rasyid Dai
Ada tiga alasan yang sering terdengar ketika seseorang diminta menyumbangkan keahliannya untuk kepentingan bersama.
"Males."
"Capek."
"Cepek."
Yang pertama bicara soal kemauan. Yang kedua soal tenaga. Yang ketiga, diam-diam, sudah mulai membuka dompet.
Ketiganya bisa dimaklumi. Manusia memang bisa kehilangan semangat, benar-benar kelelahan, atau sedang butuh penghasilan. Kita tidak sedang mengadili siapa pun.
Hanya saja, ada keganjilan kecil yang membuat kita tersenyum getir. Ketika ada proyek berhonor menarik, tenaga yang tadi habis mendadak menemukan cadangannya. Jadwal yang sempit tiba-tiba melonggar, entah dari mana datangnya. Tetapi ketika keahlian yang sama dibutuhkan sekolah, majelis taklim, atau kegiatan sosial, kalender mendadak penuh dan badan mendadak lelah.
Bukan tidak mampu. Belum tentu juga tidak punya waktu. Barangkali hanya belum bertemu untung yang dianggap sepadan.
Di sinilah hati perlu ditanya baik-baik. Sebab tidak semua keuntungan datang dalam bentuk uang, dan tidak setiap pekerjaan yang dibayar murah berarti murah nilainya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا"Tidak ada hasad kecuali pada dua orang: seseorang yang Allah beri harta lalu ia membelanjakannya di jalan yang benar, dan seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia memutuskan perkara dengannya dan mengajarkannya." (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816)
Hasad di sini bermakna ghibthah: ingin memiliki kebaikan serupa tanpa berharap nikmat itu lenyap dari orang lain.
Perhatikan siapa yang disandingkan. Orang yang membelanjakan hartanya di jalan yang benar dan orang yang membagikan hikmahnya. Harta berpindah tangan ketika dibagikan. Ilmu justru bisa tetap dimiliki, bahkan semakin mantap ketika diajarkan.
Bakhil yang Tidak Selalu Berurusan dengan Uang
Orang bakhil harta mudah kita kenali. Tangannya rapat, dompetnya selalu "sedang tipis". Tetapi ada bakhil yang jauh lebih rapi dan jarang dituduh: bakhil ilmu. Tidak ada uang yang dijaga, hanya cara kerja yang tersimpan di satu kepala.
Ia mahir. Setiap ada masalah, namanya yang pertama disebut. "Tanya si Anu saja, pasti beres." Dan memang beres. Namun begitu diminta mengajarkan caranya, penjelasannya tiba-tiba terasa panjang, rumit, dan sebaiknya "nanti saja kalau sempat".
Ada yang rela menyelesaikan masalah yang sama berkali-kali, asal tidak perlu mengajarkan caranya sekali saja.
Akibatnya, keahlian tidak pernah menjadi kemampuan bersama. Lembaga menjadi seperti rumah dengan satu kunci, dan kuncinya ada di saku orang yang sedang sibuk.
Dalam psikologi organisasi, perilaku sengaja menyembunyikan pengetahuan yang diminta orang lain disebut knowledge hiding. Penelitian Connelly dan rekan-rekannya menemukan bahwa rasa tidak percaya berkaitan dengan perilaku ini.
Tetapi mungkin ada lapisan yang lebih halus, dan lebih tidak enak diakui. Sebuah kekhawatiran kecil yang berbunyi, "Kalau mereka sudah bisa, nanti saya masih dibutuhkan untuk apa?"
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ketika membahas hubb al-jah, mengingatkan betapa mudahnya hati manusia jatuh cinta pada kedudukan dan penghormatan di mata orang lain.
Dalam pembahasan tentang hasad, beliau juga menggambarkan bagaimana orang yang mengejar kedudukan dapat merasa tersaingi oleh orang lain yang unggul dalam bidang yang sama. Sesama ahli bahkan bisa saling iri karena berebut pengakuan.
Keahlian memang bisa mendatangkan hormat. Tetapi ketika hormat itu berubah menjadi kebutuhan batin, keberhasilan orang lain justru terasa seperti ancaman.
Jangan-jangan yang kita jaga bukan nilai ilmunya, melainkan kursi sebagai orang yang paling dibutuhkan. Kursinya memang empuk, apalagi kalau tidak ada yang berani memintanya kita tinggalkan.
Kemurahan yang Melampaui Harta
Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin, saat menguraikan tingkatan kedermawanan (Maratib al-Jud), menyebut kedermawanan dengan ilmu, yakni mengajarkan dan menyebarkannya, sebagai tingkatan yang tinggi. Bahkan kemurahan dengan ilmu lebih utama daripada kemurahan dengan harta karena kemuliaan ilmu. (Secara makna)
Para ulama membahas hal ini terutama untuk ilmu agama. Namun, semangat berbaginya patut direnungkan oleh siapa pun yang memiliki keterampilan yang berguna bagi kehidupan manusia.
Guru yang mengajarkan caranya mengajar. Ahli yang membimbing penerusnya. Orang yang menyusun sistem sehingga pekerjaan orang lain menjadi ringan. Mereka berpeluang menghadirkan manfaat yang jauh lebih panjang daripada pekerjaan yang dituntaskan sendirian.
