Membaca sebagai Ibadah Akal: Menghidupkan Tradisi Tadabbur dalam Literasi

Membaca sebagai Ibadah Akal: Menghidupkan Tradisi Tadabbur dalam Literasi

Barakallahu fikum, saudara-saudariku yang dirahmati Allah.

Dalam khazanah keilmuan Islam, kita mengenal istilah tadabbur (تَدَبُّر)—merenungkan makna secara mendalam. Istilah ini tidak hanya untuk Al-Qur'an, tetapi juga menjadi metode para ulama dalam menelaah setiap teks. Sayangnya, di zaman yang penuh distraksi ini, banyak dari kita—termasuk santri dan mahasiswa—membaca tanpa tadabbur. Halaman berganti, mata bergerak, tetapi akal tidak bekerja.

Padahal Allah SWT berfirman dalam QS. Muhammad ayat 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?"

Pertanyaan ini berlaku tidak hanya untuk kitab suci, tetapi untuk seluruh aktivitas membaca kita. Apakah kita membaca dengan hati dan akal yang terbuka, atau sekadar menyelesaikan kewajiban?

Problematika Membaca di Kalangan Santri dan Akademisi Muslim

Sebagai pengajar di pesantren dan kampus, saya menyaksikan fenomena yang memprihatinkan. Santri membaca kitab kuning tanpa mempertanyakan dalil. Mahasiswa membaca jurnal tanpa menguji metodologi. Keduanya membaca, tetapi tidak berpikir.

Studi tentang literasi kritis menunjukkan bahwa pembaca yang aktif merefleksikan bacaan mereka memiliki kemampuan analitis yang jauh lebih tinggi. Ini sejalan dengan tradisi munazarah (مُنَاظَرَة) (debat ilmiah) dan bahtsul masail (بَحْثُ الْمَسَائِل) dalam pesantren, di mana setiap argumen harus diuji sebelum diterima.

Tujuh Prinsip Membaca Kritis dalam Perspektif Islam dan Akademis

1. Membaca tanpa kritisisme adalah pengkhianatan terhadap akal

Allah memberikan kita akal ('aql - عَقْل) sebagai amanah dan alat untuk membedakan kebenaran dari kebatilan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (إِحْيَاءُ عُلُومِ الدِّين) menegaskan bahwa akal yang tidak digunakan adalah akal yang mati.

Ketika kita membaca tanpa mempertanyakan, tanpa menimbang, kita menyia-nyiakan karunia terbesar yang membedakan manusia dari makhluk lain. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga akalnya menjadi hakimnya" (HR. Dailami).

2. Setiap teks membawa worldview—kenali sebelum menerima

Tidak ada tulisan yang benar-benar objektif. Setiap penulis, bahkan ulama besar sekalipun, menulis dari konteks tertentu: mazhab, tradisi intelektual, kondisi sosial-politik zamannya.

Imam Asy-Syafi'i memiliki pendapat berbeda ketika di Baghdad dan ketika di Mesir. Mengapa? Karena konteks berbeda. Ini mengajarkan kita pentingnya memahami maqashid (مَقَاصِد) (tujuan) dan asumsi dasar di balik setiap argumen. Dalam istilah akademis modern, ini disebut epistemic awareness—kesadaran epistemologis.

Saya mengajarkan santri dan mahasiswa untuk bertanya: Apa paradigma penulis? Siapa audiensnya? Apa kepentingan yang mungkin tersembunyi?

3. Ikhtilaf (perbedaan pendapat) adalah rahmat, bukan ancaman

Rasulullah SAW bersabda:

اِخْتِلَافُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ
"Perbedaan pendapat umatku adalah rahmat"

(meskipun ada perdebatan tentang status hadits ini, maknanya diterima luas dalam tradisi fiqh).

Ketika membaca pendapat yang berbeda dengan pemahaman kita, jangan buru-buru menolak atau mencari pembenaran. Justru di situlah kesempatan untuk mengasah logika. Para ulama klasik seperti Ibnu Rusyd menulis Bidayatul Mujtahid (بِدَايَةُ الْمُجْتَهِد) justru dengan memetakan perbedaan pendapat untuk melatih pembaca berpikir mandiri.

Dalam konteks akademis, ini sejalan dengan prinsip falsifiability Karl Popper—sebuah teori baru bisa dipercaya jika tahan terhadap ujian kritik.

4. Latih kemampuan mendeteksi syubhat (kesamaran argumen)

Dalam ushul fiqh (أُصُولُ الْفِقْه), kita mengenal konsep syubhat (شُبْهَة)—argumen yang tampak kuat tetapi sebenarnya lemah. Ini mirip dengan logical fallacies dalam filsafat Barat.

Contohnya:

Qiyas ma'al fariq (قِيَاسٌ مَعَ الْفَارِق) (analogi yang tidak tepat)

Ta'ammum bila dalil (تَعَمُّمٌ بِلَا دَلِيل) (generalisasi tanpa bukti)

Idraj ma laysa minal kalam (إِدْرَاجُ مَا لَيْسَ مِنَ الْكَلَام) (memasukkan kata yang bukan bagian dari teks asli)

Saya mengajarkan mahasiswa untuk membaca dengan mata seorang muhaqqiq (مُحَقِّق) (peneliti yang teliti), bukan sekadar naqil (نَاقِل) (penyampai tanpa verifikasi). Setiap klaim harus diminta sandaran dalilnya, setiap dalil harus diperiksa konteksnya.

