Membaca sebagai Ibadah Akal: Menghidupkan Tradisi Tadabbur dalam Literasi
Membaca sebagai Ibadah Akal: Menghidupkan Tradisi Tadabbur dalam Literasi Barakallahu fikum , saudara-saudariku yang dirahmati Allah. Dalam khazanah keilmuan Islam, kita mengenal istilah tadabbur ( تَدَبُّر )—merenungkan makna secara mendalam. Istilah ini tidak hanya untuk Al-Qur'an, tetapi juga menjadi metode para ulama dalam menelaah setiap teks. Sayangnya, di zaman yang penuh distraksi ini, banyak dari kita—termasuk santri dan mahasiswa—membaca tanpa tadabbur . Halaman berganti, mata bergerak, tetapi akal tidak bekerja. Padahal Allah SWT berfirman dalam QS. Muhammad ayat 24: أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا "Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?" Pertanyaan ini berlaku tidak hanya untuk kitab suci, tetapi untuk seluruh aktivitas membaca kita. Apakah kita membaca dengan hati dan akal yang terbuka, atau sekadar menyelesaikan kewajiban? Problematika Membaca di Kalangan Santri dan...