Memaknai Penghujung Tahun dengan Taubat dan Harapan
Memaknai Penghujung Tahun dengan Taubat dan Harapan
Renungan Akhir Tahun 2025
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirabbil'alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberi kita nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan kita semua yang mengikuti jejak beliau hingga akhir zaman.
Ikhwan fillah dan akhwat fillah yang dirahmati Allah...
Malam ini kita berdiri di penghujung tahun 2025. Detik demi detik berlalu, membawa kita semakin dekat dengan perhitungan yang sesungguhnya—bukan pergantian tahun di kalender dunia, tetapi pertemuan dengan Sang Maha Pencipta di hari yang tidak ada tawar-menawar.
Waktu: Amanah yang Sering Kita Sia-siakan
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu."
Saudaraku, tahun 2025 adalah 365 hari yang Allah titipkan kepada kita. Berapa banyak dari hari-hari itu yang benar-benar kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada-Nya? Berapa banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak memberi manfaat, baik untuk dunia maupun akhirat?
Kita mudah terlena dengan kesibukan dunia. Pekerjaan, harta, keluarga—semua itu penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa kepada Dzat yang memberi semua itu. Jangan sampai kita seperti orang yang disebutkan dalam Al-Qur'an Surah Al-Munafiqun ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah."
Introspeksi: Melihat Diri dengan Jujur
Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata: "Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung, dan timbanglah amalmu sebelum amal-amalmu ditimbang."
Inilah saatnya kita melakukan muhasabah, introspeksi diri. Bukalah lembaran-lembaran kehidupan kita di tahun ini dengan jujur. Tidak perlu berbohong kepada diri sendiri, karena Allah Maha Mengetahui apa yang kita sembunyikan dan apa yang kita tampakkan.
Berapa kali kita berbohong? Berapa kali kita menyakiti orang lain dengan lisan atau perbuatan? Berapa kali kita melalaikan shalat? Berapa kali kita mengumbar pandangan pada yang haram? Berapa kali kita memakan harta dengan cara yang tidak halal? Berapa kali kita menunda taubat dengan alasan "masih ada waktu"?
Saudaraku, tidak ada jaminan bahwa kita akan melihat tahun 2026. Tidak ada jaminan bahwa kita akan hidup sampai besok pagi. Malaikat maut tidak mengenal usia muda atau tua. Ia datang sesuai perintah Allah, dan ketika ia datang, tidak ada yang bisa menundanya sedetik pun.
Pintu Taubat yang Selalu Terbuka
Namun di tengah kegelisahan akan dosa-dosa kita, ada kabar gembira yang Allah sampaikan dalam Al-Qur'an Surah Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya."
SubhanAllah! Betapa luasnya rahmat Allah. Sebesar apapun dosa kita, selama kita masih bernafas, pintu taubat masih terbuka. Allah tidak hanya membuka pintu itu, tetapi Dia menunggu kita dengan penuh kasih sayang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Allah sangat gembira dengan taubat seorang hamba-Nya, melebihi kegembiraan seseorang yang menemukan untanya yang hilang di padang pasir." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi wahai saudaraku, jangan pernah merasa terlalu banyak dosa untuk bertaubat. Jangan pernah merasa tidak layak kembali kepada Allah. Justru karena kita penuh dosa, maka kita sangat membutuhkan ampunan-Nya.
Taubat yang Sesungguhnya
Tapi ingat, taubat yang Allah terima bukan sekadar ucapan "Astaghfirullah" di lisan, sementara hati dan perbuatan masih sama. Taubat nasuha, taubat yang sejati, memiliki syarat-syarat:
Pertama, menyesali dosa yang telah dilakukan. Bukan menyesal karena ketahuan, bukan menyesal karena rugi, tetapi menyesal karena telah melanggar perintah Allah.
Kedua, segera meninggalkan dosa tersebut. Tidak bisa kita bilang bertaubat sementara masih asyik melakukan kemaksiatan. Tidak bisa kita minta ampun di malam hari lalu keesokan paginya kembali ke dosa yang sama.
Ketiga, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Ini yang paling berat, saudaraku. Iblis tidak akan diam melihat kita bertaubat. Ia akan terus menggoda, membisikkan, merayu kita untuk kembali. Maka kita butuh tekad yang kuat dan perlindungan Allah.
Keempat, jika dosa itu berkaitan dengan hak orang lain, kembalikanlah hak itu. Minta maaflah kepada mereka. Karena Allah tidak akan mengampuni dosa terhadap hamba-Nya kecuali hamba itu yang memaafkan.
Membangun Hubungan dengan Al-Qur'an
Ikhwan akhwat, di tahun yang baru nanti, mari kita perbaiki hubungan kita dengan Al-Qur'an. Kitab suci yang Allah turunkan bukan untuk dipajang di rak atau dibaca hanya saat ada orang meninggal.