5. Membaca adalah melihat cermin diri

Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz min adh-Dhalal (الْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَال) mengisahkan bagaimana ia membaca karya-karya filsafat, teologi, dan tasawuf—dan melalui proses itu, ia justru menemukan kelemahan pemikirannya sendiri.

Cara kita bereaksi terhadap teks mengungkap nafs (نَفْس) (ego) kita. Bagian mana yang langsung kita percaya karena sesuai dengan keinginan? Bagian mana yang kita tolak karena mengganggu kenyamanan?

Ini adalah muhasabah (مُحَاسَبَة) (introspeksi) intelektual. Dalam terminologi akademis, ini disebut reflexivity—kemampuan merefleksikan bias diri sendiri dalam proses penelitian dan pembacaan.

6. At-ta'anni (ketelitian) lebih utama daripada kecepatan

Imam Malik bin Anas dikenal sangat berhati-hati dalam memberikan fatwa. Beliau pernah menjawab 36 dari 40 pertanyaan dengan "Saya tidak tahu." Ini bukan karena beliau tidak mampu, tetapi karena kehati-hatian intelektual.

Dalam membaca pun demikian. Lebih baik membaca satu halaman dengan pemahaman mendalam daripada satu buku tanpa jejak di pikiran. Nabi SAW bersabda:

"Barangsiapa yang memperlambat amalannya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya" (HR. Muslim)

—kualitas lebih penting dari kecepatan.

7. Jadikan membaca kritis sebagai karakter, bukan aktivitas temporer

Dalam tasawuf, kita mengenal konsep akhlaq (أَخْلَاق) (karakter) yang terbentuk melalui pembiasaan (mujahadah - مُجَاهَدَة). Membaca kritis harus menjadi malakah (مَلَكَة) (kebiasaan yang melekat), bukan sekadar teknik sesekali.

Jika dilakukan konsisten, sikap kritis ini akan membentuk kepribadian seorang muslim yang faqih (فَقِيه) (paham mendalam) dan 'alim (عَالِم) (berilmu). Ia tidak mudah terbawa arus informasi, tidak mudah termakan propaganda, dan tidak mudah terjebak taklid buta.

Peran Ustadz dan Dosen dalam Membentuk Pembaca yang Bertadabbur

Sebagai pengajar, kita bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi membentuk cara berpikir. Dalam istilah Imam Al-Ghazali, tugas guru adalah tarbiyah (تَرْبِيَة) (pendidikan karakter intelektual), bukan sekadar ta'lim (تَعْلِيم) (transfer informasi).

Ini berarti mengubah pertanyaan dari "Apa yang dikatakan penulis?" menjadi "Apakah argumen penulis ini kuat? Apa dalilnya? Bagaimana jika dikritik dari sudut pandang lain?"

Tradisi keilmuan Islam dibangun atas dasar kritisisme yang sehat. Imam Syafi'i mengkritik Imam Malik. Ibnu Taimiyah mengkritik para filosof. Bukan karena permusuhan, tetapi karena cinta pada kebenaran.

Penutup: Membaca adalah Jihad Akal

Saudara-saudariku, membaca dengan berpikir adalah bentuk jihad (جِهَاد)—perjuangan melawan kejahilan, taklid buta, dan kemalasan intelektual. Allah SWT memerintahkan kita:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
"Katakanlah, adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?" (QS. Az-Zumar: 9)

Tetapi ilmu yang sejati bukan sekadar hafalan, melainkan pemahaman yang teruji. Dan pemahaman hanya datang melalui tadabbur—membaca dengan hati yang hadir dan akal yang bekerja.

Mari kita hidupkan kembali tradisi rihlah fi thalabil 'ilm (رِحْلَةٌ فِي طَلَبِ الْعِلْم) (perjalanan mencari ilmu) versi modern: bukan hanya membaca banyak buku, tetapi membaca dengan cara yang membuat kita benar-benar berpikir.

Jika tulisan ini memberi manfaat, silakan bagikan. Dan jika ada yang ingin menambahkan atau mengkritik, sampaikan dengan argumentasi yang baik. Karena dalam perbedaan yang disertai adab dan dalil, di situlah ilmu bertumbuh.

Wallahu a'lam bishawab (وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَاب).


Referensi untuk pengayaan:

Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Bab Ilmu

Ibnu Khaldun, Muqaddimah, tentang metodologi keilmuan

Taha Jabir Al-Alwani, Adab al-Ikhtilaf fi al-Islam (Etika Perbedaan Pendapat)

Artikel Populer

Nabi Adam Korban Cinta pada Keagungan Allah

Malu, Mahkota Akhlak yang Terlupakan

Psikologi di Balik Kalimat-kalimat Zikir yang Menyembuhkan Jiwa

PUBLIKASI

  • Sedang memuat...