Tentu tidak semua keahlian harus dibagikan cuma-cuma. Ada rahasia usaha yang sah dijaga, hak profesi yang patut dihormati, dan nafkah keluarga yang harus diperjuangkan. Pengelola lembaga pun jangan menjadikan kata "ikhlas" sebagai cara paling murah untuk membayar orang.
Namun, jangan sampai semua pengetahuan dirahasiakan, setiap pertolongan ditagihkan sebagai jasa, dan setiap kesempatan menularkan kemampuan harus menunggu tarif yang cocok.
Sebab yang sedang kita periksa bukan harga sebuah keahlian, melainkan lapang tidaknya hati pemiliknya.
Ketika Karya Terus Bekerja
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ"Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 1631)
Ada pekerjaan yang selesai begitu transferan masuk. Ada pula karya yang terus bekerja, bahkan ketika pembuatnya sudah lama beristirahat di bawah tanah.
Seseorang mungkin hanya butuh beberapa hari untuk menyusun sebuah panduan. Tetapi panduan itu bisa menolong banyak orang selama bertahun-tahun. Sebuah metode dapat diajarkan berulang kali. Sebuah keterampilan dapat diwariskan. Sebuah karya dapat menjadi perantara lahirnya kebaikan-kebaikan baru.
Tentu tidak setiap karya otomatis menjadi amal jariyah. Niat, kebenaran isi, dan kemanfaatannya tetap perlu diperhatikan, sementara diterimanya amal sepenuhnya hak Allah.
Namun, sayang sekali bila kesempatan menanam kebaikan yang panjang terlewat hanya karena panennya di dunia tampak kurang menjanjikan.
Apalagi Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa orang yang mengajak kepada petunjuk akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun (HR. Muslim no. 2674).
Orang yang kita bimbing boleh jadi kelak membawa manfaat yang lebih luas daripada yang pernah kita bayangkan.
Belajar Melepaskan Keistimewaan
Maka barangkali obatnya bukan sekadar menasihati diri agar lebih ikhlas, melainkan mulai melatih kemurahan dengan ilmu.
Sisihkan waktu untuk membimbing seseorang. Ajarkan bagian keterampilan yang memang bisa dibagikan. Tuliskan pengetahuan agar tidak berhenti di satu kepala. Beri orang lain kesempatan mencoba, keliru, belajar, lalu menjadi mampu.
Dan ketika orang yang kita bimbing ternyata lebih terampil daripada kita, belajarlah ikut bergembira.
Latihan ini tidak enak. Ego biasanya ikut hadir sebagai penonton yang paling cepat cemberut.
Sebab sebagian dari kita senang punya murid, asal muridnya tidak sampai lebih pandai. Senang membantu, asal tetap menjadi satu-satunya tempat bertanya.
Padahal, ilmu yang ditahan mungkin membuat kita terus dibutuhkan. Ilmu yang ditularkan membuat kebaikan berpeluang terus berjalan, bahkan setelah kita tiada.
Di tengah ikhtiar memperbaiki hati, kita pun dapat memohon kelapangan dada sebagaimana doa Nabi Musa 'alaihissalam:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku." (QS. Thaha: 25–26)
Dan memohon tambahan ilmu sebagaimana Allah ajarkan:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا"Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku." (QS. Thaha: 114)
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah keahlian harus dibayar atau diberikan cuma-cuma. Keduanya punya tempat yang sah. Persoalannya, masihkah kita menyisakan ruang dalam hidup untuk berkarya tanpa selalu bertanya, "Saya dapat apa?"
Jangan-jangan kita terlalu sibuk menghitung berapa rupiah yang bisa dihasilkan sebuah keahlian, sampai lupa menghitung berapa banyak pintu kebaikan yang bisa terbuka karenanya.
Males, capek, cepek.
Tiga kata yang kadang jujur menggambarkan keterbatasan manusia. Tetapi sesekali patut kita curigai sebagai bahasa sopan dari hati yang terlalu sibuk berhitung.
Sebab boleh jadi, yang paling berharga dari keahlian kita bukanlah seberapa mahal orang bersedia membayarnya, melainkan seberapa luas manfaat yang sanggup kita wariskan.
Jangan sampai kita mewariskan ketergantungan, padahal bisa mewariskan kemampuan. Dan jangan sampai kita begitu ingin selalu dibutuhkan, hingga lupa menyiapkan orang lain untuk melanjutkan kebaikan ketika kita sudah tiada.
Referensi
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab al-'Ilm, hadis no. 73; Muslim, Sahih Muslim, no. 816.
- Muslim, Sahih Muslim, no. 1631 dan 2674.
- Ibnul Qayyim, Madarij as-Salikin, pembahasan Maratib al-Jud, tingkatan kedermawanan dengan ilmu.
- Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Kitab Dzamm al-Jah wa ar-Riya' dan pembahasan hasad dalam Kitab Dzamm al-Hiqd wa al-Hasad.
- Connelly, C. E., Zweig, D., Webster, J., & Trougakos, J. P. (2012). "Knowledge Hiding in Organizations." Journal of Organizational Behavior, 33(1), 64–88. DOI: 10.1002/job.737.
- Al-Qur'an al-Karim, QS. Thaha: 25–26 dan 114.