Al-Qur'an adalah panduan hidup, obat bagi jiwa yang gelisah, cahaya di tengah kegelapan zaman. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang yang membacanya." (HR. Muslim)
Berapa banyak dari kita yang sudah lama tidak membuka mushaf? Berapa banyak yang tidak pernah memahami makna ayat yang dibaca? Berapa banyak yang tidak pernah mengamalkan isi Al-Qur'an?
Mulailah dari yang kecil. Satu halaman sehari. Satu ayat yang dipahami dan diamalkan. InsyaAllah, dengan konsistensi, kita akan merasakan manisnya berkomunikasi dengan Allah lewat kalam-Nya.
Memperbaiki Shalat
Dan saudaraku, tidak ada yang lebih penting setelah syahadat selain shalat. Inilah tiang agama. Inilah yang pertama kali akan ditanya di hari kiamat. Jika shalatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, rusaklah seluruh amalnya.
Berapa kali kita shalat dengan hati yang hadir? Berapa kali kita benar-benar merasakan sedang berdiri di hadapan Allah? Atau kita hanya menggerakkan anggota badan sementara pikiran melayang ke mana-mana?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat seseorang yang shalatnya tergesa-gesa, tidak thuma'ninah. Beliau bersabda:
"Kembalilah dan ulangi shalatmu, karena sesungguhnya kamu belum shalat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ya Allah, betapa kerasnya peringatan ini. Berapa banyak shalat kita yang tidak diterima karena dilakukan dengan tergesa-gesa, tanpa kekhusyukan?
Berbuat Baik kepada Orang Tua
Ikhwan akhwat, jika orang tua kita masih hidup, maka itu adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Tidak ada amal yang lebih dicintai Allah setelah shalat selain berbakti kepada orang tua.
Allah berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 23-24:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak."
Berbakti kepada orang tua bukan hanya memberi uang. Lebih dari itu, berikan waktu, perhatian, dan kasih sayang. Dengarkan cerita mereka meski sudah berkali-kali didengar. Sabar dengan kelemahan mereka seperti dulu mereka sabar dengan kekurangan kita.
Jangan sampai kita menyesal ketika mereka sudah tiada. Jangan sampai kita menangis di atas kubur mereka, sementara saat hidup kita jarang mengunjungi. Sungguh, tidak ada yang lebih pedih dari penyesalan yang datang terlambat.
Menjaga Lisan dan Hati
Saudaraku, salah satu dosa yang sering kita anggap remeh adalah dosa lisan. Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Berapa kali kita menggunjing tetangga? Berapa kali kita menyebarkan berita tanpa cek kebenarannya? Berapa kali kita memfitnah orang dengan tuduhan tanpa bukti? Berapa kali kita menyakiti orang lain dengan kata-kata kasar?
Dan yang lebih berbahaya adalah penyakit hati: hasad, dengki, ujub, riya', sombong. Penyakit-penyakit ini tidak terlihat mata, tetapi Allah melihatnya. Dan ia bisa menghapus semua kebaikan yang kita lakukan.
Meraih Tahun 2026 dengan Semangat Baru
Ikhwan akhwat rahimakumullah...
Tahun baru bukan hanya soal resolusi yang biasanya dilupakan setelah seminggu. Tahun baru adalah kesempatan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita—sebagai hamba Allah yang taat, sebagai anak yang berbakti, sebagai suami atau istri yang amanah, sebagai orang tua yang bertanggung jawab, sebagai tetangga yang baik, sebagai warga negara yang berguna.
Mulailah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Istiqamah, konsisten dalam kebaikan meski kecil. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Mulailah dari sekarang, dari yang kecil, dari yang bisa dilakukan. Shalat lima waktu tepat waktu. Membaca Al-Qur'an setiap hari. Berbuat baik kepada orang tua. Menjaga lisan. Menjauhi yang haram. InsyaAllah, Allah akan memberi taufik dan hidayah.
Penutup
Akhir kata, saya ingin mengajak kita semua untuk berdoa. Mari kita angkat tangan, mohon kepada Allah agar memberi kita umur yang berkah, amal yang diterima, dan husnul khatimah di akhir hayat.
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang telah lalu. Beri kami kekuatan untuk meninggalkan kemaksiatan. Beri kami hidayah untuk selalu berada di jalan yang Engkau ridhai.
Ya Allah, jauhkan kami dari siksa kubur dan siksa neraka. Dekatkan kami dengan surga-Mu. Kumpulkan kami bersama Rasulullah di hari kiamat.
Ya Allah, perbaiki keadaan umat Islam di seluruh dunia. Beri mereka kekuatan dan kemenangan. Satukan hati mereka dalam kebenaran.
Aamiin ya Rabbal'alamin.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا ۚ وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
"Barangsiapa menginginkan kehidupan dunia, maka (hendaklah ia bekerja untuk) kehidupan dunia. Dan barangsiapa menginginkan kehidupan akhirat, maka Kami akan memberinya pahala di akhirat kelak. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (QS. Ali Imran: 145)